"Pak, lepaskan saya!" Tami masih berusaha melepaskan pegangan tangan pria itu. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa bertemu pria aneh itu. Mimpi apa dia semalam.
"Saya tidak akan melepaskan kamu lagi!" tegas Dewa. Ia sudah kehilangan wanita itu sekali. Meski hilang dalam mimpi, tapi terasa juga sakitnya. Bahkan berhari-hari begitu merindukan sosok itu.
Dewa bahkan sudah dianggap aneh, karena memerintahkan Zol mencari wanita dalam mimpinya. Karena ia ingin sekali bertemu wanita itu lagi.
Para karyawan yang berpapasan dengan mereka tampak bingung. Bos besar mereka menggandeng wanita yang berpakaian hitam putih. Sepertinya pelamar kerja.
"Keluar!" pinta Dewa saat lift terbuka. Orang-orang di dalam pada berkeluaran dan ia menggandeng Tami masuk. Pria itu hanya ingin berduaan dengan wanita itu.
"Pak, anda mau apa dengan saya?" tanya Tami saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Sudah berkali-kali saya katakan. Saya mau menikahimu. Kenapa kamu terus menerus bertanya, Tami." ucap Dewa dengan santai. Jangan lupakan tangan yang tadinya menggandeng pergelangan tangan Tami, kini mulai turun dan menyatukan jemarinya.
"Sa-saya rasa a-ada kesalahpahaman di sini!" ucap Tami masih dengan kebingungannya. Pria itu yakin sekali mau menikah dengannya.
"Tidak ada kesalahpahaman, sayang." ucap Dewa.
"Sa-sa-sayang?" Tami makin shock, kini malah memanggilnya sayang. Sayang apaan!
"Pak, anda tidak bisa memaksakan keinginan anda! Menikah itu dua orang yang harus sama-sama saling setuju, bukan seperti ini!" ucap Tami. Dewa mengambil keputusan sendiri.
"Ya, kamu tinggal setuju saja. Gitu saja kok repot sih!" ucap Dewa santai. Kini wajahnya menunjukkan senyuman yang menurut Tami sangat menyebalkan.
Menahan emosi yang sudah diubun-ubun, Tami menghembuskan nafasnya hingga mengenai poni rambutnya.
"Pak, apa anda sudah gila?" tanya Tami memelankan suaranya. Mungkin saja pria itu pasien rumah sakit jiwa yang kabur.
"Iya, saya gila-" Dewa menjeda ucapannya dan menatap ke arah Tami.
Kan, bulu kuduk Tami merinding mendengarnya.
"Tergila-gila sama kamu." Sambung Dewa sambil tertawa puas.
Hari ini Dewa merasa sangat senang dan bahagia. Bertemu dengan wanita dalam mimpinya, bahkan kini wanita itu bisa berdebat dengannya. Tidak seperti dalam mimpinya, hanya diam menunjukkan ekspresi saja.
Dewa tetap menggandeng Tami saat keluar lift. Terus menggandengnya menuju mobil yang terparkir. Hari ini juga ia akan menemui keluarga Tami untuk meminta restu dan menikahi wanita itu segera. Segera dan secepatnya.
"Pak, lepaskan saya! Anda mau menggandeng saya ke mana?" Tami terus digandengnya. Pria itu tidak melepaskan tangannya.
"Saya mau menggandeng kamu sampai pelaminan." bisik Dewa lalu meniup telinga Tami.
Wajah Tami jadi merah padam. Pria itu berani sekali menggoda dirinya.
Tami menahan tangan dan langkah kakinya, membuat Dewa jadi berhenti dan melihat wanita itu.
"Pak, tidak bisa seperti ini. Ini salah!" jelas Tami.
"Salah? Saya mau menikah denganmu, Tami. Kalau saya per-ko-sa kamu, baru itu salah!" jawab Dewa. Ia berniat baik malah dibilang salah. Memang benarlah ungkapan yang mengatakan pria itu selalu salah di mata wanita.
"Saya tidak bisa menikah dengan anda!" ucap Tami dengan nafas terengah. Rasanya seperti baru berlari mengelilingi lapangan. Letih sekali dibuat pria pemaksa itu.
"Saya tidak menerima penolakan! Kita akan menikah, lalu biarkan perasaan tumbuh nantinya. Yang terpenting komitmen. Hati, pikiran, fisik, jiwa dan raga kamu hanya perlu fokus pada saya. Begitu pun sebaliknya!" jelas Dewa meyakinkan. Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya, asalkan mau menerima dan tidak memikirkan yang lain.
"Jika kamu belum bisa mencintai saya, biar saya saja yang mencurahkan cinta dan kasih sayang saya. Kamu hanya perlu menerimanya saja!"
Sumpah, hati Tami berdebar terus tidak menentu. Ucapan pria itu sangat meyakinkan sekali. Dan anehnya ia malah terbuai. Meleleh-leleh hatinya sudah.
"Pak, itu apa kok ada bagi-bagi sembako?" tanya Tami sambil menunjuk ke arah depan. Ia harus mengalihkan tatapan pria itu darinya.
Begitu Dewa melihat arah yang ditunjuknya, Tami menghempas tangannya. Begitu terlepas wanita itu langsung berlari kabur.
Menyadari itu, Dewa pun mengejar wanita itu. Mana ada bagi-bagi sembako di perusahaannya, wanita itu mengerjainya agar bisa kabur.
Tami mempercepat larinya melihat pria itu terus mengejarnya. Ia jadi takut, pria itu sepertinya terlalu terobsesi padanya.
"Sayang, tunggu! Kamu jangan lari, nanti jatuh!" Dewa khawatir, Tami larinya tidak fokus. Kebanyakan melihat ke belakang, kalau jatuh bagaimana,
Bruk... Baru dibilang, wanita itu terjatuh sudah.
"Aduh!" ringis Tami. Memegangi lututnya yang terantuk lantai. Lututnya terluka.
"Kamu kenapa lari-lari?" ucap Dewa seraya membersihkan lutut Tami.
"Ayo, kita ke rumah sakit!" ucap Dewa segera. Bisa saja lutut wanitanya retak atau apalah. Harus segera ditangani Dokter.
"Pak-" melas Tami.
"Sudah, diamlah!" ucap Dewa. Ia menggendong wanita itu dan setengah berlari membawanya ke tempat mobilnya terparkir.
Tami terdiam sesaat. Ia melihat pria yang berwajah khawatir itu dengan dahinya yang berkeringat.
Sampai di mobil, Dewa meletakkan Tami di kursi dan tidak lupa memasang sabuk pengamannya.
"Pak." ucap Tami menatap pria itu. Perasaannya aneh diperlakukan begini.
Setelah memasang sabuk pengaman, pria itu juga menatap Tami.
Kini keduanya saling bertatapan kembali.
"Anda berkeringat!" Tami pun mengusap keringat di dahi Dewa dengan jarinya. Ia mengalihkan tatap-tatapan mereka yang bikin baper.
Dan,
"Umm, Pak." Tami berusaha menahan wajah Dewa yang sudah menciumnya.
Tapi Dewa mulai menahan tengkuk wanita itu dan kembali melanjutkan meresap rasa manis dari benda kenyal kemerahan itu.
Tangan Tami memukuli pria itu yang menciumnya dengan paksa.
Dewa memaksa menciumi wanita itu. Ciumannya yang semula ngebut kini mulai lembut. Tidak ada tangan yang memukulinya lagi. Tangan wanita itu kini mengalung di lehernya.
Sejenak keduanya saling berpagutan meresap dan berbagi rasa, dengan suara debaran sebagai musik pengiring.
"Tami, aku mencintaimu." ungkap Dewa melepas pagutannya. Hatinya kembali berdebar dibuat wanita itu.
Dewa melihat bibir membengkak itu. Hasil perbuatannya. Ia pun tersenyum tipis.
Mata Tami menatap pria itu. Pria yang dari tadi terus membuat hatinya berdebar tidak menentu. Mereka baru saja bertemu, tapi pria itu terus mengganggu kinerja otaknya. Jadi tidak bisa berpikir jernih. Ada yang salah dengan dirinya.
"Tami, ayo... kita menikah!" ajak Dewa kembali. Kali ini mengatakannya dengan suara lembut. Dan tatapan yang begitu menginginkan wanita itu.
Tami bingung jadinya. Ia ingin menolak. Tapi hatinya berdebar karena Dewa. Dan tadi saat ciuman, awalnya ia menolak dan kenapa di akhir jadi membalas juga. Rasanya tubuhnya tidak bisa diatur.
Dan kini tanpa sadar kepala Tami pun mengangguk pelan.
"Kamu setuju?" Dewa senyum melihat anggukan itu. Tami mau menikah dengannya.
"Hah, se-setuju apa?"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
langung main sosor aja Wa, main cium2 tanpa aba2 tp mau jg tam langsung balas ja yo Otw nikah
2024-05-05
0
Halim Sya'diyah
ayo2 ditunggu ap nya thorrr
2024-02-09
1