"Tam, apa sudah tanda tangan perpanjangan kontrak?" tanya rekan kerja Tami saat mereka makan siang di kantin kantor.
Tami sudah mulai masuk kerja. Ia juga sehat dan mulai melupakan Aldo. Pelan-pelan.
"Belum." jawab Tami sambil menggeleng.
"Padahal 2 minggu lagi, kontrak kita habis. Mudah-mudahan kontrak kita diperpanjang ya."
Kepala Tami mengangguk setuju. Ia juga berharap kontraknya diperpanjang. Jika tidak, maka harus cari kerjaan baru. Dan itu cukup sulit mengingat usianya sekarang sudah kepala 3.
Sore menjelang, Tami keluar dari kantor. Ia pun berniat pergi ke Mall. Jalan-jalan sekalian cuci mata di sana. Ia pergi sendiri naik ojek.
Sampai Mall, Tami berjalan sambil menyusuri pertokoan. Melihat-lihat berbagai macam barang yang terpajang di sana.
'Aku beli sepatu kerja saja lah.' batinnya.
Sepatu kerja Tami sudah mulai mangap. Sudah cukup lama memakai sepatu itu. Ia pun masuk ke toko sepatu dan memilih sepatu mirip dengan punyanya yang lama. Hak yang kokoh dan tidak terlalu tinggi. Dan pasti harganya diskonan.
Keluar dari toko, Tami sudah membawa paper bag berisi sepatu.
"Tami." ucap seseorang menepuk bahunya.
Tami menoleh ke arah suara. "Indah." Ia tersenyum tipis melihat seorang wanita yang menggandeng seorang bocah laki-laki.
"Apa kabarmu, Tam? Sudah lama kita tidak bertemu." ucap Indah. Ia melihat penampilan Tami dari atas hingga atas lagi.
Tami terlihat berbeda dan sepertinya sekarang bekerja di kantoran. Mereka dulu rekan kerja saat masih menjadi petugas kebersihan.
"Aku baik. Kau apa kabar, Dah?" tanya Tami basa basi.
"Aku baik."
"Anakmu?" tanya Tami melihat bocah laki-laki.
"Iya, Tam. Nizam, salam tantenya dulu. Ini teman Mama." pintanya pada sang putra.
Bocah kecil itu menurut dan menyalami Tami. Membuat Tami jadi tersenyum gemas. Jika ia sudah menikah, ia pasti akan memiliki anak.
"Kau sudah menikah, Tam?" tanya Indah.
"Belum."
"Mau ku kenalkan pada temanku? Orangnya baik dan pekerjaannya manager loh." tawar Indah pada Tami.
"Tidak usah. Aku sudah punya pacar dan kami akan menikah." ucap Tami berbohong. Ia saja baru patah hati.
"Kapan kalian menikah?" Indah masih ingin tahu.
"Secepatnya." jawab Tami mencari aman.
"Sayang sekali kalau kau sudah punya pacar. Temanku itu serius sekali ingin mencari istri. Kalau pacarmu tidak ada kejelasan untuk menikah, kau sama dia saja!" saran Indah.
Tami menggeleng. Untuk sementara ia tidak mau berhubungan dengan pria dulu. Hatinya masih terluka.
"Dalam tahun ini kami akan menikah." timpal Tami meyakinkan.
"Temanku itu baik banget, penyayang loh. Terus juga warisannya banyak," cerita Indah sambil terkekeh.
"Hidupmu pasti akan terjamin lah sama dia. Yang penting kau harus sayang sama anaknya. Dia duda anak 4, Tam. Umurnya 50 tahun. Tidak apa duda yang penting kaya!" jelas Indah kembali.
Wajah Tami menatap tidak suka atas perkataan Indah. Temannya itu mau mengenalkannya pada pria berumur 50 tahun dan punya anak 4. Yang benar saja.
Indah menyadari tatapan Tami. "Tapi, Tam. Di usia kita sekarang, sulit mencari pria lajang. Tak apalah duda yang penting baik."
"Aku sudah punya pacar, Dah!" tegas Tami. Ucapan Indah buat emosi saja.
"Kau beli apa?" tanya Indah melirik paper bag itu. Ia mengalihkan topik. Sepertinya Tami marah padanya. Padahal ia mau membantu mencarikan jodoh saja. Dari pada Tami tidak menikah.
"Sepatu. Sepatuku rusak." ucap Tami.
"Belikan lah juga anakku. Sekali-kalinya. Yang branded, Tam!" ucap Indah sambil tertawa.
Tami kok merasa aneh mendengar permintaan temannya itu ya. "Mintalah sama bapaknya!"
Indah tertawa mendengar jawaban Tami. "Papanya pun lagi susah, Tam. Sudah seminggu tidak kerja. Kami saja-"
"Aku harus pulang, Dah. Kucingku di rumah belum makan!" sela Tami segera. Perasaannya mulai tidak enak mendengar curhatan sang teman.
"Untuk beli es krim." ucap Tami memberikan uang jajan pada anak laki-laki itu.
"Makasih, Tante." Bocah itu tersenyum kegirangan.
"Kok lima puluh ribu si Tante Tami? Lima ratus ribu lah. Sekali-kali ketemu pun!" ucap Indah. Tami pelit dan perhitungan sekali.
"Aku pulang." Tami pun beranjak pergi. Payah lama-lama sama si Indah itu.
Tami tidak punya teman akrab. Teman yang dekat sama dia, kebanyakan ada maunya saja.
"Pinjam dulu seratus,"
Selalu begitu dan tidak pernah dibalikkan. Kalau diminta akan menjawab.
"Cuma seratusnya hutangku, nanti ku bayar gajian! Tidak usah takutlah kau! Seperti tidak kubayar saja!"
Dan saat gajian tiba, mulai lah beralasan ini itulah. Hingga berkata,
"Ikhlaskan saja lah, hutang cuma segitu saja! Sama teman sendiri pun perhitungan!"
Indah termasuk salah satunya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dewa mengetuk-ngetuk jari-jarinya di meja. Pria tampan dan rupawan itu tampak sedang berpikir keras.
Sudah beberapa hari berlalu, ia tidak pernah bermimpi wanita itu lagi. Saat akan tidur malam, ia berdoa dan berharap bisa memimpikan wanita itu.
Wanita itu dalam 3 malam berturut-turut masuk terus dalam mimpinya, bahkan saat mimpinya berlanjut. Dan kini, beberapa malam ia tidak pernah memimpikannya. Bahkan mimpi lain pun tidak.
Saat malam ia memejamkan mata dan saat terbangun dunia sudah terang saja.
Dewa sedikit kesal, wanita itu suka seenaknya. Masuk dalam mimpinya dan pergi begitu saja. Ciuman mereka itu ciuman yang terakhir. Padahal, ia ingin hubungan mereka berlanjut. Walau cuma dalam mimpi, ia bisa bertemu wanita itu.
Dengan berjalan lemah Dewa keluar dari ruangannya. Jam kantor telah berakhir, ia akan pulang saja.
Sampai di apartemennya, Dewa dengan masih memakai pakaian kantor sibuk di dapur.
"Aku ingin makan spesial." ucapnya lalu mengambil mi instan rasa kari spesial.
Sesudah memasaknya sebentar, Dewa langsung melahapnya. Ia menghabiskan satu mangkuk mi tersebut.
Setelah makan ia pun membersihkan diri. Lalu berbaring di tempat tidur empuknya. Ia berharap bermimpi wanita itu.
'Cantik... aku mohon, masuk lagi ya dalam mimpiku!' batinnya berharap. Ada rasa kehilangan dalam hatinya.
Mata Dewa pun terpejam. Suara detak jam terdengar di kamar yang sepi dan sunyi itu.
Ponsel berdering, tangan pria itu mencari ponsel di sekitarnya.
"Hah?" tanyanya dengan suara serak dan masih menutup mata.
"Dewa, kamu di mana? Acara akan mulai!"
"Hah?" jawabnya tidak mengerti.
"Aldo akan menikah hari ini. Cepat kamu kemari!"
"Kak, masih jam berapa ini?"
"Ini sudah jam 8!"
"Oh, masih jam 8 malam."
"Jam 8 pagi, Dewa!"
"Apa?" mata Dewa terbuka sempurna mendengar ucapan kakaknya. Ia berlari ke arah jendela. Dan dunia ternyata sudah terang benderang. Secepat itu, padahal ia baru terpejam.
"Cepat kamu datang!"
Dewa mengusap wajah saat panggilan dari sang kakak berakhir. Tampak wajahnya yang kesal.
'Kenapa aku tidak memimpikanmu lagi?'
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Sri
ya iyalah gak bakal mimpiin lagi , kamu masih mengagungkan mantanmu si lla
2024-10-23
0
Lanjar Lestari
krn sdh g sedih nanti akanbertemu dg nyata Dewa sabar Aldo salah tidak ta dlm ucapannya nanti
2024-05-05
0
Rina Azzahra
g tau diri temennya udah jodohin ama kakek2 trus minta duit 500 rb hdeh orng kya gtu mah mending jauhin aja,
ini dewa ama tami kapan ktemunya yab? /Smile/
2024-02-05
1