Bab 18 - Ini Nyata

Dewa membuka matanya dan melihat jam dinding. Sudah pukul 7. Ia termenung sebentar mengumpulkan jiwa dan raganya.

Mata menoleh ke arah samping. Tadi malam ia ingat masih memeluk wanita itu. Tapi saat pagi menjelang, tidak ada siapapun di sampingnya.

Bertemu wanita itu, lalu mereka menikah dan ia membawa pulang ke apartemennya. Apa semua itu hanya mimpi? Seharusnya ia tidak terbangun saja, agar tidak kehilangan wanita itu lagi.

'Tami.' Dewa mengingat nama wanita itu.

Dewa membuang nafasnya yang terdengar kasar. Tadi malam ia memimpikan wanita itu. Mimpi yang baginya terasa begitu nyata.

Krek,

Terkejut saat mendengar suara pintu kamar mandi. Siapa itu?

'Apa hantu?' batin Dewa melihat fokus ke arah kamar mandi.

"Eh," gumam Dewa saat melihat apa yang keluar dari kamar mandi. Seorang wanita dengan handuk tergulung di kepala.

"Anda sudah bangun?" tanya Tami yang melihat pria itu menatapnya kaget.

Wanita itu jadi melihat kaos yang dipakainya. Tidak ada yang salah, hanya kaos kebesaran di tubuhnya.

"Ke-kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Dewa bingung. Wanita dalam mimpinya ada bersamanya.

Tami menunjukkan wajah aneh. Pertanyaan apa yang dilontarkan Dewa padanya. Jelas-jelas pria itu yang membawanya kemari.

"Apa anda mengigau?" tanya Tami sambil mencibir.

Dewa bangkit dan menghampiri wanita itu. Ia memutar tubuh Tami untuk memeriksa jika wanita itu memang nyata. Bahkan memastikan kakinya, mengcecah lantai atau tidak.

"Anda kenapa?" Tami pusing tubuhnya diputar-putar begitu.

Dewa pun memeluknya dengan erat. Erat sekali. "Sayang, apa aku sedang bermimpi?"

"Hah?" Tami malah bingung.

Pelukan melonggar dan kini keduanya saling bertatapan sejenak.

"Tidak ada apapun di dapurmu selain mi instan." ucap Tami mengalihkan tatap-tatapan yang menggoyahkan yang tidak baik untuk jantungnya.

Tami tadi ingin membuat sarapan, tapi tidak jadi. Rebus mie instan doang kurang, kalau tidak pakai telur.

"Tami, cubit aku!" pinta Dewa. Ingin Tami mencubitnya untuk memastikan kembali. Bahwa ini nyata.

"Anda kenapa?" bukannya menurut, Tami malah bertanya. Suaminya itu aneh.

"Cepat!" Dewa mengarahkan tangan Tami ke pipinya.

Tami menjauhkan tangannya. Ia tidak mau mencubit pria itu.

"Kita akan sarapan setelah kamu mencubitku!"

Dan,

"Aduh!" rintih Dewa kesakitan. Tami malah mencubit lengannya. Cubitannya sama sakitnya seperti cubitan Zol.

"Cepat mandi sana! Aku sudah lapar!" Tami pun mendorong pria itu ke kamar mandi. Ia tidak mau membuang waktu. Lambungnya sudah minta diisi.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Tami melahap makanan. Dewa tadi memesankan makanan, karena tidak mungkin wanita itu keluar dengan pakaian seperti itu.

Saat makan, Tami malah melihat Dewa yang senyum-senyum pada ponselnya.

Jadi penasaran, ada apa dengan ponsel pria itu? Apa yang dilihatnya sampai berekspresi begitu?

"Tidak makan?" tanya Tami.

"Iya, aku makan." Ucap Dewa dengan senyum melebar sambil menutup ponselnya.

Tadi Dewa baru melihat video itu. Video ijab kabul mereka. Itu yang membuat hatinya sangat senang. Bahwa apa yang ia kira hanya mimpinya tadi malam, ternyata bukanlah mimpi. Tapi kenyataannya. Ia dan Tami sudah resmi menikah.

"Kamu mau tambah lagi?" tawar Dewa. Makanan dalam piring Tami sudah mau habis.

"Tidak usah, Pak. Saya ini saja." Jawab Tami menolak.

Dewa merasa panggilan Tami terlalu formal. Mereka sudah menikah, seharusnya memiliki panggilan spesial.

"Sayang, jangan panggil aku Pak. Kita sudah menikah."

"Jadi panggil apa? Pak de? Pak lek? Akang?"

Dewa mendengus, bukan panggilan begitu yang diinginkannya. Ia memikirkan sesuatu. Panggilan yang cocok untuk mereka.

"Suamiku. Panggil aku begitu!" Dewa tersenyum mengatakannya.

Tami memutar bola matanya dengan malas. Panggilan apa itu? Terlalu menggelikan.

"Ayolah, istriku!" pinta Dewa sambil memelas.

"Pak!" sangat menolak.

"Ayolah, sayang!"

"No!" geleng Tami. "Sudah, Pak. Ayo, makan!"

Dewa mengcemberutkan wajahnya. Ia pun memakan sarapannya itu.

"Sayang, sudah berapa lama orang tua kamu meninggal?" tanya Dewa ingin tahu banyak tentang Tami. Kembali mengingat ucapan-ucapan yang dikatakan semalam agar Tami bersedia menikah dengannya. Kata-kata yang memang diucapkannya dan bukanlah dalam mimpi.

Membahas orang tua membuat kepala Tami tertunduk. Entahlah, ia juga bingung. Mengatakan sudah meninggal, kuburannya di mana saja tidak tahu.

"Sudah lama." memilih jawaban aman.

"Lamanya?" tanya Dewa menatapnya.

"Dari aku masih bayi. Orang tuaku meninggalkanku di tempat sampah depan-"

Tami menutup mulutnya, hampir saja ia ceplos. Gara-gara tatapan pria itu, ia jadi tanpa sadar bicara jujur.

"Apa kamu tinggal di panti asuhan?" tanya Dewa. Sedikit mengerti dari ucapan Tami barusan. Tami ditinggal saat masih bayi.

Tami mengangguk. "Mereka sepertinya tidak menginginkanku! Aku sudah dibuang!"

Melihat mata Tami yang mulai berkaca-kaca. Dewa membawa tubuhnya dalam pelukannya.

"Sayang." Dewa mengelus punggung Tami agar tenang.

Tapi bukannya tenang, Tami malah mewek. Ia mulai menangis terisak-isak, mengeluarkan rasa sesak yang selama ini ia pendam sendiri.

Tami tidak pernah mengatakan dirinya berasal dari panti asuhan kepada siapapun. Tapi pada pria itu, malah tanpa sadar mengatakannya.

"Apa kamu ingin mencari mereka?" tanya Dewa. Mungkin Tami ingin bertemu orang tuanya. Ia mungkin bisa membantu.

Wanita itu malah menggelengkan kepala. Untuk apa mencari mereka, sedang mereka saja tidak pernah mencari dirinya.

Tami berada di panti asuhan selama 18 tahun. Tapi tidak pernah orang tuanya datang menemuinya.

Katakanlah, mungkin saat membuangnya mereka sedang mengalami masa yang sulit dan khilaf. Tapi 18 tahun telah berlalu, apa hidup mereka tidak ada perubahan? Atau mereka tidak pernah mengingat dirinya, anak yang sudah dibuang.

Tami merasa sesak di dadanya. Ia tidak ingin mengingat tentang mereka lagi. Tak tahu juga bagaimana orang tuanya sekarang. Tah masih hidup ataukah sudah meninggal seperti anggapannya selama ini.

"Biarkan sajalah!" ucap Tami. Hidupnya sudah baik-baik saja.

Pelukan mereka mulai melonggar.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Dewa memastikan. Jari-jarinya menghapus sisa air mata istrinya.

Tami mengangguk. Ia baik-baik saja. Selama ini hidup sebatang kara juga baik-baik saja.

Mata keduanya saling menatap. Menatap dengan tatapan yang mendalam.

Dewa mulai mengikis jarak di antara mereka. Dekat dan semakin dekat. Dapat merasakan hembusan nafas Tami menerpa wajahnya. Dan,

Ting tong...

Ting tong...

"Pak, itu ada yang datang!" ucap Tami tersadar dan membuang pandangan. Ia meruntuki dirinya yang lagi-lagi terpesona pada pria itu.

Dewa ngedumel dalam hati. Ada saja yang mengganggunya.

"Sebentar ya, aku mau buka pintu dulu." ucap Dewa.

Tami mengangguk dan masih tidak melihat Dewa.

Cup... Satu kecupan melayang di pipinya. Tami terbengong sesaat.

Cup... Dan pipi lainnya dikecup juga.

"Biar sama-sama adil."

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

siapa yg pagi2 menganggu aja zol atau Aldo sang ponakan Dewa dan sang mantan istri Tami

2024-05-05

0

Halim Sya'diyah

Halim Sya'diyah

seruuu

2024-02-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Harapan
2 Bab 2 - Mimpi
3 Bab 3 - Maafkan Aku
4 Bab 4 - Sakit
5 Bab 5 - Kenangan
6 Bab 6 - Mimpi Lagi
7 Bab 7 - Kecewa
8 Bab 8 - Hari Berlalu
9 Bab 9 - Hari Sial
10 Bab 10 - Gendeng
11 Bab 11 - Deg
12 Bab 12 - Kamu Mau?
13 Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14 Bab 14 - Terus Memaksa
15 Bab 15 - Malam Ini
16 Bab 16 - Istriku
17 Bab 17 - Suami Sendiri
18 Bab 18 - Ini Nyata
19 Bab 19 - Transfer
20 Bab 20 - Suka Kamu
21 Bab 21 - Demi Kamu
22 Bab 22 - Boleh Cium?
23 Bab 23 - Mak Tami
24 Bab 24 - Mas Dewa
25 Bab 25 - 3 Hari
26 Bab 26 - Ikut Aku
27 Bab 27 - Tante
28 Bab 28 -Jangan Memaksa
29 Bab 29 - Menginginkanmu
30 Bab 30 - Penghangat Ranjang
31 Bab 31 - Ke Rumah Rona
32 Bab 32 - Ceraikan Dia
33 Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34 Bab 34 - Pikiran Aldo
35 Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36 Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37 Bab 37 - Kejujuran
38 Bab 38 - Tidak Terima
39 Bab 39 - Penuh Cinta
40 Bab 40 - Php
41 Bab 41 - Tolong
42 Bab 42 - Kerasukan
43 Bab 43 - Hati-hati
44 Bab 44 - Sudah Terukir
45 Bab 45 - Pingit
46 Bab 46 - Hari Bahagia
47 Bab 47 - Berlayar
48 Bab 48 - Bulan Madu
49 Bab 49 - Percaya Kamu
50 Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51 Bab 51 - Penjelasan
52 Bab 52 - Sudah Pergi
53 Bab 53 - Semakin Dekat
54 Bab 54 - Adik Sepupu
55 Bab 55 - Begitu Manis
56 Bab 56 - Apapun Itu
57 Bab 57 - Gelap Mata
58 Bab 58 - Salah Target
59 Bab 59 - Menyesal
60 Bab 60 - Sudah Sadar
61 Bab 61 - Berusaha Tegar
62 Bab 62 - Mulai Stres
63 Bab 63 - Butuh Waktu
64 Bab 64 - Galau Sendiri
65 Bab 65 - Rasa Bersalah
66 Bab 66 - Aku Mencintaimu
67 Bab 67 - Penjelasan Dewa
68 Bab 68 - Aku Mau Pulang
69 Bab 69 - Bertemu
70 Bab 70 - Akhirnya
71 Promo
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 - Harapan
2
Bab 2 - Mimpi
3
Bab 3 - Maafkan Aku
4
Bab 4 - Sakit
5
Bab 5 - Kenangan
6
Bab 6 - Mimpi Lagi
7
Bab 7 - Kecewa
8
Bab 8 - Hari Berlalu
9
Bab 9 - Hari Sial
10
Bab 10 - Gendeng
11
Bab 11 - Deg
12
Bab 12 - Kamu Mau?
13
Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14
Bab 14 - Terus Memaksa
15
Bab 15 - Malam Ini
16
Bab 16 - Istriku
17
Bab 17 - Suami Sendiri
18
Bab 18 - Ini Nyata
19
Bab 19 - Transfer
20
Bab 20 - Suka Kamu
21
Bab 21 - Demi Kamu
22
Bab 22 - Boleh Cium?
23
Bab 23 - Mak Tami
24
Bab 24 - Mas Dewa
25
Bab 25 - 3 Hari
26
Bab 26 - Ikut Aku
27
Bab 27 - Tante
28
Bab 28 -Jangan Memaksa
29
Bab 29 - Menginginkanmu
30
Bab 30 - Penghangat Ranjang
31
Bab 31 - Ke Rumah Rona
32
Bab 32 - Ceraikan Dia
33
Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34
Bab 34 - Pikiran Aldo
35
Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36
Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37
Bab 37 - Kejujuran
38
Bab 38 - Tidak Terima
39
Bab 39 - Penuh Cinta
40
Bab 40 - Php
41
Bab 41 - Tolong
42
Bab 42 - Kerasukan
43
Bab 43 - Hati-hati
44
Bab 44 - Sudah Terukir
45
Bab 45 - Pingit
46
Bab 46 - Hari Bahagia
47
Bab 47 - Berlayar
48
Bab 48 - Bulan Madu
49
Bab 49 - Percaya Kamu
50
Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51
Bab 51 - Penjelasan
52
Bab 52 - Sudah Pergi
53
Bab 53 - Semakin Dekat
54
Bab 54 - Adik Sepupu
55
Bab 55 - Begitu Manis
56
Bab 56 - Apapun Itu
57
Bab 57 - Gelap Mata
58
Bab 58 - Salah Target
59
Bab 59 - Menyesal
60
Bab 60 - Sudah Sadar
61
Bab 61 - Berusaha Tegar
62
Bab 62 - Mulai Stres
63
Bab 63 - Butuh Waktu
64
Bab 64 - Galau Sendiri
65
Bab 65 - Rasa Bersalah
66
Bab 66 - Aku Mencintaimu
67
Bab 67 - Penjelasan Dewa
68
Bab 68 - Aku Mau Pulang
69
Bab 69 - Bertemu
70
Bab 70 - Akhirnya
71
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!