Bab 4 - Sakit

Tami mengusap air mata yang terus berlinang. Ia mengingat ucapan menyakitkan Aldo padanya.

'Jahat kamu, Mas!'

Mencoba kembali menelepon Aldo, tapi nomornya memang sudah diblokir pria itu. Hubungan mereka memang benar-benar berakhir.

Tami tidak pernah membayangkan, Aldo akan mengakhiri hubungan mereka seperti ini. Hubungan 5 tahun mereka seolah tiada berarti. Selama 5 tahun ini, Aldo hanya berbohong mengatakan mencintainya.

Malah makin menyakitkan ketika Aldo mengatakan bahwa minggu depan akan menikah. Pria itu memang benar-benar mempermainkannya. Mempermainkan perasaannya.

Perasaannya pada Aldo begitu tulus dan nyata, tapi pria itu malah tega memperlakukannya dengan kejam.

Tami makin terisak, ia menutup mulutnya agar suara tangisan tidak terdengar keluar. Hari sudah malam bisa menganggu anak kost lainnya.

Tami terus menangis hingga tertidur. Sesekali ia juga terisak dalam pejamnya.

Suara deringan ponsel membuat Tami tersentak. Ia membuka mata dan melihat dirinya berada di lantai dan bukanlah ranjang. Matanya mencari ponsel di sekitarnya.

"Halo," jawab Tami begitu ponselnya ketemu.

"Kamu di mana, Tami? Ini sudah jam berapa?"

Tami melihat jam dinding yang sudah menunjukkan angka 10. Ia terdiam mencoba mencerna keadaan.

"Tami!" panggilnya kembali.

"Hah, iya. Maaf, Bu. Saya tidak enak badan. Uhuk, uhuk." ucap Tami sambil terbatuk-batuk.

"Sa-saya izin tidak masuk hari ini, Bu." ucap Tami dengan nada lemah.

"Ya, sudah. Kamu berobat lah!"

"Baik, Bu. Terima kasih." panggilan pun berakhir.

Tami perlahan bangkit. Tubuhnya terasa begitu lemah dan dingin. Mungkin karena semalam tidur di lantai tanpa alas.

"Mas Aldo." Tami duduk di ranjangnya, sambil kembali menghubungi Aldo.

'Aldo, kamu jahat! Kamu sangat jahat!' ronta Tami dalam hatinya.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Seorang pria yang sedang berbaring mengedarkan pandangan melihat sekitarnya. Kamarnya sunyi dan tenang. Ia akan tidur dan apa akan bertemu wanita cantik itu lagi.

Dewa mendengus kesal, wanita dalam mimpinya itu hanya tersenyum saja. Bukannya menjawab pertanyaannya. Jadi ia bisa tahu siapa namanya. Lalu bisa bertanya dari mana dan kenapa masuk dalam mimpinya.

"Kalau mimpi lagi, aku akan memaksanya bicara!" ucap Dewa. Ia berharap mimpikan wanita itu lagi.

"Baiklah, mari kita tidur dan bertemu dengannya." Dewa pun memejamkan matanya.

Dewa berjalan di sebuah taman. Suasana sore di taman itu sangat menyejukkan. Angin sore berhembus sedang.

"Hu... Hu... Hu..."

Dewa mendengar suara tangisan, suara tangisan seorang wanita. Ia pun melihat sekitarnya, memastikan siapa yang sedang menangis itu.

'Apa itu hantu?' batinnya mulai merasakan bulu kuduknya merinding. Tak ada yang menangis, bahkan tidak ada orang di taman ini.

"Hu... Hu... Hu..."

Suara tangisan itu makin kencang, seolah menangis tepat di sebelahnya.

Dewa pun melangkahkan kaki, ia akan keluar dari taman itu. Langkah kakinya terhenti saat melihat seorang wanita meringkuk di bangku taman yang berada tidak jauh darinya.

Suara tangisan itu, suara wanita yang meringkuk. Tangisannya terdengar sangat pilu dan menyedihkan sekali.

Dewa akan tidak peduli saja, kembali melangkahkan kaki. Tapi suara tangisan itu membuat hatinya ikut merasa sedih.

Perlahan Dewa pun berjalan ke arahnya, duduk di samping wanita itu. Ia akan bertanya kenapa menangis?

"Ka-kamu kenapa?" tanya Dewa sambil menepuk pelan pundak wanita itu. Wanita itu menoleh ke arahnya.

Deg,

"Ka-kamu." ucap Dewa kaget. Ternyata wanita itu. Ia bertemu lagi. Bermimpi wanita itu.

"Ke-kenapa kamu menangis?" tanya Dewa. Wajah cantik itu sudah bersimbah air mata. Sangat menyedihkan.

Semalam dalam mimpinya, wanita itu tersenyum manis. Kenapa sekarang malah menangis?

Bukannya menjawab, air mata wanita itu malah makin berjatuhan.

"Hei, jangan menangis lagi!" ucap Dewa. Tangannya tanpa sadar mengusap air mata itu. Mengusapnya dengan lembut.

"Siapa namamu?" tanya Dewa kembali. Masih penasaran sekali.

Tak ada jawaban. Hanya diam yang ditunjukkan wanita itu. Dewa jadi berpikiran sepertinya wanita itu tidak bisa bicara.

"Berikan ponselmu!" Dewa mengadahkan tangannya. Akan bertukar nomor ponsel saja. Jadi dapat menghubunginya.

Wanita itu menggelengkan kepala pelan.

"Kamu tidak punya ponsel?" tanya Dewa kembali. Wanita itu mulai merespon pertanyaannya.

Kini wanita itu malah menatapnya saja. Menatap dengan mata sembab, hidung merah dan wajah yang mewek minta dikasihani.

"Ka-kamu mau ke mana?" tanya Dewa. Tiba-tiba wanita itu bangkit dan berlari pergi.

"Hei, tunggu dulu! Tunggu aku, Cantik!" Dewa akan mengejarnya, tapi percuma saja wanita itu larinya kencang sekali. Sudah hilang saja dari pandangan.

Dewa tersentak bangun dan melihat sekitarnya. Ia kini berada di tempat tidur kamarnya.

Diam sejenak mencerna dan mengumpulkan jiwa raganya seraya mengingat mimpinya tadi malam.

2 malam ini, ia bermimpi bertemu wanita yang sama. Apa artinya? Apa hanya bunga tidur saja?

Dewa melihat jam dinding, sudah pukul 7 pagi, ia harus berangkat ke kantor. Tapi berpikir sesaat,

"Taman? Ya, taman!"

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

"Bu, saya tidak apa loh." ucap Tami yang merasa segan dan tidak enak. Ia kini berada di puskesmas. Ibu kost membawanya ke sana.

Tadi ibu kost datang akan menagih biaya sewa dan melihat dirinya yang pucat dan lemah serta tubuh yang panas, padahal ia merasa tubuhnya menggigil.

Makanya ibu kost membawanya untuk segera berobat. Padahal sudah menolak dan akan minum obat warung saja. Malah ibu kost berkata,

"Saya tidak mau ada anak kost yang meninggal di kost-an saya!"

Ucapannya kejam sekali. Tapi walau kejam, ibu kost itu sendiri yang turun tangan membawanya ke puskesmas.

"Saya akan memberikan obat pereda panas dan juga vitamin..." Dokter bicara panjang lebar dan Tami hanya mengangguk lemah sekali.

"Dok, berikan saya juga obat untuk mengobati hati." ucap Tami dengan wajah mulai mewek. Hatinya masih merasa sakit. Nyut-nyutan.

Dokter dan ibu kost melihat ke arah Tami. Apa Tami memiliki riwayat penyakit serius?

"Kenapa dengan hati kamu?" tanya Dokter memasang wajah serius.

Tami menepuk dadanya. "Sakit, Dok. Hati saya sakit sekali, nyut-nyutan dan begitu terasa perih!" ucapnya lirih.

"Apa terasa panas atau mual?" tanya Dokter memastikan.

Tami menggelengkan kepala. "Sa-saya merasa hati ini sangat sakit tapi tidak berdarah, Dok!"

Dokter mulai merasa aneh dengan jawaban pasiennya.

"Ha-hati saya sangat sakit, Dok. Kekasih saya semalam mengakhiri hubungan kami. Katanya selama ini dia tidak pernah mencintai saya. Itu membuat hati saya sangat sakit, Dok. Saya minta obat untuk menyembuhkan luka hati saya. Obat yang dengan cepat mengeringkan luka hati. Agar saya tidak merasakan sakit lagi. Sakit ini sungguh sangat menyiksa saya, Dokter!" Ungkap Tami dengan air mata yang berlinang. Memberitahu tentang keluh kesahnya.

"Astaga!"

Dokter dan ibu kost menepuk jidat.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

salah tempat km Tami untuk curhat br ngeh ya🤦‍♀️🤦 Dok dan Bu kost🤣🤣🤣🤣😭😭😭😭😭

2024-05-05

1

Elaine73

Elaine73

malah curhat dia/Smile/

2024-04-19

0

Elaine73

Elaine73

emang bisa gitu/Smile/

2024-04-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Harapan
2 Bab 2 - Mimpi
3 Bab 3 - Maafkan Aku
4 Bab 4 - Sakit
5 Bab 5 - Kenangan
6 Bab 6 - Mimpi Lagi
7 Bab 7 - Kecewa
8 Bab 8 - Hari Berlalu
9 Bab 9 - Hari Sial
10 Bab 10 - Gendeng
11 Bab 11 - Deg
12 Bab 12 - Kamu Mau?
13 Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14 Bab 14 - Terus Memaksa
15 Bab 15 - Malam Ini
16 Bab 16 - Istriku
17 Bab 17 - Suami Sendiri
18 Bab 18 - Ini Nyata
19 Bab 19 - Transfer
20 Bab 20 - Suka Kamu
21 Bab 21 - Demi Kamu
22 Bab 22 - Boleh Cium?
23 Bab 23 - Mak Tami
24 Bab 24 - Mas Dewa
25 Bab 25 - 3 Hari
26 Bab 26 - Ikut Aku
27 Bab 27 - Tante
28 Bab 28 -Jangan Memaksa
29 Bab 29 - Menginginkanmu
30 Bab 30 - Penghangat Ranjang
31 Bab 31 - Ke Rumah Rona
32 Bab 32 - Ceraikan Dia
33 Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34 Bab 34 - Pikiran Aldo
35 Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36 Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37 Bab 37 - Kejujuran
38 Bab 38 - Tidak Terima
39 Bab 39 - Penuh Cinta
40 Bab 40 - Php
41 Bab 41 - Tolong
42 Bab 42 - Kerasukan
43 Bab 43 - Hati-hati
44 Bab 44 - Sudah Terukir
45 Bab 45 - Pingit
46 Bab 46 - Hari Bahagia
47 Bab 47 - Berlayar
48 Bab 48 - Bulan Madu
49 Bab 49 - Percaya Kamu
50 Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51 Bab 51 - Penjelasan
52 Bab 52 - Sudah Pergi
53 Bab 53 - Semakin Dekat
54 Bab 54 - Adik Sepupu
55 Bab 55 - Begitu Manis
56 Bab 56 - Apapun Itu
57 Bab 57 - Gelap Mata
58 Bab 58 - Salah Target
59 Bab 59 - Menyesal
60 Bab 60 - Sudah Sadar
61 Bab 61 - Berusaha Tegar
62 Bab 62 - Mulai Stres
63 Bab 63 - Butuh Waktu
64 Bab 64 - Galau Sendiri
65 Bab 65 - Rasa Bersalah
66 Bab 66 - Aku Mencintaimu
67 Bab 67 - Penjelasan Dewa
68 Bab 68 - Aku Mau Pulang
69 Bab 69 - Bertemu
70 Bab 70 - Akhirnya
71 Promo
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 - Harapan
2
Bab 2 - Mimpi
3
Bab 3 - Maafkan Aku
4
Bab 4 - Sakit
5
Bab 5 - Kenangan
6
Bab 6 - Mimpi Lagi
7
Bab 7 - Kecewa
8
Bab 8 - Hari Berlalu
9
Bab 9 - Hari Sial
10
Bab 10 - Gendeng
11
Bab 11 - Deg
12
Bab 12 - Kamu Mau?
13
Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14
Bab 14 - Terus Memaksa
15
Bab 15 - Malam Ini
16
Bab 16 - Istriku
17
Bab 17 - Suami Sendiri
18
Bab 18 - Ini Nyata
19
Bab 19 - Transfer
20
Bab 20 - Suka Kamu
21
Bab 21 - Demi Kamu
22
Bab 22 - Boleh Cium?
23
Bab 23 - Mak Tami
24
Bab 24 - Mas Dewa
25
Bab 25 - 3 Hari
26
Bab 26 - Ikut Aku
27
Bab 27 - Tante
28
Bab 28 -Jangan Memaksa
29
Bab 29 - Menginginkanmu
30
Bab 30 - Penghangat Ranjang
31
Bab 31 - Ke Rumah Rona
32
Bab 32 - Ceraikan Dia
33
Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34
Bab 34 - Pikiran Aldo
35
Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36
Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37
Bab 37 - Kejujuran
38
Bab 38 - Tidak Terima
39
Bab 39 - Penuh Cinta
40
Bab 40 - Php
41
Bab 41 - Tolong
42
Bab 42 - Kerasukan
43
Bab 43 - Hati-hati
44
Bab 44 - Sudah Terukir
45
Bab 45 - Pingit
46
Bab 46 - Hari Bahagia
47
Bab 47 - Berlayar
48
Bab 48 - Bulan Madu
49
Bab 49 - Percaya Kamu
50
Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51
Bab 51 - Penjelasan
52
Bab 52 - Sudah Pergi
53
Bab 53 - Semakin Dekat
54
Bab 54 - Adik Sepupu
55
Bab 55 - Begitu Manis
56
Bab 56 - Apapun Itu
57
Bab 57 - Gelap Mata
58
Bab 58 - Salah Target
59
Bab 59 - Menyesal
60
Bab 60 - Sudah Sadar
61
Bab 61 - Berusaha Tegar
62
Bab 62 - Mulai Stres
63
Bab 63 - Butuh Waktu
64
Bab 64 - Galau Sendiri
65
Bab 65 - Rasa Bersalah
66
Bab 66 - Aku Mencintaimu
67
Bab 67 - Penjelasan Dewa
68
Bab 68 - Aku Mau Pulang
69
Bab 69 - Bertemu
70
Bab 70 - Akhirnya
71
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!