"Huhhh, dasar emak-emak sinting." umpat Mona saat didepan cermin wastafel.
"Lengan gue." Mona mengelus lengannya yang memerah dan agak terasa perih.
Dia permisi ke toilet karna tidak tahan dengan teman-teman mama mertuanya yang pada heboh dan bar-bar menurut Mona, gimana tidak, lengan Mona pada merah-merah kena cubit, emak-emak itu ternyata kenal siapa Mona, dan mereka antusias saat tahu menantu dari mama Vira adalah seorang model terkenal, namun itu ternyata membuat Mona risih.
"Gue balik aja deh, malas gue kembali tempat itu." putus Mona, "Masalah mama mertua gue, entar deh gue telpon dan bilang kalau gue tiba-tiba sakit perut makanya buru-buru balik." setelah memantapkan niatnya, Mona keluar dari toilet.
*******
Mona mencoba menghubungi Merry untuk menjemputnya, namun sahabatnya itu tidak menjawab panggilannya.
"Apa sieh yang dilakukan sama sik banci itu." rutuk Mona dongkol saat panggilannya tidak terjawab.
Karna Merry sama sekali tidak bisa dihubungi sehingga Mona memutuskan untuk naik taksi, saat dia akan melangkahkan kakinya, sebuah suara yang sudah dikenalnya mengurungkan niatnya.
"Apa yang kamu lakukan disini."
Mona otomatis berbalik dan menemukan suaminya yang mengenakan pakaian formal berjalan mendekatinya.
"Ishh, dia ngapain sieh disini, bukannya saat ini dia harusnya dikantor." desah Mona tidak menyembunyikan kekesalannya karna bertemu dengan Adipati adalah hal terakhir yang dia inginkan.
"Kamu ngapain disini." Adipati mengulang pertanyaannya yang tidak dijawab oleh Mona.
Terlihat ogah dan tidak antusias Mona menjawab, "Bukannya gue udah bilang sama elo kalau gue mau jalan."
"Hmmmm."
"Elo ngapain disini, bukannya elo harusnya ada dikantor." Mona sieh tidak bermaksud menciptakan obrolan timbal balik, tapi dia agak sedikit kepo juga sieh dengan apa yang dilakukan oleh seorang yang bekerja dikantoran dimall disaat jam kerja begini.
"Aku menemui klien."
"Ohhh." gumam Mona, dia sama sekali tidak berniat untuk memberi laporan kalau tadi dia sempat bertemu dengan mama Vira alias mamanya Adipati.
"Mana temanmu yang setengah wanita itu." Adipati bertanya karna melihat Mona sendiri.
"Udah balik duluan."
"Ikut aku."
"Hahh."
"Kita ke kantor, saat ini ada urusan penting yang harus aku selsaikan, jadi aku tidak bisa nganterin kamu balik."
"Siapa yang minta dianterin, dan aku tidak mau ikut kamu ke kantor kamu, aku bisa pulang sendiri naik taksi." tolak Mona mentah-mentah.
"Naik angkutan umum sekarang tidak terlalu aman, apalagi untuk perempuan sepertimu."
"Gue bisa jaga diri, jadi gue tidak akan berterimakasih sama elo karna sudah sok-sok'an mengkhawatirkan gue."
"Sesekali dengerin aku kenapa sieh, bisa gak sekali saja jadi istri yang nurut."
"Ishhh, kok lo maksa sieh, lagian ngapain gue dikantor lo, pasti kantor lo sama membosankannya dengan lo."
Gimana ya, mungkin Mona adalah istrinya yang sah secara agama dan juga negara sehingga Adipati masih bisa bersabar menghadapi sang istri yang pembangkang itu.
"Kamu mau ikut dengan suka rela atau paksaan."
"Lakukan saja kalau lo berani."
Kalau Mona berfikir Adipati cuma menggertak saja, jelas Mona salah, karna setelah Mona menyelsaikan ucapannya, Adipati meraih pinggang Mona, dan seolah Mona seringan kapas, dia mengangkatnya dan meletakkannya dibahunya, persis seperti orang memanggul beras.
Mona yang tidak terima berontak habis-habisan, "Apa yang lo lakukan sialan, turunkan gue, turunkan gue." tangannya ikut aktif memukul punggung Adipati yang keras.
Adipati mengabaikan rontaan Mona, dia terus berjalan meskipun Mona tidak henti-hentinya memaki dan memukul-mukul punggungnya, bagi Adipati, apalah arti dari pukulan tersebut.
Sementara orang-orang yang berlalu lalang menjadikan mereka sebagai tontonan menarik sepanjang jalan.
"Turunkan gue, lo denger gak sieh, lo gak lihat apa kita jadi tontonan orang-orang."
"Emangnya aku peduli."
"Ihhh, benar-benar lo ya."
Brukkk
Adipati mendudukkan Mona dengan cukup keras dan hal itu berhasil membuat wanita itu meringis kesakitan, "Awww, sakitt, kasar banget sieh lo jadi cowok."
Tanpa rasa bersalah Adipati menjawab, "Siapa suruh gak nurut."
Dan sekarang Adipati melingkarkan sabuk pengaman ditubuh Mona, sekarang Mona pasrah, toh dia tidak bisa apa-apakan.
"Nahh, gitukan bagus." komen Adipati saat melihat Mona yang penurut.
"Dasar pemaksa." dengus Mona yang membuat bibir Adipati membentuk sebuah kurva.
Setelah selesai urusan dengan Mona, laki-laki itu memutari mobil dan duduk dikursi kemudi.
Mona menampilkan wajah cembrut, meskipun terlihat nurut, tapi sungguh dia sangat-sangat marah pada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya yang saat ini mulai menjalankan mobil.
******
"Selesai juga." gumam Adipati begitu semua pekerjaannya sudah kelar dan kebetulan bertepatan dengan berakhirnya jam kantor.
Adipati melarikan matanya ke arah sofa dimana disana tergeletak seoongok tubuh istrinya yang terbaring dengan mata terpejam, Mona sepertinya tertidur pulas.
Adipati bangkit dari duduknya, dia berjalan ke arah sofa mendekati Mona, dia duduk berjongkok untuk menyejajarkan wajahnya dengan wajah Mona, bibirnya mengulas senyum tipis yang yang sangat manis, senyum yang dulunya membuat Mona selalu klepek-klepek.
"Gadis pembangkang dan keras kepala ini ternyata manis juga saat tidur, jadi gemes." lirihnya dengan suara tidak lebih seperti sebuah bisikan.
Entah dorongan dari mana sehingga Adipati mendekatkan wajahnya ke arah Mona, saat sudah sekian inci, mata Mona terbuka, mata indah itu melotot dan dengan cepat dia mendapatkan kesadarannya dan mendorong bahu Adipati yang membuat bokong Adipati berhasil mencium lantai ubin ruangannya.
Mona dengan cepat bangun, "Mau apa lo." tunjuknya.
Adipati juga bangkit, meskipun lantai ruangannya tidak ada debu sama sekali, dia menepuk-nepuk bokongnya sebelum menjawab pertanyaan Mona, "Gak mau ngapa-ngapain." bohongnya, "Cuma mau bangunin kamu aja."
"Jangan bohong, elo mau lecehin guekan, lo mau...."
"Sudahlah, jangan berfikir yang aneh-aneh, mending kita balik sekarang." potong Adipati.
Dia kembali menuju meja kerjanya untuk membereskan berkas-berkas yang masih berserakan disana.
"Hehhh, lo gak ngapa-ngapain guekan, lo gak ngambil kesempatan saat gue tidurkan." Mona masih membahas hal itu.
Sembari membenahi berkas-berkas dimeja, Adipati menjawab santai pertanyaan Mona, "Emangnya kalau aku ngapa-ngapain kenapa, gak ada yang salahkan, bukannya aku suami kamu."
"Apa, jadi benar kamu ngapa-ngapain aku, brengsek, kamu sama saja sama laki-laki hidung belang lainnya."
Adipati tidak tahan mendengar cacian dan makian yang keluar tanpa sensor dari bibir mungil Mona yang membuatnya mengatakan hal yang sebenarnya, "Aku tidak ngapa-ngapain kamu asal kamu tahu." suara Adipati meninggi, untungnya ruangannya kedap suara sehingga suara teriakan mereka tidak tembus sampai keluar.
"Bohong."
"Terserah kalau kamu tidak percaya."
Mona memperhatikan pakaiannya, dan semua kancing pakaian yang dia kenakan masih terpasang pada tempatnya, dalam hati Mona berjanji pada dirinya sendiri, kalau dia tidak akan pernah ketiduran lagi saat tengah berdua dengan Adipati.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments