Zol mendumel melihat Dewa yang sudah berlalu pergi meninggalkannya. Atasannya itu mengundur rapat untuk menginterview wanita pelamar itu.
Zol pun segera berjalan cepat menuju ruangan interview. Kedatangannya menimbulkan tanda tanya para staff yang akan menginterview pelamar.
"Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya salah seorang staff.
"Saya mencari seseorang." ucap Zol melihat banyaknya pelamar yang berkumpul.
"Siapa namanya, Pak?" tanya staff itu kembali. Lebih mudah mencari orang dengan nama.
Zol terdiam sesaat. Ia tidak tahu nama pelamar itu. Hanya melihat wajahnya sekilas.
Mata Zol masih memperhatikan para pelamar yang berkumpul dan matanya fokus melihat ke satu arah. Dan pria itu tersenyum, ia akan segera membawa pelamar itu ke hadapan atasannya.
'Pasti Pak Dewa mau merekrut wanita itu menjadi sekretarisnya, biar lebih mudah pdktnya!' tebak Zol saat berjalan menuju ke ruangan Dewa. Wanita pelamar itu mengikuti dari belakang.
'Kenapa aku interviewnya terpisah ya?' batin Tami merasa takut.
Tadi staff HRD memintanya mengikuti pria di depannya itu. Ia akan langsung diinterview oleh atasan mereka.
'Mungkin aku mau ditawari jadi sekretaris?' batin Tami. Jika begitu ini kesempatannya, ia harus meyakinkan saat interview.
'Atau? atau?' mulai memikirkan yang tidak-tidak.
Tami melirik kedua kuku tangannya. Ia belum memotongnya. Jika dia nanti diperlakukan macam-macam, akan ia cakar wajahnya. Tidak lupa juga akan menggigitnya, lalu berteriak. Begitulah yang dipikirkannya untuk mejaga dirinya sendiri.
Jantung Tami berdegup kencang saat memasuki sebuah ruangan. Antara takut tah gugup jadi satu. Matanya tertuju pada seorang pria yang duduk di kursi kebesarannya.
"Kamu silahkan duduk!" ucap Dewa mempersilahkan sambil masih mengamati wanita itu.
"Saya permisi, Pak." Zol akan undur diri. Mungkin atasannya akan menginterview sendiri saja. Bicara 4 mata.
"Kamu di sini saja!" Dewa meminta Zol untuk tetap berada di ruangan itu. Terlihat wajah wanita itu takut, pasti tidak nyaman kalau hanya ditinggal berdua dengannya.
Zol mengangguk patuh.
"Bisa kamu lepas ikat rambutmu?" ucap Dewa. Wanita dalam mimpinya itu muncul dengan rambut tergerai. Jadi ingin melihatnya kembali.
"Apa?" tanya Tami merasa aneh. Kenapa menyuruh lepas ikat rambut? mau apa ini?
Zol juga melihat Dewa dengan tatapan aneh dan bingung. Mau apa pria itu?
Dewa baru menyadari ucapannya yang menimbulkan tanda tanya besar. "Itu-, itu ikat rambut kamu unik. Saya ingin melihatnya!"
Terpaksa Dewa membuat alasan. Tidak mungkin mengatakan sebenarnya.
Tami tampak ragu untuk menunjukkan ikat rambutnya. Masalahnya ikat rambutnya itu sesuatu yang, yang aduh lah.
Deg... Deg... Deg...
Dewa berdebar saat tangan wanita pelamar itu memegang rambutnya lalu melepaskan ikat rambut hingga rambutnya tergerai.
'Cantikku.' batin Dewa. Kini penampilan wanita itu seperti dalam mimpinya.
"I-ini, Pak." Tami menunduk malu meletakkan ikat rambutnya di atas meja. Unik dari mana.
Sadar dengan ucapan wanita itu, sorot mata Dewa melihat ke arah meja. Berusaha mengulum senyum, itu bukan ikat rambut. Itu karet.
"Di mana kamu beli karet ini?" tanya Dewa meraih karet berwarna merah itu.
"Waktu beli nasi bungkus diikat pakai itu. Ikat rambut saya putus jadi pakai itu sementara, Pak." Jawab Tami jujur, tapi dia sungguh malu juga mengatakan kejujuran yang seperti itu.
Dewa mengangguk dan Zol masih melihati sesi interview itu.
"Ya, sudah. Nanti saya berikan kamu pabrik ikat rambut." Ucap Dewa berencana akan menghadiahkan wanita itu.
Mata Zol terbelalak. Dewa bukan mau membelikan wanita itu ikat rambut, tapi langsung pabriknya. Tampak sekali atasannya itu sedang tebar pesona.
"A-apa, Pak?" tanya Tami bingung. Kenapa pria itu mau memberikannya pabrik ikat rambut pula.
Hmmm... Dewa sengaja berdehem. Ia akan memulai sesi interview ini. Penasaran dengan wanita itu.
"Mana berkas kamu!" ucap Dewa dan Tami segera meletakkan di meja.
Dewa kini tampak fokus pada berkas. Menatap foto wanita itu.
'Cantik.' puji Dewa. Di foto saja cantik dan di depannya ini sangat cantik bahkan seakan bersinar.
Dewa sempat melirik sekilas, wajah wanita itu tampak tegang. Tapi meski tegang tidak menutupi kecantikannya.
"Perkenalkan diri kamu." Ucap Dewa yang kini tatapannya melihat wanita cantik itu.
Tampak Tami membuang nafasnya pelan. Ia menetralkan kegugupannya. Ini kesempatannya untuk dapat bekerja.
"Nama saya Tami Alisa, usia 30 tahun-"
"30?" tanya Dewa menyela. Ia mengira wanita itu berusia 25-an, jika 30 apa sudah menikah atau seorang janda?
"I-iya, Pak. Usia saya 30 tahun." Jawab Tami sambil melihat pria itu yang kembali melihat berkasnya.
"Kamu sudah menikah?" tanya Dewa langsung. Usia wanita itu memang sudah 30 tahun.
"Be-belum, Pak." Jawab Tami kembali gugup. Jadi mengingat kisah cintanya yang kandas di tengah jalan.
Dewa mengangguk. Wanita itu belum menikah ternyata. "Kamu tahu apa saja syarat pelamar?"
Usia Tami tidak sesuai dengan syarat pelamar, tapi kenapa wanita itu tetap mencoba melamar? Dewa ingin tahu alasannya.
"Saya tahu, Pak. Syaratnya wanita, berpenampilan menarik."
"Benar, berpenampilan menarik. Dan kamu menarik," ucap Dewa tersenyum tipis.
'Menarik perhatianku.' sambung Dewa dalam hati.
'Dia tersenyum!!!' Zol merasa horor saat melihat senyuman tipis Dewa. Pria pemarah itu bisa tersenyum. Petanda apa ini?
"Tapi, usia kamu melebihi batas." ucap Dewa kemudian.
"Tapi, Pak. Di syarat selanjutnya, pengalaman minimal 2 tahun sebagai admin. Pengalaman saya 5 tahun di admin, Pak. Terus pengalaman kerja saya juga banyak." jelas Tami dengan antusias. Ia lebih berpengalaman dari pada pelamar yang lebih muda darinya.
"Tapi tetap saja. Usia kamu-"
"Memangnya kalau sudah berusia 30 tahun, apa sudah tidak bisa bekerja lagi ya, Pak? Apa di usia itu sudah tua atau sudah pikun?" Tami jadi sedikit kesal. Selalu ia kalah karena faktor usia. Padahal syarat pelamar harus ada pengalaman, ia juga ada. Bahkan lebih berpengalaman, tetap saja ditolak. Tah apa maunya perusahaan ini.
Zol mendelik, wanita itu berani bicara seperti itu. Cari penyakit saja.
'Apa dia kesambet?' tebak Zol. Atasannya itu tidak marah atau memberi tatapan tajam seperti yang selalu didapatkannya, ini malah tersenyum.
Ya, Dewa tersenyum. Karena di matanya wanita yang tampak kesal itu begitu imut. Jadi ingin memasukkan dalam goni dan membawanya pulang.
"Kami tidak bisa menerima kamu di perusahaan-"
"Pak, tolong berikan saya pekerjaan. Pekerjaan apapun itu akan saya lakukan!" mohon Tami. Ia tahu pria itu pasti eksekutif di perusahaan ini. Walaupun ia tidak memenuhi syarat, tapi jika pria itu mengatakan iya. Pasti seluruh jajarannya menurut. Harus memanfaatkan kesempatan ini.
"Apapun?" ulang Dewa menatap wajah berharap itu.
Tami mengangguk. "Benar, Pak. Anda bisa lihat pengalaman kerja saya. Saya bekerja di berbagai tempat dan bidang!" pengalamannya tidak perlu diragukan lagi.
Dewa mengangguk dan kembali melihat berkas itu. Benar semua dikerjakan wanita itu. Sepertinya wanita pekerja keras.
"Jadi cleaning service di sini juga tidak apa, Pak." Melas Tami kembali. Jika ia tidak bekerja bagaimana meneruskan hidupnya lagi.
"Bagaimana kalau-" ucap Dewa sambil menatap wanita itu.
"Kalau apa, Pak?" Tanya Tami penasaran. Sepertinya pria itu akan memberinya pekerjaan.
"Kalau jadi istri saya, kamu mau?"
"A-Apa?"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
🤣🤣🤣🤣to the point Dewa sdh g tahan wkwkwk terima aja Tami biar bisa lupain Aldo biar menyesal sdh dpt berlian mlh di buang gara2 mama nya g setuju malah jodohin dg wanita lain,ternyata ada Kitty selain Dewa di sinil
2024-05-05
1
Elaine73
ditrmbak langsung/Grin/
2024-04-19
0
Elaine73
wkwkwk,ada2 aj ide author ni,bikin ngakak/Facepalm//Facepalm/
2024-04-19
1