Tampak seorang pria menatap wanita cantik di hadapannya. Menatap dengan tatapan yang mendalam. Begitu pun sebaliknya, tatapan wanita itu pun begitu dalam.
"Siapa namamu?" tanya pria itu masih dengan tatapannya.
Wanita itu hanya menjawab dengan senyuman. Senyuman yang begitu manis, membuat hatinya terasa menghangat.
"Hmm," pria itu mengdehem tatkala wanita itu mengedipkan sebelah matanya. Wanita cantik itu menggodanya.
Perlahan pria itu mulai memajukan tubuhnya dan wanita itu malah mundur. Pria itu makin maju dan wanita itu makin mundur, bahkan sempat menjulurkan lidah meledeknya.
Pria yang jadi gemas sendiri itu pun menangkap dan memeluk wanita itu. Dan,
Gubrak,
"Aduh!" rintihnya memegangi keningnya yang terantuk lantai.
Pria itu membuka mata dan melihat sekitarnya. Mencari wanita cantik itu. Tapi di kamar itu hanya ada dia seorang.
'Apa aku bermimpi?' batinnya melihat jam dinding. Sudah pukul 1 malam ternyata.
Pria itu pun bangkit dan berjalan ke dapur. Ia mengambil segelas air dan menenggaknya hingga habis. Lalu memikirkan wanita dalam mimpinya.
Tidak pernah merasa mengenal wanita itu, tapi kenapa bisa masuk dalam mimpinya. Siapa dia?
Setelah minum, pria itu kembali ke kamarnya. Hari masih gelap, ia akan melanjutkan tidurnya kembali.
Tak lama,
"Kamu?" ucap pria itu melihat wanita cantik itu. Senang bisa melihatnya lagi.
Pria itu tampak berpikir, ia mimpi atau apa. Lalu mencubit pipi kanannya untuk memastikannya.
Deg,
Pipi kirinya malah dicubit wanita itu. Tidak ada terasa sakit, karena wanita itu mencubitnya dengan penuh senyuman.
"Siapa namamu?" tanya pria itu kembali. Sungguh ia ingin mengenal wanita itu. Mungkin ia sedang bermimpi lagi. Mimpinya yang tadi bersambung kembali. Harus menanyakan siapa nama wanita itu, alamat bahkan nomor ponselnya.
Wanita itu kembali tersenyum dan melambaikan tangan. Kini melangkah pergi meninggalkannya.
"Hei, kenapa kamu malah pergi?" tanya pria itu bingung. Masih mau kenalan ditinggal begitu saja.
"Hei, Cantik!" panggilnya lagi, tapi wanita itu terus melangkah.
"Tunggu!"
Pria itu pun mengejarnya. Ia tidak mau kehilangan wanita itu. Mencoba berlari dan terus berlari, meski langkahnya terasa sangat berat seperti ada beban di kakinya. Terus berusaha mengejar wanita itu. Dan,
Bruak!!!
"Astaga!!!" pria itu tergeletak di lantai kamarnya. Ia terjatuh lagi dari tempat tidur. Dua kali terjatuh karena bermimpi wanita itu.
'Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?' pria itu mengusap wajahnya, lalu perlahan bangkit.
Hari sudah terang, waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ia membuka jendela, membiarkan cahaya menerangi kamarnya.
Berdiri di depan jendela, menatap pemandangan dari apartemen lantai 30 itu.
Pria itu menoleh saat ponsel berdering. Ia meraih dan menjawab panggilan tersebut.
"Dewa, kamu ke rumah ya." ucap seorang wanita dari seberang sana.
"Kenapa, Kak?" tanyanya sambil menguap. Ia masih mengantuk, seperti tidak tidur tadi malam. Mungkin karena mimpi itu.
"Pakaian seragammu sudah siap. Ambil kemari!"
"Kirim sa-"
"Dewa!!!" teriak wanita yang membuat Dewa menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Iya. Aku ke rumahmu, Kak."
Setelah mengakhiri panggilan, Dewa melempar ponsel ke tempat tidurnya. Lalu ia pun berjalan ke kamar mandi. Membersihkan diri sejenak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dengan bersiul-siul Dewa berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Ia pun naik dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang membela jalanan.
Tak lama sampai ia di sebuah rumah. Di ruang makan itu tampak berisik sekali.
"Minggu depan pernikahanmu. Ingat itu, Aldo! Mama tidak mau terjadi sesuatu dengan pernikahan kalian!" ucap seorang wanita paruh baya mengingatkan putranya.
"Minggu depan Aldo nikahnya, Kak?" tanya Dewa pada Rona, sang kakak. Ia memang tahu ponakannya akan menikah. Ia mengira bulan depan ternyata minggu depan pernikahan itu.
Rona mendengus melihat sang adik. Dewa sibuk dengan dunianya sendiri.
"Maklum, Kak. Aku ini pria tampan yang sangat sibuk." ucapnya tanpa beban.
Rona dan Aldo menggeleng melihat ke arah Dewa. Pedenya kelewatan.
"Ponakanmu akan menikah. Kamu kapan akan menikah, Wa?" tanya Rona. Putranya akan melangkahi adiknya itu.
"Nantilah itu!" jawab Dewa tidak mau ambil pusing.
"Ma, Om Dewa saja belum menikah. Kenapa aku harus menikah duluan? padahal dia kan yang tua!" ucap Aldo dengan nada lemah. Ia menolak pernikahan itu tapi karena desakan, minggu depan ia harus menikahi wanita yang tidak ingin ia nikahi.
"Tu-tua? Kita sebaya ya, cuma beda bulan saja!" jelas Dewa tidak terima dibilang tua. Usianya dengan ponakannya sama saja. Ia hanya sebulan lebih tua.
Dewa dan Rona saudara kandung satu bapak lain mamak. Setelah mamanya Rona meninggal, suaminya menikah lagi dengan istri kedua dan lahirlah Dewa.
"Om Dewa," panggil Aldo melihat ke arah pria yang lebih tua sebulan darinya itu. Ia memanggil om karena kedudukan Dewa lebih tinggi dalam silsilah keluarga mereka.
"Om saja yang menikah dengan Kitty ya!" ucap Aldo. Kitty, wanita yang dijodohkan dan akan dinikahinya minggu depan.
"Aldo!!! Apa maksudmu?" bentak Rona tidak senang. Putranya akan menikah dengan Kitty minggu depan, kenapa malah menyuruh adiknya pula.
"Ma, aku tidak mencintai Kitty. Aku tidak yakin dengan pernikahan itu!" ucap Aldo menatap Mamanya, lalu ia menundukkan kepala. Mata Mamanya memelototi tajam, tidak menerima bantahan.
"Jangan bertingkahlah, Do! Kitty itu wanita baik dan sangat sesuai dengan kamu. Perasaan bisa muncul seiring berjalannya waktu, kamu sekarang hanya perlu menerimanya saja!" ucap Mama Rona memperjelas. Kitty, wanita pilihannya. Menantu yang sangat sesuai dan sempurna dengan segala kelebihan yang dimiliki.
Huft, Aldo membuang nafasnya dengan kasar. Selalu itu saja yang dikatakan mamanya. Padahal sudah sering ia menolak, tapi penolakannya seolah tiada berarti.
"Aldo!" panggil Rona saat melihat putranya berjalan menuju kamarnya, meninggalkan makan siang mereka.
"Aldo! awas kalau minggu depan ada masalah dengan pernikahanmu!" ancam Rona. "Mama tidak akan mau hidup lagi!"
"Kak Ron, tenanglah!" Dewa mengelus pundak sang kakak.
"Kakak terlalu memaksanya. Seharusnya biarkan saja Aldo memilih wanita yang akan-" ucapan Dewa terhenti saat sorot mata tajam Rona kini mengarah ke arahnya.
"Wanita seperti apa? Wanita miskin yang tidak berpendidikan! Aku tidak setuju!" ucap Rona sambil memijat pelipisnya.
Aldo dulu pernah mengatakan sedang dekat dengan seorang wanita. Wanita miskin yang tidak berpendidikan tinggi. Tidak memiliki keluarga, katanya orang tuanya sudah meninggal. Jelas Rona segera menolak dan memarahi putranya. Wanita seperti itu tidak layak jadi menantunya. Pasti hanya ingin memporoti anaknya saja.
Saat itu Aldo ingin membawa wanita itu dan memperkenalkan padanya. Dan saat itu juga Rona menolak mentah-mentah. Bahkan sempat mengancam. Jika berani membawa wanita itu, ia akan mempermalukan dan menyakiti wanita itu.
"Kak, jangan begitu-"
"Aku tidak setuju! Aku tidak akan setuju!" Rona menyela ucapan Dewa.
"Aku harus memperingatkan Aldo!" ucap Rona merapatkan giginya. Ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar sang putra.
"Kak Rona!"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
benar kan Aldo di jodohkan dan di paksa sama mama nya nikah dg wanita lain krn g setuju Aldo dan Tami,sabar Tami jodohmu jg dekat Dewa dan Om nya Aldo mantan pacarmu
2024-05-05
1
Lia Kiftia Usman
masih menyimak karyamu thor...
2024-02-03
1