Seperti biasa, Mona selalu lepas kendali saat berada diclub seperti ini, minum bergelas-gelas minuman memabukkan itu dan menari dengan energik dilantai dansa, dan itulah memang pentingnya Merry disini untuk menjaga sahabatnya itu, apalagi saat ini, gadis cantik itu banyak didekati oleh pria-pria hidung belang yang mencoba mengambil keuntungan darinya.
"Ukhhh gadis nakal itu, selalu saja lepas kendali, kalau emak dan bapaknya tahu kelakuan anak gadis yang mereka anggap polos itu, sudah pasti emaknya bakalan kena serangan jantung." komen Merry saat melihat Mona menari dengan heboh.
Mona merasakan ada sebuah tangan merangkul pinggangnya dari belakang yang kemudian dibarengi dengan suara bisikan, "Hai manis, mau ikut denganku, akan aku pastikan kamu menikmati malam ini."
Mona mendorong tubuh kekar laki-laki itu, "Jauh-jauh lo, gue gak sudi disentuh laki-laki hidung belang kayak elo."
"Ayoklah manis, jangan jual mahal, aku tahu wanita sepertimu sudah sering dipakai oleh om-om, dan kamu tidak akan rugi bersamaku karna aku bisa memastikan aku jauh lebih hebat dari om-om yang kamu kencani."
Plakkk
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi laki-laki itu, Mona mengarahkan jari telunjuknya tepat didepan hidung laki-laki tersebut, "Dengar brengsek, gue bukan wanita murahan yang bisa elo ajak tidur sembarangan, gue adalah gadis baik-baik."
Laki-laki itu memang pipinya yang terasa memanas akibat tamparan tersebut, dia bukannya marah, tapi malah merasa tertantang untuk menaklukkan gadis cantik yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
"Gila, gue bukannya marah karna penolakan dan penghinaannya, gue malah tertantang untuk menaklukkan gadis galak ini."
Melihat ada hal yang tidak beres, Merry bergegas ke lantai dansa untuk menyelamatkan sahabatnya tersebut sebelum digrepe-grepe oleh laki-laki hidung belang, dan selain itu juga, ini sudah saatnya Merry membawa Mona untuk pulang, untungnya besok hari minggu dan tidak ada jadwal apapun sehingga Mona bisa beristirahat sampai kapanpun.
"Permisi ganteng, mohon jangan mengganggu wanita ini karna dia tidak berminat mencari pasangan." ujar Merry mengedipkan sebelah matanya yang membuat sik laki-laki mundur beberapa langkah.
Saat Merry menarik pergelangan tangan Mona, Mona sempat protes karna dia masih mau menari, namun Merry yang tidak dalam pengaruh minuman keras berhasil menarik Mona menjauh dari lantai dansa.
"Apa sieh lo Merry, gue masih ingin bersenang-senang." kesal Mona menghempaskan tangan Merry.
"Hehh tuan putri, harusnya ye beruntung ya eike selamatkan dari predator yang sudah siap mangsa ye, kalau eike terlambat sedetik saja, ye bisa jadi santapan empuknya."
"Hahh, laki-laki itu sialan itu maksud lo." Mona mengarahkan pandangannya ke lantai dansa dimana laki-laki barusan masih memperhatikannya, "Dia tidak akan berani macam-macam sama gue karna gue sudah menamparnya."
"Akhh nieh anak emang sulit dibilangin, dia gak lihat apa tuh orang sudah mau memangsanya."
Mona bersiap akan kembali ke lantai dansa, namun Merry dengan sigap menarik tangannya kembali, "Mau apa ye, kita balik sekarang."
"Tapi gue...."
"Gak ada tapi-tapi Mona, ayok balik sekarang." kadang Merry juga bisa bersikap tegas.
"Hahh, gak asyik lo."
******
Saat memasuki apartmen milik Mona, Mona sudah setengah sadar dan terus meracu, bahkan untuk berjalan saja Mona sudah tidak bisa sehingga Merry harus memapahnya.
"Huhhh, kalau bukan boss sekaligus sahabat eike, sudah eike biarkan dia tidur aspal parkiran." keluh Merry setelah bersusah payah membawa Mona ke apartmennya, apartmen itu gelap gulita.
Baru saja Merry melangkah masuk, lampu diruang tamu tiba-tiba menyala yang membuat Merry silau sampai meletakkan telapak tangannya didepan mata, sadar apa yang terjadi, Merry menurunkan tangannya perlahan diliputi perasaan was-was.
"Jangan bilang om Pras ada disini, bisa digantung eike." panik Merry dalam hati, karna siapa lagi yang tahu pasword kamar Mona kalau bukan mama dan papanya.
Dan benar saja, seorang laki-laki setengah baya dengan wajah dingin dan datar menatap Merry dengan tatapan horor, intinya, saat ini Merry merasa ini jauh lebih seram dari adegan film horor saat tiba-tiba hantunya keluar, saking takutnya, bahkan dia melepaskan Mona yang saat ini tengah dipapahnya.
"Awhhh, sakit." Mona yang setengah sadar mengaduh.
"O....om Pras." suara Merry bergetar saking takutnya.
Suara derap langkah Prasmono yang merupakan papa Mona terdengar menakutkan, laki-laki itu berdiri tepat didepan putrinya yang setengah sadar, dengan kasar dia menarik Mona yang membuat gadis itu berdiri paksa.
"Mona, apa-apaan kamu hahhh." suara itu menggelegar ditengah keheningan malam, bahkan mungkin akan membuat para tetangga penghuni apartmen sebelah terbangun.
"Aduhh mampus, kayaknya eike harus siap jadi pengangguran." batin Merry menelan ludah, dia tahu betul kalau om Pras sangat menentang Mona menjadi seorang model, namun atas bantuan mamanya, Mona berhasil membujuk papanya dan pada akhirnya mengizinkannya terjun didunia modeling.
"Pa." gumam Mona ditengah ketidaksadarannya.
"Apa yang terjadi pa." seseorang muncul dari arah dapur membawa cangkir kopi ditangannya, dia adalah Mario, kakak laki-lakinya Mona.
"Lihatlah adikmu ini Mario, liar dan nakal saat jauh dari pengawasan kita."
Mario meletakkan cangkir kopi yang ada ditangannya dan mendekati papa dan adik perempuannya, bau alkhol yang sangat menyengat menusuk indra penciumannya.
Mario terlihat gusar melihat keadaan sang adik yang dulunya sangat manis dan penurut kini berubah 180 derajat menjadi gadis liar dan nakal seperti yang papanya katakan.
"Kamu." tunjuk Mario sangar pada sahabat adiknya, "Apa yang kamu lakukan pada adikku hah, kenapa adikku bisa seperti ini, bukannya tugasmu menjaganya, kenapa kamu membiarkannya sampai mabuk seperti ini, apa hal ini sudah sering terjadi."
"Eike tidak salah sumpah, jangan marah sama eiki." Merry mah ciut dibentak begitu.
"Dasar banci tidak berguna." umpat Mario menyalurkan amarahnya pada Merry.
"Cukup Mario, fokus sama adikmu ini."
"Pa, bang Mario kenapa kemari hem." tanya Mona dengan suara teler,dia yang dalam keadaan setengah sadar tentu tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu benar-benar Mona, kamu sudah merusak kepercayaan mama dan papa."
"Sebaiknya mulai sekarang, jangan izinkan dia tinggal diapartmen pa."
Papa Pras mengangguk menyetujui usulan putra sulungnya.
"Sebaiknya kita bawa dia pulang pa, besok saat kesadarannya mulai pulih kita sidang dia."
Sekali lagi papa Pras mengangguk.
"Dan kamu, berhenti menghubungi apalagi menemui adikku, mulai saat ini, dia tidak akan kami izinkan menjadi seorang model."
"Ayok pa kita balik." Mario menggendong tubuh adiknya supaya cepat dan tidak ribet meskipun dia sebenarnya tidak tahan dengan bau alkohol yang menguar dari mulut sang adik.
"Gaswatt, eike makan apa kalau begini." panik Merry menatap punggung kedua laki-laki itu menjauh.
******
Kelopak mata Mona bergerak, dan dua detik kemudian, wanita muda itu perlahan membukanya dan mengerjap-ngerjapkannya.
"Hahhh." Mona langsung bangkit saat menyadari kalau dirinya saat ini tidak berada dikamarnya.
"Inikan....kamar gue." Mona langsung tahu dia berada dimana, "Mampus gue." Mona menepuk keningnya, dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, namun satupun ingatannya tentang kejadian semalam tidak bisa dia ingat.
"Merry." nama sahabat sekaligus menagernya itu tercetus dari bibirnya, "Gue harus tanya sama dia."
Dia bangkit dan mengambil tasnya yang berada dinakas, sayangnya, benda yang dia cari ternyata tidak ada disana.
"Dimana ponsel gue."
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments