Bab 20 - Suka Kamu

"Apaan sih?" ucap Tami memelototi pria itu. Bisa-bisanya mau minta cium pula.

"Ayo, sayang. Jangan malu sama suami sendiri." Ucap Dewa makin memajukan bibirnya.

"Pak, anda bilang tidak akan memaksaku. Aku akan perlahan mulai menerima pernikahan kita ini. Anda harus sabar dong!" Jelas Tami dengan memelas. Ia belum siap.

"Sayang, tidak usah ditransfer semua. Dicicil saja pelan-pelan." ucap Dewa sambil menganggukkan kepalanya.

"Nanti akan aku cicil pelan-pelan. Anda sabar dong, Pak!" Tami masih menjawab juga.

"Kapan mulai dicicilnya?" tanya Dewa kembali.

"Apa?"

"Kapan kamu mulai mencicil perasaanmu. Seharusnya ada dp dulu!" ucap Dewa menatap serius.

Dewa ingin mereka semakin dekat dan dekat. Bahkan sampai menempel layaknya lem.

"Ke-kenapa pakai dp segala?" tanya Tami bingung.

Pakai dp-dp segala. Seperti mau ambil kredit saja.

"Supaya tanda jadi kalau kamu pasti akan mentransfer semua perasaanmu padaku." Dewa meyakinkan mengatakan itu. Ia perlu sedikit bukti.

Tami menunjukkan wajah kesal. Dewa tidak mau mengalah dan sepertinya sedang mengerjai dirinya.

"Sayang, berikan dp-nya sekarang! Jadi aku percaya kamu tidak akan berpaling dariku!" paksa Dewa menuntut. Ia hanya meminta itu, Tami kebanyakan mikir.

"Pak, turunkan aku!" Tami mengalihkan pembahasan itu.

"Cepat berikan dp-nya!" paksa Dewa. Ia makin memajukan bibirnya.

Tami mendengus kesal. Sepertinya pria di hadapannya ini tipe keras kepala, yang tidak akan berhenti sampai apa yang dia mau dituruti. Buktinya kini malah makin memegangnya dengan erat dan tidak mau melepaskannya.

Tami menarik nafas dan membuangnya pelan. Lalu,

Cup,

"Sudah." ucap Tami setelah menempelkan bibirnya sebentar.

"Belum." geleng Dewa. "Itu hanya kecupan, aku minta cium, sayang."

"Pak!" Tami mendelik. Ia susah payah memberanikan diri, malah dibilang kecupan.

"Cepat, sayang! Nanti kita tidak pergi-pergi!" desak Dewa. Ia harus mendapatkan ciuman itu segera.

"Kalau kamu malu, pejamkan matamu." ucap Dewa. Mungkin saja istrinya itu malu-malu meong.

Tami menatap Dewa lalu tidak lama memejamkan matanya. Melihat itu Dewa pun tersenyum dan mengikis jarak di antara mereka.

Hati Tami berdebar kencang saat bibirnya mulai dilummat pria itu. Ciuman itu penuh dengan kelembutan. Lembut seperti gula kapas.

"Sudah! Dp-nya segitu saja!" Tami menjauhkan wajah Dewa. Wajahnya mulai terasa panas.

"Ayo, pergi! Keburu malam!" ucap Tami tanpa melihat Dewa. Ia menggeliat dan turun dari gendongan pria itu.

Karena sudah mendapatkan yang ia mau. Dewa melepaskan Tami. Pria itu juga melirik ke arah jendela yang masih terang benderang.

"Sayang, ini masih siang loh. Kamu tidak sabar menunggu malam ya!" ledek Dewa menggoda Tami. Mungkin saja pikiran wanita itu sudah membayangkan malam panas bersamanya.

Tami kesal mendengarnya dan melangkahkan kaki lebar. Ia meninggalkan pria itu.

"Istriku, tunggu suamimu ini! Istriku, Istriku," panggil Dewa sambil mengejar sang istri.

'Akhhh!' ronta Tami. Panggilan Dewa terasa menggelikan.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Di dalam lift, Dewa menyender di dinding belakang. Sang istri berada di depannya. Mereka akan turun di lantai dasar.

Ser... Tami berdesir saat tangannya ada yang menyentuh.

Mencoba bersikap biasa. Tami tahu itu pasti ulah suaminya.

"Pak!" ucap Tami kaget saat Dewa menariknya ke belakang. Membuatnya hampir terjungkal.

Hap... Lalu ditangkap.

Dewa menahan Tami dan keduanya saling bertatapan.

"Aku tampan kan?" tanya Dewa sambil mengkedipkan matanya. Istrinya itu sering kali bertatapan dengannya. Dan setiap bertatapan pasti sangat mendalam.

Tami mendengus dan menjaga jarak dari Dewa. Ia juga membenarkan posisi berdirinya.

"Kamu berdiri di sini saja. Jangan jauh-jauh dariku, istriku!" ucap Dewa seraya merangkul leher Tami.

Istriku, kata itu benar-benar membuatnya baper.

"Sayang, setelah kamu bertemu keluargaku. Kita akan adakan resepsi pernikahan." ucap Dewa. Ia ingin membuat Tami bahagia. Pasti istrinya itu ingin memakai gaun pengantin.

Dewa juga ingin semua orang tahu bahwa ia sudah menikah sekarang. Bahwa wanita cantik itu istrinya.

"Ti-tidak usah, Pak." tolak Tami. Ada pria yang menikahinya saja ia sudah bersyukur.

Ting... Pintu lift terbuka dan mereka keluar bersama. Saling bergandengan tangan.

"Silahkan, istriku." Dewa mempersilahkan setelah membuka pintu mobil.

Dengan mengulum senyuman, Tami naik. Begitu naik, ia berkali-kali membuang nafasnya. Dewa benar-benar ada manis-manisnya.

Begitu Dewa masuk dari pintu sebaliknya, Tami menormalkan wajahnya. Wajah yang seolah bersikap biasa, padahal hatinya tidak biasa.

"Sayang, pakai sabuk pengamanmu. Kita akan meluncur!"

Tami pun memakainya. Dan tidak lama mobil pun perlahan melaju keluar dari area parkir.

Mobil melaju sedang membelah jalanan. Sambil menyetir Dewa melirik wanita di sampingnya. Ada rasa lega dan bersyukur serta tidak menyangka ternyata bertemu kembali dengan wanita dalam mimpinya. Wanita yang begitu sangat dirindukannya.

"Pak." panggil Tami dengan suara yang begitu lembut yang terdengar.

"Apa, sayang?" tanya Dewa melihat sekilas dan kembali fokus pada jalanan.

"Nanti belok kiri ya." ucap Tami menunjukkan arah ke kost-annya.

Dewa mengangguk dan mengikuti arah yang ditunjuk istrinya.

"Sudah lama kamu tinggal sendiri?" tanya Dewa ingin tahu. Ingin mengenal istrinya itu.

"Cukup lama, Pak." ucap Tami yang jadi sendu. Sudah lama juga ia keluar dari panti dan hidup sendiri.

Tangan besar itu terulur mengelus kepalanya dengan sayang.

"Sekarang kamu tidak sendiri lagi. Ada aku yang akan bersamamu selamanya." jelas Dewa meyakinkan. Kini Tami sudah memilikinya, jadi tidak akan sendirian lagi.

Tami menatap pria yang sedang mengemudi itu. Semua perkataan dan perlakuannya begitu manis. Apa pria itu memang pandai menggombal? Atau dianya saja yang mudah baperan?

Dewa kembali melirik Tami sejenak. Lagi-lagi wanita itu menatapnya. Sudah dipastikan Tami memiliki perasaan padanya.

"Tami." panggil Dewa.

"Ya, Pak."

"Kamu pasti sudah love-love sama aku kan?" tanya Dewa sambil menyengir.

Tami menunjukkan wajah malas dan membuang pandangan. Dewa terlalu kepedean jadi orang.

"Kan tidak salah kamu love-love sama suami sendiri." masih menggoda wanita itu.

Tami mendumel. Dewa terus menerus menggodanya.

"Istriku."

"Istriku."

"Istriku, sayang."

Telinga Tami terasa panas mendengar kata istriku.

"Pak nanti belok kanan!" ucap Tami kembali memberi arah. Ia mengabaikan ucapan istriku istriku itu.

"Siap, istriku."

Tami mendengus. Lancar sekali Dewa berkata begitu.

"Sayang, kamu suka apa?" tanya Dewa.

"Suka apa?"

"Iya, apa yang kamu suka?"

"Aku suka makan hmmm, semua makanan aku suka." jawab Tami. Ia tidak pemilih makanan.

"Kamu pemakan segalanya ya." Tawa Dewa. "Suka es krim?"

Tami mengangguk. "Es krim coklat." ia sangat suka itu.

"Ya, sudah. Nanti kita makan es krim." Setelah dari kost-an, Dewa akan mengajak Tami makan es krim.

Tami mulai membayangkan makan es krim di cuaca cerah ini. Rasa dingin dan manis menjalar di tenggorokan.

"Kamu tidak tanya aku suka apa?" Dewa ingin Tami balik bertanya. Seperti tanya jawab.

"Anda suka apa, Pak?" tanya Tami. Jika tidak terlalu sulit, ia akan memasakkan untuk pria itu.

Dewa tampak berpikir lalu tersenyum tipis. Setipis tisu.

"Aku suka kamu."

.

.

.

Terpopuler

Comments

Eva Marlina siboro

Eva Marlina siboro

🥰🥰🥰🥰

2024-10-19

0

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

hahaha🤣🤣🤣di sini km ngelawak ya Dewa🤣🤣🤣🤣 bisa aja Dewa

2024-05-05

2

Rina Azzahra

Rina Azzahra

😃🤣🤣 dewa2

2024-02-15

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Harapan
2 Bab 2 - Mimpi
3 Bab 3 - Maafkan Aku
4 Bab 4 - Sakit
5 Bab 5 - Kenangan
6 Bab 6 - Mimpi Lagi
7 Bab 7 - Kecewa
8 Bab 8 - Hari Berlalu
9 Bab 9 - Hari Sial
10 Bab 10 - Gendeng
11 Bab 11 - Deg
12 Bab 12 - Kamu Mau?
13 Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14 Bab 14 - Terus Memaksa
15 Bab 15 - Malam Ini
16 Bab 16 - Istriku
17 Bab 17 - Suami Sendiri
18 Bab 18 - Ini Nyata
19 Bab 19 - Transfer
20 Bab 20 - Suka Kamu
21 Bab 21 - Demi Kamu
22 Bab 22 - Boleh Cium?
23 Bab 23 - Mak Tami
24 Bab 24 - Mas Dewa
25 Bab 25 - 3 Hari
26 Bab 26 - Ikut Aku
27 Bab 27 - Tante
28 Bab 28 -Jangan Memaksa
29 Bab 29 - Menginginkanmu
30 Bab 30 - Penghangat Ranjang
31 Bab 31 - Ke Rumah Rona
32 Bab 32 - Ceraikan Dia
33 Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34 Bab 34 - Pikiran Aldo
35 Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36 Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37 Bab 37 - Kejujuran
38 Bab 38 - Tidak Terima
39 Bab 39 - Penuh Cinta
40 Bab 40 - Php
41 Bab 41 - Tolong
42 Bab 42 - Kerasukan
43 Bab 43 - Hati-hati
44 Bab 44 - Sudah Terukir
45 Bab 45 - Pingit
46 Bab 46 - Hari Bahagia
47 Bab 47 - Berlayar
48 Bab 48 - Bulan Madu
49 Bab 49 - Percaya Kamu
50 Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51 Bab 51 - Penjelasan
52 Bab 52 - Sudah Pergi
53 Bab 53 - Semakin Dekat
54 Bab 54 - Adik Sepupu
55 Bab 55 - Begitu Manis
56 Bab 56 - Apapun Itu
57 Bab 57 - Gelap Mata
58 Bab 58 - Salah Target
59 Bab 59 - Menyesal
60 Bab 60 - Sudah Sadar
61 Bab 61 - Berusaha Tegar
62 Bab 62 - Mulai Stres
63 Bab 63 - Butuh Waktu
64 Bab 64 - Galau Sendiri
65 Bab 65 - Rasa Bersalah
66 Bab 66 - Aku Mencintaimu
67 Bab 67 - Penjelasan Dewa
68 Bab 68 - Aku Mau Pulang
69 Bab 69 - Bertemu
70 Bab 70 - Akhirnya
71 Promo
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 - Harapan
2
Bab 2 - Mimpi
3
Bab 3 - Maafkan Aku
4
Bab 4 - Sakit
5
Bab 5 - Kenangan
6
Bab 6 - Mimpi Lagi
7
Bab 7 - Kecewa
8
Bab 8 - Hari Berlalu
9
Bab 9 - Hari Sial
10
Bab 10 - Gendeng
11
Bab 11 - Deg
12
Bab 12 - Kamu Mau?
13
Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14
Bab 14 - Terus Memaksa
15
Bab 15 - Malam Ini
16
Bab 16 - Istriku
17
Bab 17 - Suami Sendiri
18
Bab 18 - Ini Nyata
19
Bab 19 - Transfer
20
Bab 20 - Suka Kamu
21
Bab 21 - Demi Kamu
22
Bab 22 - Boleh Cium?
23
Bab 23 - Mak Tami
24
Bab 24 - Mas Dewa
25
Bab 25 - 3 Hari
26
Bab 26 - Ikut Aku
27
Bab 27 - Tante
28
Bab 28 -Jangan Memaksa
29
Bab 29 - Menginginkanmu
30
Bab 30 - Penghangat Ranjang
31
Bab 31 - Ke Rumah Rona
32
Bab 32 - Ceraikan Dia
33
Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34
Bab 34 - Pikiran Aldo
35
Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36
Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37
Bab 37 - Kejujuran
38
Bab 38 - Tidak Terima
39
Bab 39 - Penuh Cinta
40
Bab 40 - Php
41
Bab 41 - Tolong
42
Bab 42 - Kerasukan
43
Bab 43 - Hati-hati
44
Bab 44 - Sudah Terukir
45
Bab 45 - Pingit
46
Bab 46 - Hari Bahagia
47
Bab 47 - Berlayar
48
Bab 48 - Bulan Madu
49
Bab 49 - Percaya Kamu
50
Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51
Bab 51 - Penjelasan
52
Bab 52 - Sudah Pergi
53
Bab 53 - Semakin Dekat
54
Bab 54 - Adik Sepupu
55
Bab 55 - Begitu Manis
56
Bab 56 - Apapun Itu
57
Bab 57 - Gelap Mata
58
Bab 58 - Salah Target
59
Bab 59 - Menyesal
60
Bab 60 - Sudah Sadar
61
Bab 61 - Berusaha Tegar
62
Bab 62 - Mulai Stres
63
Bab 63 - Butuh Waktu
64
Bab 64 - Galau Sendiri
65
Bab 65 - Rasa Bersalah
66
Bab 66 - Aku Mencintaimu
67
Bab 67 - Penjelasan Dewa
68
Bab 68 - Aku Mau Pulang
69
Bab 69 - Bertemu
70
Bab 70 - Akhirnya
71
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!