Sudah sebulan berlalu sejak pernikahan mereka, tidak ada yang berubah sama sekali, pasangan suami istri itu masih tidur dikamar terpisah, Mona bahkan sampai detik ini masih tidak suka melihat Adipati.
Saat ini Mona tengah istirahat sebelum sesi pomotretan berikutnya, Ria yang bertanggung jawab atas make up Mona mendekat hanya sekedar untuk memperbaiki riasan sik model.
"Ehh Mon, gimana hubungan ye dengan laki ye." Merry bertanya sembari menyodorkan botol minuman pada Mona saat Ria sudah berlalu.
"Gak gimana-mana." jawab Mona acuh tak acuh.
"Masak ciehhh, gak ada getaran-getaran apa gitu dihati ye, secara dulu ye cinta mampus sama laki lo."
Mona yang akan meneguk minumannya menoleh ke arah Merry, matanya melotot karna tidak suka diingatkan akan masa lalu, dan kalau saja waktu bisa diputar, dia tidak ingin menyukai Adipati.
"Bisa lo jangan bahas-bahas masa lalu gak Merr." lirih Mona penuh penekanan.
Sadar bahwa sahabatnya marah, Merry buru-buru berkata, "Iya iya, maafkan eike Mona cantik."
"Ehh Mon, ngomong-ngomong, sik Reval tuuh masih ngejar ye gak." Merry mengubah topik, ekor matanya terarah pada Reval yang saat ini tengah memeriksa kameranya.
"Guekan udah nikah, ya dia punya kesadaran dirilah untuk tidak mengganggu punya orang."
"Eike fikir tuh orang hajar terus dan nungguin ye janda."
"Ngomong apa sieh lo."
******
Akhirnya hari itu berakhir juga, Mona sudah mengganti pakaiannya dan sudah bersiap pergi dari tempat pemotretan, dia dan Merry sieh rencananya tidak akan pulang, tapi jalan-jalan dulu gitu. Sayangnya, rencananya itu harus dibatalkan saat Adipati mengechatnya.
Adipati : Kamu dimana, udah selesaikan pemotretannya
"Apaan sieh dia nanya-nanya." gerutu Mona sembari menarikan jemarinya mengetik balasan.
"Siapa." Merry bertanya kepo.
"Alien."
"Suami ye."
"Hmmm."
Mona : Ada apaan sieh nanya-nanya.
Adipati : Aku ada diparkiran
"Hahhh, dia diparkiran, ngapain."
"Suami ye ada diparkiran, dia jemput ye gitu, aihhh, romantis sekali." Merry bertanya lagi yang tidak dibalas oleh Mona karna sibuk membalas pesan yang dikirim Adipati.
Mona : Lo ngapain
Adipati : Jemput kamu
Mona : Gue gak minta dijemput
Adipati : Tapi aku mau jemput kamu
Mona : Tapi aku belum mau pulang
Adipati : Aku juga gak berniat jemput kamu kalau bukan karna dipaksa oma
Mona : Maksud kamu
Adipati : Oma mengundang kita makan malam
Mona : Aku gak mau
Mona malas banget kalau harus kumpul dengan keluarga besar Adipati, Mona yakin pasti keluarga Adipati akan bertanya 'Kamu sudah hamil belum' pertanyaan yang sering ditanyakan oleh keluarganya juga.
Adipati : Jangan buat aku memaksa kamu Mona
"Dasar pemaksa." rutuk Mona dongkol.
"Kenapa ye."
"Tuh orang jemput gue karna mau ngajak gue makan malam bersama keluarganya."
"Terus."
"Ya gue malaslah, gue pasti bakalan ditanya apa gue sudah hamil apa belum."
"Ya ye jawab aja masih dalam proses." Merry memberi saran meskipun tidak ada yang namanya proses karna tuh bayi sama sekali tidak ada niatan untuk dicetak oleh Mona dan juga Adipati.
"Akhhh tahu akhh gelap." Mona terlihat frustasi.
Saat mereka diparkiran, Mona bisa melihat tubuh jangkung suaminya berdiri bersandar dibadan mobil.
"Demi apa, suami ye tambah hot gila." Merry yang otaknya tidak waras menelan salivanya sambil senyum-senyum penuh arti, dia seperti singa yang melihat daging segar, "Kalau ye kagak doyan, buat eike ye Mon."
"Ishhh, najis lo."
Adipati menoleh ke arah Mona, laki-laki itu tidak bergeming dari posisinya, dia membiarkan Mona yang menghampirinya.
"Gue duluan." pamit Mona berjalan ke arah Adipati.
"Mon, kalau tuh laki ye gak dipakai, daripada nganggur sayangkan mubazir, mending fikir-fikir deh sedekahin untuk eike."
"Dasar Merry sinting."
"Masuk." perintah Adipati begitu Mona tiba didekatnya.
"Hmmmm." dengus Mona berjalan ke arah pintu penumpang, dan Adipatipun melakukan hal yang sama, dia melangkah menuju pintu kemudi.
*******
Dan seperti biasa, Mona bisa berakting dengan sangat baik didepan keluarga suaminya, dia memanggil Adipati dengan panggilan mas, dan tidak seperti diawal-awal, meskipun terpaksa tapi Mona ikut nimbrung dalam obrolan keluarga.
"Oma bahagia sekali melihat kalian, oma harap kebahagian selalu menghampiri rumah tangga kalian." doa oma Danti tulus sembari menatap wajah cucu menantunya dengan sayang.
"Iya oma, doakan ya." Mona membalas dengan suara manis.
Mama Tika tersenyum menanggapi ucapan mama mertuanya, dia menambahkan dengan berkata, "Akan tambah bahagia kalau sik kecil hadir, pasti akan tambah ramai."
Mona sudah sejak tadi menunggu-nunggu kata-kata ini, dan dia sudah menyiapkan jawabannya.
Mata oma Danti berbinar saat menantunya menyinggung bayi, itu mendorongnya untuk bertanya, "Bagaimana sayang, apa sudah ada tanda-tandanya." menatap Mona penuh harap.
Saat Mona membuka bibirnya untuk menjawab, Adipati mendahului, "Masih dalam proses oma, doakan ya semoga Allah segera memberikannya untuk kami." ucapannya itu dibarengi dengan tepukan pelan dipunggung tangan Mona yang tergeletak disampingnya.
"Oma tentu saja akan selalu berdoa untuk kalian." senyum oma Danti merekah.
"Papa sudah tidak sabar menunggu Adipati junior." papanya Adipati nimbrung.
"Siapa tahu anaknya perempuan pa."
"Ya anak perempuan juga bagus ma."
Sementara, baik Yudha, Ratri dan mama mereka hanya cembrut, mereka sama seperti Mona, terpaksa mengikuti makan malam tersebut, bedanya Mona pura-pura senang dan menikmati, sedangkan mereka bertiga tidak mau bersusah-susah menyembunyikan ketidaksukaan mereka.
Dan mama Erna yang sejak tadi diam untuk pertama kalinya buka suara dan berkata, "Sudah satu bulan lebihkan, masak sieh gak ada tanda-tandanya, apa jangan-jangan sik Mona mandul lagi." yahh begitulah kalau orang iri, ngomongnya itu lho gak enak dikuping, ini bahkan terlalu dini untuk menuduh orang mandul.
"Ya ma, benar tuh." Ratri mendukung kata-kata mamanya.
Kata-kata mama Erna tersebut mengundang reaksi tidak enak dari suaminya dan oma Danti, sedangkan mama Tika memang tidak suka mendengar ucapan iparnya, tapi dia diam, Mona juga tentu saja kesal karna dikatakan mandul.
"Ma, jaga ucapanmu." papa memperingatkan istrinya.
"Kok bisa sieh kamu mengatakan kalau Mona mandul Erna, baru juga satu bulan pernikahan, sebulan mana bisa dikatakan mandul." tegas oma Danti.
"Iya mbak, tidak semua orang samakan, ada yang prosesnya cepat, ada juga yang agak lambat, saya juga dulu hamil Adipati diusia pernikahan ke enam bulankan mas." mama Vira melirik suaminya yang duduk disebelahnya yang diiyakan dengan anggukan oleh suaminya.
Adipati turut menimpali dengan bijak, "Yahh, kami hanya bisa terus berusahakan, hasilnya biarkan Tuhan yang mengaturnya, iyakan sayang." menatap mata Mona dengan lembut, tatapan itu membuat hati Mona berdesir.
"Iya mas."
"Ayok berusaha lebih keras." lanjutnya.
Pipi Mona bersemu merah mendengar kata-kata Adipati tersebut, dia rasanya sangat malu, apalagi keluarga Adipati kecuali mama Erna, Ratri dan Yudha senyum-senyum penuh arti.
Melihat bagaimana mereka, mungkin orang-orang akan mengira kalau mereka adalah pasangan pasutri yang bahagia, tidak ada yang tahu keadaan rumah tangga mereka kecuali bik Siti dan kedua sahabat Mona yaitu Merry dan juga Ana.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
NUR'AINI FITRI RAHMANIAH
cerita bagus bangett
mashalllah keren luar biasa lanjut kak
2024-06-28
0
Pay
Sukak cerita nya thorrr ☺️☺️🫶
2024-06-28
1