Terjadi keheningan yang mencekam, sampai kemudian keheningan itu digantikan oleh suara tawa membahana diseantero lapangan.
"Ha ha ha ha ha ha."
Mona menggigit bibirnya menahan rasa malu karna dia sangat yakin dialah yang ditertawakan oleh anak-anak itu, mereka mungkin tertawa karna gadis jelek dan gendut sepertinya dengan tidak tahu malu menembak sang idola sekolah yang tampan, cerdas dan segala-galanya.
"Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan, seharusnya memang sejak awal aku tidak pernah punya fikiran untukk menyatakan perasaanku pada Adipati, lihatlah mereka semua mentertawakan aku, bahkan Adipati juga." Mona sempat mendongak untuk melihat ekpresi Adipati, Adipati sieh tidak tertawa ngakak seperti teman-temannya, dia nyengir doank, namun itu sudah lebih daru cukup untuk membuat hati Mona sesak.
"Demi apa, gadis gendut dan jelek ini nembak lo Adipati, hahaha, sumpah lawak banget, ini adalah lelucon terlucu yang pernah aku lihat sepanjang sejarah hidupku." komen salah satu teman Adipati.
"Mimpi apa ya dia sampai tidak tahu malu nembak lo Adipati, kayaknya semalam dia dapat wangsit deh."
Adipati hanya diam tidak menanggapi setiap ucapan teman-temannya.
Mona hanya berdiri mematung, sumpah tubuhnya bergetar mendengar setiap hinaan yang dilontarkan oleh teman-teman Adipati, seharusnya dia memang pergi, namun sayangnya kakinya seperti tertancap dilantai lapangan basket.
"Tapi kuenya boleh juga tuh, kelihatan enak banget." teman Adipati yang mengatakan itu akan mengambil kue yang ada ditangan Mona, namun sebelum dia berhasil melakukan itu, dia didahului oleh Clara yang merebut kue itu dengan kasar.
Mona mendongak dan melihat wajah cantik itu menatapnya dengan tatapan menghina, senyum sinis tersungging dibibir gadis itu.
"Kue buatan sik gendut ini lebih baik dibuang." Clara membuang kue itu tanpa dosa dan menatap kue yang berserakan dilantai itu dengan pandangan puas.
Mona menatap kue yang dibuatnya dengan susah payah dengan mata berkaca-kaca, "Kueku." desisnya pilu, tidak pernah seumur hidupnya dia benar-benar dipermalukan seperti ini, didepan umum lagi, sungguh hal ini tidak akan pernah dilupakan oleh Mona seumur hidupnya.
Sekali lagi Adipati hanya diam, dia sudah kayak patung tampan saja.
"Hehh Clara, kenapa lo buang anjirr, kan sayang." anak cowok itu protes.
"Otak lo ya isinya cuma makanan doank, sudah bagus nieh kue gue buang, gimana coba kalau kue ini diguna-guna oleh sik gendut ini agar Adipati tergila-gila padanya, dan kalau lo pada yang kena karna makan nieh kue gimana, emang lo rela kalau lo pada tergila-gila pada sik gendut jelek ini."
Tawa penghinaan kembali terdengar, Mona mengepalkan tangannya geram, mana mungkin dia melakukan hal itu, meskipun dia tidak terlalu paham-paham banget ilmu agama, tapi dia tidak mungkin menggunakan cara musryk seperti itu hanya untuk mendapatkan cinta Adipati.
"Lo benar juga Clara, astaga, kenapa gue tidak berfikir sampai sejauh itu ya, lo beruntung bro selamat dari niat jahat sik gendut itu."
Untuk pertamakalinya Adipati buka suara, "Jangan berfikir negatif kalian, dia kelihatan baik kok orangnya."
Namun bagi Mona yang sudah terlanjur benci sama Adipati dan semua teman-temannya yang ada dilapangan, dia tidak tersentuh sedikitpun dengan pembelaan yang Adipati katakan, rasa cinta yang menggebu-gebu itu kini berubah menjadi rasa benci yang teramat sangat.
"Lo emang kebiasaan deh, sifat baik lo harus lo hilangkan, kalau lo kayak gini terus, bisa-bisa cewek-cewek, apalagi cewek gendut kayak gini dengan gampang guna-gunain elo pakai makanan."
Kata-kata cowok barusan disambut dengan tawa.
"Hehh jelek." Clara dengan kasar menarik dagu Mona sehingga gadis itu dengan jelas melihat genangan di kedua pelupuk mata Mona yang membuatnya dengan senang hati mencemooh, "Lo itu harusnya tahu diri, Adipati itu tampan, pinter dan segala-galanya, lo itu gendut, jelek dan bodoh." Clara menekan jari tangannya dikening Mona beberapakali, "Lo itu gak pantas untuk Adipati, ngerti lo." dalam hati Clara menambahkan, "Adipati itu pantasnya sama gue, dia untuk gue dan selamanya hanya untuk gue." Clara juga memang sejak dulu menyukai Adipati, dan gadis itu dengan terang-terangan menampakkan rasa sukanya, hanya saja, Adipati tidak pernah menggubrisnya, itulah yang sering membuat Clara uring-uringan, dia selalu bertanya pada dirinya sendiri kenapa Adipati tidak pernah memperhatikannya, padahal dia cantik dan kaya, banyak kok cowok yang ngantri untuk jadi pacarnya, sayangnya Clara hanya mencintai Adipati.
Mona sudah tidak bisa menahan air matanya, sebulir kristal bening lolos begitu saja dari sudut matanya.
"Huhhh, dasar gadis cengeng." ejek Clara tersenyum puas melihat air mata Mona.
Teman-teman Adipati yang lain mentertawakan Mona, tapi tidak dengan Adipati, dia merasa kasihan dengan gadis itu, saat dia berniat membela Mona dan meminta teman-temannya terutama Clara untuk berhenti membuly Mona, namun sebelum dia melakukan itu, sebuah tangan dengan kasar menghempaskan tangan Clara dari dagu Mona yang membuat gadis itu hampir terjatuh, untungnya dia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Lepasin tangan kotor lo dari wajah sahabat gue." bentak Ana yang tiba-tiba sudah berada didekat kumpulan tersebut, Ana menatap Adipati dan semua yang ada dilapangan itu dengan tatapan galak.
"Awhhh sakit, dasar bar-bar." Clara memegang tangannya yang sakit karna dihempaskan oleh Ana.
Ana tidak memperdulikan ucapan Clara, dia dengan langkah percaya diri dan dengan wajah galaknya mendekati Adipati dan menunjuk laki-laki remaja itu tepat dimatanya, "Lo, dasar cowok brengsek gak punya hati, bisa-bisanya elo mempermalukan sahabat gue didepan teman-teman elo."
Adipati terlihat membuka bibirnya untuk menjawab setiap ucapan yang dikeluarkan oleh Ana, tapi Ana tidak membiarkan Adipati untuk membela diri, "Mentang-mentang lo tampan dan segala-galanya, elo fikir bisa gitu berbuat seenak jidat lo sama sahabat gue hahh, benar-benar laki-laki tidak punya hati, dajjal, mati saja lo."
Semua yang ada dilapangan itu membeku, mereka mungkin takjub melihat Ana yang marah-marah seperti singa betina yang kelaparan, hanya isak tangis Mona yang sesekali terdengar.
Setelah puas melampiaskan amarahnya dan mengata-ngatai Adipati, Ana berbalik dan menarik pergelangan tangan Mona, "Ayok Mona, cowok jahat seperti itu gak pantas untuk lo sukai, lo pasti bisa dapat laki-laki yang seribu kali jauh lebih baik daripada sik dajjal itu."
"Dajjal lo semua." ulang Merry mengikuti kedua sahabatnya menjauhi lapangan.
Adipati hanya menatap punggung gadis yang menyatakan perasaannya itu dengan nelangsa, sumpah dia merasa sangat bersalah, "Apa yang telah gue lakukan." sesalnya.
Sebenarnya Adipati tidak salah, diakan sejak tadi kebanyakan diam, dia sama sekali tidak ikut-ikutan menghina Mona, hanya saja dia merasa sangat bersalah, apalagi dia sempat dilabrak oleh Ana dan mengata-ngatainya.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments