Dewa membuka matanya dan melihat jam dinding. Sudah pukul 7. Ia termenung sebentar mengumpulkan jiwa dan raganya.
Mata menoleh ke arah samping. Tadi malam ia ingat masih memeluk wanita itu. Tapi saat pagi menjelang, tidak ada siapapun di sampingnya.
Bertemu wanita itu, lalu mereka menikah dan ia membawa pulang ke apartemennya. Apa semua itu hanya mimpi? Seharusnya ia tidak terbangun saja, agar tidak kehilangan wanita itu lagi.
'Tami.' Dewa mengingat nama wanita itu.
Dewa membuang nafasnya yang terdengar kasar. Tadi malam ia memimpikan wanita itu. Mimpi yang baginya terasa begitu nyata.
Krek,
Terkejut saat mendengar suara pintu kamar mandi. Siapa itu?
'Apa hantu?' batin Dewa melihat fokus ke arah kamar mandi.
"Eh," gumam Dewa saat melihat apa yang keluar dari kamar mandi. Seorang wanita dengan handuk tergulung di kepala.
"Anda sudah bangun?" tanya Tami yang melihat pria itu menatapnya kaget.
Wanita itu jadi melihat kaos yang dipakainya. Tidak ada yang salah, hanya kaos kebesaran di tubuhnya.
"Ke-kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Dewa bingung. Wanita dalam mimpinya ada bersamanya.
Tami menunjukkan wajah aneh. Pertanyaan apa yang dilontarkan Dewa padanya. Jelas-jelas pria itu yang membawanya kemari.
"Apa anda mengigau?" tanya Tami sambil mencibir.
Dewa bangkit dan menghampiri wanita itu. Ia memutar tubuh Tami untuk memeriksa jika wanita itu memang nyata. Bahkan memastikan kakinya, mengcecah lantai atau tidak.
"Anda kenapa?" Tami pusing tubuhnya diputar-putar begitu.
Dewa pun memeluknya dengan erat. Erat sekali. "Sayang, apa aku sedang bermimpi?"
"Hah?" Tami malah bingung.
Pelukan melonggar dan kini keduanya saling bertatapan sejenak.
"Tidak ada apapun di dapurmu selain mi instan." ucap Tami mengalihkan tatap-tatapan yang menggoyahkan yang tidak baik untuk jantungnya.
Tami tadi ingin membuat sarapan, tapi tidak jadi. Rebus mie instan doang kurang, kalau tidak pakai telur.
"Tami, cubit aku!" pinta Dewa. Ingin Tami mencubitnya untuk memastikan kembali. Bahwa ini nyata.
"Anda kenapa?" bukannya menurut, Tami malah bertanya. Suaminya itu aneh.
"Cepat!" Dewa mengarahkan tangan Tami ke pipinya.
Tami menjauhkan tangannya. Ia tidak mau mencubit pria itu.
"Kita akan sarapan setelah kamu mencubitku!"
Dan,
"Aduh!" rintih Dewa kesakitan. Tami malah mencubit lengannya. Cubitannya sama sakitnya seperti cubitan Zol.
"Cepat mandi sana! Aku sudah lapar!" Tami pun mendorong pria itu ke kamar mandi. Ia tidak mau membuang waktu. Lambungnya sudah minta diisi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tami melahap makanan. Dewa tadi memesankan makanan, karena tidak mungkin wanita itu keluar dengan pakaian seperti itu.
Saat makan, Tami malah melihat Dewa yang senyum-senyum pada ponselnya.
Jadi penasaran, ada apa dengan ponsel pria itu? Apa yang dilihatnya sampai berekspresi begitu?
"Tidak makan?" tanya Tami.
"Iya, aku makan." Ucap Dewa dengan senyum melebar sambil menutup ponselnya.
Tadi Dewa baru melihat video itu. Video ijab kabul mereka. Itu yang membuat hatinya sangat senang. Bahwa apa yang ia kira hanya mimpinya tadi malam, ternyata bukanlah mimpi. Tapi kenyataannya. Ia dan Tami sudah resmi menikah.
"Kamu mau tambah lagi?" tawar Dewa. Makanan dalam piring Tami sudah mau habis.
"Tidak usah, Pak. Saya ini saja." Jawab Tami menolak.
Dewa merasa panggilan Tami terlalu formal. Mereka sudah menikah, seharusnya memiliki panggilan spesial.
"Sayang, jangan panggil aku Pak. Kita sudah menikah."
"Jadi panggil apa? Pak de? Pak lek? Akang?"
Dewa mendengus, bukan panggilan begitu yang diinginkannya. Ia memikirkan sesuatu. Panggilan yang cocok untuk mereka.
"Suamiku. Panggil aku begitu!" Dewa tersenyum mengatakannya.
Tami memutar bola matanya dengan malas. Panggilan apa itu? Terlalu menggelikan.
"Ayolah, istriku!" pinta Dewa sambil memelas.
"Pak!" sangat menolak.
"Ayolah, sayang!"
"No!" geleng Tami. "Sudah, Pak. Ayo, makan!"
Dewa mengcemberutkan wajahnya. Ia pun memakan sarapannya itu.
"Sayang, sudah berapa lama orang tua kamu meninggal?" tanya Dewa ingin tahu banyak tentang Tami. Kembali mengingat ucapan-ucapan yang dikatakan semalam agar Tami bersedia menikah dengannya. Kata-kata yang memang diucapkannya dan bukanlah dalam mimpi.
Membahas orang tua membuat kepala Tami tertunduk. Entahlah, ia juga bingung. Mengatakan sudah meninggal, kuburannya di mana saja tidak tahu.
"Sudah lama." memilih jawaban aman.
"Lamanya?" tanya Dewa menatapnya.
"Dari aku masih bayi. Orang tuaku meninggalkanku di tempat sampah depan-"
Tami menutup mulutnya, hampir saja ia ceplos. Gara-gara tatapan pria itu, ia jadi tanpa sadar bicara jujur.
"Apa kamu tinggal di panti asuhan?" tanya Dewa. Sedikit mengerti dari ucapan Tami barusan. Tami ditinggal saat masih bayi.
Tami mengangguk. "Mereka sepertinya tidak menginginkanku! Aku sudah dibuang!"
Melihat mata Tami yang mulai berkaca-kaca. Dewa membawa tubuhnya dalam pelukannya.
"Sayang." Dewa mengelus punggung Tami agar tenang.
Tapi bukannya tenang, Tami malah mewek. Ia mulai menangis terisak-isak, mengeluarkan rasa sesak yang selama ini ia pendam sendiri.
Tami tidak pernah mengatakan dirinya berasal dari panti asuhan kepada siapapun. Tapi pada pria itu, malah tanpa sadar mengatakannya.
"Apa kamu ingin mencari mereka?" tanya Dewa. Mungkin Tami ingin bertemu orang tuanya. Ia mungkin bisa membantu.
Wanita itu malah menggelengkan kepala. Untuk apa mencari mereka, sedang mereka saja tidak pernah mencari dirinya.
Tami berada di panti asuhan selama 18 tahun. Tapi tidak pernah orang tuanya datang menemuinya.
Katakanlah, mungkin saat membuangnya mereka sedang mengalami masa yang sulit dan khilaf. Tapi 18 tahun telah berlalu, apa hidup mereka tidak ada perubahan? Atau mereka tidak pernah mengingat dirinya, anak yang sudah dibuang.
Tami merasa sesak di dadanya. Ia tidak ingin mengingat tentang mereka lagi. Tak tahu juga bagaimana orang tuanya sekarang. Tah masih hidup ataukah sudah meninggal seperti anggapannya selama ini.
"Biarkan sajalah!" ucap Tami. Hidupnya sudah baik-baik saja.
Pelukan mereka mulai melonggar.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dewa memastikan. Jari-jarinya menghapus sisa air mata istrinya.
Tami mengangguk. Ia baik-baik saja. Selama ini hidup sebatang kara juga baik-baik saja.
Mata keduanya saling menatap. Menatap dengan tatapan yang mendalam.
Dewa mulai mengikis jarak di antara mereka. Dekat dan semakin dekat. Dapat merasakan hembusan nafas Tami menerpa wajahnya. Dan,
Ting tong...
Ting tong...
"Pak, itu ada yang datang!" ucap Tami tersadar dan membuang pandangan. Ia meruntuki dirinya yang lagi-lagi terpesona pada pria itu.
Dewa ngedumel dalam hati. Ada saja yang mengganggunya.
"Sebentar ya, aku mau buka pintu dulu." ucap Dewa.
Tami mengangguk dan masih tidak melihat Dewa.
Cup... Satu kecupan melayang di pipinya. Tami terbengong sesaat.
Cup... Dan pipi lainnya dikecup juga.
"Biar sama-sama adil."
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
siapa yg pagi2 menganggu aja zol atau Aldo sang ponakan Dewa dan sang mantan istri Tami
2024-05-05
0
Halim Sya'diyah
seruuu
2024-02-13
1