"Apa, ye disuruh kawin sama bapak ye." wajah Merry terlihat ngeri saat Mona memberitahukan perihal itu, wajah sik manusia setengah-setengah itu tambah horor saat Mona mengatakan kalau dia juga disuruh berhenti jadi model, kalau Mona berhenti, mau makan apa coba dia, bisa sieh cari pekerjaan lain, hanya saja mencari pekerjaankan tidak segampang mencintai Park Jimin.
"Gue setuju dengan om Pras, itu adalah keputusan yang tepat untuk lo Mon, jangankan nyokap bokap elo, gue aja kadang khawatir dengan pergaulan elo." timpal Ana yang membuatnya berhasil mendapatkan plototan tajam dari dua pasang mata.
Saat ini mereka bertiga tengah menghabiskan waktu dengan nongkrong disalah satu cafe, tadinya Ana tidak mau, hanya saja Mona memaksanya dan mengatakan kalau ada hal urgent yang mau disampaikan.
"Gue cerita sama elo An supaya lo ngasih solusi ke gue, bukannya malah mendukung rencana papa gue." sewot Mona, "Nyesel gue cerita sama elo."
"Ye sudah tahu sahabat ye yang satu ini hidupnya monoton, ye malah cerita ke dia, ye bukannya malah dapat solusi, malah dijorokin ke lubang buaya."
"Sudahlah Mon hidup gak usah dibuat ribet elahh, enak malahan hidup elo itu ya, lo gak perlu capek-capek nyari suami, ehh malah disudah disiapin sama keluarga lo, coba gue jadi elo, gue bakalan dengan senang hati deh nerimanya."
Mona makin dibuat jengkel oleh kata-kata sahabatnya yang banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja itu, "Ya udah kalau gitu, elo saja sana yang nikah sama laki-laki yang dijodohin sama papa gue, gue sieh ogah."
"Dihh, sayangnya gur bukan anaknya papa Pras."
Mona mendengus mendengar ucapan Ana.
"Terus lo sekarang maunya apa hah."
"Ya gak mau nikahlah, gue masih mau ngejar karir gue meskipun papa gue menentang."
Kata-kata Mona barusan seperti angin segar untuk Merry, pria setengah perempuan itu tersenyum lebar, "Eike dukung ye Mona, emang ye itu pantasnya jadi dewi catwalk, eike yakin, 2 tahun kedepan, ye bakalan bisa bersaing dengan kendall Janner."
Mona mengangguk, dia sudah mengambil keputusan, apapun yang terjadi, dia akan tetap menjalani profesinya yang sekarang.
"Kalau lo emang sejak awal menentang keinginan om Pras, kenapa lo membuang-buang waktu gue untuk mendengarkan keluhan elo, mending gue diapartmen saja nyelsain kerjaan gue." protes Ana yang merasa waktunya terbuang sia-sia, nieh anak emang diotaknya hanya uang dan kerja saja meskipun saat ini sebenarnya dia libur, sehingga tidak heran sampai saat ini dia masih jomblo, tidak punya waktu dia untuk memikirkan tentang cowok.
"Ya ampunn deh, bisa tidak ye santai gitu sejenak, di otak ye kerja kerja dan kerja melulu, eike yang dengar saja pusinggggg tujuh kelililing." Merry dengan dramatis memegang kepalanya.
"Gak ada yang suruh lo dengar banci." pedas Ana.
"Dasar emang lo An, hidup itu cuma sekali, nikmati, jangan paksa diri elo untuk kerja."
"Dengan bekerja gue menikmati hidup gue."
"Sudahlah Mona, percuma ngomong sama sahabat ye doyan kerja ini, ye ngomong ini, dijawabnya kerja."
Mona mengangguk membenarkan.
"Kalau lo beneran nikah sama laki pilihan papa lo, gue kasih tahu lo dari sekarang ya Mon, gue gak bisa jadi pengiring pengantin lo." sik Ana kembali membahas masalah pernikahan.
"Gue gak akan nikah Ana." sewot Mona meraih gelas orange jusnya dan menyeruputnya.
*****
"Balik juga lo ternyata, akhh iya benar, ternyata harta kekayaan membuat orang bisa berubah fikiran juga ya."
Suara itu mampir indra pendengaran Adipati saat dia melewati ruang tamu saat dia berkunjung ke rumah omanya.
Adipati menoleh ke arah sumber suara, seorang laki-laki seusia dirinya yang duduk dengan menyilangkan kaki disofa, tangan kanannya memegang sebatang rokok, sementara dari bibirnya dia menghembuskan asap, laki-laki itu adalah sepupunya Yudha anak dari adik papanya.
Yudha sejak dulu tidak pernah menyukai Adipati, ini dikarenakan Yudha iri dengan Adipati, Adipati selalu lebih unggul dibandingkan dirinya dalam hal apapun, itulah yang menyebabkan oma menjadi sangat menyayanginya dan selalu membuatnya terabaikan, bahkan Adipati sudah dipersiapkan untuk menjadi direktur perusahaan keluarga, sedangkan dia, tidak pernah dipertimbangkan sama sekali, bagaimana dia tidak makin membenci Adipati coba, yahh melihat fakta yang ada, mana mungkin juga Yudha dipertimbangkan untuk memegang perusahaan raksasa yang sudah mati-matian dibangun oleh almarhum kakeknya dari nol kalau Yudha tidak becus, diakan hobynya foya-foya dan menghamburkan uang dan main perempuan.
"Ehh lo Yud, udah lama lo." tanya Adipati mengabaikan kata-kata Yudha tersebut, meskipun tahu kalau Yudha iri dengannya, Adipati berusaha bersikap ramah karna biar bagaimanapun, Yudha masih memiliki hubungan darah dengannya.
Adipati memang pernah bilang kalau dia ingin menetap di Amerika dan bekerja disana, tapi ternyata omanya memintanya untuk kembali, dan dia tidak bisa menolakkan, lagipula omanya sudah tua, dia fikir memang keputusan untuk kembali dan menetap merupakan keputusan yang benar, dia ingin menemani sang oma dimasa-masa tuanya.
"Hmmm, cukup lama untuk menunggu yang mulia pangeran kembali dari jalan-jalan."
Lagi-lagi Adipati tidak meladeni kata-kata sepupunya itu, dia tahu sejak dulu Yudha tidak menyukainya, dan dia memilih untuk tidak memperdulikan akan hal tersebut.
"Adipati keponakanku." seorang laki-laki yang lebih muda dari papanya terlihat mendekatinya, itu adalah om Dion adik papanya sekaligus papanya Yudha, dia bersama dengan wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang menginjak kepala lima, tante Erna istri om Dion, dia sama seperti anaknya, tidak menyukai Adipati.
"Om Dion." sapa Adipati mengulas senyum, dia dan om Dion tidak ada masalah sama sekali.
Paman dan keponakan itu saling berpelukan akrab, tante Erna tidak suka melihat hal itu, dia sudah berulangkali menghasut suaminya supaya tidak menyukai Adipati, namun sayangnya usahanya itu gagal.
"Tante." sapa Adipati sebagai sopan santun meskipun dia tahu istri omnya itu tidak menyukainya.
Tante Erna melengos tanpa membalas sapaan keponakannya, dan lagi-lagi, Adipati tidak ambil pusing akan hal tersebut.
Om Dion menepuk lengan keponakannya, "Kamu sudah dewasa sekarang Adipati, om tidak pernah menyangka kamu juga sudah siap menikah." kekehnya.
"Iya om, ini semua keinginan oma, dan selagi Adipati bisa, Adipati akan menuruti semua keinginan oma asal itu membuat oma bahagia."
"Bagus bagus, kamu memang sangat berbakti Adipati, om tidak heran kenapa omamu begitu sangat menyayangimu." saat mengatakan hal itu, om Dion melirik ke arah putranya yang seketika langsung membuang pandangannya.
"Pinter banget memang sik Adipati itu cari muka, tidak heran jika oma, bahkan papa gue menyukainya." dengki Yudha.
"Kamu lihat Adipati Yudha, dia sukses berkarir dinegara orang, tapi dia tetap kembali untuk meneruskan usaha keluarga demi omamu, harusnya kamu mencontoh Adipati, jangan kerjaanmu hanya menghambur-hamburkan uang dan main perempuan." tegur om Dion pada putranya yang semakin jengkel dibanding-bandingkan begitu.
Sementara itu, Adipati merasa tidak enak.
Yudha yang tidak terima dengan kata-kata papanya sudah membuka bibirnya untuk membalas, namun mamanya yang juga tidak terima putra kesayangannya dibanding-bandingkan dengan Adipati lebih dahulu menyahut, "Bisa gak sieh pa, papa itu gak usah banding-bandingkan Yudha dengan anak ini, papa ini selalu saja memperlakukan anak sendiri seperti anak tiri, tidak pernah bangga dengan pencapaian Yudha."
"Pencapaian apa ma, menghabiskan uang perusahaan itu yang dinamakan pencapaian hahh."
Adipati semakin merasa tidak enak hati, sehingga sebelum tantenya kembali menjawab, dia buru-buru pamit, "Om, saya tinggal dulu, saya mau ketemu oma."
"Baiklah, sana temui omamu, dia sudah menunggumu."
Adipati mengangguk dan berlalu dengan langkah lebar.
"Pa, mama tidak suka ya papa itu memuji-muji apalagi membandingkan Yudha dengan anak itu, papa fikirkan donk perasaan Yudha." mama Erna kembali ke topik barusan.
"Apa sieh mama ini, memang salah apa papa memuji keponakan papa, lagipula, apanya sieh yang mau dipuji dari Yudha, bisanya hanya foya-foya dan menghamburkan uang." balas papa Dion menatap Yudha tajam, yang ditatap hanya diam tidak membalas.
"Selalu saja papa membandingkan gue dengan keponakan kesayangannya itu, siapa sieh yang sebenarnya anaknya."
Yudha berdiri dari posisi duduknya dan buka suara, "Cukup pa, papa memang sejak dulu selalu saja membandingkan aku dengan keponakan papa itu, aku sudah muak pa, apapun yang aku lakukan tidak pernah papa apresiasi, selalu saja salah."
"Itu karna kamu memang tidak pernah melakukan hal yang benar Yudha, seharusnya kamu malu dan menjadikan sepupu kamu sebagai panutan."
Yudha makin meradang mendengar kata-kata sang papa yang tidak pernah putus-putusnya membanding-bandingkannya dengan orang yang paling dibencinya, "Akhh terserah papa deh, aku muak dengan semua ocehan papa." setelah mengucapkan kalimat tersebut, Yudha berlalu begitu saja meninggalkan kejengkelan dihati papa Dion.
"Berani-beraninya kamu....." papa Dion hendak memberi pelajaran pada anaknya tersebut, namun lengannya ditarik oleh sang istri yang membuat langkahnya tertahan.
"Sudah cukup pa hentikan, Yudha benar, papa selalu saja membandingkan keponakan papa itu dengan putra kita, anak mana sieh yang tidak muak."
Papa Dion menghempaskan tangan mama Erna, menatap istrinya tajam, "Kamu dan anakmu itu sama saja." rutuknya dan berlalu meninggalkan mama Erna yang kesal.
*****
"Duhh, bisa gak sieh bang Mario tidak natap eike dengan tatapan horor begitu, kan eike jadi takut." suara hati Merry yang saat ini tengah memencet bell pintu apartmen Ana.
Namun tidak ada tanda-tanda seseorang akan membuka pintu.
"Kemana sieh mereka, jangan bilang mereka pada pergi, eike sudah tidak tahan nieh ditatap sama bang Mario." Merry kembali memencet bell dengan gemes.
Jadi ceritanya, karna ponsel Mona disita dan berhubung tidak ada yang tahu faswordnya sehingga Mario dengan sangat terpaksa menemui Merry, tadinya sieh Mario fikir adiknya bersama dengan wanita jadi-jadian itu, tapi ternyata tidak karna Mona menginap diapartmen Ana, dan sekarang Merry membawa Mario ke apartmen Ana.
Merry terlihat lega saat mendengar derap langkah dari dalam, dan sedetik kemudian, pintu itu terbuka.
"Elo Mer, mau ngapa...." Ana langsung terdiam begitu melihat siapa yang tengah bersama dengan Merry.
"Bang Mario." angguk Ana sungkan.
"Mana Mona." tanya Mario tanpa basa-basi.
"Mona ada didalam bang, ayok masuk dulu." Ana mempersilahkan dengan sopan.
Mario mengangguk dan mengikuti Ana masuk ke apartmen sahabat adiknya itu, Merry sieh ingin kabur saja, tapi toh kakinya juga ternyata ikut melangkah masuk mengekor dibelakang Mario.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments