Bab 15 - Malam Ini

"Kamu setuju untuk menikah dengan saya." Jawab Dewa. Pria itu mengedipkan sebelah matanya. Lalu menutup pintu mobil dan masuk dari pintu pengemudi.

Tami mendadak eror. Kapan ia bilang setuju menikah dengan pria itu. Mulai mengingat, tapi yang diingat hanya adegan saat mereka berciuman.

'Astaga!' ronta Tami dalam hatinya. Ada apa dengan dirinya ini?

"Pak, saya tidak pernah setuju menikah dengan anda!" tegas Tami begitu mobil perlahan melaju.

"Tadi kamu sudah setuju loh! Menjadi istri saya, kamu tidak akan rugi juga. Sudah tampan, mapan, tampan, mapan." sengaja mengulang-ulang.

Dewa melirik wajah yang menatapnya kesal. Pria itu santai saja dan fokus melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.

"Ke-kenapa ke rumah sakit?" tanya Tami saat memasuki area rumah sakit.

"Untuk memeriksakan lututmu, sayang." jawab Dewa seraya melepas sabuk pengamannya sendiri. Lalu turun dari mobil.

"Ayo, turun!" ucap Dewa membuka pintu mobil tempat Tami duduk.

"Tidak mau! Aku tidak sa- akhh!" teriak Tami. Ia tiba-tiba melayang terbang. Pria itu kini menggendongnya ala karung beras.

"Turunkan aku!" pekik Tami menggeliat. Tapi percuma, pria yang lebih besar darinya itu santai saja menggendongnya seperti itu.

Tami sangat malu dilihati orang-orang. Ia pun menyembunyikan wajahnya.

"Dokter, tolong periksa lutut calon istri saya." ucap Dewa pada Dokter di sana.

'Ca-calon istri?' lagi-lagi perkataan Dewa membuat hatinya menghangat. Dalam sejarah cintanya, tidak pernah ada yang mengklaim dirinya calon istri.

Tapi pria itu, mereka tidak punya sejarah cinta. Kenapa ucapan pria itu begitu meyakinkan sekali?

Dokter pun memeriksa lutut pasiennya itu. "Kenapa bisa memar?"

"Tadi calon istri saya terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi."

Tami dan Dokter melihat Dewa dengan ekspresi aneh. Kenapa seperti lirik lagu ya.

"Hmmm, saat terjatuh calon istri saya meringis dan saya langsung membawanya kemari." Dewa membenarkan penjelasannya. Kedua orang itu kenapa ekspresinya begitu. Apa ada yang salah dengan penjelasannya.

"Tidak ada masalah dengan memarnya. Akan saya berikan salep untuk menghilangkan memar -"

"Lakukan USG, Dok!" pinta Dewa menyela. Tami tadi begitu kesakitan, pasti lututnya sudah bermasalah. Ia sudah membuat wanita itu terjatuh, jadi harus bertanggung jawab.

"USG? Siapa yang hamil?" Tami mendelik melihat pria itu meminta dilakukan USG. Mereka hanya berciuman, apa bisa hamil? Tidak mungkin!

"Siapa yang hamil?" Dewa malah balik tanya. "USG itu untuk melihat tulang lututmu. Apa bergeser, retak atau bagaimana!" jelasnya dengan yakin. Tami begitu saja tidak tahu. Pengetahuan umumnya kurang.

"Itu namanya rontgen!" ucap Tami membenarkan. Ia jadi malu pada Dokter yang senyum melihati mereka. Sejak kapan lutut di USG? Ih, ada-ada sajalah!

"Dok, itu yang nanti gambarnya bisa melihat kerangka manusia. USG kan, Dok?" Dewa akan memastikan langsung dari ahlinya. Tami sok tahu.

"Rontgen kan, Dok?!"

"USG, Dok!"

"Rontgen!"

"USG!"

"Rontgen!

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Ser... ser... ser... Kembali berdesir.

Tami terdiam merasakan perasaannya yang terus berdesir. Kini pria itu sedang mengoleskan lututnya dengan salep yang diberikan dokter.

"Sudah, sebentar lagi kering itu!" ucap Dewa sambil meniup-niupnya.

"Nih, nanti sampai rumah diobati lagi!" Dewa memberikan salep itu dan Tami menerima lalu memasukkan dalam tasnya.

"Pasang sabuk pengamanmu. Kita akan ke rumah bertemu orang tuamu!" pinta Dewa. Pria itu memasang sabuk pengamannya sendiri.

"Pak, aku tidak bisa menikah denganmu!" tolak Tami kembali.

"Kamu sudah setuju. Tidak bisa diganggu gugat!" ucap Dewa tidak menerima bantahan.

"Anda tidak mengenal saya, Pak!"

"Kita akan saling mengenal setelah menikah!"

"Saya bukan wanita baik-baik!" masih memberikan alasan untuk menolak.

"Itu hanya masa lalu kamu. Kedepannya kamu bisa berubah jadi wanita baik-baik. Yang penting ada tekad untuk berubah!" jelas Dewa. Ia tidak peduli masa lalu wanita itu. Hatinya sudah yakin. Ya sudah, tidak ada masalah yang perlu diperbesar.

"Pak!" Tami mendengus. Ada saja jawaban pria itu.

"Cepat pasang sabuk pengamanmu!" Dewa juga mendengus kesal. Tami bawel sekali. Tinggal menurut saja.

"Pak, saya sudah tidak punya orang tua." ucap Tami. Pria itu katanya mau bertemu orang tuanya untuk meminta restu, mau cari di mana mereka?

"Ke mana orang tua kamu? Apa sudah meninggal?" tanya Dewa dengan wajah serius.

Tami mengangguk pelan. Ia memang sudah menganggap orang tuanya meninggal.

Dewa mengelus kepala Tami. Mendadak jadi ikut sedih.

"Jadi kamu tinggal sama siapa?" tanya Dewa. Mungkin Tami tinggal dengan saudaranya.

"Saya tinggal sendirian. Saya tidak punya keluarga." ucap Tami dengan nada bergetar. Setekah keluar dari panti, ia menjalani hidup seorang diri. Tidak punya teman dekat, karena mereka mau dekat saat ada maunya saja.

Tami terpaku saat tiba-tiba pria itu memeluknya. Pelukannya begitu hangat dan menenangkan. Terasa tenang dalam dekapannya.

"Karena kamu hanya sebatang kara. Jadi, malam ini kita akan menikah!" putus Dewa.

"A-apa?" Tami kaget mendengarnya. Ia mendongakkan kepala menatap pria itu. Malam ini akan menikah?

"Malam ini kita akan menikah. Aku tidak mau kamu sendirian lagi, dengan menikah aku bisa menjaga kamu mulai dari sekarang!" jelas Dewa menatap wajah cantik itu.

Dewa tidak bisa membiarkan Tami seorang diri. Jika ada pria hidung belang yang mengganggunya bagaimana. Ia harus melindungi wanitanya.

Dag, dig, dug..

Sar, ser, sar, ser...

'Apa dia jodohku?' batin Tami bertanya.

Mungkin pria itu dikirim sebagai penggantinya Aldo. Buktinya pria itu berhasil mengubek-ubek hatinya. Bahkan bukan hati saja, pikirannya juga.

Dewa meraih ponsel ia menelepon seseorang.

"Zol, siapkan pernikahan malam ini!" pinta Dewa.

"A-apa pernikahan? Pernikahan siapa, Pak?" tanya Zol memastikan.

"Pernikahan saya."

"Apa?"

"Kamu atur pernikahannya nanti malam. Yang penting sah saja dulu. Tentang resepsinya akan menyusul nanti!" jelas Dewa. Ia akan menikahi Tami malam ini juga.

"Ba-baik, Pak."

Dewa mengakhiri panggilan dan tersenyum pada Tami yang malah terbengong. Wanita yang berwajah bingung itu makin menggemaskan di matanya.

"Sudah, jangan kebanyakan mikir! Malam ini kita akan menikah. Aku berjanji akan mencintai kamu selamanya. Kita akan bersama selamanya. Kita akan membangun keluarga kecil kita bersama anak-anak kita nantinya." Dewa meraih tangan Tami dan mengecup punggung tangannya.

Tanpa terasa air mata Tami berlinang. Tidak pernah ada pria yang bersikap seperti ini. Tami merasakan Dewa yang benar-benar serius padanya. Dalam ucapan pria itu, ada dirinya. Pria itu membawa-bawa dia dalam cerita masa depannya.

"Kenapa menangis? Kamu pasti terharu akan menikah dengan pria tampan sepertiku, Kan!" ledek Dewa seraya mengusap air mata itu.

"Idih!" Tami mencibir. Pede sekali pria itu berbicara.

"Sebentar ya, aku mau menelepon ponakanku. Biar dia jadi salah satu saksi pernikahan kita juga." jelas Dewa seraya meraih ponsel.

"Halo, Do."

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

bakalan ketemu Aldo Tami dan akan terkejut jg mereka

2024-05-05

0

Elaine73

Elaine73

nah loh

2024-04-19

0

Halim Sya'diyah

Halim Sya'diyah

makin seruu ayo up lagi thor

2024-02-10

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Harapan
2 Bab 2 - Mimpi
3 Bab 3 - Maafkan Aku
4 Bab 4 - Sakit
5 Bab 5 - Kenangan
6 Bab 6 - Mimpi Lagi
7 Bab 7 - Kecewa
8 Bab 8 - Hari Berlalu
9 Bab 9 - Hari Sial
10 Bab 10 - Gendeng
11 Bab 11 - Deg
12 Bab 12 - Kamu Mau?
13 Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14 Bab 14 - Terus Memaksa
15 Bab 15 - Malam Ini
16 Bab 16 - Istriku
17 Bab 17 - Suami Sendiri
18 Bab 18 - Ini Nyata
19 Bab 19 - Transfer
20 Bab 20 - Suka Kamu
21 Bab 21 - Demi Kamu
22 Bab 22 - Boleh Cium?
23 Bab 23 - Mak Tami
24 Bab 24 - Mas Dewa
25 Bab 25 - 3 Hari
26 Bab 26 - Ikut Aku
27 Bab 27 - Tante
28 Bab 28 -Jangan Memaksa
29 Bab 29 - Menginginkanmu
30 Bab 30 - Penghangat Ranjang
31 Bab 31 - Ke Rumah Rona
32 Bab 32 - Ceraikan Dia
33 Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34 Bab 34 - Pikiran Aldo
35 Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36 Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37 Bab 37 - Kejujuran
38 Bab 38 - Tidak Terima
39 Bab 39 - Penuh Cinta
40 Bab 40 - Php
41 Bab 41 - Tolong
42 Bab 42 - Kerasukan
43 Bab 43 - Hati-hati
44 Bab 44 - Sudah Terukir
45 Bab 45 - Pingit
46 Bab 46 - Hari Bahagia
47 Bab 47 - Berlayar
48 Bab 48 - Bulan Madu
49 Bab 49 - Percaya Kamu
50 Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51 Bab 51 - Penjelasan
52 Bab 52 - Sudah Pergi
53 Bab 53 - Semakin Dekat
54 Bab 54 - Adik Sepupu
55 Bab 55 - Begitu Manis
56 Bab 56 - Apapun Itu
57 Bab 57 - Gelap Mata
58 Bab 58 - Salah Target
59 Bab 59 - Menyesal
60 Bab 60 - Sudah Sadar
61 Bab 61 - Berusaha Tegar
62 Bab 62 - Mulai Stres
63 Bab 63 - Butuh Waktu
64 Bab 64 - Galau Sendiri
65 Bab 65 - Rasa Bersalah
66 Bab 66 - Aku Mencintaimu
67 Bab 67 - Penjelasan Dewa
68 Bab 68 - Aku Mau Pulang
69 Bab 69 - Bertemu
70 Bab 70 - Akhirnya
71 Promo
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 - Harapan
2
Bab 2 - Mimpi
3
Bab 3 - Maafkan Aku
4
Bab 4 - Sakit
5
Bab 5 - Kenangan
6
Bab 6 - Mimpi Lagi
7
Bab 7 - Kecewa
8
Bab 8 - Hari Berlalu
9
Bab 9 - Hari Sial
10
Bab 10 - Gendeng
11
Bab 11 - Deg
12
Bab 12 - Kamu Mau?
13
Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14
Bab 14 - Terus Memaksa
15
Bab 15 - Malam Ini
16
Bab 16 - Istriku
17
Bab 17 - Suami Sendiri
18
Bab 18 - Ini Nyata
19
Bab 19 - Transfer
20
Bab 20 - Suka Kamu
21
Bab 21 - Demi Kamu
22
Bab 22 - Boleh Cium?
23
Bab 23 - Mak Tami
24
Bab 24 - Mas Dewa
25
Bab 25 - 3 Hari
26
Bab 26 - Ikut Aku
27
Bab 27 - Tante
28
Bab 28 -Jangan Memaksa
29
Bab 29 - Menginginkanmu
30
Bab 30 - Penghangat Ranjang
31
Bab 31 - Ke Rumah Rona
32
Bab 32 - Ceraikan Dia
33
Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34
Bab 34 - Pikiran Aldo
35
Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36
Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37
Bab 37 - Kejujuran
38
Bab 38 - Tidak Terima
39
Bab 39 - Penuh Cinta
40
Bab 40 - Php
41
Bab 41 - Tolong
42
Bab 42 - Kerasukan
43
Bab 43 - Hati-hati
44
Bab 44 - Sudah Terukir
45
Bab 45 - Pingit
46
Bab 46 - Hari Bahagia
47
Bab 47 - Berlayar
48
Bab 48 - Bulan Madu
49
Bab 49 - Percaya Kamu
50
Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51
Bab 51 - Penjelasan
52
Bab 52 - Sudah Pergi
53
Bab 53 - Semakin Dekat
54
Bab 54 - Adik Sepupu
55
Bab 55 - Begitu Manis
56
Bab 56 - Apapun Itu
57
Bab 57 - Gelap Mata
58
Bab 58 - Salah Target
59
Bab 59 - Menyesal
60
Bab 60 - Sudah Sadar
61
Bab 61 - Berusaha Tegar
62
Bab 62 - Mulai Stres
63
Bab 63 - Butuh Waktu
64
Bab 64 - Galau Sendiri
65
Bab 65 - Rasa Bersalah
66
Bab 66 - Aku Mencintaimu
67
Bab 67 - Penjelasan Dewa
68
Bab 68 - Aku Mau Pulang
69
Bab 69 - Bertemu
70
Bab 70 - Akhirnya
71
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!