"Pulang Mona." tegas Mario.
Saat ini, kakak beradik tersebut duduk diruang tamu apartmen milik Ana, karna tidak mungkin ikut bergabung dengan pembicaraan tersebut, Ana dan Merry memilih didapur, mereka memilih dapur karna posisinya yang berada disamping ruang tamu sehingga mereka bisa sedikit mendengar pembicaraan Mona dan Mario, merekakan kepo.
"Mona gak akan pulang kalau papa masih kukuh menjodohkan Mona." tolak Mona tanpa menatap wajah sang abang.
"Kenapa kamu keras kepala begini Mona, papa ngelakuin itu demi kebaikan kamu." Mario masih berusaha mengontrol emosinya, sebenarnya kalau mengikuti kata hatinya, ingin rasanya dia menyeret adik perempuannya yang pembangkang tersebut.
"Demi kebaikan apanya, Mona belum mau nikah bang, bagaimana itu bisa demi kebaikan Mona."
"Karna papa khawatir dengan pergaulan kamu yang bebas, dengan menikahkan kamu, papa dan mama akan menjadi tenang dan kamu tidak berbuat semaumu."
"Berapa kali sieh Mona bilang, Mona itu udah gede abang, Mona bisa jaga diri, jadi Mona harap jangan khawatirin Mona."
Sementara itu didapur.
"Sini biar eike yang bawa." Merry akan mengambil nampan berisi minuman yang dipegang oleh Ana, namun Ana tidak membiarkan Merry mengambilnya, diakan ingin mendengar pembicaraan itu secara langsung, nah, dengan membawa minuman itulah salah satu caranya.
"Gue saja yang bawa, gue masih sanggup kok." Ana pergi meninggalkan dapur.
"Huhhh, kalau gini saja ye mau bawa, biasanya juga nyuruh-nyuruh eike." sewot Merry.
Suasana diruang tamu itu tengah memanas saat Ana datang, meskipun begitu, perdebatan tidak berhenti dan tetap berlanjut seolah-olah Ana adalah mahluk tak kasat mata.
"Kamu selalu saja bilang kalau kamu udah gede dan bisa jaga diri, nyatanya apa yang terjadi, kamu ke club mabuk-mabukan, kamu tahukan tempat itu tidak baik untuk perempuan, banyak laki-laki hidung belang disana yang bisa menggrayangi tubuh kamu."
"Mona itu ke club untuk menghibur diri bang supaya tidak stres dengan pekerjaan, jadi abang, Mona pertegas, Mona ke bar bukan untuk jual diri."
Ana sieh ingin berlama-lama disana supaya dia bisa dengan jelas mendengar perdebatan antara kakak dan adik itu, sayangnya dia gak punya alasan untuk berlama-lama, sehingga dia dengan berat hati bangkit setelah meletakkan cangkir berisi teh dimeja.
Ana pergi tanpa mengucapkan sepatahkatapun, dan sepertinya, baik Mona dan juga Mario sepertinya tidak menghiraukannya.
"Ada banyak tempat hiburan yang bisa kamu kunjungi Mona, kenapa kamu malah memilih menghibur diri tempat seperti itu hahh."
"Ya itu karna..mmm karna itulah satu-satunya tempat yang asyik."
"Abang tidak mengerti jalan fikiranmu sekarang Mona, kamu benar-benar sudah berubah, tidak seperti Mona yang kakak kenal dulu."
"Semua orang bisa berubah bang, jadi jangan bawa-bawa masa lalu."
"Terserahlah apapun yang kamu katakan, sekarang yang abang minta, balik sama abang."
"Mona gak mau." tolak Mona tegas.
"Kamu harus mau Mona, kamu mau melihat mama mati hah."
"Mati bagaimana maksud abang, jangan sembarangan kalau ngomong bang."
"Asal kamu tahu saja Monalisa, gara-gara ulah kamu yang pembangkang, mama sekarang terbaring lemah dirumah sakit, keadaannya benar-benar lemah, dan mama terus menyebut nama kamu."
"Apa." kaget Mona mendengar berita tersebut, kemarin memang dia main pergi begitu saja tanpa mau bersusah-susah menoleh ke belakang, "Abang bohongkan, ini cuma akal-akalan abang doankkan supaya Mona balik, Mona itu bukan anak kecil lagi yang gampang ditipu."
"Kamu fikir kakak punya waktu untuk berbohong padamu perihal mama hah." Mario meradang, kesabarannya sudah habis menghadapi sang adik, "Kamu tidak lupakan kalau mama punya riwayat penyakit jantung."
"Mama." Mona paling tidak bisa mendengar mama yang selalu menyayangi dan membelanya saat ini tengah dalam kondisi lemah, apalagi kambuhnya penyakit mamanya gara-gara dia.
"Ayok kita ke rumah sakit sekarang, mungkin dengan kehadiranmu mama bisa sembuh kembali."
Mona mengangguk, pelupuk matanya sudah digenangi oleh air mata, terbayang dipelupuk matanya mamanya yang terbaring lemah dibankar rumah sakit dan memanggil namanya.
******
Ini sudah kesekian kalinya Mona melihat pantulan dirinya dicermin bedak yang selalu dibawanya.
"Oke, sempurna, dengan dandanan seperti ini, gue yakin, laki-laki yang akan dijodohkan dengan gue bakalan langsung kabur." ujarnya penuh percaya diri.
Mona pura-pura menerima perjodohan ini demi mamanya, karna kalau dia tetap kukuh menolak dan tetap berseteru dengan papanya, tentunya kesehatan mamanyalah yang akan semakin memburuk, meskipun bisa dikatakan Mona agak pembangkang sekarang, tapi dia tidak sampai level menjadi anak durhaka sehingga sampai tidak memperdulikan mamanya.
Dan saat ini, Mona tengah duduk menunggu laki-laki yang dijodohkan dengannya disebuah cafe, dandanannya sengaja dibikin semenor mungkin, dia sudah seperti tante-tante girang kesepian, ditambah lagi dengan pakaian yang dikenakan, seksi dan terbuka, Mona sengaja melakukan itu supaya laki-laki yang dijodohkan dengannya langsung kabur dipertemuan pertama mereka, Mona yakin, laki-laki baik dan normal tidak akan mau menikahi wanita dengan dandanan menor dan seksi yang mempertontonkan asetnya kemana-mana.
"Kalau dia yang nolakkan papa gue gak bisa apa-apa, hmmm, ide Merry benar-benar brilian, saat genting begini tuh banci memang bisa diandalkan." Mona memuji sahabatnya itu, berbeda dengan Ana yang ngasih solusi apapun, malahan tuh anak malah mendorongnya untuk menerima perjodohan ini.
"Ekhemm."
Mona mendengar sebuah deheman dari belakang punggungnya.
"Monalisa." suara berat dan serak itu memanggil namanya.
"Oke, ini dia laki-laki yang bakalan dijodohkan dengan gue, dia pasti kaget melihat dandanan gue." batinnya, "Saatnya membuatnya kaget dan kabur." Mona tersenyum girang membayangkan hal tersebut.
Mona memutar lehernya dan mendongak untuk melihat rupa dari laki-laki yang dijodohkan dengannya, dan alhasil, dia yang niatnya membuat tuh orang kaget dengan penampilannya, justru dialah yang dibuat shock saat melihat laki-laki tinggi menjulang bak tiang listrik yang saat ini berdiri dihadapannya, ya bukan posturnya yang membuat Mona shock, tapi wajahnya, wajah laki-laki yang menjadi mimpi buruknya selama ini, laki-laki yang paling dibencinya sejagad raya, siapa lagi kalau bukan Adipati.
Dari lubuk hatinya, Mona tidak menampik kalau Adipati semakin tampan dan pastinya dewasa dan katanya yang lebih tepatnya adalah matang, wajah laki-laki itu terlihat berkharisma dan berwibawa dengan fitur tegas dan rahang yang kokoh, ditengah rasa benci yang kembali menguar ke permukaan, dia bahkan sempat melongo mengagumi ketampanan laki-laki yang telah mematahkan hatinya bertahun-tahun yang lalu.
Adipati juga tidak kalah takjubnya saat mengetahui calon yang dipilihkan oleh omanya, dia memang tahu nama sik wanita adalah Monalisa, tapi dia tidak pernah menyangka kalau ternyata Monalisa ini adalah Monalisa yang pernah menyatakan perasaannya 7 tahun yang lalu.
"Kamu." tunjuk Mona memperlihatkan ketidaksukaan yang kentara diwajahnya setelah mendapatkan kesadarannya kembali, dia tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan laki-laki yang telah membuatnya malu, tambah tidak menyangka lagi kalau Adipatilah yang dijodohkan dengannya.
"Ohhh, kamu rupanya." ujarnya datar tanpa ekpresi.
"Brengsek, kenapa gue harus ketemu laki-laki sialan ini lagi." batin Mona menatap Adipati dengan tajam, terlihat sangat jelas tanpa ditututupi kalau dirinya menampakkan kebencian yang sudah meredup dan kini kembali menyala ke permukaan begitu dia bertemu langsung dengan orangnya.
"Apa kamu tidak punya niatan untuk mempersilahkanku duduk." ujar Adipati masih dengan ekpresi yang sama.
"Gue sieh maunya nendang elo ya." judes Mona.
Namun ternyata Adipati memilih untuk tidak menghiraukan kata-kata yang keluar dari Mona, dia memilih duduk dan mengambil tempat berhadapan dengan Mona.
"Oke, aku tidak punya waktu, jadi ayok selesaikan secepatnya pembicaraan ini." lirih Adipati langsung pada intinya.
Mona hanya bisa menganga mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Adipati dengan ekpresi lempeng begitu, "Hehhh, apa-apaan dia itu, setelah apa yang dia lakukan dimasa lalu sama gue, dia gak berniat kek gitu minta maaf dulu." Mona ngedumel dalam hati.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments