"Pak, ini berkasnya dan ini pakaian yang anda minta." ucap Zol memberikan amplop coklat dan juga koper pada Dewa. Ia memberikannya di depan pintu.
Dewa menerima amplop itu dan membukanya. Seketika wajahnya tersenyum melihat isi di dalamnya.
"Kamu boleh pergi." ucap Dewa. Urusan sudah selesai, pria itu akan menutup pintu.
"Oh iya, Zol. Saya akan cuti seminggu." ucap Dewa memberitahukan. Setelah melihat anggukan Zol, ia pun menutup pintu.
'Kenapa pak Dewa mudah sekali menikah?!' batin Zol. Ia saja setiap pacaran selalu kandas di tengah jalan.
Dewa berjalan menghampiri Tami yang sedang membereskan meja makan.
"Sayang, ada yang mau aku tunjukkan sama kamu."
Tami menoleh dan mengisyaratkan dengan matanya seolah mengatakan apa itu?
"Kita lihat sambil duduk." Ajak Dewa meraih tangan Tami.
"Pak, tunggu dulu! Aku mau cuci piring!" tahan Tami. Ia tidak bisa setengah-setengah mengerjakannya.
"Nanti saja." ucap Dewa. Cucian piring bukannya banyak. Hanya piring, gelas dan sendok. Nanti-nanti bisa dikerjakan.
"Tidak bisa!" ucap Tami. Ia bersikeras melakukannya. Kalau kerjaan sudah ditinggal, malas lagi untuk melakukannya.
Dewa pun menurut saja. Wanita itu sedikit keras kepala.
"Memang mau bilang apa? Katakan saja!" ucap Tami sambil menyabuni piring dan gelas.
"Nanti saja. Aku akan membantumu dulu." ucap Dewa. Kini ia meraih piring yang sudah disabuni Tami dan membilasnya.
"Biar aku saja, Pak!" tolak Tami. Dewa malah ikut-ikutan.
"Biar cepat!"
Tak lama mereka sudah duduk di ruang nonton. Dewa menyerahkan amplop coklat pada Tami.
"Apa ini, Pak?" tanyanya seraya menerima amplop tersebut.
"Kamu buka baru tahu."
"Apa ini mungkin kontrak pernikahan?" tebak Tami. Mungkin saja Dewa berubah pikiran.
"Tidak ada kontrak-kontrak dalam pernikahan kita! Aku tidak mau mempermainkan pernikahan, Tami! Sudah kamu buka saja, dari pada kamu terus berpikiran yang aneh-aneh!" ucap Dewa sambil mengisyaratkan dengan matanya buka saja jangan banyak cerita.
"Aku buka ini ya?" Tami memastikan kembali.
Dewa mengangguk dan Tami pun meraih isi di dalam amplop tersebut.
Deg deg ser...
Isi dalam amplop dua buah buku. Buku nikah.
"I-ini?" Kembali Tami berdebar-debar. Ia memiliki buku nikah.
"Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita. Yang ini punyaku yang ini punya kamu." ucap Dewa menunjukkan kedua buku itu.
Tami terdiam menatap buku itu, lalu menatap sang suami. Sempat mengira Dewa menikahinya secara siri jadi tidak tercantum dalam negara. Tapi, ternyata dugaannya salah. Pernikahan mereka sah secara hukum dan agama.
"Oh iya, lihat ini juga! Ini kartu keluarga kita. Aku kepala genknya dan kamu wakilnya!" ucap Dewa sambil tersenyum lebar.
Tami mencibir, kepala genk apaan? Dewa lebay.
Di kartu keluarga itu ada 2 nama. Nama Dewa sebagai kepala keluarga dan di bawahnya ada namanya. Keterangan di sana, ibu rumah tangga.
Entahlah, ada perasaan terharu menghinggapinya. Tami pernah mengkhayalkan memiliki ini saat menjalin kasih dengan Aldo. Tapi, malah yang mewujudkan keinginannya pria asing yang mendadak muncul dan mengalihkan semuanya.
"Nanti kotak-kotak kosong ini, nama anak-anak kita. Kita buat anak 5 ya."
Uhuk... Uhuk... Tami tersedak dengan perkataan Dewa. Ia saja masih kaget dengan semua ini. Kini malah membahas anak. Anaknya 5 pula itu. Pria itu pandai sekali mendebarkan hati dan perasaannya.
"Kamu tidak apa?" Dewa tampak khawatir, ia mengelus leher istrinya itu. Pasti kaget karena ucapannya.
Tapi Dewa merasa apa yang diucapkannya benar. Dalam pernikahan memiliki anak adalah hal yang wajar. 5 orang rasanya cukup untuk mereka.
Tami menjauhkan tangan Dewa. Sudah hatinya tidak karuan, sentuhan tangan pria itu membuat tubuhnya meremang. Pagi ini dia sudah mendapat banyak cobaan.
"Aku tidak apa, Pak. Ini apa?" tanya Tami mengalihkan pembicaraan. Ia menunjuk koper itu.
"Pakaian kamu. Aku meminta Zol menyiapkan beberapa pakaian untukmu." jawab Dewa meraih dan membukanya agar Tami dapat melihat.
"Zol?" tanya Tami. Siapa itu.
"Dia asistenku. Semalam yang membantu pernikahan kita" jelas Dewa.
Tami tercengang sesaat dan menormalkan wajahnya kembali. Pria itu punya asisten, apa pekerjaan suaminya ini?
Dengan mengabaikan tanda tanya besar di kepalanya, tapi melihat beberapa pakaian dalam koper itu. Mata Tami menatap serius ke arah brandnya.
'Pasti kw!' yakin Tami. Tidak mungkin ini semua asli. Dewa tidak mungkin membelikannya pakaian brand terkenal yang mahal harganya.
Memegang kaos itu dan merasakan kainnya yang begitu lembut. 'Pasti ini kw super.'
"Kenapa? Apa kamu tidak suka?" tanya Dewa yang melihat Tami diam melihat pakaian itu.
"Kalau tidak suka. Kita akan beli pakaian lain!" ucap Dewa. Mungkin seleranya Tami berbeda.
"Ti-tidak usah! Pakaianku ada di kost, aku mau ke sana untuk mengambilnya!" ucap Tami. Pakaiannya di kost-an juga banyak.
"Ya, sudah. Aku akan ikut denganmu." hari ini Dewa akan mengintili ke mana pun istrinya itu.
"Untuk apa ikut?" Tami bisa sendiri.
"Bantu-bantu."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mata Dewa terpaku saat melihat Tami keluar dari kamar. Wanita itu tampak sangat cantik dan memukau. Memakai kaos berlengan pendek dan rok selutut. Juga wajahnya didempul make up tipis dan rambut digerai.
Tami sedikit malu melihat tatapan pria itu. Tatapannya begitu berbinar padanya. Bikin salting saja.
"Jadi pergi tidak?" Tami sengaja menepuk pelan lengan Dewa. Menyadarkan pria itu untuk tidak terlalu menatapnya lagi.
"Sayang, kamu sangat cantik." puji Dewa. Ia mengakui pesona istrinya itu.
Wajah Tami mulai merona dipuji begitu. Pujiannya mengena langsung ke hati yang terdalam.
"Tidak usah memujiku. Aku tidak punya uang receh!" ucap Tami sengaja meledek pria itu. Biar dia tidak terus-terusan baper.
Dewa jadi tersenyum tipis. Ada saja jawaban wanita itu.
"Uang kertas juga tidak apa kok!" balas Dewa akan menggoda wanita itu kembali.
"Uang kertas aku juga tidak punya!" jawab Tami. Ia sudah tidak bekerja lagi.
"Aku menerima transferan!" Dewa masih menjawab juga.
Tami jadi terkekeh mendengar perkataan pria itu. "Apa sih? Garing tahu!"
Karena gemas sendiri, Tami mencubit perut pria itu. Dan Dewa menahan tahannya.
"Kamu transfer saja hati dan perasaanmu padaku. Aku sudah bahagia." jelas Dewa dengan suara lembut dan pandangan yang meresahkan.
Nyeesss... Nyeesss... Hati Tami mulai meleleh. Ia mudah sekali baperan.
'Dasar pak Dewa tukang gombal!' Tami membatin.
"Ayo, pergi!" ucap Tami memilih mengakhiri pembahasan yang aneh itu. Ia akan melepaskan pegangan tangan Dewa.
"Apa yang anda lakukan?" Tami refleks memegang leher Dewa, karena tiba-tiba pria itu menggendong dirinya. Menggendong ala koala.
"Pak, turunkan aku!" ucap Tami menggeliat. Posisi mereka sangat tidak nyaman.
"Akan aku turunkan kalau kamu sudah mentransfernya." ucap Dewa. Ia akan memanfaatkan kesempatan itu.
"A-aku tidak punya uang. Saldo di kartu ATM-ku 0,00!" Tami sengaja mengatakan itu.
Dewa jadi terkekeh geli. "Transfer hati dan perasaan kamu sekarang!"
"Haha... An-anda ada-ada saja. Bagaimana hati dan perasaan bisa ditransfer?!" ucap Tami menormalkan kegugupannya. Gombalan Dewa receh sekali.
"Bisa, dengan ini!" ucap Dewa memajukan bibirnya.
Glek... Tami menelan salivanya dengan susah. Ia berada dalam bahaya.
"Ayo, cepat kamu transfer sekarang!"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Lanjar Lestari
Oke di transfer Tami hati dan perasaanmu pd suamimu Dewa
2024-05-05
1
atik
ih Dewa modus
2024-02-14
1