Tami mengusap air mata yang terus berlinang. Ia mengingat ucapan menyakitkan Aldo padanya.
'Jahat kamu, Mas!'
Mencoba kembali menelepon Aldo, tapi nomornya memang sudah diblokir pria itu. Hubungan mereka memang benar-benar berakhir.
Tami tidak pernah membayangkan, Aldo akan mengakhiri hubungan mereka seperti ini. Hubungan 5 tahun mereka seolah tiada berarti. Selama 5 tahun ini, Aldo hanya berbohong mengatakan mencintainya.
Malah makin menyakitkan ketika Aldo mengatakan bahwa minggu depan akan menikah. Pria itu memang benar-benar mempermainkannya. Mempermainkan perasaannya.
Perasaannya pada Aldo begitu tulus dan nyata, tapi pria itu malah tega memperlakukannya dengan kejam.
Tami makin terisak, ia menutup mulutnya agar suara tangisan tidak terdengar keluar. Hari sudah malam bisa menganggu anak kost lainnya.
Tami terus menangis hingga tertidur. Sesekali ia juga terisak dalam pejamnya.
Suara deringan ponsel membuat Tami tersentak. Ia membuka mata dan melihat dirinya berada di lantai dan bukanlah ranjang. Matanya mencari ponsel di sekitarnya.
"Halo," jawab Tami begitu ponselnya ketemu.
"Kamu di mana, Tami? Ini sudah jam berapa?"
Tami melihat jam dinding yang sudah menunjukkan angka 10. Ia terdiam mencoba mencerna keadaan.
"Tami!" panggilnya kembali.
"Hah, iya. Maaf, Bu. Saya tidak enak badan. Uhuk, uhuk." ucap Tami sambil terbatuk-batuk.
"Sa-saya izin tidak masuk hari ini, Bu." ucap Tami dengan nada lemah.
"Ya, sudah. Kamu berobat lah!"
"Baik, Bu. Terima kasih." panggilan pun berakhir.
Tami perlahan bangkit. Tubuhnya terasa begitu lemah dan dingin. Mungkin karena semalam tidur di lantai tanpa alas.
"Mas Aldo." Tami duduk di ranjangnya, sambil kembali menghubungi Aldo.
'Aldo, kamu jahat! Kamu sangat jahat!' ronta Tami dalam hatinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seorang pria yang sedang berbaring mengedarkan pandangan melihat sekitarnya. Kamarnya sunyi dan tenang. Ia akan tidur dan apa akan bertemu wanita cantik itu lagi.
Dewa mendengus kesal, wanita dalam mimpinya itu hanya tersenyum saja. Bukannya menjawab pertanyaannya. Jadi ia bisa tahu siapa namanya. Lalu bisa bertanya dari mana dan kenapa masuk dalam mimpinya.
"Kalau mimpi lagi, aku akan memaksanya bicara!" ucap Dewa. Ia berharap mimpikan wanita itu lagi.
"Baiklah, mari kita tidur dan bertemu dengannya." Dewa pun memejamkan matanya.
Dewa berjalan di sebuah taman. Suasana sore di taman itu sangat menyejukkan. Angin sore berhembus sedang.
"Hu... Hu... Hu..."
Dewa mendengar suara tangisan, suara tangisan seorang wanita. Ia pun melihat sekitarnya, memastikan siapa yang sedang menangis itu.
'Apa itu hantu?' batinnya mulai merasakan bulu kuduknya merinding. Tak ada yang menangis, bahkan tidak ada orang di taman ini.
"Hu... Hu... Hu..."
Suara tangisan itu makin kencang, seolah menangis tepat di sebelahnya.
Dewa pun melangkahkan kaki, ia akan keluar dari taman itu. Langkah kakinya terhenti saat melihat seorang wanita meringkuk di bangku taman yang berada tidak jauh darinya.
Suara tangisan itu, suara wanita yang meringkuk. Tangisannya terdengar sangat pilu dan menyedihkan sekali.
Dewa akan tidak peduli saja, kembali melangkahkan kaki. Tapi suara tangisan itu membuat hatinya ikut merasa sedih.
Perlahan Dewa pun berjalan ke arahnya, duduk di samping wanita itu. Ia akan bertanya kenapa menangis?
"Ka-kamu kenapa?" tanya Dewa sambil menepuk pelan pundak wanita itu. Wanita itu menoleh ke arahnya.
Deg,
"Ka-kamu." ucap Dewa kaget. Ternyata wanita itu. Ia bertemu lagi. Bermimpi wanita itu.
"Ke-kenapa kamu menangis?" tanya Dewa. Wajah cantik itu sudah bersimbah air mata. Sangat menyedihkan.
Semalam dalam mimpinya, wanita itu tersenyum manis. Kenapa sekarang malah menangis?
Bukannya menjawab, air mata wanita itu malah makin berjatuhan.
"Hei, jangan menangis lagi!" ucap Dewa. Tangannya tanpa sadar mengusap air mata itu. Mengusapnya dengan lembut.
"Siapa namamu?" tanya Dewa kembali. Masih penasaran sekali.
Tak ada jawaban. Hanya diam yang ditunjukkan wanita itu. Dewa jadi berpikiran sepertinya wanita itu tidak bisa bicara.
"Berikan ponselmu!" Dewa mengadahkan tangannya. Akan bertukar nomor ponsel saja. Jadi dapat menghubunginya.
Wanita itu menggelengkan kepala pelan.
"Kamu tidak punya ponsel?" tanya Dewa kembali. Wanita itu mulai merespon pertanyaannya.
Kini wanita itu malah menatapnya saja. Menatap dengan mata sembab, hidung merah dan wajah yang mewek minta dikasihani.
"Ka-kamu mau ke mana?" tanya Dewa. Tiba-tiba wanita itu bangkit dan berlari pergi.
"Hei, tunggu dulu! Tunggu aku, Cantik!" Dewa akan mengejarnya, tapi percuma saja wanita itu larinya kencang sekali. Sudah hilang saja dari pandangan.
Dewa tersentak bangun dan melihat sekitarnya. Ia kini berada di tempat tidur kamarnya.
Diam sejenak mencerna dan mengumpulkan jiwa raganya seraya mengingat mimpinya tadi malam.
2 malam ini, ia bermimpi bertemu wanita yang sama. Apa artinya? Apa hanya bunga tidur saja?
Dewa melihat jam dinding, sudah pukul 7 pagi, ia harus berangkat ke kantor. Tapi berpikir sesaat,
"Taman? Ya, taman!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bu, saya tidak apa loh." ucap Tami yang merasa segan dan tidak enak. Ia kini berada di puskesmas. Ibu kost membawanya ke sana.
Tadi ibu kost datang akan menagih biaya sewa dan melihat dirinya yang pucat dan lemah serta tubuh yang panas, padahal ia merasa tubuhnya menggigil.
Makanya ibu kost membawanya untuk segera berobat. Padahal sudah menolak dan akan minum obat warung saja. Malah ibu kost berkata,
"Saya tidak mau ada anak kost yang meninggal di kost-an saya!"
Ucapannya kejam sekali. Tapi walau kejam, ibu kost itu sendiri yang turun tangan membawanya ke puskesmas.
"Saya akan memberikan obat pereda panas dan juga vitamin..." Dokter bicara panjang lebar dan Tami hanya mengangguk lemah sekali.
"Dok, berikan saya juga obat untuk mengobati hati." ucap Tami dengan wajah mulai mewek. Hatinya masih merasa sakit. Nyut-nyutan.
Dokter dan ibu kost melihat ke arah Tami. Apa Tami memiliki riwayat penyakit serius?
"Kenapa dengan hati kamu?" tanya Dokter memasang wajah serius.
Tami menepuk dadanya. "Sakit, Dok. Hati saya sakit sekali, nyut-nyutan dan begitu terasa perih!" ucapnya lirih.
"Apa terasa panas atau mual?" tanya Dokter memastikan.
Tami menggelengkan kepala. "Sa-saya merasa hati ini sangat sakit tapi tidak berdarah, Dok!"
Dokter mulai merasa aneh dengan jawaban pasiennya.
"Ha-hati saya sangat sakit, Dok. Kekasih saya semalam mengakhiri hubungan kami. Katanya selama ini dia tidak pernah mencintai saya. Itu membuat hati saya sangat sakit, Dok. Saya minta obat untuk menyembuhkan luka hati saya. Obat yang dengan cepat mengeringkan luka hati. Agar saya tidak merasakan sakit lagi. Sakit ini sungguh sangat menyiksa saya, Dokter!" Ungkap Tami dengan air mata yang berlinang. Memberitahu tentang keluh kesahnya.
"Astaga!"
Dokter dan ibu kost menepuk jidat.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
salah tempat km Tami untuk curhat br ngeh ya🤦♀️🤦 Dok dan Bu kost🤣🤣🤣🤣😭😭😭😭😭
2024-05-05
1
Elaine73
malah curhat dia/Smile/
2024-04-19
0
Elaine73
emang bisa gitu/Smile/
2024-04-19
0