KAMU SUDAH PAPA JODOHKAN

Saat Mona terlihat kebingungan mencari ponselnya, suara ketukan terdengar dari luar kamarnya.

"Nona, apa nona sudah bangun." itu adalah suara bik Imah Art yang bekerja dirumah orang tuanya.

"Iya bik." jawab Mona dari dalam acuh tak acuh.

"Nona diminta sama tuan ke ruang kerjanya."

"Apa." Mona dengar tentu saja, hanya saja dia ingin memastikan kalau memang benar papanya memintanya untuk ke ruang kerjanya, karna kalau papanya sampai memintanya ke ruang kerjanya, ini bukanlah pertanda baik.

"Tuan meminta nona ke ruang kerjanya sekarang." ulang bik Imah memperjelas.

"Baiklah, aku akan segera kesana bik."

"Baiklah nona, jangan lama ya nona."

"Iya." balasnya kesel, "Dasar cerewet." desisnya dengan suara pelan, biar bagaimanapun dia masih memiliki sopan santun, mana mungkin dia mengata-ngatai perempuan yang telah lama bekerja dengan orang tuanya itu.

*****

"Lho mbak, mbak ada disini." heran Mona saat melihat kakak iparnya, kalau kakak iparnya disini, itu berarti abangnya juga berada disini.

"Iya, mas Mario pagi-pagi sekali ngajakin mbak kesini." jawab kakak ipar Mona yang bernama Rani itu.

"Kira-kira ada apa ya mbak mas Mario ngajakin mbak kemari."

Rani mengangkat bahunya dan berkata, "Kangen mama dan papa kali." memang suaminya itu tidak memberitahunya tujuan kedatangan mereka ke rumah mertuanya itu.

Mona mangut-mangut sembari mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.

"Mila mana mbak, dia ikutkan." Mona menanyakan keponakannya yang baru berusia 2 tahun, bocah cantik itu saat ini tengah lucu-lucunya.

"Ada ditaman belakang, lagi bermain sama baby siternya."

"Kesana ahhh." Mona melupakan kalau dia disuruh menemui papanya.

"Ehh, ngapain kesana Mona."

"Akukan kangen sama keponakan aku mbak."

"Iya maksud mbak, sana gieh temuin papa dulu, bukannya kamu dipanggil papa."

"Ohh astaga aku lupa." Mona menepuk keningnya, "Kalau begitu aku kesana dulu mbak."

Rani mengangguk, Mona mengarahkan kakinya menuju ruang kerja papanya.

Pintu ruang kerja papanya sedikit terbuka saat Mona tiba.

"Apa sieh yang sebenarnya terjadi semalam, kenapa sieh gue tiba-tiba berada dikamar gue, gak mungkinkan sik Merry ngebawa gue pulang ke rumah orang tua gue." pertanyaan itu masih menghantui fikiran Mona karna dia sama sekali tidak ingat apa-apa, apalagi kepalanya masih pusing karna efek dari banyaknya alkohol yang masuk ke lambungnya.

"Duhh, perasaan gue jadi tidak enak." ujarnya saat melihat ruang kerja papanya.

Mona melangkah ragu, dengan pelan dia mendorong pintu yang berwarna coklat tua tersebut supaya tubuh langsingnya bisa masuk kedalam, namun lebih dahulu dia melongok untuk melihat siapa saja yang ada diruang kerja papanya itu, Mona sedikit terkejut karna menemukan mamanya juga berada disana, wajah wanita yang telah melahirkannya itu terlihat sedih, namun dia mengulas senyum tipis saat melihatnya, sedangkan wajah papa dan kakaknya terlihat datar dan dingin, kedua laki-laki itu terlihat menyimpan amarah, dan itu membuat Mona ngeri.

"Duhh, mereka pasti tahu semalam kalau gue mabuk berat." batin Mona kalut, "Sebenarnya apa sieh yang terjadi." setelah ini Mona berjanji untuk menghubungi Merry untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Kenapa kamu malah bengong disana, cepat masuk." bentak papa Pras galak.

"Iya pa." Mona buru-buru melangkah ke dalam.

"Papa, jangan galak-galak sama Mona." seperti biasa, mama Rianti yang lemah lembut tidak suka mendengar suara teriakan, apalagi mendengar anak perempuannya dibentak didepan matanya sendiri meskipun itu oleh suaminya sendiri.

Papa Pras diam tidak menimpali.

Mona berjalan mendekati mamanya, suasana diruang kerja papanya saat ini begitu mencekam, Mona berharap dengan berada didekat sang mama dia bisa mendapatkan perlindungan karna dia sudah yakin kalau dirinya akan dibantai oleh papa dan abangnya.

"Duduk disini sayang." mama Rianti menepuk ruang kosong yang ada didekatnya, bagi seorang ibu, meskipun salah, dia akan tetap membela sang anak.

Papa Pras hanya menghela berat melihat hal itu, dia sudah tahu saat istri tercintanya turut ambil bagian dalam pembicaraan ini semuanya pasti akan penuh drama, istrinya itu pasti akan membela Mona.

"Oke Mona, apa kamu tahu kenapa kamu dipanggil oleh papa kemari." tanya Mario kakak Mona yang tidak melepaskan tatapan horornya pada adik perempuannya begitu Mona sudah duduk.

Mona menggeleng karna memang dia tidak tahu.

"Sepertinya anak papa lupa ingatan, haruskah kita menceritakannya pa." Mario melirik sang papa.

"Cukup Mario, kita sebaiknya langsung pada intinya, adikmu bukan lagi anak kecil yang harus kita percayai saat dia menggeleng, adikmu bukan lagi gadis yang seperti kita kenal." suara papa Pras pedas, gimana tidak, dulu putrinya begitu manis dan penurut, sekarang, tidak ada lagi Mona yang dulu, Mona yang sekarang liar dan nakal, yahh, itulah yang papa Pras simpulkan saat melihat sendiri kelakuan anak perempuannya semalam.

"Duhhh, ini beneran dehh mereka tahu kalau gue mabuk, tapi kok bisa, dan tambah aneh lagi gue ada dikamar gue, gak mungkin sik banci itukan yang mengantarkan gue ke tiang gantungan." Mona masih menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi semalam.

"Monalisa, mulai sekarang, kamu akan tinggal kembali dirumah ini." suara papa Pras yang penuh otoritas itu mengembalikan kesadaran Mona dan menatap papanya dengan mata lebar.

"Apa." tentu saja Mona kaget, dan tidak sampai disana kekagetan Mona, kata-kata papanya berikutnya bahkan membuatnya shock.

"Tidak ada lagi model, dan kamu, sudah papa jodohkan dengan anak teman papa yang juga sekaligus rekan kerja papa."

Ini seperti disambar gledek disaat hari cerah dimana matahari tengah tersenyum menyinari penduduk bumi, "Tinggal dirumah ini, tidak ada lagi model, dan papa menjodohkan aku." ulang Mona tidak mempercayai apa yang papanya katakan, "Ha ha ha." Mona tertawa garing, "Bercandakan pa, ini bukan bulan april lho pa."

"Kapan papa pernah bercanda, papa tidak punya waktu untuk bercanda Mona." tandas papa Pras tegas.

Mendengar ucapan papanya tersebut, Mona tahu ini tidak bercanda, "Menikah, astaga, yang benar saja." Mona terlihat ngeri membayangkan kalau dia harus menikah, untuk saat-saat ini, sedikitpun dia tidak punya fikiran ke arah sana, yang dia fikirkan adalah karir dan menikmati hidup dengan menggunakan uangnya untuk bersenang-senang.

"Kamu memang harus menikah Mona, lagian umur kamu juga sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga, dengan kamu menikah, hidup kamu akan lebih terkontrol dan terarah, tidak seperti wanita liar yang doyan ke club malam." sambung Mario.

"Ohh, benar ternyata ini gara-gara gue mabuk semalam."

"Aku tidak nakal, apalagi liar." Mona mencoba untuk menyangkal.

"Tidak nakal, tidal liar kamu bilang." ulang Mario melotot, "Terus yang semalam itu apa namanya hah, bahkan kamu tidak sadarkan diri dan dipapah oleh teman jadi-jadianmu itu."

"Abang ke apartmenku semalam, ngpain sieh, akukan bukan anak kecil yang perlu abang kontrol."

Bukan tanpa alasan Mario dan papa Pras datang ke apartmen Mona, papa Pras mendengar kisikan kalau pergaulan putrinya itu tidak sehat sehingga malam itu juga dia mengajak putra sulungnya untuk menyambangi apartmen anak perempuannya, dan awalnya dia tidak percaya mengingat begitu penurutnya Mona, namun ternyata dia begitu kecewa saat melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau kisikan itu ternyata benar, dia menyaksikan sendiri putri yang begitu dia cintai dipapah saking telernya.

"Kalau abang dan papa gak datang semalam, kami tidak akan tahu kelakuan kamu Mona." balas Mario dengan suara tinggi.

Mona yang dulunya manis, penurut dan kalem kini hoby mendebat papa dan kakaknya, buktinya, dia kembali berkata, "Masak gara-gara Mona mabuk semalam terus papa dan abang punya niatan untuk menjodohkan Mona, ini tidak adil, lagian semalam untuk pertama kalinya Mona ke club, dan yahh itu juga untuk yang terakhir kalinya juga." bohongnya, padahal dia sudah sering pergi ke club untuk menghilangkan stress karna pekerjaan yang dia geluti.

"Jangan bohong kamu Mona, kamu fikir kami semua anak TK yang bisa kamu bohongi begitu saja hah, itulah kenapa sebabnya kamu ingin tinggal diapartmenkan, supaya kamu bebas hura-hura dan tidak ada yang mengatur, ingat Mona, kamu itu perempuan, kalau kamu hamil diluar nikah bagaimana, sadarkah kamu itu bisa membuat malu keluarga." tandas Mario.

Terjadi perdebatan sengit diruangan itu, sedangkan mama Rianti sejak tadi diam dengan wajah sendunya, wanita lemah lembut itu sebenarnya paling tidak bisa mendengar suara keras apalagi bentakan, hatinya begitu sensitif, tapi dia disini demi putrinya, dia akan siap memasang badan untuk putrinya kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Mona tidak terima dituduh begitu sehingga membuatnya kembali menjawab dengan suara yang tidak kalah kerasnya dari Mario, "Abang jangan sembarangan menuduh ya, abang fikir Mona wanita apaan, Mona itu udah dewasa dan bisa menjaga diri, dan sejak awal Mona bilang kalau Mona itu ingin mandiri dan tidak merepotkan mama dan papa, makanya Mona milih tinggal sendiri diapartmen."

"Dewasa apanya hah, mabuk-mabukan diclub kamu bilang dewasa dan bisa menjaga diri, kamu tahukan disana banyak laki-laki hidung belang, dan kamu dengan penuh kesadaran menyerahkan dirimu ke kandang singa, itu juga bencong temanmu itu tidak bisa diandalkan sama sekali."

"Jangan bawa-bawa Merry kak, Merry itu gak salah, dia hanya...."

"Sudah cukup." papa Pras menengahi sekaligus memotong ucapan Mona, dia melirik ke arah putrinya, "Intinya Mona, sebelum pernikahan, kamu harus tinggal dirumah dan mulai detik ini, berhenti jadi model." ucap papa Pras otoriter.

"Pa, kalau Mona berhenti jadi model, Mona dapat uang darimana."

"Papa jauh lebih dari mampu mencukupi segala kebutuhanmu Mona, jadi, jangan membantah kata-kata papa lagi."

"Pa, papa kenapa jahat begini sieh sama Mona, Mona belum mau nikah papa."

"Papa ngelakuin ini semua demi kebaikan kamu Mona."

"Demi kebaikan bagaimana sieh maksud papa."

"Papa tidak ingin kamu jatuh dalam pergaulan yang salah."

"Tapi Mona bisa jaga diri."

"Papa tidak percaya kata-katamu, intinya, kamu harus menikah dengan calon pilihan papa ."

"Ma." rengek Mona pada mama Rianti yang duduk disampingnya, Mona harap dia mendapat pembelaan dari sang mama karna keputusan papanya tidak bisa dibantah.

"Sudahlah Mona, ikuti kata papamu, papamu hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik."

"Mama juga jahat, sama kayak papa dan kak Mario."

"Bukan begitu sayang, mama hanya...."

Sebelum mama Rianti menjelaskan maksudnya. Mona bangkit dengan penuh emosi dan meluapkan amarahnya, "Pokoknya Mona tidak mau menikah titik, dan kalian semua, tidak bisa memaksa Mona." setelah mengatakan itu, Mona dengan langkah dihentak-hentakkan keluar dari ruang kerja papanya.

"Monaaaa." panggil Mario jengkel dengan adiknya itu, "Kita belum selesai bicara, tidak sopan sekali kamu main pergi saja, begini kamu bilang sudah dewasa."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." tandas Mona tanpa menoleh.

Mama Rianti menitikkan air matanya, dia kecewa pada dirinya sendiri karna tidak bisa mendidik putri semata wayangnya, "Ini salah mama, mama tidak bisa mendidik Mona dengan baik."

Mana mungkin papa Pras menyalahkan istrinya, istrinya sudah maksimal mendidik Mona, Mona yang dulu penurut kini berubah saat dia lulus entah apa alasan putri mereka itu berubah.

Papa Pras mendekati sang istri dan merangkulnya, "Jangan salahkan diri mama, mama sudah melakukan yang terbaik, hanya anak itu saja yang sulit untuk diatur."

Mama Rianti meletakkan kepalanya didada suaminya, "Maafkan mama papa."

"Sssttt, ini bukan salah mama." papa Pras berusaha menenangkan istrinya.

"Anak itu, benar-benar dia itu." Mario ngedumel, matanya menatap pintu dimana Mona menghilang dibaliknya.

*****

Episodes
1 MENYATAKAN PERASAAN
2 LO GAK PANTAS UNTUK ADIPATI
3 MODEL
4 MABUK
5 KAMU SUDAH PAPA JODOHKAN
6 KAMU TIDAK MAUKAN DIJODOHKAN
7 Draft
8 KAMU
9 AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGANMU
10 BENAR-BENAR TIDAK BISA DI PERCAYA
11 TEMANI AKU MAKAN SIANG
12 MENIKAH
13 MAKAN MALAM
14 TELPON DARI CLARA
15 PAMIT
16 RUMAH BARU
17 JANGAN PULANG MALAM-MALAM
18 BERTEMU MAMA MERTUA
19 BERTEMU ADIPATI
20 MAKAN MALAM KELUARGA
21 KALUNG DARI OMA DANTI
22 BERANTEM
23 KEDATANGAN ANA DAN MERRY
24 CANGGUNG
25 KEPERGIAN ADIPATI
26 KAMU MASIH HIDUP
27 PERTENGKARAN DI KLINIK
28 KANTOR POLISI
29 MENJEMPUT MONA
30 BERTEMU CLARA
31 TELPON DARI MAMA
32 MEMBUAT KUE
33 GANTI PAKAIANMU
34 ACARA ANIVERSARY
35 TAMPARAN MARIO
36 Draft
37 MAKAN SING BERSAMA CLARA
38 TERPAKSA IKUT
39 KAMU PMS
40 APA KAMU MASIH MENCINTAIKU
41 DASAR IBLIS
42 ACARA REUNI
43 ACARA REUNI 2
44 KAMU MONALISA YANG ITU
45 FARHAN
46 PERTENGKARAN
47 Draf
48 BERSAMA FARHAN
49 MENEMUKAN MONA
50 MEMBAWA MONA PULANG
51 BUATKAN MAMA CUCU
52 Draft
53 MELAKUKANNYA
54 Draft
55 CHAT DARI SIK BRENGSEK
56 KUNJUNGAN MAMA DAN KAKAK IPAR
57 MENGERJAI MONA
58 DI JEMPUT FARHAN
59 LO PUNYA PACAR
60 ADIPATI NGAMBEK
61 JANGAN PERGI
62 DEMAM
63 KEDATANGAN CLARA
64 Draft
65 CHAT DARI MERRY
66 RENCANA BERCERAI
67 Draft
68 BERITA BAHAGIA
69 HAMIL
70 KEDATANGAN ADIPATI
Episodes

Updated 70 Episodes

1
MENYATAKAN PERASAAN
2
LO GAK PANTAS UNTUK ADIPATI
3
MODEL
4
MABUK
5
KAMU SUDAH PAPA JODOHKAN
6
KAMU TIDAK MAUKAN DIJODOHKAN
7
Draft
8
KAMU
9
AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGANMU
10
BENAR-BENAR TIDAK BISA DI PERCAYA
11
TEMANI AKU MAKAN SIANG
12
MENIKAH
13
MAKAN MALAM
14
TELPON DARI CLARA
15
PAMIT
16
RUMAH BARU
17
JANGAN PULANG MALAM-MALAM
18
BERTEMU MAMA MERTUA
19
BERTEMU ADIPATI
20
MAKAN MALAM KELUARGA
21
KALUNG DARI OMA DANTI
22
BERANTEM
23
KEDATANGAN ANA DAN MERRY
24
CANGGUNG
25
KEPERGIAN ADIPATI
26
KAMU MASIH HIDUP
27
PERTENGKARAN DI KLINIK
28
KANTOR POLISI
29
MENJEMPUT MONA
30
BERTEMU CLARA
31
TELPON DARI MAMA
32
MEMBUAT KUE
33
GANTI PAKAIANMU
34
ACARA ANIVERSARY
35
TAMPARAN MARIO
36
Draft
37
MAKAN SING BERSAMA CLARA
38
TERPAKSA IKUT
39
KAMU PMS
40
APA KAMU MASIH MENCINTAIKU
41
DASAR IBLIS
42
ACARA REUNI
43
ACARA REUNI 2
44
KAMU MONALISA YANG ITU
45
FARHAN
46
PERTENGKARAN
47
Draf
48
BERSAMA FARHAN
49
MENEMUKAN MONA
50
MEMBAWA MONA PULANG
51
BUATKAN MAMA CUCU
52
Draft
53
MELAKUKANNYA
54
Draft
55
CHAT DARI SIK BRENGSEK
56
KUNJUNGAN MAMA DAN KAKAK IPAR
57
MENGERJAI MONA
58
DI JEMPUT FARHAN
59
LO PUNYA PACAR
60
ADIPATI NGAMBEK
61
JANGAN PERGI
62
DEMAM
63
KEDATANGAN CLARA
64
Draft
65
CHAT DARI MERRY
66
RENCANA BERCERAI
67
Draft
68
BERITA BAHAGIA
69
HAMIL
70
KEDATANGAN ADIPATI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!