7 tahun berlalu.
"Iya oma iya." seorang laki-laki dewasa tengah melakukan percakapan melalui ponselnya, nada bicaranya begitu sangat lembut.
Terdengar sahutan dari seberang, "Benar ya Chandra kamu akan pulang menjenguk oma, awas lho kalau kamu bohong."
Laki-laki yang dipanggil Chandra itu terkekeh, "Mana mungkin Chandra bohong sama omaku tersayang ini, oma tahu sendirikan kalau Chandra akan melakukan apapun untuk oma."
"Hmmm, kamu memang cucu kesayangan oma, kebanggaan oma, sejak dulu tidak pernah membuat oma kecewa."
"Mana mungkin Chandra membuat oma kecewa karna itu sudah pasti akan membuat oma sedih, dan Chandra tidak mau melihat oma sedih."
Wanita tua yang berumur 80 tahun itu terlihat menyeka matanya yang tiba-tiba saja mengeluarkan air mata haru, cucunya itu persis seperti almarhum suaminya, baik dari segi fisik dan juga sifatnya yang bertanggung jawab, "Kamu benar-benar persis almarhum opamu sayang, tidak pernah mengecewakan oma, oma jadi rindu dengan mendiang opamu, kalau kamu disini, itu akan mengobati kerinduan oma." curhat wanita tua itu mengenang almarhum suaminya.
"Jangan sedih donk oma, Chandra yakin opa disana tidak ingin melihat oma sedih."
Wanita tua itu menyeka matanya karna membenarkan ucapan cucu kesayangannya, "Kamu benar Chandra, oma tidak boleh bersedih, oma tidak mau opamu melihat oma seperti ini."
"Nahh, begitu donk oma."
"Oma, oma sebaiknya istirahat oke, jaga kesehatan oma, oma tidak maukan nanti ketemu Chandra dalam keadaan sakit." Chandra yang tidak lain adalah Adipati memperingatkan omanya mengingat usia omanya yang sudah sepuh membuat wanita tua itu sering sakit-sakitan, oma Ratih memang satu-satunya orang dalam keluarganya yang memanggilnya dengan panggilan Chandra.
"Hmmm, baiklah sayang, kamu juga istirahat, oma sudah tidak sabar bertemu dengan cucu kesayangan oma ini."
"Iya oma, I LOVE YOU OMA."
"I LOVE YOU TO sayang."
Cucu dan nenek itu mengakhiri pembicaraan mereka.
Adipati sebenarnya malas untuk pulang ke tanah airnya dan mengajukan cuti pada perusahaan tempatnya bekerja, tapi kalau omanya yang sudah meminta, dia tidak bisa menolak, dia tidak bisa menolak permintaan wanita yang dia sayangi itu.
*****
Kilatan cahaya blitz dari kamera tidak henti-hentinya berpendar menyinari sosok gadis cantik bertubuh tinggi dan langsing yang saat ini tengah melakukan pemotretan untuk sebuah majalah ternama ditanah air, gadis itu berpose dengan berbagai gaya, dia benar-benar menawan dan membius setiap orang yang melihatnya, sang potografer yang mengambil gambarnyapun begitu sangat puas dengan hasil yang didapatkannya.
"Oke, tahan Mona, tahan." dan cekrek, sik potografer tersenyum puas karna berhasil mendapatkan gambar yang dia inginkan, dia melihat kembali hasil bidikannya dan kembali melontarkan pujian dari bibirnya, "Sempurna."
"Akhhh, kesayangan eke, ye betul-betul Dewi kesempurnaan." Merry yang selalu mendampingi Mona kemana-mana bertepuk tangan kegirangan.
Gadis itu adalah Monalisa, gadis gendut dan jelek yang dibully 7 tahun yang lalu, ternyata, hinaan waktu itu berdampak besar bagi kehidupan gadis itu, lihatlah dia sekarang, begitu cantik, anggun dan elegan, tidak ada yang pernah menyangka kalau gadis gendut dan jelek itu ternyata kini menjadi seorang model terkenal, dengan kecantikan dan kulit putih dan mulusnya dia juga didapuk menjadi BA produk-produk kecantikan, wajahnya sering menghiasi majalah-majalah ternama, sering berlenggak-lenggok dicatwalk dan sepertinya dia juga tengah mempertimbangkan untuk merambah dunia perfilman mengingat ada beberapa tawaran dari beberapa produser film.
"Oke Mona, seperti biasa, sempurna." Reval mengacungkan jari jempolnya untuk mengapresiasi, "Dan cukup untuk hari ini."
Senyum kepuasan tercetak dari bibir yang dipulas oleh lipstik berwarna merah terang itu, Mona selalu bangga pada dirinya sendiri.
Mona mendekat ke arah Merry, Merry yang merupakan sahabatnya yang merangkap managernya, make up artisnya, hair staylisnya, intinya Merry serba guna banget deh, sehingga tidak heran Mona membayar Merry dengan gaji tinggi.
Merry dengan sigap mengambilkan minuman untuk Mona, "Thanks Merry." Mona duduk dikursi yang memang disediakan untuknya.
"Ye memang luar biasa sayangku."
Mona tersenyum congkak, sekarang, dengan kesempurnaan yang dimiliki, tidak ada seorangpun yang bisa menghinanya, dan setiap mengingat kejadian 7 tahun silam yang terjadi dilapangan sekolah selalu saja membuatnya geram, terutama saat mengingat Adipati, sejak peristiwa itu, Mona tidak tahu dan tidak mau tahu lagi kabar Adipati, dia bahkan tidak akan peduli kalau seandainya Adipati mati.
Terlihat Reval berjalan mendekati Mona dan Merry "Apa kamu free malam ini Mona." tanya laki-laki itu, ini sudah lebih sepuluhkali dia menanyakan hal itu sejak mengenal Mona, Reval memang menyukai Mona, sayangnya Mona sepertinya tidak tertarik dengan Reval, karna dia juga selalu memberikan jawaban yang sama saat Reval menanyakan hal itu.
"Sorry Re, gue sama Merry ada acara, iyakan Merr."
"Ohh tentu saja." jawab Merry selalu mengerti kalau sahabatnya itu menolak seseorang secara halus.
"Ohh begitu." Reval kecewa, dia tidak pernah berhasil mengajak wanita yang disukainya itu hanya sekedar untuk menghabiskan waktu bersama, "Kalau kamu ada waktu, kasih tahu aku Mona, pasti bakalan asyik jika kita menghabiskan waktu bersama." ujarnya dengan penuh harap.
"Hmmm, lihat entar deh." selalu dengan jawaban yang itu-itu saja.
"Oke Mona, aku akan menunggu kapan hal itu akan terjadi." ucap Reval sebelum berlalu dari hadapan Mona.
"Huhh, haruskah gue menolaknya secara terang-terangan Merr supaya dia berhenti mengganggu gue, sumpah gue bosan lihat dia bolak-bolak menanyakan hal yang sama." keluh Mona menatap punggung Reval dengan wajah bete.
Merry cekikikan, "Ye bilang saja kalau ye sudah punya gandengan, bereskan, eke yakin tuh bujang tidak bakalan gangguin ye lagi."
"Ishhh, tau ah gelap, pusing gue, gue butuh hiburan Merr."
"Cuss, kita clubing."
Mona tersenyum lebar, "Elo emang tahu apa yang gue butuhkan."
"Ya donk, Merry gitu lho."
"Ajak Ana biar rame."
"Duhh, perlu gitu kita ngajak tuh wanita gila kerja, yang ada diotak wanita galak itu kerja dan kerja."
"Justru itu, sekali-kali tuh anak juga butuh tuh hiburan, gue kok jadi mengkhawatirkan dia, takut gue kalau tiba-tiba dapat kabar kalau dia masuk rumah sakit jiwa."
"Hmmmm." Merry mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sahabatnya satu itu.
"Halo Ana darling, ye punya waktukan untuk ke club."
"......"
"Apa, ye gak bisa, ye kerja, astagfirullah, nieh malam minggu ye kerja juga."
"........"
"Terserah ye, bye." Merry menutup telpon dengan gusar.
"Tuh, ye dengar sendirikan kalau best friend ye itu sibuk kerja."
"Yahh, kita memang sepertinya harus pergi berdua."
******
Sebagai seseorang manager, disini Merry bertugas untuk memastikan Mona baik-baik saja, tidak hanya masalah pekerjaan, tapi dia juga merasa bertanggung jawab membuat Mona bahagia, salah satu caranya adalah dengan membawa Mona ke club untuk menjaga kewarasan sang sahabat ditengah menumpuknya pekerjaan yang harus dijalani setiap harinya.
Dan seperti biasa, Merry hanya minum satu gelas saja untuk memastikan dirinya tidak sampai teler karna dia bertugas untuk menjaga Mona selama gadis itu bersenang-senang, selain itu juga dia harus menyetir pulang ke apartmen, dia dan Mona memilih apartmen yang sama dengan kamar berseblahan.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments