"Apa, maksud kamu Rian lebih baik gitu daripada aku, ingat lho Adipati, aku ini sepupu kamu, bukan orang lain." Yudha benar-benar tidak terima dengan kata-kata Adipati.
"Ini bukan masalah sepupu Yudha, ini adalah masalah orang yang layak menangani proyek tersebut, ini proyek besar, kalau aku menyerahkannya pada orang yang salah itu akan berdampak besar pada perusahaan." Adipati yang sudah habis kesabaran menghadapi Yudha, dia sekarang berbicara dengan nada tidak kalah tingginya.
Yudha sudah membuka bibirnya untuk menjawab kata-kata Adipati barusan, namun Adipati tidak membiarkan sepupunya untuk bicara.
"Dan meskipun kamu adalah saudara sepupuku, dikantor aku tetap atasanmu, jadi Yudha, kamu harusnya menerima keputusanku."
Mata Yudha merah menyala, menampakkan kebencian selama bertahun-tahun pada sepupunya yang selalu mendapatkan segalanya dari sang oma, termasuk perusahaan yang merupakan peninggalan dari almarhum opa mereka.
"Aku yakin kamu akan menyesal karna memilih Rian untuk menangani proyek ini Adipati." setelah mengatakan hal tersebut, Yudha keluar diliputi amarah.
Adipati menghembuskan nafas panjang, dia tidak habis fikir kenapa sepupunya itu selalu memaksakan kehendaknya.
Adipati menghempaskan bokongnya dikursi kerjanya, menyandarkan bahunya yang tiba-tiba terasa berat.
******
Namanya juga cewek ya, hobby belanja, tidak puas rasanya kalau tidak muterin mall selama berjam-jam, begitu juga yang dilakukan oleh Mona yang ditemani oleh sahabatnya yaitu Merry.
Tangan Mona dan Merry dipenuhi oleh paperbag belanjaan mereka.
"Apa lagi yang mau ye beli Mon, nieh tangan cantik eike tidak muat nampung belanjaan lagi." keluh Merry, sepertinya dia sudah mulai kecapean.
"Kita ke toko kosmetik dulu."
"Ke toko kosmetik, emang make up ye yang seabrek itu sudah ludes."
Maklumlah, namanya juga model, punya seabrek make up untuk menunjang penampilannya, bahkan Mona punya lemari khusus untuk make upnya, dan bisa dipastikan dalam jangka lima tahun tidak bakalan habis, tapi tetap saja, setiap ada produk baru Mona pasti ingin membeli.
"Ya belumlah, tapi ada produk baru yang mau gue coba."
"Hmmm, sudah cuapekk dese eike ini."
Mona tetap berjalan tidak memperdulikan rengekan sahabatnya itu.
Mona tiba-tiba menghentikan langkahnya kakinya dengan wajah kaget, "Astaga." dengan cepat dia berbalik.
"Heii, kenapa ye balik." heran Merry bingung.
Belum sempat Mona memberikan jawaban, terdengar sebuah suara merdu memanggil wanita itu, "Monaaaa."
"Aihhh, kenapa mamanya pakai kenal gue lagi." desis Mona menghentikan langkahnya.
Ternyata yang memanggilnya adalah mertuanya alias mama Tika mamanya Adipati, sepertinya mertuanya itu juga tengah jalan-jalan, dan kebetulan sekali mereka berpapasan.
"Ehh, ye dipanggil tuh sama wanita cantik." beritahu Merry yang tidak mengenal kalau itu adalah mamanya Adipati, "Siapa dia, ye kenal."
"Mama mertua gue."
"Ohhh."
Mama Tika terlihat berjalan mendekati sang menantu, sementara itu Mona yang sebenarnya lebih ingin menghindar ketimbang harus bertemu dengan mama mertuanya berusaha untuk membuat aura wajahnya terlihat manis, meskipun dia tidak menyukai Adipati, bukan berarti dia juga tidak menyukai mamanyakan.
Mona berbalik setelah berhasil mengondisikan wajahnya sesuai dengan yang dia harapkan, mengukir senyum palsu yang terlihat natural dibibirnya.
"Hai Mona sayang." sapa mama Tika begitu sudah berada didekat menantunya, wanita yang baru beberapa hari ini dinikahi oleh putra semata wayangnya.
"Hai ma."
Mama Tika memberikan pelukan pada sang menantu, Mona membalas dengan kaku.
Wajah lembut dan tulus mama Tika mengulas senyum manis, senyum yang tentunya tidak dibuat-buat, "Mama tidak pernah menyangka akan bertemu kamu disini." tidak menyangka sekaligus senang donk pastinya.
"Iya ma, Mona juga." balas Mona sembari memberikan senyum palsu, dia tidak menyangka juga, tapi ya kalau bisa, Mona tidak ingin bertemu dengan mama mertuanya.
"Kamu sama siapa, Adipati tidak menemanimu."
Mona akan membuka bibirnya untuk menjawab, tapi mama Tika mendahului, "Mama tahu, pasti anak itu sibuk kerjakan, benar-benar dia itu, harusnyakan masa-masa pengantin baru seperti ini dia menghabiskan waktunya bersama istrinya, ini malah istrinya dibiarkan sendirian."
"Tidak apa-apa kok ma." tentu saja tidak apa-apa bagi Mona, diakan lebih senang jauh-jauh dari Adipati, "Mas Adipatikan sibuk dan banyak pekerjaan kantor yang memang harus dia selsaikan." Mona hanya memanggil mas saat didepan keluarga Adipati, dibelakang itu, tahu sendirilah Mona selalu berlaku tidak sopan pada suaminya tersebut.
"Lagian aku ditemani oleh sahabat sekaligus menager aku kok ma." Mona melarikan matanya ke arah Merry yang otomatis diikuti oleh mama.
"Hai tante." heboh Merry langsung menjabat tangan mama mertua sang sahabat, dan tuh orang langsung tuh main sosor aja pipi mama.
Mama Tika agak kaget sieh dengan kelakuan sik banci, tapi itu hanya sesaat karna ekpresinya kembali normal.
"Eike Merry tante, sahabatnya menantu tante yang super cantik ini, sekaligus juga adalah manager yang paling bisa diandalkan dalam kondisi cuaca apapun." gayanya gemulai.
"Apaan sieh lo Merr." Mona melirik Merry agak jengkel karna sikap lebayy sang sahabat.
Mama Tika terkekeh, "Kamu lucu ya, pasti asyik punya sahabat seperti kamu." sembari mencubit pipi tembem Merry dengan gemes.
"Iya tante, makanya menantu tante tidak pernah stress karna eike bikin ketawa mulu."
"Astaga anak ini, bikin gue malu aja." batin Mona.
"Oh ya sayang." mama Tika kembali memusatkan perhatiannya pada menantunya, "Mama lagi bersama dengan teman-teman arisan mama, kamu ikut gabung ya."
Mona sebenarnya jelas saja tidak ingin ikut bergabung, ya kali dia ikut bergabung dengan geng ibu-ibu, ditambah lagi yang Mona tahu kalau para ibu-ibu, apalagi ibu-ibu sosialita mulutnya itu nauzubillah deh, sering gosipin orang dan pada pamerin harta suami, namun apa daya Mona karna tidak enak sehingga dia terpaksa mengiyakan ajakan mama mertuanya itu.
"Mmmm, boleh deh ma." jawabnya dengan terpaksa.
Mama Tika tersenyum puas mendengar jawaban Mona.
Namun Merry yang jelas tahu bagaimana para geng ibu-ibu kalau sudah berkumpul memilih untuk mencari alasan untuk tidak ikut.
"Mmm, tante, mohon maaf ya sebelumnya, eike baru ingat kalau eike ada janji, jadi eike harus go out sekarang."
Mona memberikan tatapan tajam pada sahabatnya tersebut yang kalau diartikan kira-kira begini artinya 'Hehh, tega amet lo membiarkan gue sendirian diantara geng emak-emak tukang ghibah'
Seolah saling bisa membaca fikiran masing-masing, Merry menjawab dengan lirikan juga, yang artinya adalah 'Salah ye sendiri mengiyakan ajakan emak mertua lo, eike sieh kagak mau ya ikut gabung sama mak-mak rempong'
'Dasar jahat'
"Waduhh, sayang sekali ya Merry gak bisa ikut gabung." mama Tika terlihat agak kecewa.
"Maaf ya tante."
"Tidak apa-apa Merry, ya urusanmukan jauh lebih penting."
"Iya tante."
"Eike pamit dulu kalau begitu tan, Mona." pamitnya yang diangguki oleh mama.
"Akhhh, dasar banci tidak setia kawan." umpat Mona dalam hati.
"Nahh, ayok sayang mama kenalkan sama teman-teman mama." mama Tika dengan semangat menggandeng tangan menantu cantiknya dan dengan bangga akan dia perkenalkan pada teman-teman arisannya.
Mona hanya terlihat pasrah.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments