Sejak berangkat ke toko perhiasan sampai kembali ke mobil saat dalam perjalanan menuju rumah milik omanya Adipati, Mona masih konsisten menampilkan wajah juteknya, gimana tidak, dia harus membatalkan sesi pemotretannya yang membuat Reval marah-marah padanya.
Dalam perjalanan, Adipati juga tidak banyak bicara, dia hanya bicara hal-hal yang diperlukan saja, itupun hanya dibalas dengan hmm hmm doank oleh Mona, dan Adipati tidak terlalu peduli dengan respon yang diberikan oleh Mona.
"Aku tidak peduli dengan wajahmu itu, tapi aku harap, didepan keluargaku, terutama didepan omaku, kamu bisa mengondisikan wajahmu." lirih Adipati setelah sekian lama terdiam tanpa menoleh sedikitpun pada Mona yang duduk disampingnya, sementara pandangannya lurus kedepan dengan tangan memegang kendali setir.
Mona mendengus kasar, dan menjawab, "Suka-suka guelah, ini wajah, wajah guekan."
"Kalau itu yang kamu inginkan, itu artinya kamu sudah siap kalau karir modelmu harus berhenti sampai disini." ancam Adipati dengan penuh kekuasaan.
Mona sangat mencintai profesinya sebagai model, sehingga mendengar ancaman tersebut membuatnya mendesah pasrah yang artinya mengiyakan keinginan Adipati.
Adipati memang tidak meminta Mona berhenti dari karir modelnya meskipun nanti saat mereka sudah menikah, dia hanya meminta supaya Mona bisa menjaga nama baik keluarga dan tidak membuat ulah apalagi sampai membuat skandal, dan demi karirnya, Mona menyetujuinya, sedikit bersyukur karna Adipati tidak melarangnya seperti papanya yang memintanya untuk berhenti dari dunia modeling yang telah membuatnya banyak dikenal oleh banyak orang.
*****
Hari pernikahan yang tidak pernah ditunggu itupun tiba, Mona begitu sangat cantik dalam balutan gaun pengantin yang sangat mewah dan elegan, membungkus tubuh rampingnya yang indah, Mona begitu sangat cantik dalam riasan make up hasil karya dari make up artis ternama.
"Gue gak pernah menyangka gue bisa menikah dengan laki-laki itu, laki-laki menyebalkan yang pernah gue sukai mati-matian, dan ehh sekarang setelah menjadi istrinya, gue malah ilfil." desahnya kesal.
Saat ini dia berada disebuah kamar yang disulap menjadi kamar pengantin, tubuh Mona terasa letih dan lelah setelah seharian menyalami para tamu undangan, dia lega karna bisa menanggalkan wajah palsunya yang sepanjang acara harus mengulas senyum palsu dihadapan para tamu undangan hanya supaya dikira dia berbahagia menikah dengan Adipati.
Pintu kamar yang ditempati oleh Mona terbuka yang membuat wanita itu memalingkan tatapannya ke arah pintu, dia menemukan kedua sahabatnya berjalan menghampirinya.
Ana dengan balutan pakai yang anggun dengan rambut disanggul rapi, wanita gila kerja itu terlihat cantik dan anggun, kaca mata minus yang senantiasa membingkai wajah tirusnya untuk pertamakalinya dilepas dan digantikan dengan soflent, sedangkan Merry, sahabat Mona satu itu terlihat tidak nyaman dalam balutan pakain formal, dia sempat protes saat Mona meminta memintanya menggunakan pakain tersebut karna dia ingin memakai pakaian seperti yang dikenakan oleh Ana, dan itu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Mona.
"Ekhemm ekhem, yang sudah sah jadi manten." goda Ana nyengir.
"Huhhhh." Mona mendengus mendengar godaan sang sahabat.
"Ini kamar yang jadi saksi malam pertama ye dengan pujaan hati yang ye idam-idamkan sejak dulu." Merry ikut-ikutan menggoda.
"Apaan sieh lo Merry, siapa juga yang mau menikah sama laki-laki sialan itu."
Ana dan Merry terkekeh, mereka berdua mengambil tempat duduk dikiri kanan Mona sehingga mengapit wanita yang masih mengenakan gaun pengantinnya itu.
"Niehhh kado dari gue." Ana menyerahkan kotak yang ada ditangannya dan meletakkannya dipangkuan Mona, dia sengaja menyerahkannya secara khusus pada sahabatnya itu.
Mona tidak bereaksi apa-apa, dia bahkan tidak berminat sedikitpun untuk membuka tutup kotak tersebut hanya untuk mengetahui isinya.
"Lo gak pengen tahu apa kado yang gue berikan." tegur Ana melihat Mona yang tidak terlihat antusias.
"Gak." jawabnya jujur.
"Lo harus buka."
"Entar aja, lagian apaan sieh yang lo berikan, bukan berliankan."
"Ini lebih berharga dari berlian, makanya lo buka." Ana memaksa sehingga membuat Mona terpaksa melakukan apa yang diminta oleh Ana.
"Lingeri, yang bener aja lo."
Ana dan Merry senyum-senyum melihat ekpresi ngeri yang terpampang nyata diwajah Mona.
"Hehhh neng, gak usah ngeri gitu wajah ye, yekan harus nyenengein suami ye dimalam pertama ye."
"Apaan sieh, lo fikir gue akan ngelakuin hal begituan, ya gaklah." bantah Mona seolah-olah melakukannya sama tidak mungkinnya dengan membelah gunung.
"Lo gak ngelakuin hal itu, terus lo mau ngapain sama suami lo, main gundu gitu."
"Gak tahulah, intinya gak mungkin gue ngelakuin hal itu."
"Yahh, sia-sia gue beliin itu buat lo, padahal uang gue habis banyak hanya untuk membeli gaun tipis itu."
"Siapa suruh lo beli, guekan gak minta."
"Dihh, lo benar-benar tidak menghargai pemberian teman ya."
Ketiga sahabat itu ngobrol cukup lama, sampai ketika Adipati terlihat memasuki ruangan lengkap dengan tuxedonya, wajahnya terlihat lelah, tapi aura ketampananya masih terpancar dari wajahnya.
Ana dan Merry spontan berdiri, kedatangan Adipati memberitahu mereka kalau sudah saatnya mereka harus undur diri.
Adipati dengan wajah datarnya sama sekali tidak berniat membuka bibirnya untuk menyapa sahabat dari wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.
"Mon, sudah saatnya kami pamit, lo baik-baik ya sama laki lo." Ana mengerling ke arah Adipati yang terlihat cuek, Ana jadi sebel melihatnya, dan itu membuatnya mengurungkan niatnya untuk menyapa Adipati hanya sekedar basa-basi.
"Ayok Merr." Ana menggamit lengan Merry yang terpana melihat ketampanan Adipati.
Ana menarik paksa Merry keluar dari ruangan tersebut.
"Oma menyuruh kita turun untuk makan malam." Adipati membuka suara dengan tubuh membelakangi Mona, tangannya sibuk melepaskan dasi yang terpasang dikerah kemeja putihnya.
"Gue gak lapar." bohong Mona, dia lapar tentu saja setelah seharian berdiri dan menyambut banyaknya tamu yang hadir acara pernikahannya, hanya saja, dia lebih memilih untuk menahan rasa laparnya dibandingkan harus bergabung dalam makan malam keluarga besar Adipati, diakan agak gimana gitu bergabung bersama dengan orang asing, meskipun sekarang bukan orang asing lagi sieh mengingat dia sudah menjadi bagian dari keluarga besar Adipati.
"Pertama, kamu harus ikut makan malam, tidak peduli kamu lapar atau tidak, itu adalah peraturan yang harus kamu patuhi saat berada dirumah oma." tandas Adipati otoriter tanpa membalikkan tubuhnya ke arah Mona.
"Pemaksa banget sieh, orang gak lapar harus gitu dipaksa untuk makan." desis Mona tanpa suara sehingga tentu saja tidak bisa didengar oleh Adipati.
"Hehhh, apa yang kamu lakukan." teriak Mona saat melihat laki-laki yang kini telah resmi berstatus sebagai suaminya itu melepas jasnya.
Suara Mona yang melengking membuat Adipati membalikkan tubuhnya sehingga kini menghadap sempurna pada Mona, laki-laki tampan dengan sejuta kharisma itu menaikkan sebelah alisnya yang kalau diartikan artinya adalah 'Menurut kamu'
"Kalau mau ganti baju, sana dikamar mandi, jangan didepanku donk." ujar Mona mengerti arti dibalik naiknya alis Adipati.
"Kenapa harus dikamar mandi, bukankah disini sama saja."
"Ya maksud aku...." Mona menelan ludahnya, apalagi matanya terarah pada dada Adipati yang sudah sedikit terekpos karna beberapa kancing kemeja putih itu sudah dilepas, "Maksud aku...."
"Jangan sok polos kamu mona." pedas Adipati tahu apa yang akan dikatakan oleh Mona berikutnya.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments