"A-apa?" alangkah kagetnya Tami mendengar ucapan pria itu. Istri? Menjadi istrinya?
"Apa?" sama dengan Tami. Zol juga sangat kaget. Pria pemarah itu mau menjadikan wanita itu istrinya bukan memberi tawaran pekerjaan. Tidak pakai pdkt apalagi pemanasan terlebih dahulu.
"Kamu mau kan menikah dengan saya?" tanya Dewa penuh penekan dengan sorot mata serius. Ia sangat serius ingin menikahi wanita itu.
Selama ini, Dewa sudah kehilangan wanita itu. Sudah lama sekali ia tidak pernah memimpikan wanita itu lagi. Padahal setiap malam ia berharap dapat memimpikan wanita itu lagi. Bahkan selalu request mimpi, tapi tidak juga pernah bermimpi lagi.
Dan kini, tidak ada angin atau hujan bahkan petir. Wanita dalam mimpinya itu datang padanya. Bukan bertemu dalam mimpi tapi bertemu di dunia nyata. Secara mendadak muncul di hadapannya.
Dewa tidak mau kehilangan wanita itu lagi. Maka caranya, ia tidak akan melepaskannya lagi dan akan mengikatnya. Mengikat wanita itu dalam ikatan pernikahan yang sah.
Tapi, kenapa tanggapan wanita itu amat terkejut? Apa wanita itu tidak pernah memimpikannya? Masa sih wanita itu tidak pernah memimpikan pria tampan seperti dirinya? Ini sangat tidak adil baginya. Mendadak Dewa jadi kesal sendiri.
"Sa-saya ingin pekerjaan, Pak." ucap Tami. Pria itu kok malah membahas pernikahan. Buat hatinya jadi berdesir saja.
Selama menjalin kasih, tidak pernah ada pria yang duluan mengajaknya menikah. Dan ini, pria di hadapannya mengatakan hal seperti itu. Tidak mungkin, kan? Mereka tidak pernah bertemu atau mengenal sebelumnya. Atau mungkin saja,
"Jika kamu menjadi istri saya, kamu tidak perlu bekerja lagi." Dewa akan membiarkan istrinya duduk manis saja.
"Apa ini nikah kontrak?" tanya Tami kemudian. Ya, itu yang terbesit dalam pikirannya. Mendadak mengajak menikah, pasti ada udang di balik bakwan.
Zol masih menjadi pemantau kedua orang itu. Ia mengangguk menyetujui ucapan Tami. Jika mungkin saja Dewa ingin melakukan kontrak pernikahan dengan wanita itu.
Dewa jadi menggelengkan kepala. Kenapa wanita itu malah mikirnya begitu. "Pernikahan itu ikatan yang suci. Saya tidak mau mempermainkan pernikahan. Saya sangat serius dan sadar ingin menikah denganmu, menjadikan kamu istri saya seutuhnya." jelas Dewa lengkap dengan tatapannya yang tegas.
Tami merasa sesak dan berdebar-debar saat mendengar penjelasan Dewa. Pria itu tampak serius sekali dengan ucapannya. Belum pernah ada pria yang bicara begitu, seolah begitu sangat yakin padanya.
Zol juga sama merasa sesak. Dewa mengatakan hal itu. Apa maksudnya? Apa atasannya itu serius ingin menikah dengan wanita yang baru ditemuinya? Kenapa? Why? Why?
"Maaf, Pak. An-anda tidak boleh berkata seperti itu, i-itu-" Tami jadi bingung sendiri mau merangkai kata.
"Saya menyukaimu." akui Dewa menyela ucapan Tami. Pria itu menyadari jika ia memang sudah suka dengan wanita dalam mimpinya itu.
"Pak, anda tidak boleh bicara sembarangan!" ucap Tami. Apa katanya saya menyukaimu. Bagaimana bisa perasaan muncul dalam sekali bertemu. Pasti itu cuma perasaan sesaat atau mungkin iseng dan juga hanya penasaran saja.
"Bicara sembarangan? Kamu jangan sok tahu. Apa perlu saya belah dada ini untuk membuktikan bahwa di hati saya ada kamu?"Ucap Dewa sambil menaikkan alisnya. Wanita itu mau menolaknya? Sedikit menyakiti harga dirinya.
"Apa?" ucap Tami dan Zol bersamaan. Keduanya sama-sama merasa aneh dengan perkataan Dewa.
"Zol, kamu diam saja di sana!" ucap Dewa sinis. Asistennya itu malah ikut-ikutan terkejut. Mana suaranya besar lagi, bikin kaget saja.
Hmm... Dewa berdehem. Kembali menatap mata itu.
"Mungkin kamu kaget dan juga bingung. Saya wajar, karena kamu belum mengenal saya." ucap Dewa sambil mengangguk.
Dag... dig... dug... Jantung Tami berdetak tidak seirama. Saat pria itu kini berdiri di hadapannya.
"Nama saya Dewa, usia 33 tahun. Saya belum menikah." Dewa pun mengenalkan dirinya. Ia mengulurkan tangannya akan berkenalan dengan wanita cantik itu.
"I-itu, Pak-," Tami jadi berdiri dan selangkah mundur. Ia benar-benar tidak mengerti apa mau pria itu.
"Sa-saya permisi." Tami akan memilih kabur saja.
Niatnya mau melamar kerja, kenapa jadi begini. Ia malah dilamar pula.
Dewa menahan tangan Tami. "Saya belum selesai bicara. Kamu tidak sopan, orang masih bicara mau pergi begitu saja!"
"Saya butuh jawaban kamu sekarang. Kamu mau kan menikah dengan saya?" tanya Dewa berharap. Tidak mau ditolak.
"Ti-tidak bisa, Pak." jawab Tami.
"Kenapa?" tanya Dewa ingin tahu.
"Sa-saya sudah punya kekasih!" alasan Tami. Kekasihnya saja sudah meninggalkannya.
"Putuskan saja kekasihmu! Pria jelek itu tidak pantas bersanding denganmu!" ucap Dewa dengan tegas. Hanya dia pria seorang yang layak untuk wanita itu.
"Pak!" Tami berusaha melepas pegangan tangan Dewa. Makin lama ucapan pria itu makin aneh.
"Tami, saya serius dengan perkataan saya. Ayo, kita menikah!"
Sar... ser... Hati Tami mulai berdesir. Ucapan pria itu menghangatkan hatinya.
Tatapan keduanya saling bertemu. Saling menatap dengan pikiran masing-masing.
Wanita itu kembali mengkondisikan dirinya, di saat seperti ini malah terbuai. Bisa saja pria itu, pria buaya darat yang sedang mencari korban. Buktinya ucapannya saja begitu manis, seperti ada pabrik gula di mulutnya.
"Ta-tapi, Pak. Sa-sa-" masih mencoba untuk menolak.
Melihat sepertinya Tami akan menolaknya, membuat jiwa Dewa tidak terima. Ia pria tampan, mana boleh ditolak begini. Apa yang dia mau harus terwujud.
"Saya tidak menerima penolakan. Kamu harus menikah dengan saya!" putus Dewa. Ia sedikit memaksa.
"Saya tidak mau!" tolak Tami. Pria itu malah seenaknya saja.
"Harus mau!"
"Kenapa anda memaksa saya?" tanya Tami dengan nada kesal. Ia bilang tidak mau malah pria itu tetap memaksanya juga. Mana boleh begitu.
"Saya tidak memaksa. Menikah dengan saya itu keberuntungan." jelas Dewa. Tami, wanita beruntung yang dipilihnya.
Tami melihat Dewa dengan tatapan makin aneh.
"Saya tampan, mapan, juga baik hati dan tidak sombong."
Uhukk... Zol terbatuk mendengar perkataan atasannya itu yang membanggakan diri. Terlalu pede.
"Pak, tolong lepas saya!" ucap Tami. Tangannya masih dicekam pria itu. Tangan besar itu mudah saja menahan tangannya.
"Kalau kamu masih ragu dengan saya. Ayo, kita temui orang tua kamu. Saya akan meminta izin mereka untuk menikahimu." jelas Dewa dengan tegas dan penuh keyakinan. Ia pria tampan yang berkata serius. Tidak obral janji-janji manis apalagi penuh modus.
Apa yang dikatakannya, itu yang akan dilakukannya. Dewa akan bertanggung jawab dengan perkataannya.
Deg... deg... deg... Hati Tami pun makin berdebar-debar.
"Ayo, kita ke rumah kamu sekarang!" ucap Dewa lalu menggandeng tami keluar dari ruangannya itu.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Ari_nurin
🤣🤣🤣🤣🤣 sambil membayangkan suasana saat interview ini jd ngakak
2024-11-05
0
Sri
mending tipe kayak gini, gpl
serius langsung menghadap keluarga walaupun si tami gak punya keluarga.ngapain pacaran bertahun2 tapi gak ada komitmen utk mempertahankan
2024-10-23
0
Lanjar Lestari
Langsung 3 kata Ayo Kita Menikah benar2 serius dg ucapannya Dewa,sdh Tami terima saja g usah di tolak.bilang saja km sdh tdk punya orang tua.g usah bingun.
2024-05-05
1