"Kemasi barang-barangmu sekarang." Adipati memberi perintah tanpa melihat ke arah Mona begitu wanita itu keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya.
"Rumah besar ini pasti ada pembantunyakan, suruh aja mereka ngemasin barang-barang gue." jawab Mona acuh tak acuh, pasalnya segala sesuatunya sudah terbiasa diurusi oleh orang lain sehingga untuk mengemas barang-barangnya saja Mona malas.
"Para Art disini sudah sangat sibuk dengan urusan masing-masing, makanya kamu yang harus mengemasi pakaian-pakaian kita."
"Pakaian kita, maksud lo, pakaian lo juga gitu, dihhh ogah, gue bukan pembantu lo ya."
Adipati yang saat ini tengah memakai dasinya berbalik ke arah Mona, menatap Mona dengan tatapan dinginnya, namun Mona menantang balik dengan menatap mata Adipati.
"Kamu istriku Mona, jadi memang sudah seharusnya kamu melayaniku."
"Gue tidak pernah ingin menjadi istri lo, salah lo sendiri memaksa untuk menikahi gue."
Adipati menghembuskan nafas berat, terlihat dari ekpresinya sepertinya dia menyesal mengikuti keinginan sang oma, "Tuhan, wanita macam apa yang dipilihkan oma untuk cucu tercintanya ini." batinnya.
Karna tidak mau berdebat dipagi hari ini karna dia tidak mau suasana hatinya rusak saat dia memimpin rapat nanti sehingga Adipati memutuskan untuk meminta bantuan dari salah satu Art dirumah milik omanya tersebut, dia berjalan ke arah nakas yang berada disamping tempat tidur, tangannya meraih telpon rumah untuk meminta seseorang untuk mengirim salah satu Art dikamar yang dia dan Mona tempati untuk mengemas barang-barang mereka.
"Halo pak Adi, tolong kirimkan salah satu pekerja ke kamar yang saya tempati."
Setelah mendapatkan jawaban, Adipati kembali meletakkan telpon tersebut pada tempatnya.
Mona juga kini sudah mulai bersiap-siap dengan mengeringkan rambutnya dengan hairdrayer, "Jadi, kita akan tinggal dimana, dirumah orang tua lo, apartmen atau...."
"Kita akan pindah ke rumahku." potong Adipati yang sudah selesai dengan urusan dasinya.
"Hmmm, rumah lo ya." Mona mengangguk pelan, "Baguslah, gue juga gak mau tinggal dirumah mertua, yang gue denger sieh dari teman-teman gue yang udah pada nikah, mertua dan menantu tidak bisa akur, sering berantem."
"Mamaku gak kayak gitu, mamaku wanita yang baik."
"Itukan mamamu, wajar saja dia baik sama...."
"Bisa tidak kamu menutup mulutmu itu dan lebih cepat dengan urusan make upmu, aku harus segera ke kantor." Adipati menegaskan.
"Hmmm, gak usah ngegas juga kali." sewot Mona.
Hari-hari di awal pernikahan seharusnya pengantin baru menikmati indahnya bulan madu, tapi tidak dengan kedua pengantin baru yang baru kemarin melangsungkan pernikahan itu, penyebabnya tidak lain dan tidak bukan karna mereka menikah bukan karna berlandaskan cinta, meskipun oma sudah memberikan hadiah honeymoon ke prancis, namun Adipati menolaknya dengan sejuta satu alasan yang membuat oma kecewa, dan hari ini malah Adipati memilih untuk masuk kerja.
*****
Wanita tua itu terlihat berat melepaskan sang cucu, terbukti dia tidak mau melepaskan pelukannya pada tubuh kokoh cucu kesayangannya itu.
"Kamu kenapa tidak tinggal disini saja sieh Chandra sama oma, kalau kamu disinikan oma tidak akan kesepian." keluh wanita tua itu pada sang cucu, dia memang tidak tinggal sendiri, dirumah besar peninggalan almarhum suaminya itu, ada beberapa pekerja yang dia pekerjakan untuk mengurus ini itu, namun tetap saja dia merasa kesepian, karna toh para pekerja tersebut tetaplah orang lain bukan keluarga sendiri.
"Gue gak nyangka, cowok macam dia semanja itu." batin Mona melihat adegan mengharukan itu.
Adipati dengan pelan mendorong bahu neneknya, dia menangkup wajah keriput salah satu wanita yang begitu dia cintai itu, "Chandrakan tidak pergi jauh lagi oma, Chandra akan sering-sering datang kemari jengukin oma kalau libur kerja." hibur Adipati.
"Hmmm, tapi tetap saja tidak sama dengan kamu tinggal bersama oma, padahal dulu saat kamu masih kecil, sedetikpun kamu tidak mau pisah sama oma, kamu ngintilin oma kemanapun oma pergi."
Adipati terkekeh diingatkan tentang masa kecilnya, "Chandra minta maaf oma, tapi ini Chandra lakukan supaya jarak yang Chandra tempuh tidak terlalu jauh dari kantor."
Oma Danti terdiam, sepertinya dia mulai mengerti dengan pilihan sang cucu karna memang jarak rumahnya dan perusahaan cukup jauh, dan itu pasti akan menyebabkan cucu kesayangannya akan capek bolak balik, dan oma Danti tentu saja tidak ingin sang cucu kelelahan.
"Tapi kamu janji ya akan sering-sering datang menjenguk oma."
"Iya omaku sayang."
"Oma Danti tahu gak sieh kalau cucunya yang terlihat manis dan penurut ini sangat menyebalkan." batin Mona.
"Mona sayang." setelah puas dengan cucu kesayangannya, oma Danti beralih pada cucu menantunya.
Mona mengubah ekpresi wajahnya menjadi manis begitu oma meliriknya dan menyapanya, "Iya oma."
Wanita tua itu menggenggam tangan Mona dan memberi tatapan hangat, "Tolong ya sayang jaga suami kamu ini."
"Hehh, jaga gimana ini maksudnya." suara hati Mona bingung, "Diakan udah tuwirrr gitu, masak harus dijaga."
Wajah kebingungan Mona yang tampak jelas membuat oma Danti terkekeh melanjutkan kata-katanya, "Duhhh, bukan jaga dari orang jahat atau semacamnya maksud oma sayang, kalau yang itu sieh dia sangat bisa menjaga dirinya sendiri dan pastinya melindungi kamu juga, secara cucu oma ini pemegang sabuk hitam kareta." jelas oma Danti, "Maksud oma tuhh, anak nakal ini kalau sudah kerja suka lupa waktu dan pastinya lupa makan, itukan tidak baik untuk kesehatannya, dan oma tidak mau dia jatuh sakit, oleh karna itu ya sayang, oma mohon dengan sangat, kamu jaga dia dan urus cucu oma ini dengan baik ya, ingatkan kalau sudah waktunya jam makan."
Mona hanya mengangguk pelan, pasalnya dia tidak yakin bisa menjalankan amanat oma Danti mengingat diapun suka lupa makan.
"Apaan sieh oma, gak perlu berlebihan begitu, aku kalau lapar pasti makan kok." timpal Adipati namun tidak dihiraukan oleh oma Danti.
Meskipun hanya sebuah anggukan meragukan, namun oma Danti tersenyum, "Terimakasih ya sayang." oma Danti mengelus rambut Mona yang tergerai, "Kamu memang gadis yang baik, oma tidak salah memilih kamu."
Adipati menahan dengusannya mendengar kata-kata sang oma, inginnnya dia membantah dugaan omanya tersebut dengan kata-kata seperti ini, "Oma tentu saja dalah pilih, dia gadis paling pembangkang yang Chandra kenal."
Mona tersenyum canggung sekaligus malu atas perkataan oma Danti barusan karna sifatnya tentu sangat bertolak belakang.
"Oma, kami sebaiknya pergi sekarang, takutnya Chandra takut terlambat ke kantor." ujar Adipati.
Raut wajah oma Danti terlihat bete mendengar ucapan sang cucu, "Kamu benar-benar ya Chandra, kamu seharusnya menghabiskan waktu dengan istri kamu ini kamu malah tinggal."
"Maaf oma, tapi hari ini ada pertemuan penting yang tidak bisa diwakilkan." alibinya.
"Kalau minta maaf seharusnya sama istri kamu, kenapa malah minta maafnya sama oma, bukankah dia yang akan kamu tinggalkan."
Mona menjawab dalam hati, "Tidak apa-apa, gue malah seneng banget jauh-jauh dari dia."
"Iya maaf." ujar Adipati melirik Mona, dia melakukan itu demi omanya, padahal Adipati tahu istrinya itu juga tentunya tidak ingin menghabiskan waktu berdua dengannya.
Dan setelah ini itu, pasangan pengantin baru itu pergi juga menuju rumah baru mereka, oma Danti melambai melepas kepergian mereka.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments