"Apaan sih?" ucap Tami memelototi pria itu. Bisa-bisanya mau minta cium pula.
"Ayo, sayang. Jangan malu sama suami sendiri." Ucap Dewa makin memajukan bibirnya.
"Pak, anda bilang tidak akan memaksaku. Aku akan perlahan mulai menerima pernikahan kita ini. Anda harus sabar dong!" Jelas Tami dengan memelas. Ia belum siap.
"Sayang, tidak usah ditransfer semua. Dicicil saja pelan-pelan." ucap Dewa sambil menganggukkan kepalanya.
"Nanti akan aku cicil pelan-pelan. Anda sabar dong, Pak!" Tami masih menjawab juga.
"Kapan mulai dicicilnya?" tanya Dewa kembali.
"Apa?"
"Kapan kamu mulai mencicil perasaanmu. Seharusnya ada dp dulu!" ucap Dewa menatap serius.
Dewa ingin mereka semakin dekat dan dekat. Bahkan sampai menempel layaknya lem.
"Ke-kenapa pakai dp segala?" tanya Tami bingung.
Pakai dp-dp segala. Seperti mau ambil kredit saja.
"Supaya tanda jadi kalau kamu pasti akan mentransfer semua perasaanmu padaku." Dewa meyakinkan mengatakan itu. Ia perlu sedikit bukti.
Tami menunjukkan wajah kesal. Dewa tidak mau mengalah dan sepertinya sedang mengerjai dirinya.
"Sayang, berikan dp-nya sekarang! Jadi aku percaya kamu tidak akan berpaling dariku!" paksa Dewa menuntut. Ia hanya meminta itu, Tami kebanyakan mikir.
"Pak, turunkan aku!" Tami mengalihkan pembahasan itu.
"Cepat berikan dp-nya!" paksa Dewa. Ia makin memajukan bibirnya.
Tami mendengus kesal. Sepertinya pria di hadapannya ini tipe keras kepala, yang tidak akan berhenti sampai apa yang dia mau dituruti. Buktinya kini malah makin memegangnya dengan erat dan tidak mau melepaskannya.
Tami menarik nafas dan membuangnya pelan. Lalu,
Cup,
"Sudah." ucap Tami setelah menempelkan bibirnya sebentar.
"Belum." geleng Dewa. "Itu hanya kecupan, aku minta cium, sayang."
"Pak!" Tami mendelik. Ia susah payah memberanikan diri, malah dibilang kecupan.
"Cepat, sayang! Nanti kita tidak pergi-pergi!" desak Dewa. Ia harus mendapatkan ciuman itu segera.
"Kalau kamu malu, pejamkan matamu." ucap Dewa. Mungkin saja istrinya itu malu-malu meong.
Tami menatap Dewa lalu tidak lama memejamkan matanya. Melihat itu Dewa pun tersenyum dan mengikis jarak di antara mereka.
Hati Tami berdebar kencang saat bibirnya mulai dilummat pria itu. Ciuman itu penuh dengan kelembutan. Lembut seperti gula kapas.
"Sudah! Dp-nya segitu saja!" Tami menjauhkan wajah Dewa. Wajahnya mulai terasa panas.
"Ayo, pergi! Keburu malam!" ucap Tami tanpa melihat Dewa. Ia menggeliat dan turun dari gendongan pria itu.
Karena sudah mendapatkan yang ia mau. Dewa melepaskan Tami. Pria itu juga melirik ke arah jendela yang masih terang benderang.
"Sayang, ini masih siang loh. Kamu tidak sabar menunggu malam ya!" ledek Dewa menggoda Tami. Mungkin saja pikiran wanita itu sudah membayangkan malam panas bersamanya.
Tami kesal mendengarnya dan melangkahkan kaki lebar. Ia meninggalkan pria itu.
"Istriku, tunggu suamimu ini! Istriku, Istriku," panggil Dewa sambil mengejar sang istri.
'Akhhh!' ronta Tami. Panggilan Dewa terasa menggelikan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di dalam lift, Dewa menyender di dinding belakang. Sang istri berada di depannya. Mereka akan turun di lantai dasar.
Ser... Tami berdesir saat tangannya ada yang menyentuh.
Mencoba bersikap biasa. Tami tahu itu pasti ulah suaminya.
"Pak!" ucap Tami kaget saat Dewa menariknya ke belakang. Membuatnya hampir terjungkal.
Hap... Lalu ditangkap.
Dewa menahan Tami dan keduanya saling bertatapan.
"Aku tampan kan?" tanya Dewa sambil mengkedipkan matanya. Istrinya itu sering kali bertatapan dengannya. Dan setiap bertatapan pasti sangat mendalam.
Tami mendengus dan menjaga jarak dari Dewa. Ia juga membenarkan posisi berdirinya.
"Kamu berdiri di sini saja. Jangan jauh-jauh dariku, istriku!" ucap Dewa seraya merangkul leher Tami.
Istriku, kata itu benar-benar membuatnya baper.
"Sayang, setelah kamu bertemu keluargaku. Kita akan adakan resepsi pernikahan." ucap Dewa. Ia ingin membuat Tami bahagia. Pasti istrinya itu ingin memakai gaun pengantin.
Dewa juga ingin semua orang tahu bahwa ia sudah menikah sekarang. Bahwa wanita cantik itu istrinya.
"Ti-tidak usah, Pak." tolak Tami. Ada pria yang menikahinya saja ia sudah bersyukur.
Ting... Pintu lift terbuka dan mereka keluar bersama. Saling bergandengan tangan.
"Silahkan, istriku." Dewa mempersilahkan setelah membuka pintu mobil.
Dengan mengulum senyuman, Tami naik. Begitu naik, ia berkali-kali membuang nafasnya. Dewa benar-benar ada manis-manisnya.
Begitu Dewa masuk dari pintu sebaliknya, Tami menormalkan wajahnya. Wajah yang seolah bersikap biasa, padahal hatinya tidak biasa.
"Sayang, pakai sabuk pengamanmu. Kita akan meluncur!"
Tami pun memakainya. Dan tidak lama mobil pun perlahan melaju keluar dari area parkir.
Mobil melaju sedang membelah jalanan. Sambil menyetir Dewa melirik wanita di sampingnya. Ada rasa lega dan bersyukur serta tidak menyangka ternyata bertemu kembali dengan wanita dalam mimpinya. Wanita yang begitu sangat dirindukannya.
"Pak." panggil Tami dengan suara yang begitu lembut yang terdengar.
"Apa, sayang?" tanya Dewa melihat sekilas dan kembali fokus pada jalanan.
"Nanti belok kiri ya." ucap Tami menunjukkan arah ke kost-annya.
Dewa mengangguk dan mengikuti arah yang ditunjuk istrinya.
"Sudah lama kamu tinggal sendiri?" tanya Dewa ingin tahu. Ingin mengenal istrinya itu.
"Cukup lama, Pak." ucap Tami yang jadi sendu. Sudah lama juga ia keluar dari panti dan hidup sendiri.
Tangan besar itu terulur mengelus kepalanya dengan sayang.
"Sekarang kamu tidak sendiri lagi. Ada aku yang akan bersamamu selamanya." jelas Dewa meyakinkan. Kini Tami sudah memilikinya, jadi tidak akan sendirian lagi.
Tami menatap pria yang sedang mengemudi itu. Semua perkataan dan perlakuannya begitu manis. Apa pria itu memang pandai menggombal? Atau dianya saja yang mudah baperan?
Dewa kembali melirik Tami sejenak. Lagi-lagi wanita itu menatapnya. Sudah dipastikan Tami memiliki perasaan padanya.
"Tami." panggil Dewa.
"Ya, Pak."
"Kamu pasti sudah love-love sama aku kan?" tanya Dewa sambil menyengir.
Tami menunjukkan wajah malas dan membuang pandangan. Dewa terlalu kepedean jadi orang.
"Kan tidak salah kamu love-love sama suami sendiri." masih menggoda wanita itu.
Tami mendumel. Dewa terus menerus menggodanya.
"Istriku."
"Istriku."
"Istriku, sayang."
Telinga Tami terasa panas mendengar kata istriku.
"Pak nanti belok kanan!" ucap Tami kembali memberi arah. Ia mengabaikan ucapan istriku istriku itu.
"Siap, istriku."
Tami mendengus. Lancar sekali Dewa berkata begitu.
"Sayang, kamu suka apa?" tanya Dewa.
"Suka apa?"
"Iya, apa yang kamu suka?"
"Aku suka makan hmmm, semua makanan aku suka." jawab Tami. Ia tidak pemilih makanan.
"Kamu pemakan segalanya ya." Tawa Dewa. "Suka es krim?"
Tami mengangguk. "Es krim coklat." ia sangat suka itu.
"Ya, sudah. Nanti kita makan es krim." Setelah dari kost-an, Dewa akan mengajak Tami makan es krim.
Tami mulai membayangkan makan es krim di cuaca cerah ini. Rasa dingin dan manis menjalar di tenggorokan.
"Kamu tidak tanya aku suka apa?" Dewa ingin Tami balik bertanya. Seperti tanya jawab.
"Anda suka apa, Pak?" tanya Tami. Jika tidak terlalu sulit, ia akan memasakkan untuk pria itu.
Dewa tampak berpikir lalu tersenyum tipis. Setipis tisu.
"Aku suka kamu."
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Eva Marlina siboro
🥰🥰🥰🥰
2024-10-19
0
Lanjar Lestari
hahaha🤣🤣🤣di sini km ngelawak ya Dewa🤣🤣🤣🤣 bisa aja Dewa
2024-05-05
2
Rina Azzahra
😃🤣🤣 dewa2
2024-02-15
1