"Kamu setuju untuk menikah dengan saya." Jawab Dewa. Pria itu mengedipkan sebelah matanya. Lalu menutup pintu mobil dan masuk dari pintu pengemudi.
Tami mendadak eror. Kapan ia bilang setuju menikah dengan pria itu. Mulai mengingat, tapi yang diingat hanya adegan saat mereka berciuman.
'Astaga!' ronta Tami dalam hatinya. Ada apa dengan dirinya ini?
"Pak, saya tidak pernah setuju menikah dengan anda!" tegas Tami begitu mobil perlahan melaju.
"Tadi kamu sudah setuju loh! Menjadi istri saya, kamu tidak akan rugi juga. Sudah tampan, mapan, tampan, mapan." sengaja mengulang-ulang.
Dewa melirik wajah yang menatapnya kesal. Pria itu santai saja dan fokus melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
"Ke-kenapa ke rumah sakit?" tanya Tami saat memasuki area rumah sakit.
"Untuk memeriksakan lututmu, sayang." jawab Dewa seraya melepas sabuk pengamannya sendiri. Lalu turun dari mobil.
"Ayo, turun!" ucap Dewa membuka pintu mobil tempat Tami duduk.
"Tidak mau! Aku tidak sa- akhh!" teriak Tami. Ia tiba-tiba melayang terbang. Pria itu kini menggendongnya ala karung beras.
"Turunkan aku!" pekik Tami menggeliat. Tapi percuma, pria yang lebih besar darinya itu santai saja menggendongnya seperti itu.
Tami sangat malu dilihati orang-orang. Ia pun menyembunyikan wajahnya.
"Dokter, tolong periksa lutut calon istri saya." ucap Dewa pada Dokter di sana.
'Ca-calon istri?' lagi-lagi perkataan Dewa membuat hatinya menghangat. Dalam sejarah cintanya, tidak pernah ada yang mengklaim dirinya calon istri.
Tapi pria itu, mereka tidak punya sejarah cinta. Kenapa ucapan pria itu begitu meyakinkan sekali?
Dokter pun memeriksa lutut pasiennya itu. "Kenapa bisa memar?"
"Tadi calon istri saya terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi."
Tami dan Dokter melihat Dewa dengan ekspresi aneh. Kenapa seperti lirik lagu ya.
"Hmmm, saat terjatuh calon istri saya meringis dan saya langsung membawanya kemari." Dewa membenarkan penjelasannya. Kedua orang itu kenapa ekspresinya begitu. Apa ada yang salah dengan penjelasannya.
"Tidak ada masalah dengan memarnya. Akan saya berikan salep untuk menghilangkan memar -"
"Lakukan USG, Dok!" pinta Dewa menyela. Tami tadi begitu kesakitan, pasti lututnya sudah bermasalah. Ia sudah membuat wanita itu terjatuh, jadi harus bertanggung jawab.
"USG? Siapa yang hamil?" Tami mendelik melihat pria itu meminta dilakukan USG. Mereka hanya berciuman, apa bisa hamil? Tidak mungkin!
"Siapa yang hamil?" Dewa malah balik tanya. "USG itu untuk melihat tulang lututmu. Apa bergeser, retak atau bagaimana!" jelasnya dengan yakin. Tami begitu saja tidak tahu. Pengetahuan umumnya kurang.
"Itu namanya rontgen!" ucap Tami membenarkan. Ia jadi malu pada Dokter yang senyum melihati mereka. Sejak kapan lutut di USG? Ih, ada-ada sajalah!
"Dok, itu yang nanti gambarnya bisa melihat kerangka manusia. USG kan, Dok?" Dewa akan memastikan langsung dari ahlinya. Tami sok tahu.
"Rontgen kan, Dok?!"
"USG, Dok!"
"Rontgen!"
"USG!"
"Rontgen!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ser... ser... ser... Kembali berdesir.
Tami terdiam merasakan perasaannya yang terus berdesir. Kini pria itu sedang mengoleskan lututnya dengan salep yang diberikan dokter.
"Sudah, sebentar lagi kering itu!" ucap Dewa sambil meniup-niupnya.
"Nih, nanti sampai rumah diobati lagi!" Dewa memberikan salep itu dan Tami menerima lalu memasukkan dalam tasnya.
"Pasang sabuk pengamanmu. Kita akan ke rumah bertemu orang tuamu!" pinta Dewa. Pria itu memasang sabuk pengamannya sendiri.
"Pak, aku tidak bisa menikah denganmu!" tolak Tami kembali.
"Kamu sudah setuju. Tidak bisa diganggu gugat!" ucap Dewa tidak menerima bantahan.
"Anda tidak mengenal saya, Pak!"
"Kita akan saling mengenal setelah menikah!"
"Saya bukan wanita baik-baik!" masih memberikan alasan untuk menolak.
"Itu hanya masa lalu kamu. Kedepannya kamu bisa berubah jadi wanita baik-baik. Yang penting ada tekad untuk berubah!" jelas Dewa. Ia tidak peduli masa lalu wanita itu. Hatinya sudah yakin. Ya sudah, tidak ada masalah yang perlu diperbesar.
"Pak!" Tami mendengus. Ada saja jawaban pria itu.
"Cepat pasang sabuk pengamanmu!" Dewa juga mendengus kesal. Tami bawel sekali. Tinggal menurut saja.
"Pak, saya sudah tidak punya orang tua." ucap Tami. Pria itu katanya mau bertemu orang tuanya untuk meminta restu, mau cari di mana mereka?
"Ke mana orang tua kamu? Apa sudah meninggal?" tanya Dewa dengan wajah serius.
Tami mengangguk pelan. Ia memang sudah menganggap orang tuanya meninggal.
Dewa mengelus kepala Tami. Mendadak jadi ikut sedih.
"Jadi kamu tinggal sama siapa?" tanya Dewa. Mungkin Tami tinggal dengan saudaranya.
"Saya tinggal sendirian. Saya tidak punya keluarga." ucap Tami dengan nada bergetar. Setekah keluar dari panti, ia menjalani hidup seorang diri. Tidak punya teman dekat, karena mereka mau dekat saat ada maunya saja.
Tami terpaku saat tiba-tiba pria itu memeluknya. Pelukannya begitu hangat dan menenangkan. Terasa tenang dalam dekapannya.
"Karena kamu hanya sebatang kara. Jadi, malam ini kita akan menikah!" putus Dewa.
"A-apa?" Tami kaget mendengarnya. Ia mendongakkan kepala menatap pria itu. Malam ini akan menikah?
"Malam ini kita akan menikah. Aku tidak mau kamu sendirian lagi, dengan menikah aku bisa menjaga kamu mulai dari sekarang!" jelas Dewa menatap wajah cantik itu.
Dewa tidak bisa membiarkan Tami seorang diri. Jika ada pria hidung belang yang mengganggunya bagaimana. Ia harus melindungi wanitanya.
Dag, dig, dug..
Sar, ser, sar, ser...
'Apa dia jodohku?' batin Tami bertanya.
Mungkin pria itu dikirim sebagai penggantinya Aldo. Buktinya pria itu berhasil mengubek-ubek hatinya. Bahkan bukan hati saja, pikirannya juga.
Dewa meraih ponsel ia menelepon seseorang.
"Zol, siapkan pernikahan malam ini!" pinta Dewa.
"A-apa pernikahan? Pernikahan siapa, Pak?" tanya Zol memastikan.
"Pernikahan saya."
"Apa?"
"Kamu atur pernikahannya nanti malam. Yang penting sah saja dulu. Tentang resepsinya akan menyusul nanti!" jelas Dewa. Ia akan menikahi Tami malam ini juga.
"Ba-baik, Pak."
Dewa mengakhiri panggilan dan tersenyum pada Tami yang malah terbengong. Wanita yang berwajah bingung itu makin menggemaskan di matanya.
"Sudah, jangan kebanyakan mikir! Malam ini kita akan menikah. Aku berjanji akan mencintai kamu selamanya. Kita akan bersama selamanya. Kita akan membangun keluarga kecil kita bersama anak-anak kita nantinya." Dewa meraih tangan Tami dan mengecup punggung tangannya.
Tanpa terasa air mata Tami berlinang. Tidak pernah ada pria yang bersikap seperti ini. Tami merasakan Dewa yang benar-benar serius padanya. Dalam ucapan pria itu, ada dirinya. Pria itu membawa-bawa dia dalam cerita masa depannya.
"Kenapa menangis? Kamu pasti terharu akan menikah dengan pria tampan sepertiku, Kan!" ledek Dewa seraya mengusap air mata itu.
"Idih!" Tami mencibir. Pede sekali pria itu berbicara.
"Sebentar ya, aku mau menelepon ponakanku. Biar dia jadi salah satu saksi pernikahan kita juga." jelas Dewa seraya meraih ponsel.
"Halo, Do."
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
bakalan ketemu Aldo Tami dan akan terkejut jg mereka
2024-05-05
0
Elaine73
nah loh
2024-04-19
0
Halim Sya'diyah
makin seruu ayo up lagi thor
2024-02-10
1