Deringan ponsel membangunkan seorang pria yang sedang tidur. Ia melihat tangan wanita yang memeluknya. Dan dengan pelan-pelan menggeser tangan itu, agar tidak membangunkannya.
"Aldo, mau ke mana?" tanya wanita itu yang juga terbangun. Ia melihat Aldo duduk di tepian tempat tidur sambil memegang ponsel.
"Angkat telepon." jawabnya sambil melirik sekilas wanita itu.
"Siapa yang menelepon?" tanya Kitty yang sedikit curiga. Ada yang menelepon suaminya di tengah malam.
Kitty bangun dan duduk menempel pada Aldo.
"Om Dewa. Aku angkat telepon dulu!" ucap pria itu pun menjauh.
"Jawab di sini saja!" tahannya.
Aldo mengabaikan ucapan Kitty dan berjalan pergi. Di balkon ia menjawab panggilan tersebut.
"Iya, Om." jawabnya dengan suara serak.
"Do, hari ini aku mau menikah." jawab Dewa langsung.
"Menikah? Hari ini?" tanya Aldo bingung mendengar kabar mendadak begitu.
"Iya, aku akan menikah malam ini." jelas Dewa kembali.
"Kenapa mendadak, Om?" tanya Aldo.
"Karena aku tidak mau kehilangan dia lagi!"
"Apa Om akan menikahi Ila?" tanya Aldo. Itu mantan Dewa yang tidak bisa dilupakannya.
Dewa diam sesaat mendengar satu nama. Nama sang mantan. Sang mantan kekasih yang akan ia tunggu jandanya sampai kapanpun. Meski sampai rambutnya beruban.
Tapi, Dewa menatap wanita yang berencana akan dinikahinya malam ini. Wanita yang selama ini dimimpikannya.
"Tidak. Aku menikah dengan wanita lain!" tegas Dewa. Ia sudah yakin dengan Tami dan Ila hanya masa lalu. Meski dulu ia berucap akan tetap menunggu janda sang mantan, tapi hatinya kini berpaling. Lebih condong pada Tami.
"Siapa?" tanya Aldo. Penasaran siapa wanita yang bisa mengalihkan tatapan Omnya itu. Mengingat Dewa yang hanya melihat Ila seorang. Tidak pernah mau melihat wanita lain.
"Wanita yang aku cintai." jelas Dewa. "Kau datang ya jadi saksi. Akan ku share lokasi ijab kabulnya." ucap Dewa dengan sangat antusias.
"Maaf, Om. Aku lagi dinas di luar negeri. Minggu depan aku baru kembali." ucap Aldo. Ia sedang berada di negara lain.
"Oh, begitu." ucap Dewa sedikit kecewa.
"Apa Om digrebek ya?" tebak Aldo. Mendadak mengabarkan akan menikah, ada apa? Mulai mengira mungkin saja Om-nya digrebek warga karena melakukan perbuatan asusila.
"Jangan sembarangan bicara!" ucap Dewa sinis dituduh begitu. Ia ini pria tampan yang sangat baik. Tidak mau merusak wanita.
"Ya, sudahlah kalau kamu tidak bisa datang. Datanglah saat resepsinya saja." ucap Dewa. Tadi berharap Aldo bisa menjadi saksi dari keluarga intinya.
"Tunggu! Apa mama tahu Om akan menikah?" tanya Aldo ingin tahu.
"Belum. Aku akan mengabarinya! lanjutkan lah tidurmu!" ledek Dewa.
Aldo pun mendengus lalu tidak lama panggilan berakhir.
"Kenapa Om Dewa menelepon?" tanya Kitty saat melihat Aldo menutup pintu balkon. Omnya Aldo menelepon malam-malam begini.
"Dia akan menikah malam ini."
"Kenapa mendadak begitu? Apa dia dijebak? Apa kita akan pulang malam ini?" tanya Kitty bertubi-tubi.
"Tidurlah, ini sudah malam!" ucap Aldo. Ia naik ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya.
Kitty ikut berbaring dan menempel pada pria itu.
"Suamiku, kapan kita akan program punya anak?" tanya wanita itu. Sudah beberapa minggu menikah, Aldo selalu memakai pengaman saat berhubungan dengannya.
"Aku belum siap." jawab Aldo. Ia saja masih berusaha menerima Kitty. Bahkan saat berhubungan dengan Kitty, ia masih memikirkan Tami. Wanita yang dia campakkan begitu saja.
Tah apa kabarnya Tami sekarang?
"Tapi, Suamiku aku-"
"Aku ngantuk. Selamat malam." ucap Aldo mengakhiri pembahasan itu. Pria itu memunggungi wanita itu.
Kitty hanya dapat menghembuskan nafas pelan. Aldo belum bisa menerima dirinya sepenuhnya. Ia harus lebih berusaha merobohkan tembok tinggi itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Zol melirik pria yang dari tadi berkali-kali membuang nafas. Tidak pernah melihat atasannya gugup begitu.
Kini mereka berada di sebuah ruangan dengan beberapa orang di dalamnya. Tadi Zol mendapat perintah untuk mempersiapkan pernikahan. Ia tidak mengerti ternyata Dewa serius dengan perkataannya. Tah bagaimana pria itu meyakinkan wanita pelamar itu hingga mau menikah di hari ini juga.
Zol tahunya hari ini pertama kali kedua orang itu bertemu. Ia tidak tahu saja jika wanita pelamar itu yang dibilangnya wanita ghaib dalam mimpi atasannya.
Deg,
Hati Dewa berdebar saat melihat calon mempelai wanitanya keluar. Tami memakai kebaya putih dan didandani sangat cantik.
Pria itu begitu terpukau dengan penampilan Tami. Wanita cantik itu seakan bersinar.
'Apa aku sedang bermimpi?' batin Dewa menyadari keadaan.
"Zol." ucap Dewa pelan meminta asistennya itu mendekat.
"Ada apa, Pak?" tanya Zol menundukkan tubuhnya, agar sejajar dengan Dewa yang duduk.
"Coba kamu cubit saya!" pinta Dewa memastikan.
"Cubit?" Zol bingung. Dewa selalu meminta dicubit.
"Cepat, Zol!" desak Dewa kembali. Zol itu kebanyakan berpikir, tinggal turuti saja susah amat.
Zol pun kembali mencubit lengan Dewa. Dan,
"Akh!" ringis Dewa pelan. Zol mencubitnya dengan kuat. "Kamu punya dendam dengan saya?"
"Ma-maaf, Pak. Saya sudah pelan mencubit anda." Ucap Zol menundukkan kepala. Salah lagi dia kan.
"Pelan?" Dewa menatap Zol sinis. Katanya pelan saja begitu sakit. Bagaimana jika cubitan yang kuat, apa akan dilarikan ke rumah sakit?
"Silahkan calon mempelai wanita duduk di samping calon mempelai pria." ucap tuan kadi mempersilahkan.
Tami perlahan duduk di samping pria itu. Di kursi yang sudah disediakan untuknya. Matanya tidak lepas menatap pria yang juga terus melihat ke arahnya.
'Apa aku akan menikah dengannya?' batin Tami tidak percaya. Mereka baru bertemu tadi pagi dan malamnya menikah.
"Baiklah, akan kita mulai-"
"Tung-tunggu sebentar, Pak!" Sela Tami pada tuan Kadi. "Saya perlu bicara sebentar dengannya!"
"Ada apa lagi?" tanya Dewa saat Tami menariknya menjauh dari orang-orang itu.
"A-apa anda yakin menikah denganku?"
"Kamu tidak yakin padaku?"
Tami mengangguk dan itu membuat Dewa jadi geram. Cepat sekali menggangguknya.
"Pernikahan itu-, eh apa yang anda lakukan?" Jadi bingung tatkala Dewa malah berlutut.
"Izinkan aku bersamamu selamanya, Tami! Izinkan aku mencintaimu." Dewa berlutut sambil mengadahkan tangannya.
Wanita itu masih menatap pria itu. Tidak mengerti dengan perasaannya. Tapi dalam hatinya, ia ingin pria itu.
"Awas kalau anda membuatku kecewa!" ancam Tami. Ia akan percaya pria itu.
Dewa tersenyum saat Tami mengulurkan tangannya. Ia pun menggenggamnya.
"Ayo, kita menikah!"
Tami mengangguk dan mereka berjalan bergandengan tangan menghadap sang tuan kadi yang sudah menunggu.
"Bisa kita mulai."
Dewa dan Tami mengangguk mantap. Keduanya sudah yakin dan tidak ragu lagi.
Dan tak lama,
"SAHHH!"
Kata sakral itu pun menggema di ruangan kecil itu. Pernikahan telah terlaksana.
Dewa tersenyum menatap wanita di sampingnya. Begitu juga Tami, wajahnya kini terasa panas. Tatapan pria itu mulai meresahkan.
"Terima kasih, istriku." ucap Dewa dengan suara begitu lembut. Tidak lupa tatapannya yang mendalam. Sedalam samudera. Sangat dalam lah.
Istriku. Istriku katanya?
'Akhhh!' ronta Tami dalam hati, ia baper. Ucapan Dewa itu membuatnya meleleh.
Nyes,
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Sri
tinggal si rona tuh yg sombong masalahnya
2024-10-23
0
Lanjar Lestari
ahkirnya mau dan Sahhh jg jd istri Dewa oh jd Aldo g bs datang krn lg di luar negeri wah nanti kl pulang akan terkejut kl mantan kekasih yg di campahkan demi batu kerikil pilihan mamanya telah menikah dg Om nya sendiri.wkwkwkw selamat dan bahagia terus ya Dewa Tami seru lucu ng bikin ngakak sampai sakit perut🤣🤣🤣😍😍
2024-05-05
0
Rina Azzahra
lah dah dah aja si tami dah nikah wkkwkw tanpa undangan ya tami /Chuckle/
2024-02-11
1