Bab 14 - Terus Memaksa

"Pak, lepaskan saya!" Tami masih berusaha melepaskan pegangan tangan pria itu. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa bertemu pria aneh itu. Mimpi apa dia semalam.

"Saya tidak akan melepaskan kamu lagi!" tegas Dewa. Ia sudah kehilangan wanita itu sekali. Meski hilang dalam mimpi, tapi terasa juga sakitnya. Bahkan berhari-hari begitu merindukan sosok itu.

Dewa bahkan sudah dianggap aneh, karena memerintahkan Zol mencari wanita dalam mimpinya. Karena ia ingin sekali bertemu wanita itu lagi.

Para karyawan yang berpapasan dengan mereka tampak bingung. Bos besar mereka menggandeng wanita yang berpakaian hitam putih. Sepertinya pelamar kerja.

"Keluar!" pinta Dewa saat lift terbuka. Orang-orang di dalam pada berkeluaran dan ia menggandeng Tami masuk. Pria itu hanya ingin berduaan dengan wanita itu.

"Pak, anda mau apa dengan saya?" tanya Tami saat mereka sudah berada di dalam lift.

"Sudah berkali-kali saya katakan. Saya mau menikahimu. Kenapa kamu terus menerus bertanya, Tami." ucap Dewa dengan santai. Jangan lupakan tangan yang tadinya menggandeng pergelangan tangan Tami, kini mulai turun dan menyatukan jemarinya.

"Sa-saya rasa a-ada kesalahpahaman di sini!" ucap Tami masih dengan kebingungannya. Pria itu yakin sekali mau menikah dengannya.

"Tidak ada kesalahpahaman, sayang." ucap Dewa.

"Sa-sa-sayang?" Tami makin shock, kini malah memanggilnya sayang. Sayang apaan!

"Pak, anda tidak bisa memaksakan keinginan anda! Menikah itu dua orang yang harus sama-sama saling setuju, bukan seperti ini!" ucap Tami. Dewa mengambil keputusan sendiri.

"Ya, kamu tinggal setuju saja. Gitu saja kok repot sih!" ucap Dewa santai. Kini wajahnya menunjukkan senyuman yang menurut Tami sangat menyebalkan.

Menahan emosi yang sudah diubun-ubun, Tami menghembuskan nafasnya hingga mengenai poni rambutnya.

"Pak, apa anda sudah gila?" tanya Tami memelankan suaranya. Mungkin saja pria itu pasien rumah sakit jiwa yang kabur.

"Iya, saya gila-" Dewa menjeda ucapannya dan menatap ke arah Tami.

Kan, bulu kuduk Tami merinding mendengarnya.

"Tergila-gila sama kamu." Sambung Dewa sambil tertawa puas.

Hari ini Dewa merasa sangat senang dan bahagia. Bertemu dengan wanita dalam mimpinya, bahkan kini wanita itu bisa berdebat dengannya. Tidak seperti dalam mimpinya, hanya diam menunjukkan ekspresi saja.

Dewa tetap menggandeng Tami saat keluar lift. Terus menggandengnya menuju mobil yang terparkir. Hari ini juga ia akan menemui keluarga Tami untuk meminta restu dan menikahi wanita itu segera. Segera dan secepatnya.

"Pak, lepaskan saya! Anda mau menggandeng saya ke mana?" Tami terus digandengnya. Pria itu tidak melepaskan tangannya.

"Saya mau menggandeng kamu sampai pelaminan." bisik Dewa lalu meniup telinga Tami.

Wajah Tami jadi merah padam. Pria itu berani sekali menggoda dirinya.

Tami menahan tangan dan langkah kakinya, membuat Dewa jadi berhenti dan melihat wanita itu.

"Pak, tidak bisa seperti ini. Ini salah!" jelas Tami.

"Salah? Saya mau menikah denganmu, Tami. Kalau saya per-ko-sa kamu, baru itu salah!" jawab Dewa. Ia berniat baik malah dibilang salah. Memang benarlah ungkapan yang mengatakan pria itu selalu salah di mata wanita.

"Saya tidak bisa menikah dengan anda!" ucap Tami dengan nafas terengah. Rasanya seperti baru berlari mengelilingi lapangan. Letih sekali dibuat pria pemaksa itu.

"Saya tidak menerima penolakan! Kita akan menikah, lalu biarkan perasaan tumbuh nantinya. Yang terpenting komitmen. Hati, pikiran, fisik, jiwa dan raga kamu hanya perlu fokus pada saya. Begitu pun sebaliknya!" jelas Dewa meyakinkan. Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya, asalkan mau menerima dan tidak memikirkan yang lain.

"Jika kamu belum bisa mencintai saya, biar saya saja yang mencurahkan cinta dan kasih sayang saya. Kamu hanya perlu menerimanya saja!"

Sumpah, hati Tami berdebar terus tidak menentu. Ucapan pria itu sangat meyakinkan sekali. Dan anehnya ia malah terbuai. Meleleh-leleh hatinya sudah.

"Pak, itu apa kok ada bagi-bagi sembako?" tanya Tami sambil menunjuk ke arah depan. Ia harus mengalihkan tatapan pria itu darinya.

Begitu Dewa melihat arah yang ditunjuknya, Tami menghempas tangannya. Begitu terlepas wanita itu langsung berlari kabur.

Menyadari itu, Dewa pun mengejar wanita itu. Mana ada bagi-bagi sembako di perusahaannya, wanita itu mengerjainya agar bisa kabur.

Tami mempercepat larinya melihat pria itu terus mengejarnya. Ia jadi takut, pria itu sepertinya terlalu terobsesi padanya.

"Sayang, tunggu! Kamu jangan lari, nanti jatuh!" Dewa khawatir, Tami larinya tidak fokus. Kebanyakan melihat ke belakang, kalau jatuh bagaimana,

Bruk... Baru dibilang, wanita itu terjatuh sudah.

"Aduh!" ringis Tami. Memegangi lututnya yang terantuk lantai. Lututnya terluka.

"Kamu kenapa lari-lari?" ucap Dewa seraya membersihkan lutut Tami.

"Ayo, kita ke rumah sakit!" ucap Dewa segera. Bisa saja lutut wanitanya retak atau apalah. Harus segera ditangani Dokter.

"Pak-" melas Tami.

"Sudah, diamlah!" ucap Dewa. Ia menggendong wanita itu dan setengah berlari membawanya ke tempat mobilnya terparkir.

Tami terdiam sesaat. Ia melihat pria yang berwajah khawatir itu dengan dahinya yang berkeringat.

Sampai di mobil, Dewa meletakkan Tami di kursi dan tidak lupa memasang sabuk pengamannya.

"Pak." ucap Tami menatap pria itu. Perasaannya aneh diperlakukan begini.

Setelah memasang sabuk pengaman, pria itu juga menatap Tami.

Kini keduanya saling bertatapan kembali.

"Anda berkeringat!" Tami pun mengusap keringat di dahi Dewa dengan jarinya. Ia mengalihkan tatap-tatapan mereka yang bikin baper.

Dan,

"Umm, Pak." Tami berusaha menahan wajah Dewa yang sudah menciumnya.

Tapi Dewa mulai menahan tengkuk wanita itu dan kembali melanjutkan meresap rasa manis dari benda kenyal kemerahan itu.

Tangan Tami memukuli pria itu yang menciumnya dengan paksa.

Dewa memaksa menciumi wanita itu. Ciumannya yang semula ngebut kini mulai lembut. Tidak ada tangan yang memukulinya lagi. Tangan wanita itu kini mengalung di lehernya.

Sejenak keduanya saling berpagutan meresap dan berbagi rasa, dengan suara debaran sebagai musik pengiring.

"Tami, aku mencintaimu." ungkap Dewa melepas pagutannya. Hatinya kembali berdebar dibuat wanita itu.

Dewa melihat bibir membengkak itu. Hasil perbuatannya. Ia pun tersenyum tipis.

Mata Tami menatap pria itu. Pria yang dari tadi terus membuat hatinya berdebar tidak menentu. Mereka baru saja bertemu, tapi pria itu terus mengganggu kinerja otaknya. Jadi tidak bisa berpikir jernih. Ada yang salah dengan dirinya.

"Tami, ayo... kita menikah!" ajak Dewa kembali. Kali ini mengatakannya dengan suara lembut. Dan tatapan yang begitu menginginkan wanita itu.

Tami bingung jadinya. Ia ingin menolak. Tapi hatinya berdebar karena Dewa. Dan tadi saat ciuman, awalnya ia menolak dan kenapa di akhir jadi membalas juga. Rasanya tubuhnya tidak bisa diatur.

Dan kini tanpa sadar kepala Tami pun mengangguk pelan.

"Kamu setuju?" Dewa senyum melihat anggukan itu. Tami mau menikah dengannya.

"Hah, se-setuju apa?"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

langung main sosor aja Wa, main cium2 tanpa aba2 tp mau jg tam langsung balas ja yo Otw nikah

2024-05-05

0

Halim Sya'diyah

Halim Sya'diyah

ayo2 ditunggu ap nya thorrr

2024-02-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Harapan
2 Bab 2 - Mimpi
3 Bab 3 - Maafkan Aku
4 Bab 4 - Sakit
5 Bab 5 - Kenangan
6 Bab 6 - Mimpi Lagi
7 Bab 7 - Kecewa
8 Bab 8 - Hari Berlalu
9 Bab 9 - Hari Sial
10 Bab 10 - Gendeng
11 Bab 11 - Deg
12 Bab 12 - Kamu Mau?
13 Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14 Bab 14 - Terus Memaksa
15 Bab 15 - Malam Ini
16 Bab 16 - Istriku
17 Bab 17 - Suami Sendiri
18 Bab 18 - Ini Nyata
19 Bab 19 - Transfer
20 Bab 20 - Suka Kamu
21 Bab 21 - Demi Kamu
22 Bab 22 - Boleh Cium?
23 Bab 23 - Mak Tami
24 Bab 24 - Mas Dewa
25 Bab 25 - 3 Hari
26 Bab 26 - Ikut Aku
27 Bab 27 - Tante
28 Bab 28 -Jangan Memaksa
29 Bab 29 - Menginginkanmu
30 Bab 30 - Penghangat Ranjang
31 Bab 31 - Ke Rumah Rona
32 Bab 32 - Ceraikan Dia
33 Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34 Bab 34 - Pikiran Aldo
35 Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36 Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37 Bab 37 - Kejujuran
38 Bab 38 - Tidak Terima
39 Bab 39 - Penuh Cinta
40 Bab 40 - Php
41 Bab 41 - Tolong
42 Bab 42 - Kerasukan
43 Bab 43 - Hati-hati
44 Bab 44 - Sudah Terukir
45 Bab 45 - Pingit
46 Bab 46 - Hari Bahagia
47 Bab 47 - Berlayar
48 Bab 48 - Bulan Madu
49 Bab 49 - Percaya Kamu
50 Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51 Bab 51 - Penjelasan
52 Bab 52 - Sudah Pergi
53 Bab 53 - Semakin Dekat
54 Bab 54 - Adik Sepupu
55 Bab 55 - Begitu Manis
56 Bab 56 - Apapun Itu
57 Bab 57 - Gelap Mata
58 Bab 58 - Salah Target
59 Bab 59 - Menyesal
60 Bab 60 - Sudah Sadar
61 Bab 61 - Berusaha Tegar
62 Bab 62 - Mulai Stres
63 Bab 63 - Butuh Waktu
64 Bab 64 - Galau Sendiri
65 Bab 65 - Rasa Bersalah
66 Bab 66 - Aku Mencintaimu
67 Bab 67 - Penjelasan Dewa
68 Bab 68 - Aku Mau Pulang
69 Bab 69 - Bertemu
70 Bab 70 - Akhirnya
71 Promo
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 - Harapan
2
Bab 2 - Mimpi
3
Bab 3 - Maafkan Aku
4
Bab 4 - Sakit
5
Bab 5 - Kenangan
6
Bab 6 - Mimpi Lagi
7
Bab 7 - Kecewa
8
Bab 8 - Hari Berlalu
9
Bab 9 - Hari Sial
10
Bab 10 - Gendeng
11
Bab 11 - Deg
12
Bab 12 - Kamu Mau?
13
Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14
Bab 14 - Terus Memaksa
15
Bab 15 - Malam Ini
16
Bab 16 - Istriku
17
Bab 17 - Suami Sendiri
18
Bab 18 - Ini Nyata
19
Bab 19 - Transfer
20
Bab 20 - Suka Kamu
21
Bab 21 - Demi Kamu
22
Bab 22 - Boleh Cium?
23
Bab 23 - Mak Tami
24
Bab 24 - Mas Dewa
25
Bab 25 - 3 Hari
26
Bab 26 - Ikut Aku
27
Bab 27 - Tante
28
Bab 28 -Jangan Memaksa
29
Bab 29 - Menginginkanmu
30
Bab 30 - Penghangat Ranjang
31
Bab 31 - Ke Rumah Rona
32
Bab 32 - Ceraikan Dia
33
Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34
Bab 34 - Pikiran Aldo
35
Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36
Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37
Bab 37 - Kejujuran
38
Bab 38 - Tidak Terima
39
Bab 39 - Penuh Cinta
40
Bab 40 - Php
41
Bab 41 - Tolong
42
Bab 42 - Kerasukan
43
Bab 43 - Hati-hati
44
Bab 44 - Sudah Terukir
45
Bab 45 - Pingit
46
Bab 46 - Hari Bahagia
47
Bab 47 - Berlayar
48
Bab 48 - Bulan Madu
49
Bab 49 - Percaya Kamu
50
Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51
Bab 51 - Penjelasan
52
Bab 52 - Sudah Pergi
53
Bab 53 - Semakin Dekat
54
Bab 54 - Adik Sepupu
55
Bab 55 - Begitu Manis
56
Bab 56 - Apapun Itu
57
Bab 57 - Gelap Mata
58
Bab 58 - Salah Target
59
Bab 59 - Menyesal
60
Bab 60 - Sudah Sadar
61
Bab 61 - Berusaha Tegar
62
Bab 62 - Mulai Stres
63
Bab 63 - Butuh Waktu
64
Bab 64 - Galau Sendiri
65
Bab 65 - Rasa Bersalah
66
Bab 66 - Aku Mencintaimu
67
Bab 67 - Penjelasan Dewa
68
Bab 68 - Aku Mau Pulang
69
Bab 69 - Bertemu
70
Bab 70 - Akhirnya
71
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!