"Aku pikir Papa seperti ini karena..." Kala tersenyum kemudian ia menyesap anggurnya, ia mengajak Jagat ke apartementnya agar bisa mengobrol lebih santai.
"Wanita idaman Papa?" sahut Jagat seraya tertawa.
Kala mengangkat bahunya, "Tapi desas desusnya, dia sudah menikah lagi."
"Dua minggu yang lalu dia menghubungi Papa, dia kabur dari rumah suaminya karena mengalami KDRT. Papa yang mengurusnya di rumah sakit, sampai..." Jagat meminum anggurnya. "Sampai anaknya datang dan membawanya pergi."
Kala tertawa terbahak-bahak. "Apa Papa tidak mengatakan pada anaknya, kalau Papa tergila-gila pada ibunya," ucap Kala tanpa beban, hingga membuat Jagat heran.
"Kau tidak...?"
"Mamaku sudah bahagia dengan hidupnya," Kala tersenyum, ia kembali meminum anggurnya. "Sekarang aku mengerti mengapa Papa tidak pernah mencintai Mama, dan itu memang tidak bisa di paksakan."
Kala kemudian menceritakan tentang surat wasiat Uncle Tom yang menginginkan dirinya menikahi Amber, sementara dirinya sudah terlanjur mencintai wanita lain, yang tak lain adalah Tari. "Aku tidak ingin seperti Papa, yang menikah dengan wanita yang tidak Papa cintai dan berujung menyakitkan untuk keduanya. Aku akan bicara dengan Amber setelah masa berkabungnya selesai."
Jagat hanya bisa memberikan suport, apa pun yang menurutnya terbaik.
"Apa Papa tidak ingin mengejar wanita impian Papa?" tanya Kala seolah menantang Papanya. "Bagaimana kalau kita sama-sama mengejar wanita yang kita cintai dan nanti kita diner bersama?"
"Papa tidak tahu sekarang dia ada di mana? Lagi pula asal kau tahu saja, anaknya segalak ular berbisa."
Kala tertawa geli. "Itu tidak seberbahaya jelmaan kancilku yang lihai sekali dalam menghilang."
Sementara itu di tempat berbeda, Tari yang tengah memeriksa laporan penjualan tokonya merasakan kupingnya berdengung. 'Siapa sih yang ngomongin gue?' batinnya kesal.
Mendadak pikirannya tertuju pada Kala, ia mematikan laptop kemudian meraih handphonenya yang ia letakan di sebelah laptop. Sudah lama sekali, sejak ia resign dari kantor lamanya Tari tidak membuka sosial media pribadinya, kali ini ia membuka sosial media untuk mencari tahu tentang Kala.
Tari pernah melihat wajah dan nama Kala di baliho yang terpajang di pinggir jalan tol Jakarta, namun saat itu ia sama sekali tidak tertarik mencari tahu lebih jauh tentang Kala, ia justru tidak berharap bisa bertemu dengan pria itu lagi.
Langit di Kala Sore, Tari mengetik pada kolom pencarian seraya tertawa geli. 'Dasar nama yang aneh,' batinnya. Tari tercengang ketika melihat foto-foto Kala yang memposting tentang The Great Ocean, dari situ Tari langsung bisa mengetahui bahwa Kala merupakan Direktur The Great Ocean,
"Jangan-jangan reward anak kembar itu hanya akal-akan dia saja untuk bisa bertemu dengan Lintang dan Lingga?" Tari mulai berpikir keras, mengingat jika sebelumnya kedua anaknya memang pernah mengunjungi tempat itu.
"Kau memang benar-benar licik," gerutunya, tapi kemudian Tari berpikir bahwa pria itu hanya penasaran saja sebab sudah beberapa hari sejak Kala datang ke kediamannya Tari tidak pernah mendapat laporan jika pria itu kembali lagi.
"Keputusanku untuk tidak mencari dan meminta tanggung jawabnya memang tepat. Pria seberengsek dia, tentu tidak akan mau benar-benar bertanggung jawab. Mungkin sebelum dan sesudah malam itu, banyak wanita yang dia jebak dengan cara yang sama."
Tari menaruh kembali handphonenya, kemudian ia beranjak dari ruang kerjanya menuju kamar anak kembarnya. Tari membaringkan tubuhnya di samping Lingga, ia membelai lembut wajah putranya. Ada perasaan bersalah dan sesak di dadanya sebab ia tidak bisa memberikan keluarga yang utuh kepada mereka, tapi jika memkasakan menjalin relationship dengan pria yang salah justru malah memperburuk keadaan.
"Maafkan, Mommy sayang..." Tari memeluk keduanya dengan hangat.
...****************...
"Morning," sapa Amber saat memasuki ruang kerja Kala di apartementnya. "Sekertarismu bilang, kau tidak ke kantor. Jadi aku bawa sarapanmu ke sini, makan dulu yuk sarapannya udah aku taruh di dapur."
Ketika ia mencondongkan tubuhnya hendak memeluk Kala, lagi-lagi pria itu menghindar. "Sebentar lagi ya, nanggung sebentar lagi," Kala menunjuk pada meja gambar, ia tengah mendesign ulang real estate milik Papanya.
"Oh iya, Papamu mana?" Amber melihat sekeliling, tak menemukan tanda-tanda kehadiran Jagat.
"Om di sini, tadi baru saja ke kamar sebentar mengambil handphone," Jagat berjalan masuk ke ruang kerja Kala dan menghampiri mereka. Amber langsung mencium tangan Jagat seraya menawarinya sarapan bersama.
"Sebentar lagi kita selesai," Jagat berkomentar hal yang sama, ia menerangkan jika Kala tengah mendesign villa. "Menurut Kala perumahan om yang tak laku bisa jadikan di villa untuk wisata, mengingat lokasinya tak jauh dari pantai."
Amber memperhatikan dengan seksama gambar yang di buat oleh Kala, lagi-lagi ia di buat kagum oleh hasil karya pria itu. "Kala, apakah ini bisa di jadikan venue pernikahan?" ia menujuk ke area halaman yang menghadap ke pantai.
Kala mengangguk, ia sengaja membuat area itu menjadi sebuah halaman yang bisa di gunakan untuk venue pernikahan outdoor. Saat menggambar, Kala membayangkan ia akan berada di sana bersama wanita yang selama ini menghantui pikirannya.
"Apakah kita akan jadi orang pertama yang akan menikah di villa, Papa?"
Seketika Kala terbatuk mendengar pertanyaan Amber, Jagat yang menyadari jika putranya tak nyaman dengan pertanyaan itu langsung mengalihkan topik. "Bagaimana jika kita sarapan saja? Perut Papa sudah lapar." Jagat menggiring Amber keluar dari ruang kerja Kala, seraya mengajaknya mengobrol ringan.
"Apa kau sudah ke Bali sejak datang ke Indonesia?" tanya Jagat menuruni tangga bersama Amber menuju ruang makan.
Amber mengangguk riang. "Minggu lalu Kala mengajakku mengunjungi Mama Dahlia, untuk merayakan ulang tahunnya."
"Dia pasti senang bertemu denganmu," ujar Jagat, ia masih ingat bagaimana kedekatan mantan istrinya itu dengan kedua orang tua Amber. "Karena saat itu kamu masih sangat kecil."
Amber menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga, ia melirik Kala ketika pria itu mendekat ke meja makan. "Aku pernah menemukan tulisan Mommy, di foto Mama Dahlia. Mommy menuliskan jika Mama Dahlia takut naik pesawat, apa itu benar?"
Kala mengangguk. "Tapi beberapa waktu lalu Mama berhasil melawan rasa takutnya untuk mengunjungiku ke sini."
"Itu pasti karena kau tidak pulang-pulang kan?" komentar Jagat, ia tahu pasti bahwa wanita itu akan melakukan apa saja untuk putranya termasuk melawan takutnya demi bertemu dengan Kala.
Suasana sarapan begitu hangat, Jagat terus memperhatikan Amber yang terang-terangan memberikan perhatiannya pada Kala, ia seperti melihat Dahlia yang kala itu begitu tulus mencintai dirinya.
"Aku balik lagi ke ruang kerja ya," Kala beranjak dari tempat duduknya, dan pergi meninggalkan meja makan.
Tak lama kemudian di susul dengan Jagat. "Nanti kau menyusul saja ya."
Amber mengangguk, ia sambil menyelesaikan makannya.
Di ruang kerja putranya Jagat menepuk lembut bahu Kala. "Kala, apa kau tahu hal yang paling Papa sesali seumur hidup Papa?"
Kala menoleh dan menatap Jagat lekat-lekat. "Papa sudah menyia-nyiakan orang yang mencintai Papa dengan tulus."
"Maksud Papa?" Kala mengerutkan keningnya, untuk memahami ucapan Jagat.
"Seandainya waktu bisa Papa putar kembali, Papa akan menghabiskan usia Papa untuk terus belajar mencintai Mamamu yang sudah begitu tulus mencintai Papa ketimbang mengejar wanita yang sama sekali tidak pernah mencintai Papa."
"Jadi Papa mau menyuruhku untuk menikah dengan Amber, dan melupakan wanita yang aku cintai?"
Jagat mengangguk. "Semoga kamu bisa belajar dari kisah Papa."
"Tapi Pah..." Kala belum bisa bilang jika ia sudah memiliki anak dari wanita yang ia cintai itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
waduhhh..waduhhh..waduhh...bapak anak mengejar mamanya dan anaknya...
seruu ini...🤣🤣🤣
2024-03-13
3
Diaz
Tari dapat julukan dari bapak dan anak 🤭
2024-02-25
2
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
lain hal nya dengan Amber ..pasti Amber membayangkan bahwa dia yang berada di sana dengan Kala
2024-02-19
4