"Sampai jumpa di sana." ucap Aldo lalu mengakhiri panggilan. Ia berkali-kali membuang nafas dengan kasar.
Aldo dipaksa menikahi Kitty, wanita pilihan Mamanya. Padahal dia punya wanita lain yang sangat dicintainya.
Dia dihadapkan pada dua pilihan. Mamanya atau wanita yang dicintainya? Sungguh, mereka berdua bukan pilihan. Ia ingin keduanya.
Tok... Tok... Tok... Pintu diketuk dengan kuat.
"Aldo! Buka pintunya! Mama mau bicara sama kamu!" teriak Mamanya sambil menggedori pintu kamar.
"Minggu depan kamu menikah, Aldo! Jangan buat masalah!" masih merepet sambil mengetuk.
"Aldo, segera kamu tinggalkan wanita itu! Jika tidak, lebih baik Mama mati saja!" ancamnya.
"Kak Ron, tenanglah!" Dewa berusaha menenangkan kakaknya yang marah-marah.
Aldo pun membuka pintu kamar, ia melihat keduanya sejenak. Lalu berlalu pergi.
"Mau ke mana kamu, Do?" tanya Rona dengan suara yang meninggi.
"Cari angin, Ma." jawab Aldo sekenanya.
"Aldo!" Rona memegang kepalanya yang mendadak sakit. Pusing mengatur putra semata wayangnya itu yang mulai bertingkah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
'Aduh, cantiknya aku ini!' batin Tami melihat dirinya dalam pantulan cermin.
Wajah sudah dimake up, rambut digerai, tidak lupa juga menyemprotkan parfum agar wangi semerbak.
Tami membuang nafasnya berkali-kali, lalu berolah raga muka. Menormalkan wajahnya yang dari tadi senyam senyum tidak jelas. Menunjukkan wajah biasa, tapi sesaat kemudian senyam senyum lagi.
"Ok, perfect! Mari meluncur!" ucap Tami. Waktunya bertemu sang pujaan hati.
Dengan bersenandung kecil, Tami pun melangkah pergi. Keluar dari kost-an dan tidak lupa mengunci pintu.
"Selamat sore, Bu." sapa Tami saat berpapasan dengan sang ibu kost.
"Sore. Mau ke mana?" tanya ibu kost dengan nada lembut.
"Jalan-jalan sore, Bu." jawab Tami dengan senyuman lebarnya. Saat ini ia tidak bisa memasang wajah biasa saja, karena hatinya senang dan bahagia.
Ibu kost mengangguk mengerti. Pasti mau bertemu kekasih hati, makanya bawanya senyum terus. 'Gelora jiwa muda!'
Tami berjalan menuju depan gang. Ia melewati beberapa orang, menyapa mereka sekilas. Padahal tidak terlalu kenal, tapi disapanya saja.
Sampai di depan gang, Tami pun naik angkot yang lewat. Kebetulan tempat bertemu mereka dilalui angkot itu. Lumayan ongkosnya lebih irit.
Sampai di pintu masuk kafe, Tami mengedarkan pandangannya. Mencari kekasih tercintanya. Katanya ia sudah sampai.
"Tami," panggil seseorang dari belakangnya.
Tami menoleh ke belakang, wajahnya tersenyum melihat pria itu.
Deg, Hati Aldo berdesir. Hari ini Tami sangat cantik. Berbeda dari biasanya. Wajah bahkan senyumannya membuat terpukau.
"Mas." panggil Tami. Aldo malah melamun menatap dirinya, pasti terpesona padanya.
"Ayo!" Aldo pun tersenyum dan menggenggam tangan Tami. Membawa wanita itu ke mejanya.
"Kamu naik apa tadi?" tanya Aldo setelah mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Naik angkot, Mas." jawab Tami.
Aldo mengangguk dan mereka pun memesan makanan.
Selama makan mereka saling diam. Aldo berkali-kali menatap Tami dan saat Tami melihatnya, ia mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Mas, pelan-pelan makannya." ucap Tami sambil mengelap sudut mulut Aldo. Ada makanan yang menempel di sana.
Aldo diam dengan perlakuan Tami. Kekasihnya itu sangat perhatian sekali.
'Kenapa Mas Aldo belum melamarku?' batin Tami mulai gelisah
Mereka sudah selesai makan, tapi Aldo masih duduk. Tidak bergeser dari kursinya. Apa dari posisi itu saja mau melamarnya?
Aldo mengdehem sejenak. Lalu ia menatap Tami.
Deg,
Jantung Tami tidak bisa dikondisikan melihat tatapan Aldo. Pasti ini waktunya. Waktunya Aldo melamarnya.
"Tami, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Aldo dengan nada serius. Ia harus mempertegas semuanya.
Deg... Deg... duh kan, makin berdebar tidak menentu.
"Katakan saja, Mas." jawab Tami dengan mengulum senyumannya. Aldo buat gemas, mau melamar saja buat berdebar-debar dulu.
"Kita-" Aldo menghembuskan nafasnya dengan kasar. Susah sekali mengatakannya.
Tami masih menunggu perkataan Aldo selanjutnya. Suasananya sekarang sangat mendebarkan.
"Kita-, kita akhiri saja hubungan ini." ucap Aldo akhirnya. Ia harus menuruti sang Mama. Menikah dan menerima Kitty.
Jedder,
Tami terkejut bukan main mendengar apa yang baru saja Aldo katakan. Pria itu bukan akan mengatakan menikahlah denganku, melainkan mengakhiri hubungan. Ini tidak seperti yang dibayangkannya.
"Ka-kamu becanda ya, Mas?" tanya Tami jadi terkekeh pelan. Tidak percaya Aldo mengakhiri hubungan begitu saja. Pasti pria itu sedang mengerjainya sebelum memberikan kejutan yang sebenarnya.
"Maafkan aku, Tam. Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita. Aku ingin mengakhiri semua ini!" Aldo memperjelas perkataannya lagi. Tami mengira ia becanda. Padahal apa yang dikatakannya sangatlah serius.
"Mas, ada apa? Selama ini kita baik-baik saja! Ke-kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Tami berusaha menahan air matanya. Aldo bernar-benar serius ingin mereka berakhir.
"Maafkan aku."
"Mas, kamu bilang akan mencintaiku selamanya." Tami mengatakan ucapan yang dia pegang sampai sekarang. Ucapan yang seperti janji manis itu.
"Maafkan aku, Tam. Aku sudah salah."
"Sa-salah?" tanya Tami bingung.
"Perasaanku padamu selama ini salah. Aku tidak pernah mencintaimu dan lupakanlah pria seperti aku!" ucap Aldo. Ia tidak bisa terus bersama Tami, itu hanya akan menyakiti wanita itu. Ia akan menikah minggu depan, jika tetap bertahan dalam hubungan ini. Tami bisa dicap sebagai pelakor.
"Mas Aldo," Air mata itu pun jebol juga membasahi pipi. Perasaan Aldo selama ini padanya salah.
"Tam, aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya iseng saja menjalani hubungan denganmu dan kamu, bukan wanita yang kuinginkan untuk menjadi istriku!" Aldo mengucapkan kata-kata itu. Ia tahu itu kejam, tapi dengan begitu Tami akan membenci lalu segera melupakannya.
"Ti-tidak!" Tami menggeleng tidak percaya. Aldo berubah, apa salah minum obat.
"Jika aku mencintaimu, pasti aku akan memperjelas hubungan kita. Tidak mungkin kubiarkan selama 5 tahun ini, hubungan kita tidak berkembang!"
Deg,
Jadi selama ini Aldo tidak pernah membahas pernikahan, karena pria itu dari awal memang tidak ingin menikahinya.
"Minggu depan aku akan menikah. Aku akan menikah dengan wanitaku."
Nyut, Nyut, terasa hati Tami berdenyut nyeri mendengar pengakuan Aldo.
"Jangan pernah mencari atau mengharapkanku lagi, Tami. Jika kita tidak sengaja bertemu, berpura-puralah tidak mengenalku!" Aldo bangkit dari duduknya. Ia merasa sudah cukup mengatakan semua.
"Aku pergi." Aldo menepuk pundak Tami pelan. Ia menatap sesaat wajah bersimbah air mata. Ia sudah menyakiti Tami.
"Mas!" panggil Tami menahan tangan Aldo. Mereka tidak bisa berakhir begitu saja.
"Mas, ki-kita bisa bicara baik-baik. Jika aku bersalah padamu, aku minta maaf. Jangan akhiri hubungan kita!" mohon Tami. Ia sangat mencintai pria itu.
"Maafkan aku, Tam. Aku tidak mencintaimu." Aldo melepas pegangan tangan Tami. Lalu melangkah pergi.
Aldo terus melangkah, tidak peduli wanita yang telah mewarnai hari-harinya 5 tahun itu memanggilnya.
"Mas,"
"Mas Aldo,"
"Mas Aldo,"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
ketemu lg thor bagus karya barumu,Tami km tu di bohongi Aldo mencintaimu hanya saja wanita yg akan di nikahi Aldo pilihan Mamanya ancam Aldo hanys menuruti mamamya dan melindungimu Tam km akan dapat ganti lebih dr Aldo
2024-05-05
0
Elaine73
melipir kemari,candu dg karya2 mu thor,sukses selalu
2024-04-19
0