Begitu sudah tidak terlihat oleh keluarga Adipati, Mona menarik tangannya yang digenggam oleh Adipati, "Apaan sieh pegang-pegang, ngambil kesempatan dalam kesempitan aja lo."
Adipati diam tidak menanggapi, seperti biasa, tatapan dinginnyalah yang memberitahu bahwa dia juga sebenarnya tidak mau memegang tangan Mona.
Mona meringis, dia dibuat makin kesal karna tahu arti tatapan tersebut, sedangkan Adipati melenggang naik ke atas tempat dimana kamar pengantin mereka berada.
"Dasar cowok menyebalkan." umpat Mona tanpa suara sembari mengekor dibelakang.
Karna memang capek setelah kegiatan pernikahan seharian yang cukup melelahkan, baik Mona ataupun Adipati berencana langsung tidur, tidak ada tuh dibenak keduanya untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh sepasang pengantin baru, apalagi kalau bukan malam pertama, hal romantis itu harus mereka skip dulu untuk saat ini, atau mungkin tidak akan pernah mereka lakukan mengingat keduanya menikah bukan karna cinta tapi karna perjodohan.
Mona mengambil bantal guling dan meletakkannya ditengah-tengah sebagai pemisah, bibirnya berkata, "Ingat ya, lo jangan macam-macam, kalau lo sampai macam-macam...." Mona menggantung kalimatnya dengan tatapan mengancam.
"Macam-macam gimana maksud kamu."
"Yahh, lo jangan berani-beraninya nyentuh guelah."
Adipati mendengus, "Siapa juga yang tertarik menyentuhmu."
Jawaban Adipati bukannya membuat Mona tenang, dia malah semakin jengkel, "Benar-benar menyebalkan, pengen rasanya gue bejek-bejek." Mona meremas-remas tangannya sendiri.
Adipati mendudukan tubuhnya ditempat tidur, dia sudah bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya, namun saat akan berbaring, ponselnya berbunyi, dan meskipun sebenarnya malas untuk menjawab, tapi toh dia menjulurkan tangannya untuk meraih benda multifungsi tersebut.
"Iya Clara." ucap Adipati begitu sambungan sudah tersambung, dia berdiri dan berjalan ke arah balkon supaya pembicaraanya tidak didengar oleh Mona.
Mona menatap punggung sang suami sembari menyuarakan isi hatinya, "Clara." dia mengingat gadis yang dulu sering ngintilin Adipati saat masa-masa sekolah, gadis yang juga sekaligus telah mempermalukannya dihadapan umum.
"Jadi dia masih berteman dengan gadis sombong itu." Mona meremas-remas bantal yang ada dipangkuannya membayangkan kalau yang dia remas adalah Clara, "Hmmm, pantas saja pertemanan mereka begitu awet, mereka sama-sama menyebalkan." rasa marah yang sudah meredam kembali naik ke permukaan.
Sementara dibalkon, terjadi obrolan diantara dua insan tersebut, ingin tahu apa yang mereka obrolkan, mari kita simak sama-sama.
"Ada apa Clara, kenapa jam segini nelpon."
Saat ini Clara tengah berada diluar kota untuk urusan pekerjaan, sengaja dia mengambil pekerjaan itu karna tidak ingin mengahadiri pernikahan Adipati, sepertinya semua wanita juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Clara, pasalnya, wanita mana yang sanggup menjadi saksi dari kebahagian dari laki-laki yang kita cintai.
"Kamu sepertinya tidak suka aku telpon, apa aku mengganggu malam pertamamu dengan istrimu." suara Mona terdengar merajuk.
Adipati tertawa kecil mendengar jawaban wanita yang merupakan sahabatnya itu, "Astaga Clara, tentu saja kamu tidak menggangguku, kamu ada-ada saja."
"Hmmm, syukurlah kalau kamu tidak terganggu." Clara manyun, hatinya sangat sakit saat membayangkan saat ini Adipati bersama dengan wanita dalam sebuah ruangan dan berbagi tempat tidur yang sama, seharusnya dia yang saat ini berada disamping Adipati, dia yang seharusnya berbagi kamar dan tempat tidur dengan Adipati.
"Apa istri kamu marah aku menelpon kamu begini." Mona tidak bisa menyembunyikan nada suara juteknya saat menyebut kata istri, karna dia ingin dialah yang berada diposisi itu, menyandang gelar sebagai nyonya Adipati.
Adipati malas membahas hal yang menurutnya tidak penting sehingga dia memilih mengabaikan pertanyaan Mona tersebut, selain itu juga, dia tidak ingin berlama-lama ngobrol karna dia sudah capek dan yang sangat dia butuhkan adalah tempat tidur sehingga dia melisankan, "Clara, tujuan kamu nelpon apa sebenarnya."
Adipati bisa mendengar desahan Clara, "Hmmm, gak ada, cuma mau nelpon aja."
"Oke."
Karna ada tidak ada sahutan, Adipati melanjutkan, "Clara, tidak apa-apakan kalau aku mematikan telponnya, kamu tahukan seharian ini aku harus berdiri dan menyalami tamu yang hadir dihari pernikahanku, aku capek dan ingin istirahat."
"Baiklah, maafkan aku karna menggangngu." Clara tidak rela sekaligus kesal Adipati berniat memutus sambungan.
"Kamu juga istirahat, jangan begadang, itu tidak baik untuk kesehatan dan kulitmu."
"Apaan sihh Di, kenapa bawa-bawa kulit sieh."
Adipati terkekeh menanggapi protes Clara, "Ya karna kamu itu sangat-sangat memperhatikan yang namanya kecantikan, jangankan kerutan, jerawat kecil saja kamu ributnya minta ampun."
"Jangan meledekku Di, lihat saja nanti, istrimu pasti akan jauh lebih lebay dibandingkan dengan aku." sok ngambek.
"Hmmm, sepertinya apa yang kamu katakan benar." mengingat bagaimana putih dan mulusnya kulit Mona ditambah Mona juga adalah seorang model, Adipati yakin istrinya tidak jauh berbeda dengan sahabatnya itu, Adipati sebenarnya tidak pernah habis fikir, kenapa Mona bisa berubah drastis seperti ini, dari yang dulunya gemuk dan berwajah bulat menjadi super model.
"Tuhkan...."
"Baiklah Clara, sepertinya aku harus undur diri sekarang, baik-baik disana, dan semoga disana kamu menemukan jodoh, hehe." putus Adipati karna matanya sudah terasa berat.
"Apaan sieh."
*****
"Clara, gadis manja dan sok cantik yang selalu ngintilin lo itu yang nelpon lo." tuntut Mona kepo begitu Adipati kembali membaringkan tubuhnya ditempat tidur.
Adipati menoleh ke arah Mona dan menjawab, "Dia bukan gadis manja, bukan sok cantik, dia beneran cantik." sepertinya Adipati tidak suka sahabatnya dikata-katai begitu.
"Kenapa lo marah gitu, emang kenyataannya begitukan, cewek belagu, sok cantik, sombong, centil, tukang pa...."
Cup, Adipati mencium bibir Mona yang membuat Mona reflek berhenti nyerocos.
"Ishhhh." Mona yang kesel bin jengkel mendorong bahu Adipati, sumpah dia benar-benar marah,"Apaan sieh, dasar brengsek." umpat Mona sembari mengusap bibirnya secara brutal dengan punggung tangannya untuk menghapus jejak bibir Adipati.
Mona memang seorang model dan yahh suka clubing juga, hanya saja, gadis itu masih suci alias perawan, jangankan begituan, ciuman saja tidak pernah, meskipun beberapa laki-laki singgah dalam kehidupan asmaranya, tapi Mona tidak pernah melakukan hal lebih dari hanya sekedar pegangan tangan.
"Hmmmm, hanya kamu yang mengatai suamimu brengsek hanya gara-gara ciuman begitu, seharusnya sieh aku melakukan hal yang lebih." balasnya santai yang membuat Mona semakin meradang.
"Jangan coba-coba ya lo, kalau lo berani sekali lagi..."
"Kamu memang memintaku untuk melakukan lebih Mona." potong Adipati dengan tatapan yang entahlah sepertinya ingin menerkam Mona.
Dan tatapan itu berhasil membuat Mona menutup bibirnya rapat-rapat, menarik selimut dan membaringkan tubuhnya membelakangi Adipati, tidak hanya sampai disana, dia menggeser tubuhnya sampai ketepi tempat tidur, intinya kalau bisa, dia ingin jauh-jauh dari mahluk bernama Adipati.
Adipati menggeleng pelan melihat kelakuan wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya itu, sama seperti Mona, dia juga tidak pernah menyangka kalau wanita yang pernah menyatakan perasaannya dilapangan sekolah itulah yang menjadi istrinya, begitulah takdir, tidak ada yang tahukan.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments