"Saya mau bertemu Aldo." ucap Tami begitu sampai di resepsionis.
Hari ini Tami masih izin sakit, surat dokternya menganjurkan istirahat selama 3 hari. Karena hari ini sudah mendingan, ia pun pergi mencari Aldo.
"Aldo? Di divisi apa ya, mbak?" tanya resepsionis memastikan. Banyak karyawan yang bernama Aldo di perusahaan ini.
Tami menggeleng, ia tidak tahu secara rinci Aldo bekerja di mananya. Jadi menyesal saat itu tidak menanyakannya.
"Mbak, hubungin saja temannya dulu." saran Resepsionis melihat wajah bingung wanita itu.
Tami mengangguk dan menjauh dari meja resepsionis. Sungguh dia tidak tahu apapun tentang pria itu. Ditelepon pun, sudah tidak terhubung lagi.
Mulai mengingat-ingat siapa yang mau ditanyanya tentang Aldo. Tapi tidak ada seorang pun. Aldo tidak pernah mengenalkannya pada siapapun. Bahkan teman-temannya Aldo, Tami juga tidak tahu.
Kini Tami seperti mencari alamat palsu. Mencari pria yang mendadak hilang dari peredaran.
'Mas Aldo, kenapa kamu jahat sih?' batin Tami sedih sekali. Pria itu begitu kejam padanya.
Kini Tami berada di sebuah taman. Ia duduk sambil melipat tangan di dada. Menatap ke arah depan dengan air mata berlinang.
Tami meratapi kisah cintanya yang sudah kandas di tengah jalan.
Kini ia kembali meraih ponsel dan menghubungi Aldo dan tetap saja tidak terhubung juga.
Tami mengusap air matanya dan berjalan ke arah penjual minuman. Ia meminjam ponsel penjual tersebut.
"Halo,"
"Mas Aldo." ucap Tami begitu panggilan terhubung. Hatinya senang mendengar suara pria itu.
Aldo kaget dan melihat nomor itu bukan nomor Tami. Mantannya menghubunginya dengan nomor yang lain.
"Mas Aldo, kita perlu bicara!" ucap Tami. Mereka harus bicara dengan kepala dingin. Hubungan mereka tidak bisa berakhir begitu saja.
Aldo membuang nafasnya berkali-kali. Baru mulai melupakan Tami, malah kembali mengingatnya. Mana suara wanita itu membuatnya berdesir.
"Tidak ada yang perlu kita dibicarakan!" tegas Aldo. Ia tidak bisa bersama Tami, maka harus dituntaskan segera. Ia tidak bisa memberikan kejelasan dan masa depan pada wanita itu.
"Mas, kita-"
"Tami!" Sela Aldo, ia tidak ingin Tami bicara. Pasti wanita itu akan menangis dan memohon. Pria itu takut goyah dan bagaimana nanti ancaman mamanya menjadi kenyataan. Akan menyulitkannya.
"Aku akan menikah minggu ini. Calon istriku sudah hamil!" ucap Aldo sedikit berbohong.
Aldo sengaja mengatakan itu, agar Tami tidak mencoba menghubunginya lagi. Ia ingin lepas dari bayangan-bayangnya dan meneruskan hidup. Menerima dengan ikhlas kehidupan ini.
"Mas!" Tami terkejut dan bingung jadinya. Aldo menghamili wanita lain.
"Aku harus bertanggung jawab padanya. Ku harap kamu mengerti. Tolong jangan menganggu hidupku lagi!"
Tut... Panggilan berakhir.
Tami pun menangis. Menangis pelan dan mulai terisak-isak. Aldo begitu jahat padanya.
"Mbak," panggil penjual minuman yang bingung. Wanita itu malah menangis.
Tami meraih dompetnya dan mengambil uang selembar. Lalu mengembalikan ponsel beserta memberikan uang. Sebagai ucapan terima kasih pada penjual minuman tersebut.
"Te-terima kasih, Bang." ucap Tami dengan terisak.
Niatnya tadi mau mempertahankan hubungan. Tapi malah mendapat alasan yang membuatnya merasa sesak.
Jika Aldo tidak bertanggung jawab, wanita itu akan hamil tanpa suami. Dan kasihan anak yang tidak berdosa itu. Tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.
Tami tahu sakitnya tidak memiliki orang tua dan ia tidak mau anak itu bernasib seperti dirinya. Wanita itu tidak boleh egois. Harus berusaha ikhlas.
Tami pun melangkah pergi dan meninggalkan taman. Akan pulang dan rebahan segera. Kepalanya mendadak pusing.
'Entahlah!'
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
'Apa aku beli konn-dom ya?' batin Dewa sambil mengintari kamarnya, mondar-mandir seperti setrikaan.
Hari sudah malam, ia akan tidur dan akan memimpikan wanita itu.
Bagaimana nanti jika kelanjutan mimpinya, mereka melakukan adegan panas itu? Apa ia akan pakai pengaman atau tembak di dalam saja? Terus kalau wanita itu sampai hamil bagaimana?
Aduh, Dewa mendadak pusing dan bingung jadinya. Ia yakin sekali, kali ini pasti kelanjutan mimpinya mereka berdua akan memadu kasih. Menikmati malam panas bergairah.
Walau tahu itu mimpi, pria itu mulai deg-deg an. Ia akan menggagahi seorang wanita. Wanita itu akan berteriak manja dalam kuasanya.
'Tapi tidak apa kalau dia hamil. Aku akan bertanggung jawab dalam mimpi.' batin Dewa dengan senyum melebar. Ia pria tampan yang sehat, sudah pasti sekali melakukan wanita itu akan hamil. Benihnya sangat tokcer dan kualitas unggul. Bukan kaleng-kaleng lah.
"Kalau nanti dia hamil, aku harus menikahinya. Aku juga harus jadi suami siaga selama kehamilannya. Nanti dia akan melahirkan anakku. Pasti sama tampannya sepertiku. Lalu kami akan program anak ke dua, ke tiga dan seterusnya.." Dewa senyum-senyum membayangkan kehidupan berumah tangga dalam mimpinya itu.
"Dewa, lupakanlah aku!" ucap seorang wanita.
"Aku tidak akan melupakanmu! Meski kamu sekarang menikah dengannya, aku akan tetap menunggumu! Aku akan menunggu jandamu, Ila!" tegas. Dewa penuh keseriusan.
"Kenapa aku menikahi wanita dalam mimpi itu? Akukan masih menunggu jandanya Ila." gumam Dewa tampak berpikir. Ia belum bisa melupakan sang mantan.
Meski mereka tidak pernah bertemu atau berkomunikasi lagi selama 2 tahun ini, tapi Dewa tetap menunggunya. Karena hati pria itu hanya pada Ila, tidak bisa berpindah ke lain hati. Hatinya sudah digembok dan kuncinya dibuang ke laut.
"Aku kan menikahi wanita itu dalam mimpi. Dan di kenyataannya aku akan tetap menunggu Ila selamanya."
Sepertinya pria itu akan memiliki dua kehidupan. Kehidupan nyata dan kehidupan dalam mimpinya. Ia juga akan memiliki 2 wanita. Wanita nyata dan tidak nyata. Ila dan wanita yang tidak tahu siapa namanya itu.
"Sudah jam 10 malam ternyata. Aku harus tidur." ucap Dewa sambil membaringkan diri di tempat tidur.
Perlahan ia menarik selimut dan memejamkan matanya. Jangan lupakan wajahnya yang terus tersenyum. Malam ini ia akan mimpi enak. Melakukan hal panas dengan wanita itu.
Deringan ponsel membangunkannya. Dengan mata yang sedikit terbuka, ia mencari ponsel di sekitar tempat tidurnya.
"Hah," jawab Dewa dengan suara seraknya.
"Selamat pagi, Pak Dewa."
"Apa, Zol?" tanyanya.
"Anda sudah di mana? Hari ini jam 9, ada pertemuan dengan klien di luar kantor, Pak." Ucap Zol memberitahu dari seberang sana.
"Jam berapa sekarang?" tanya Dewa, matanya masih sulit terbuka sempurna.
"Setengah 9, Pak."
"Ya, sudah. Kamu share lokasinya. Saya akan segera ke sana." jawab Dewa lalu menutup panggilan.
Dewa memaksa membuka matanya lalu diam sesaat. Sejenak mengumpulkan nyawanya sambil berpikir. Seperti ada yang hal yang mengganjal. Tapi apa?
Pria itu mulai mengingat sesuatu.
'Kenapa aku tidak memimpikan wanita itu?'
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
krn g baca dia sebekum tidur Wa makanya g mimpi lg😍😂😂
2024-05-05
0