Bab 8 - Hari Berlalu

"Tam, apa sudah tanda tangan perpanjangan kontrak?" tanya rekan kerja Tami saat mereka makan siang di kantin kantor.

Tami sudah mulai masuk kerja. Ia juga sehat dan mulai melupakan Aldo. Pelan-pelan.

"Belum." jawab Tami sambil menggeleng.

"Padahal 2 minggu lagi, kontrak kita habis. Mudah-mudahan kontrak kita diperpanjang ya."

Kepala Tami mengangguk setuju. Ia juga berharap kontraknya diperpanjang. Jika tidak, maka harus cari kerjaan baru. Dan itu cukup sulit mengingat usianya sekarang sudah kepala 3.

Sore menjelang, Tami keluar dari kantor. Ia pun berniat pergi ke Mall. Jalan-jalan sekalian cuci mata di sana. Ia pergi sendiri naik ojek.

Sampai Mall, Tami berjalan sambil menyusuri pertokoan. Melihat-lihat berbagai macam barang yang terpajang di sana.

'Aku beli sepatu kerja saja lah.' batinnya.

Sepatu kerja Tami sudah mulai mangap. Sudah cukup lama memakai sepatu itu. Ia pun masuk ke toko sepatu dan memilih sepatu mirip dengan punyanya yang lama. Hak yang kokoh dan tidak terlalu tinggi. Dan pasti harganya diskonan.

Keluar dari toko, Tami sudah membawa paper bag berisi sepatu.

"Tami." ucap seseorang menepuk bahunya.

Tami menoleh ke arah suara. "Indah." Ia tersenyum tipis melihat seorang wanita yang menggandeng seorang bocah laki-laki.

"Apa kabarmu, Tam? Sudah lama kita tidak bertemu." ucap Indah. Ia melihat penampilan Tami dari atas hingga atas lagi.

Tami terlihat berbeda dan sepertinya sekarang bekerja di kantoran. Mereka dulu rekan kerja saat masih menjadi petugas kebersihan.

"Aku baik. Kau apa kabar, Dah?" tanya Tami basa basi.

"Aku baik."

"Anakmu?" tanya Tami melihat bocah laki-laki.

"Iya, Tam. Nizam, salam tantenya dulu. Ini teman Mama." pintanya pada sang putra.

Bocah kecil itu menurut dan menyalami Tami. Membuat Tami jadi tersenyum gemas. Jika ia sudah menikah, ia pasti akan memiliki anak.

"Kau sudah menikah, Tam?" tanya Indah.

"Belum."

"Mau ku kenalkan pada temanku? Orangnya baik dan pekerjaannya manager loh." tawar Indah pada Tami.

"Tidak usah. Aku sudah punya pacar dan kami akan menikah." ucap Tami berbohong. Ia saja baru patah hati.

"Kapan kalian menikah?" Indah masih ingin tahu.

"Secepatnya." jawab Tami mencari aman.

"Sayang sekali kalau kau sudah punya pacar. Temanku itu serius sekali ingin mencari istri. Kalau pacarmu tidak ada kejelasan untuk menikah, kau sama dia saja!" saran Indah.

Tami menggeleng. Untuk sementara ia tidak mau berhubungan dengan pria dulu. Hatinya masih terluka.

"Dalam tahun ini kami akan menikah." timpal Tami meyakinkan.

"Temanku itu baik banget, penyayang loh. Terus juga warisannya banyak," cerita Indah sambil terkekeh.

"Hidupmu pasti akan terjamin lah sama dia. Yang penting kau harus sayang sama anaknya. Dia duda anak 4, Tam. Umurnya 50 tahun. Tidak apa duda yang penting kaya!" jelas Indah kembali.

Wajah Tami menatap tidak suka atas perkataan Indah. Temannya itu mau mengenalkannya pada pria berumur 50 tahun dan punya anak 4. Yang benar saja.

Indah menyadari tatapan Tami. "Tapi, Tam. Di usia kita sekarang, sulit mencari pria lajang. Tak apalah duda yang penting baik."

"Aku sudah punya pacar, Dah!" tegas Tami. Ucapan Indah buat emosi saja.

"Kau beli apa?" tanya Indah melirik paper bag itu. Ia mengalihkan topik. Sepertinya Tami marah padanya. Padahal ia mau membantu mencarikan jodoh saja. Dari pada Tami tidak menikah.

"Sepatu. Sepatuku rusak." ucap Tami.

"Belikan lah juga anakku. Sekali-kalinya. Yang branded, Tam!" ucap Indah sambil tertawa.

Tami kok merasa aneh mendengar permintaan temannya itu ya. "Mintalah sama bapaknya!"

Indah tertawa mendengar jawaban Tami. "Papanya pun lagi susah, Tam. Sudah seminggu tidak kerja. Kami saja-"

"Aku harus pulang, Dah. Kucingku di rumah belum makan!" sela Tami segera. Perasaannya mulai tidak enak mendengar curhatan sang teman.

"Untuk beli es krim." ucap Tami memberikan uang jajan pada anak laki-laki itu.

"Makasih, Tante." Bocah itu tersenyum kegirangan.

"Kok lima puluh ribu si Tante Tami? Lima ratus ribu lah. Sekali-kali ketemu pun!" ucap Indah. Tami pelit dan perhitungan sekali.

"Aku pulang." Tami pun beranjak pergi. Payah lama-lama sama si Indah itu.

Tami tidak punya teman akrab. Teman yang dekat sama dia, kebanyakan ada maunya saja.

"Pinjam dulu seratus,"

Selalu begitu dan tidak pernah dibalikkan. Kalau diminta akan menjawab.

"Cuma seratusnya hutangku, nanti ku bayar gajian! Tidak usah takutlah kau! Seperti tidak kubayar saja!"

Dan saat gajian tiba, mulai lah beralasan ini itulah. Hingga berkata,

"Ikhlaskan saja lah, hutang cuma segitu saja! Sama teman sendiri pun perhitungan!"

Indah termasuk salah satunya.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Dewa mengetuk-ngetuk jari-jarinya di meja. Pria tampan dan rupawan itu tampak sedang berpikir keras.

Sudah beberapa hari berlalu, ia tidak pernah bermimpi wanita itu lagi. Saat akan tidur malam, ia berdoa dan berharap bisa memimpikan wanita itu.

Wanita itu dalam 3 malam berturut-turut masuk terus dalam mimpinya, bahkan saat mimpinya berlanjut. Dan kini, beberapa malam ia tidak pernah memimpikannya. Bahkan mimpi lain pun tidak.

Saat malam ia memejamkan mata dan saat terbangun dunia sudah terang saja.

Dewa sedikit kesal, wanita itu suka seenaknya. Masuk dalam mimpinya dan pergi begitu saja. Ciuman mereka itu ciuman yang terakhir. Padahal, ia ingin hubungan mereka berlanjut. Walau cuma dalam mimpi, ia bisa bertemu wanita itu.

Dengan berjalan lemah Dewa keluar dari ruangannya. Jam kantor telah berakhir, ia akan pulang saja.

Sampai di apartemennya, Dewa dengan masih memakai pakaian kantor sibuk di dapur.

"Aku ingin makan spesial." ucapnya lalu mengambil mi instan rasa kari spesial.

Sesudah memasaknya sebentar, Dewa langsung melahapnya. Ia menghabiskan satu mangkuk mi tersebut.

Setelah makan ia pun membersihkan diri. Lalu berbaring di tempat tidur empuknya. Ia berharap bermimpi wanita itu.

'Cantik... aku mohon, masuk lagi ya dalam mimpiku!' batinnya berharap. Ada rasa kehilangan dalam hatinya.

Mata Dewa pun terpejam. Suara detak jam terdengar di kamar yang sepi dan sunyi itu.

Ponsel berdering, tangan pria itu mencari ponsel di sekitarnya.

"Hah?" tanyanya dengan suara serak dan masih menutup mata.

"Dewa, kamu di mana? Acara akan mulai!"

"Hah?" jawabnya tidak mengerti.

"Aldo akan menikah hari ini. Cepat kamu kemari!"

"Kak, masih jam berapa ini?"

"Ini sudah jam 8!"

"Oh, masih jam 8 malam."

"Jam 8 pagi, Dewa!"

"Apa?" mata Dewa terbuka sempurna mendengar ucapan kakaknya. Ia berlari ke arah jendela. Dan dunia ternyata sudah terang benderang. Secepat itu, padahal ia baru terpejam.

"Cepat kamu datang!"

Dewa mengusap wajah saat panggilan dari sang kakak berakhir. Tampak wajahnya yang kesal.

'Kenapa aku tidak memimpikanmu lagi?'

.

.

.

Terpopuler

Comments

Sri

Sri

ya iyalah gak bakal mimpiin lagi , kamu masih mengagungkan mantanmu si lla

2024-10-23

0

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

krn sdh g sedih nanti akanbertemu dg nyata Dewa sabar Aldo salah tidak ta dlm ucapannya nanti

2024-05-05

0

Rina Azzahra

Rina Azzahra

g tau diri temennya udah jodohin ama kakek2 trus minta duit 500 rb hdeh orng kya gtu mah mending jauhin aja,
ini dewa ama tami kapan ktemunya yab? /Smile/

2024-02-05

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Harapan
2 Bab 2 - Mimpi
3 Bab 3 - Maafkan Aku
4 Bab 4 - Sakit
5 Bab 5 - Kenangan
6 Bab 6 - Mimpi Lagi
7 Bab 7 - Kecewa
8 Bab 8 - Hari Berlalu
9 Bab 9 - Hari Sial
10 Bab 10 - Gendeng
11 Bab 11 - Deg
12 Bab 12 - Kamu Mau?
13 Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14 Bab 14 - Terus Memaksa
15 Bab 15 - Malam Ini
16 Bab 16 - Istriku
17 Bab 17 - Suami Sendiri
18 Bab 18 - Ini Nyata
19 Bab 19 - Transfer
20 Bab 20 - Suka Kamu
21 Bab 21 - Demi Kamu
22 Bab 22 - Boleh Cium?
23 Bab 23 - Mak Tami
24 Bab 24 - Mas Dewa
25 Bab 25 - 3 Hari
26 Bab 26 - Ikut Aku
27 Bab 27 - Tante
28 Bab 28 -Jangan Memaksa
29 Bab 29 - Menginginkanmu
30 Bab 30 - Penghangat Ranjang
31 Bab 31 - Ke Rumah Rona
32 Bab 32 - Ceraikan Dia
33 Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34 Bab 34 - Pikiran Aldo
35 Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36 Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37 Bab 37 - Kejujuran
38 Bab 38 - Tidak Terima
39 Bab 39 - Penuh Cinta
40 Bab 40 - Php
41 Bab 41 - Tolong
42 Bab 42 - Kerasukan
43 Bab 43 - Hati-hati
44 Bab 44 - Sudah Terukir
45 Bab 45 - Pingit
46 Bab 46 - Hari Bahagia
47 Bab 47 - Berlayar
48 Bab 48 - Bulan Madu
49 Bab 49 - Percaya Kamu
50 Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51 Bab 51 - Penjelasan
52 Bab 52 - Sudah Pergi
53 Bab 53 - Semakin Dekat
54 Bab 54 - Adik Sepupu
55 Bab 55 - Begitu Manis
56 Bab 56 - Apapun Itu
57 Bab 57 - Gelap Mata
58 Bab 58 - Salah Target
59 Bab 59 - Menyesal
60 Bab 60 - Sudah Sadar
61 Bab 61 - Berusaha Tegar
62 Bab 62 - Mulai Stres
63 Bab 63 - Butuh Waktu
64 Bab 64 - Galau Sendiri
65 Bab 65 - Rasa Bersalah
66 Bab 66 - Aku Mencintaimu
67 Bab 67 - Penjelasan Dewa
68 Bab 68 - Aku Mau Pulang
69 Bab 69 - Bertemu
70 Bab 70 - Akhirnya
71 Promo
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 - Harapan
2
Bab 2 - Mimpi
3
Bab 3 - Maafkan Aku
4
Bab 4 - Sakit
5
Bab 5 - Kenangan
6
Bab 6 - Mimpi Lagi
7
Bab 7 - Kecewa
8
Bab 8 - Hari Berlalu
9
Bab 9 - Hari Sial
10
Bab 10 - Gendeng
11
Bab 11 - Deg
12
Bab 12 - Kamu Mau?
13
Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14
Bab 14 - Terus Memaksa
15
Bab 15 - Malam Ini
16
Bab 16 - Istriku
17
Bab 17 - Suami Sendiri
18
Bab 18 - Ini Nyata
19
Bab 19 - Transfer
20
Bab 20 - Suka Kamu
21
Bab 21 - Demi Kamu
22
Bab 22 - Boleh Cium?
23
Bab 23 - Mak Tami
24
Bab 24 - Mas Dewa
25
Bab 25 - 3 Hari
26
Bab 26 - Ikut Aku
27
Bab 27 - Tante
28
Bab 28 -Jangan Memaksa
29
Bab 29 - Menginginkanmu
30
Bab 30 - Penghangat Ranjang
31
Bab 31 - Ke Rumah Rona
32
Bab 32 - Ceraikan Dia
33
Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34
Bab 34 - Pikiran Aldo
35
Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36
Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37
Bab 37 - Kejujuran
38
Bab 38 - Tidak Terima
39
Bab 39 - Penuh Cinta
40
Bab 40 - Php
41
Bab 41 - Tolong
42
Bab 42 - Kerasukan
43
Bab 43 - Hati-hati
44
Bab 44 - Sudah Terukir
45
Bab 45 - Pingit
46
Bab 46 - Hari Bahagia
47
Bab 47 - Berlayar
48
Bab 48 - Bulan Madu
49
Bab 49 - Percaya Kamu
50
Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51
Bab 51 - Penjelasan
52
Bab 52 - Sudah Pergi
53
Bab 53 - Semakin Dekat
54
Bab 54 - Adik Sepupu
55
Bab 55 - Begitu Manis
56
Bab 56 - Apapun Itu
57
Bab 57 - Gelap Mata
58
Bab 58 - Salah Target
59
Bab 59 - Menyesal
60
Bab 60 - Sudah Sadar
61
Bab 61 - Berusaha Tegar
62
Bab 62 - Mulai Stres
63
Bab 63 - Butuh Waktu
64
Bab 64 - Galau Sendiri
65
Bab 65 - Rasa Bersalah
66
Bab 66 - Aku Mencintaimu
67
Bab 67 - Penjelasan Dewa
68
Bab 68 - Aku Mau Pulang
69
Bab 69 - Bertemu
70
Bab 70 - Akhirnya
71
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!