"Adipatiiii." teriak seorang gadis cantik dengan melambaikan tangan untuk menarik perhatian Adipati yang baru memasuki restoran.
Adipati tersenyum lebar saat melihat sahabatnya, dia bergegas mendekati gadis yang tidak lain adalah Clara.
"Adipati makin tampan saja." puji Clara dengan hati bergetar dengan senyum mengembang, sampai saat ini, dia masih memendam perasaan cintanya pada Adipati.
Clara bangkit untuk menyambut Adipati, "Hai." sapanya menyodorkan pipinya untuk cupika-cupiki yang dibalas oleh Adipati.
"Sorry ya Clara aku telat."
"Gak kok, aku baru saja lima menit disini."
Sebenarnya kalau mengikuti kata hatinya, Clara ingin sekali memeluk Adipati, memeluk laki-laki itu dengan sangat erat untuk mengungkapkan betapa rindunya dia pada laki-laki yang telah mengambil hatinya sejak dulu, namun dia ternyata memiliki tingkat pengendalian diri yang hebat sehingga dia tidak melakukan hal tersebut.
Clara memang beberapakali pacaran, hanya saja tetap Adipati tidak pernah bisa hilang dari hatinya, laki-laki yang berstatus sebagai pacarnya hanyalah sebagai pelampiasannya karna memang sampai saat ini dan sampai nanti Adipatilah yang jadi pemenang dihatinya, harapan Clara adalah bahwa, suatu saat Adipati bisa melihat ketulusan cintanya dan menerimanya.
"Kamu makin cantik ya Clara, pasti banyak yang naksir sama kamu." puji Adipati.
Adipati memang mengakui kalau Clara cantik, hanya saja dia menganggap Clara sebatas sahabat saja, tidak lebih, ternyata kecantikan yang dimiliki oleh Clara tidak membuat Adipati meletakkan Clara sebagai orang spesial dalam hatinya.
Clara tersenyum anggun, sungguh hatinya berbunga-bunga saat mendengar kalau Adipati memujinya.
"Lama tinggal di Amerika ternyata membuatmu pinter ngegombal ya."
"Ngegombal bagaimana, orang kamu beneran cantik kok."
"Kamu membuat kepalaku membesar."
Adipati tertawa kecil, dan itu semakin membuat Clara semakin jatuh sejatuh jatuhnya pada sahabatnya itu.
"Ehh, kok jadi berdiri begini, ayok duduk."
Adipati mengangguk, dia memilih duduk dikursi yang berhadapan dengan Clara.
"Kamu mau pesan apa."
"Kopi saja."
"Oke." Clara melambaikan tangannya untuk menarik perhatian pelayan.
Seorang pelayan datang menghampiri meja meraka, dan setelah menyebut pesanan Adipati, sik pelayan berlalu, sedangkan dua insan tersebut memulai obrolan.
"Jadi." Clara memulai, sorot matanya tidak lepas menatap wajah rupawan laki-laki yang telah mengisi hatinya sejak SMA itu, "Sekarang kamu beneran balik dalam artian yang sesungguhnya nieh."
Adipati mengangkat bahu, "Yah begitulah, oma maksa aku untuk tinggal, aku tidak mungkinkan menolak keinginan oma."
"Dasar cucu kesayangan oma." ledek Clara, dia sejak dulu tahu kalau Adipati selalu menjadi cucu kesayangan omanya.
Adipati terkekeh, Clara selalu saja meledeknya dengan panggilan cucu kesayangan omanya, namun dia tidak tersinggung akan hal itu.
"Berarti kamu resign dari pekerjaanmu di Amerika."
"Iya." jawab Adipati lemah, dia masih betah di Amerika, dan karirnyapun cemerlang disana, hanya saja kalau omanya sudah mengeluarkan titahnya, tidak mungkin bagi Adipati untuk menolaknya, dia begitu sangat menyayangi sang oma dan tentunya dia tidak mau membuat omanya kecewa, "Oma memintaku untuk membantu papa mengurus perusahaan."
Dalam hati Clara sangat senang akan hal ini, ini berarti dia akan lebih sering bertemu Adipati, dan sekaligus ini kesempatannya untuk mengambil hati Adipati, dan kali ini dia berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa mencairkan hati Adipati, sayangnya, kesenangan Clara tidak berlangsung lama, karna kata-kata Adipati berikutnya membuatnya tidak bersemangat untuk melanjutkan hidupnya.
"Tidak hanya itu saja alasan oma memintaku untuk pulang, oma juga telah menjodohkanku dengan putri temannya papa."
"Apa." saking kagetnya sehingga Clara tidak sadar suaranya meninggi sehingga membuatnya menjadi pusat perhatian pengunjung cafe.
"Heiii, gak perlu ngegas gitu kali Clara, aku saja yang dijodohkan biasa-biasa saja tuh." Adipati merespon lain kekagetan Clara.
"Kenapa bisa, astaga bagaimana ini, Adipati dijodohkan, ini tidak mungkin." Clara panik sendiri.
"Tapi...tapi kamu nolakkan Adipati, kamu gak maukan dijodohkan." Clara benar-benar berharap Adipati menjawab 'iya' sayangnya jawaban Adipati tidak seperti harapannya.
"Hmmmm." Adipati menyandarkan punggungnya disandaran kursi, "Kamu sudah tahu jawabannyakan."
"Tapi...tapi kamu bisa nolakkan kalau kamu tidak mau, inikan menyangkut masa depanmu Adipati, kamukan seharusnya menikah dengan wanita yang kamu cintai, hanya karna kamu sayang sama oma kamu bukan berarti kamu harus nurutin setiap apa yang dia katakankan."
"Tapi Clara, oma tidak mungkin memilihkan wanita yang salah untukku, jadi yahh, gak ada salahnyakan menerima perjodohan yang telah diatur oleh oma, lagipula aku tidak punya pacarkan." Adipati terlihat pasrah begitu, dibilang senang gak, dibilang tertekan juga gak, intinya dia mau sajalah, toh menikah karna perjodohan bukan akhir dari segalanya.
"Tapi bagaimana dengan aku." Clara keceplosan.
"Maksudnya." Adipati mengerutkan keningnya.
"Ya maksudku, kalau kamu menikah, aku tidak punya teman curhat lagi." Clara ngeles.
"Hahaha." kata-kata Clara tersebut membuat Adipati tertawa, "Kamu lucu sekali ya Clara, meskipun aku menikah nantinya, kita masih tetap sahabatan, dan kamu bebas mau curhat kapan saja." nieh cowok memang benar-benar tidak paham perasaan cewek.
"Bukan itu maksud aku Adipati, bagaimana dengan perasaanku, aku mencintaimu sejak dulu sampai sekarang, kenapa kamu tidak bisa melihatnya, aku bahkan tidak bisa mencintai laki-laki lain selain kamu." Clara hanya bisa menangisi dan mengasihi dirinya dalam hati.
*****
Mona tidak tahan dengan semua ini, dia benar-benar tidak mau dijodohkan, dia belum mau menikah, oleh karna itu, dia memutuskan untuk pergi dari rumah, memang dia tidak tinggal dirumahnyakan sejak dia memilih untuk hidup mandiri, maksudnya, untuk sementara sebelum papanya membatalkan niatnya untuk menjodohkannya, Mona tidak ingin berkunjung ke rumahnya.
Sebelum pergi, Mona menemui papanya untuk meminta ponselnya, dia yakin ponselnya disita oleh papanya, dan kebetulan setelah perdebatan sengit diruang kerja papanya, semua keluarganya termasuk kakak iparnya dan juga keponakannya yang masih berusia dua tahun berada disana, mereka semua berkumpul tentunya untuk membahas tentang Mona.
Semuanya terdiam saat Mona memasuki ruangan tersebut, Mona tahu dia tengah jadi topik pembicaraan, namun dia memilih cuek dan tidak ambil pusing tentang apa yang dibicarakan oleh keluarganya tentang dirinya.
"Mau kemana kamu." Mario bertanya saat melihat adiknya terlihat cantik dan rapi.
"Balik ke apartmen." jawab Mona tanpa menoleh ke arah sang kakak.
"Pa, minta ponsel Mona donk."
"Kamu tidak bisa balik ke apartmen itu lagi Mona." lisan papa Pras mengabaikan ucapan Mona yang meminta kembali ponselnya.
"Emangnya kenapa."
"Apartmen itu sudah papa jual."
"Hahh." mulut Mona sampai terbuka begitu, ternyata papanya sudah bertindak terlalu jauh, "Apa-apaan ini, kenapa papa menjual apartmenku." Mona meledak, dia melupakan dengan siapa dia bicara.
"Turunkan nada bicaramu Mona, tidak sadarkah kamu dengan siapa kamu bicara." Mario membalas.
Diana dengan sigap meraih putri kecilnya dan membawanya keluar, dia tidak ingin putri kecilnya menjadi saksi perdebatan jilid kedua keluarga suaminya karna tentunya hal itu juga tidak baik untuk mental Mila yang masih kanak-kanak.
Mona mengabaikan Mario, dia memilih fokus sama papanya, "Atas dasar apa papa menjual apartmen Mona tanpa sepengetahuan Mona, papa benar-benar sudah bertindak diluar batas."
"Itu apartmen papa Mona, papa yang membelikannya untukmu, jadi terserah papa mau menjualnya atau tidak, lagipula, untuk apa kamu tinggal diapartmen kalau kamu punya rumah yang nyaman." balas papa Pras setelah tadi hanya terdiam.
"Kenapa papa begitu jahat dan perhitungan sekali dengan anak papa, Mona benci sama papa."
"Ini papa lakukan demi kebaikan kamu Mona, jauh dari pengawasan orang tua membuat kamu jadi gadis liar."
"Mona masih seperti dulu papa, Mona tidak seperti yang papa tuduhkan." Mona nyolot.
"Intinya Mona, kamu harus tetap tinggal dirumah sampai pernikahanmu berlangsung."
"Papa jahatt, Mona benci papa." Mona menghentakkan kakinya dan berlari keluar dengan air mata berlinang.
"Mona sayang." panggil mama Rianti tidak tega melihat putri kesayangannya menangis.
Sebelum benar-benar keluar, Mona berbalik dan berkata, "Mona akan pergi, Mona tidak mau tinggal dirumah ini lagi."
"Mona sayang, jangan pergi nak." mama Rianti memegang area dimana jantungnya berada, wanita itu memang punya riwayat penyakit jantung yang diturunkan dari keluarganya.
Mona tidak memperdulikan mamanya, yang saat ini yang dia fikirkan adalah, dia harus pergi dari rumahnya dan tidak mau menerima perjodohan yang telah dirancang oleh papanya.
"Ma." papa Pras panik dan berlari mendekati istrinya yang limbung.
"Mama." Mario juga dengan sigap mendekati mamanya dan menahan tubuh sang mama, dia tepat waktu, sebelum tubuh mama Rianti jatuh ke lantai, dia lebih dulu menahannya.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments