Bab 2 - Mimpi

Tampak seorang pria menatap wanita cantik di hadapannya. Menatap dengan tatapan yang mendalam. Begitu pun sebaliknya, tatapan wanita itu pun begitu dalam.

"Siapa namamu?" tanya pria itu masih dengan tatapannya.

Wanita itu hanya menjawab dengan senyuman. Senyuman yang begitu manis, membuat hatinya terasa menghangat.

"Hmm," pria itu mengdehem tatkala wanita itu mengedipkan sebelah matanya. Wanita cantik itu menggodanya.

Perlahan pria itu mulai memajukan tubuhnya dan wanita itu malah mundur. Pria itu makin maju dan wanita itu makin mundur, bahkan sempat menjulurkan lidah meledeknya.

Pria yang jadi gemas sendiri itu pun menangkap dan memeluk wanita itu. Dan,

Gubrak,

"Aduh!" rintihnya memegangi keningnya yang terantuk lantai.

Pria itu membuka mata dan melihat sekitarnya. Mencari wanita cantik itu. Tapi di kamar itu hanya ada dia seorang.

'Apa aku bermimpi?' batinnya melihat jam dinding. Sudah pukul 1 malam ternyata.

Pria itu pun bangkit dan berjalan ke dapur. Ia mengambil segelas air dan menenggaknya hingga habis. Lalu memikirkan wanita dalam mimpinya.

Tidak pernah merasa mengenal wanita itu, tapi kenapa bisa masuk dalam mimpinya. Siapa dia?

Setelah minum, pria itu kembali ke kamarnya. Hari masih gelap, ia akan melanjutkan tidurnya kembali.

Tak lama,

"Kamu?" ucap pria itu melihat wanita cantik itu. Senang bisa melihatnya lagi.

Pria itu tampak berpikir, ia mimpi atau apa. Lalu mencubit pipi kanannya untuk memastikannya.

Deg,

Pipi kirinya malah dicubit wanita itu. Tidak ada terasa sakit, karena wanita itu mencubitnya dengan penuh senyuman.

"Siapa namamu?" tanya pria itu kembali. Sungguh ia ingin mengenal wanita itu. Mungkin ia sedang bermimpi lagi. Mimpinya yang tadi bersambung kembali. Harus menanyakan siapa nama wanita itu, alamat bahkan nomor ponselnya.

Wanita itu kembali tersenyum dan melambaikan tangan. Kini melangkah pergi meninggalkannya.

"Hei, kenapa kamu malah pergi?" tanya pria itu bingung. Masih mau kenalan ditinggal begitu saja.

"Hei, Cantik!" panggilnya lagi, tapi wanita itu terus melangkah.

"Tunggu!"

Pria itu pun mengejarnya. Ia tidak mau kehilangan wanita itu. Mencoba berlari dan terus berlari, meski langkahnya terasa sangat berat seperti ada beban di kakinya. Terus berusaha mengejar wanita itu. Dan,

Bruak!!!

"Astaga!!!" pria itu tergeletak di lantai kamarnya. Ia terjatuh lagi dari tempat tidur. Dua kali terjatuh karena bermimpi wanita itu.

'Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?' pria itu mengusap wajahnya, lalu perlahan bangkit.

Hari sudah terang, waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ia membuka jendela, membiarkan cahaya menerangi kamarnya.

Berdiri di depan jendela, menatap pemandangan dari apartemen lantai 30 itu.

Pria itu menoleh saat ponsel berdering. Ia meraih dan menjawab panggilan tersebut.

"Dewa, kamu ke rumah ya." ucap seorang wanita dari seberang sana.

"Kenapa, Kak?" tanyanya sambil menguap. Ia masih mengantuk, seperti tidak tidur tadi malam. Mungkin karena mimpi itu.

"Pakaian seragammu sudah siap. Ambil kemari!"

"Kirim sa-"

"Dewa!!!" teriak wanita yang membuat Dewa menjauhkan ponsel dari telinganya.

"Iya. Aku ke rumahmu, Kak."

Setelah mengakhiri panggilan, Dewa melempar ponsel ke tempat tidurnya. Lalu ia pun berjalan ke kamar mandi. Membersihkan diri sejenak.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Dengan bersiul-siul Dewa berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Ia pun naik dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang membela jalanan.

Tak lama sampai ia di sebuah rumah. Di ruang makan itu tampak berisik sekali.

"Minggu depan pernikahanmu. Ingat itu, Aldo! Mama tidak mau terjadi sesuatu dengan pernikahan kalian!" ucap seorang wanita paruh baya mengingatkan putranya.

"Minggu depan Aldo nikahnya, Kak?" tanya Dewa pada Rona, sang kakak. Ia memang tahu ponakannya akan menikah. Ia mengira bulan depan ternyata minggu depan pernikahan itu.

Rona mendengus melihat sang adik. Dewa sibuk dengan dunianya sendiri.

"Maklum, Kak. Aku ini pria tampan yang sangat sibuk." ucapnya tanpa beban.

Rona dan Aldo menggeleng melihat ke arah Dewa. Pedenya kelewatan.

"Ponakanmu akan menikah. Kamu kapan akan menikah, Wa?" tanya Rona. Putranya akan melangkahi adiknya itu.

"Nantilah itu!" jawab Dewa tidak mau ambil pusing.

"Ma, Om Dewa saja belum menikah. Kenapa aku harus menikah duluan? padahal dia kan yang tua!" ucap Aldo dengan nada lemah. Ia menolak pernikahan itu tapi karena desakan, minggu depan ia harus menikahi wanita yang tidak ingin ia nikahi.

"Tu-tua? Kita sebaya ya, cuma beda bulan saja!" jelas Dewa tidak terima dibilang tua. Usianya dengan ponakannya sama saja. Ia hanya sebulan lebih tua.

Dewa dan Rona saudara kandung satu bapak lain mamak. Setelah mamanya Rona meninggal, suaminya menikah lagi dengan istri kedua dan lahirlah Dewa.

"Om Dewa," panggil Aldo melihat ke arah pria yang lebih tua sebulan darinya itu. Ia memanggil om karena kedudukan Dewa lebih tinggi dalam silsilah keluarga mereka.

"Om saja yang menikah dengan Kitty ya!" ucap Aldo. Kitty, wanita yang dijodohkan dan akan dinikahinya minggu depan.

"Aldo!!! Apa maksudmu?" bentak Rona tidak senang. Putranya akan menikah dengan Kitty minggu depan, kenapa malah menyuruh adiknya pula.

"Ma, aku tidak mencintai Kitty. Aku tidak yakin dengan pernikahan itu!" ucap Aldo menatap Mamanya, lalu ia menundukkan kepala. Mata Mamanya memelototi tajam, tidak menerima bantahan.

"Jangan bertingkahlah, Do! Kitty itu wanita baik dan sangat sesuai dengan kamu. Perasaan bisa muncul seiring berjalannya waktu, kamu sekarang hanya perlu menerimanya saja!" ucap Mama Rona memperjelas. Kitty, wanita pilihannya. Menantu yang sangat sesuai dan sempurna dengan segala kelebihan yang dimiliki.

Huft, Aldo membuang nafasnya dengan kasar. Selalu itu saja yang dikatakan mamanya. Padahal sudah sering ia menolak, tapi penolakannya seolah tiada berarti.

"Aldo!" panggil Rona saat melihat putranya berjalan menuju kamarnya, meninggalkan makan siang mereka.

"Aldo! awas kalau minggu depan ada masalah dengan pernikahanmu!" ancam Rona. "Mama tidak akan mau hidup lagi!"

"Kak Ron, tenanglah!" Dewa mengelus pundak sang kakak.

"Kakak terlalu memaksanya. Seharusnya biarkan saja Aldo memilih wanita yang akan-" ucapan Dewa terhenti saat sorot mata tajam Rona kini mengarah ke arahnya.

"Wanita seperti apa? Wanita miskin yang tidak berpendidikan! Aku tidak setuju!" ucap Rona sambil memijat pelipisnya.

Aldo dulu pernah mengatakan sedang dekat dengan seorang wanita. Wanita miskin yang tidak berpendidikan tinggi. Tidak memiliki keluarga, katanya orang tuanya sudah meninggal. Jelas Rona segera menolak dan memarahi putranya. Wanita seperti itu tidak layak jadi menantunya. Pasti hanya ingin memporoti anaknya saja.

Saat itu Aldo ingin membawa wanita itu dan memperkenalkan padanya. Dan saat itu juga Rona menolak mentah-mentah. Bahkan sempat mengancam. Jika berani membawa wanita itu, ia akan mempermalukan dan menyakiti wanita itu.

"Kak, jangan begitu-"

"Aku tidak setuju! Aku tidak akan setuju!" Rona menyela ucapan Dewa.

"Aku harus memperingatkan Aldo!" ucap Rona merapatkan giginya. Ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar sang putra.

"Kak Rona!"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

benar kan Aldo di jodohkan dan di paksa sama mama nya nikah dg wanita lain krn g setuju Aldo dan Tami,sabar Tami jodohmu jg dekat Dewa dan Om nya Aldo mantan pacarmu

2024-05-05

1

Lia Kiftia Usman

Lia Kiftia Usman

masih menyimak karyamu thor...

2024-02-03

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Harapan
2 Bab 2 - Mimpi
3 Bab 3 - Maafkan Aku
4 Bab 4 - Sakit
5 Bab 5 - Kenangan
6 Bab 6 - Mimpi Lagi
7 Bab 7 - Kecewa
8 Bab 8 - Hari Berlalu
9 Bab 9 - Hari Sial
10 Bab 10 - Gendeng
11 Bab 11 - Deg
12 Bab 12 - Kamu Mau?
13 Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14 Bab 14 - Terus Memaksa
15 Bab 15 - Malam Ini
16 Bab 16 - Istriku
17 Bab 17 - Suami Sendiri
18 Bab 18 - Ini Nyata
19 Bab 19 - Transfer
20 Bab 20 - Suka Kamu
21 Bab 21 - Demi Kamu
22 Bab 22 - Boleh Cium?
23 Bab 23 - Mak Tami
24 Bab 24 - Mas Dewa
25 Bab 25 - 3 Hari
26 Bab 26 - Ikut Aku
27 Bab 27 - Tante
28 Bab 28 -Jangan Memaksa
29 Bab 29 - Menginginkanmu
30 Bab 30 - Penghangat Ranjang
31 Bab 31 - Ke Rumah Rona
32 Bab 32 - Ceraikan Dia
33 Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34 Bab 34 - Pikiran Aldo
35 Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36 Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37 Bab 37 - Kejujuran
38 Bab 38 - Tidak Terima
39 Bab 39 - Penuh Cinta
40 Bab 40 - Php
41 Bab 41 - Tolong
42 Bab 42 - Kerasukan
43 Bab 43 - Hati-hati
44 Bab 44 - Sudah Terukir
45 Bab 45 - Pingit
46 Bab 46 - Hari Bahagia
47 Bab 47 - Berlayar
48 Bab 48 - Bulan Madu
49 Bab 49 - Percaya Kamu
50 Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51 Bab 51 - Penjelasan
52 Bab 52 - Sudah Pergi
53 Bab 53 - Semakin Dekat
54 Bab 54 - Adik Sepupu
55 Bab 55 - Begitu Manis
56 Bab 56 - Apapun Itu
57 Bab 57 - Gelap Mata
58 Bab 58 - Salah Target
59 Bab 59 - Menyesal
60 Bab 60 - Sudah Sadar
61 Bab 61 - Berusaha Tegar
62 Bab 62 - Mulai Stres
63 Bab 63 - Butuh Waktu
64 Bab 64 - Galau Sendiri
65 Bab 65 - Rasa Bersalah
66 Bab 66 - Aku Mencintaimu
67 Bab 67 - Penjelasan Dewa
68 Bab 68 - Aku Mau Pulang
69 Bab 69 - Bertemu
70 Bab 70 - Akhirnya
71 Promo
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 - Harapan
2
Bab 2 - Mimpi
3
Bab 3 - Maafkan Aku
4
Bab 4 - Sakit
5
Bab 5 - Kenangan
6
Bab 6 - Mimpi Lagi
7
Bab 7 - Kecewa
8
Bab 8 - Hari Berlalu
9
Bab 9 - Hari Sial
10
Bab 10 - Gendeng
11
Bab 11 - Deg
12
Bab 12 - Kamu Mau?
13
Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14
Bab 14 - Terus Memaksa
15
Bab 15 - Malam Ini
16
Bab 16 - Istriku
17
Bab 17 - Suami Sendiri
18
Bab 18 - Ini Nyata
19
Bab 19 - Transfer
20
Bab 20 - Suka Kamu
21
Bab 21 - Demi Kamu
22
Bab 22 - Boleh Cium?
23
Bab 23 - Mak Tami
24
Bab 24 - Mas Dewa
25
Bab 25 - 3 Hari
26
Bab 26 - Ikut Aku
27
Bab 27 - Tante
28
Bab 28 -Jangan Memaksa
29
Bab 29 - Menginginkanmu
30
Bab 30 - Penghangat Ranjang
31
Bab 31 - Ke Rumah Rona
32
Bab 32 - Ceraikan Dia
33
Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34
Bab 34 - Pikiran Aldo
35
Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36
Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37
Bab 37 - Kejujuran
38
Bab 38 - Tidak Terima
39
Bab 39 - Penuh Cinta
40
Bab 40 - Php
41
Bab 41 - Tolong
42
Bab 42 - Kerasukan
43
Bab 43 - Hati-hati
44
Bab 44 - Sudah Terukir
45
Bab 45 - Pingit
46
Bab 46 - Hari Bahagia
47
Bab 47 - Berlayar
48
Bab 48 - Bulan Madu
49
Bab 49 - Percaya Kamu
50
Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51
Bab 51 - Penjelasan
52
Bab 52 - Sudah Pergi
53
Bab 53 - Semakin Dekat
54
Bab 54 - Adik Sepupu
55
Bab 55 - Begitu Manis
56
Bab 56 - Apapun Itu
57
Bab 57 - Gelap Mata
58
Bab 58 - Salah Target
59
Bab 59 - Menyesal
60
Bab 60 - Sudah Sadar
61
Bab 61 - Berusaha Tegar
62
Bab 62 - Mulai Stres
63
Bab 63 - Butuh Waktu
64
Bab 64 - Galau Sendiri
65
Bab 65 - Rasa Bersalah
66
Bab 66 - Aku Mencintaimu
67
Bab 67 - Penjelasan Dewa
68
Bab 68 - Aku Mau Pulang
69
Bab 69 - Bertemu
70
Bab 70 - Akhirnya
71
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!