Mobil yang dikendarai oleh Adipati memasuki salah satu rumah yang berada dikomplek perumahan mewah.
"Ini rumah lo." Mona bertanya hanya sekedar basa-basi doank, namun jawaban Adipati yang diluar nulur sungguh membuat Mona jengkel.
"Bukan, ini rumah Tom cruise." jawabnya sembari melangkah masuk.
"Ishhhh, dasar resek." umpat Mona mengikuti Adipati dibelakang.
Saat memasuki rumah, seorang wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh menghampiri sang empunya rumah.
"Selamat datang tuan, nyonya." sapa wanita paruh baya itu sopan dan ramah.
Wanita itu adalah bik Siti yang merupakan Art dirumah orang tuanya, dan karna malas mencari pembantu untuk mengurus rumah yang baru dibelinya, Adipati malah ngembat bik Siti karna bik Siti sangat bisa dipercaya.
"Terimakasih bik Siti." balas Adipati sopan, meskipun bik Siti hanya seorang pembantu, tapi Adipati begitu menghormati wanita yang sudah ikut dengan keluarganya itu sejak dia belum dilahirkan ke dunia ini.
"Oh ya bik Siti, ini Mona istriku, sekaligus nyonya dirumah ini."
"Salam kenal nyonya." bik Siti mengangguk ke arah Mona dengan bibir mengulas senyum yang dibalas anggukan singkat oleh Mona.
"Oh ya bik, tolong bawakan barang-barang kami dibagasi."
"Baik tuan." bik Siti berlalu meninggalkan pasangan pasutri tersebut untuk melakukan perintah dari sang tuan.
"Aku akan pergi ke kantor, kamu sebaiknya istirahat saja dirumah kalau tidak ada kegiatan, kamar kamu ada dilantai dua berseblahan dengan kamarku."
"Hahh." reflek Mona.
"Aku tidak mau sekamar dengan kamu, jadi alangkah baiknya kalau kita pisah kamar."
"Seharusnya aku yang bilang begitu, bukan dia." batin Mona, sumpah ya, dia tidak habis-habisnya dibuat kesal oleh laki-laki yang sekarang ini sudah berstatus sebagai suaminya itu.
"Aku juga ogah sekamar dengan kamu."
Tanpa mengindahkan nada jutek Mona Adipati berkata, "Aku berangkat ke kantor sekarang." dan tanpa ada yang namanya cium kening atau salim sebagai suami istri, Adipati melenggang pergi setelah mengatakan hal tersbut.
"Pergi lo yang jauh, gak usah kembali itu lebih bagus." desis Mona melepas kepergian sang suami.
******
Mona : Merrr, gue bosen nieh
Mona mengechat sahabatnya, dia yakin saat ini sahabatnya yang satu itu tengah tidak ada kegiatan apapun sehingga bisa diajak pergi kemana kek gitu untuk menghilangkan rasa suntuk dibenak Mona yang saat merasa bosan dirumah baru milik suaminya, dia memilih mengchat Merry karna tidak mungkin juga mengchat Ana karna bisa dipastikan wanita yang gila kerja itu saat ini tengah bergelut dengan segudang pekerjaannya.
Merry : Akhhhh, akhhhh
Nieh banci balasnya cuma akhh akhhh doank.
Mona : Paan sieh lo
Merry : Eike kaget donk pengantin baru ngechat eike, duh duhhh, gimana, enak malam pertamanya, jadi pengen
Mona : Pe'a, punya kuping tuh makanya difungsiin dengan benar
Merry ; Ye seriusan dengan kata-kata ye kemarin
Mona : Ya serius lah
Merry : Rugi bandar, surga dunia gak dinikmatin sama sik tampan itu
Mona : Duhh, gue ngchat lo mau ngajak lo jalan banci, bukan membahas hal itu
Merry : Ye mau ngajakin eike jalan, terus laki ye gimana, dianggurin gitu, oper ke eike aja ya beb, eike dengan tulus ikhlas memungutnya
Mona : Astagfirullah Merry, sadar lo banci
Merry : Duhh, masak eike gak boleh bercanda sieh, lagian mana mungkin juga eike embat punya teman
Mona : Lo mendingan jemput gue sekarang Merr, gue bete nieh dirumah
Merry : Suami ye ngizinin gitu ye pergi
Mona : Suami gue saat ini lagi ada dikantor
Merry : Ngapain?
Mona : Main bola, ya kerjalah, pakai nanya lagi
Merry : Ya maksud eike, do'ikan baru kawin dese, masak main tinggal kerja aja, gak niat nikmatin tuh surga dunia
Mona sudah berada diambang batas kekesalannya, dia sudah dibuat super kesal oleh Adipati, ditambah dengan Merry yang cerewet.
Mona : Merrrrrr.....lo jemput gue sekarang gak sebelum gue pecat lo
Merry : Siap bu bosss
******
Arloji yang melingkar dipergelangan tangan kiri Adipati sudah menunjukkan angka 08.30 saat dia tiba dirumah.
"Tuan sudah pulang." ujar bik Siti saat melihat sang tuan.
Adipati mengangguk.
"Apa tuan mau makan, saya siapkan."
Bukannya menjawab, Adipati malah menanyakan Mona, "Mona mana bik, apa dia sudah makan malam."
"Nyonya belum pulang tuan."
"Belum pulang." Adipati mengerutkan keningnya.
Melihat ekpresi tuannya bik Siti tahu kalau tuannya tidak tahu akan perihal kepergian nyonya barunya itu, untuk memperjelas, bik Siti memperjelas dengan pertanyaan, "Apa nyonya tidak menelpon tuan untuk memberitahu kalau dia pergi." bik Siti tentu saja berfikir kalau Mona memberitahu Adipati secara gitu mereka suami istri.
"Dia tidak menelponku bik."
"Ohh saya fikir..."
"Pergi kemana dia."
"Maafkan saya tuan, saya tidak tahu."
"Hmmm." ada kekesalan dihati Adipati mengetahui Mona pergi tanpa memberitahunya, meskipun mereka tidak saling mencintai, seenggaknyakan Mona menghargainya sebagai seorang suami.
"Bibik sebaiknya istirahat, saya akan menunggu Mona."
"Baik tuan." bik Siti berlalu meninggalkan Adipati diruang tamu.
******
"Sumpah gue ingin ke club, malas gue balik ke rumah bedebah itu." desah Mona saat berada didalam mobil dalam perjalanan pulang setelah sekian jam jalan-jalan dimall bersama sahabat tercintanya sik Merry, "Merr, ke club yukkk, gue stress nieh, butuh hiburan."
"Hehh, gak boleh, bisa digantung gue sama laki ye." tolak Merry cepat.
"Dia gak akan marah, lagian gue dan diakan nikah bukan karna cinta."
"Akhhh, tetap aja eike gak berani, mending ye izin dulu baru kita kesana, sama laki lo sekalian."
"Benar-benar gak asyik lo sekarang." desah Mona menyandarkan punggungnya disandaran kursi yang dia duduki.
"Eike lebih sayang nyawa Mon."
"Hmmmm."
"Ngomong-ngomong, kapan gue ada jadwal pemotretan lagi." Mona mengganti topik.
"Untuk satu minggu kedepan ini sieh ye kosong."
"Hahhh." Mona yang tadinya bersandar santai kembali duduk tegak mendengar jawaban dari pertanyaannya barusan, "Yang benar lo, sudah lo cek dengan benarkan."
"Ya karna ye nikah, perusahaan ngasih ye cuti untuk menikmati masa-masa bulan madu ye cantikkkk."
"Aishhhh." Mona kembali menyandarkan tubuhnya, kali ini lebih keras, "Bisa mati bosan gue gak ada kegiatan."
"Pliss deh Mon, eike harusnya senang gitu bisa istirahat, dan saran eike sama ye ya, ye harus mulai mencintai suami ye yang tampan bin ganteng itu, kalau ye cuek dan tidak pedulian begitu bisa diembat tuh laki lo, bisa rugi bandar ye kalau laki ye diembat sama pelakor."
"Gak peduli gue, gue malah bersyukur kalau laki-laki resek itu diambil oleh pelakor."
"Omongan adalah doa, awas ntar ye nyesal."
"Lo bisa tutup mulut rempong lo gak Merr sebelum kepalan tangan gue melayang, gue ada didekat lho ini."
Merry menggangguk dengan pura-pura memampangkan wajah ketakutan, "Siap tuan putri."
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments