Bab 19 - Transfer

"Pak, ini berkasnya dan ini pakaian yang anda minta." ucap Zol memberikan amplop coklat dan juga koper pada Dewa. Ia memberikannya di depan pintu.

Dewa menerima amplop itu dan membukanya. Seketika wajahnya tersenyum melihat isi di dalamnya.

"Kamu boleh pergi." ucap Dewa. Urusan sudah selesai, pria itu akan menutup pintu.

"Oh iya, Zol. Saya akan cuti seminggu." ucap Dewa memberitahukan. Setelah melihat anggukan Zol, ia pun menutup pintu.

'Kenapa pak Dewa mudah sekali menikah?!' batin Zol. Ia saja setiap pacaran selalu kandas di tengah jalan.

Dewa berjalan menghampiri Tami yang sedang membereskan meja makan.

"Sayang, ada yang mau aku tunjukkan sama kamu."

Tami menoleh dan mengisyaratkan dengan matanya seolah mengatakan apa itu?

"Kita lihat sambil duduk." Ajak Dewa meraih tangan Tami.

"Pak, tunggu dulu! Aku mau cuci piring!" tahan Tami. Ia tidak bisa setengah-setengah mengerjakannya.

"Nanti saja." ucap Dewa. Cucian piring bukannya banyak. Hanya piring, gelas dan sendok. Nanti-nanti bisa dikerjakan.

"Tidak bisa!" ucap Tami. Ia bersikeras melakukannya. Kalau kerjaan sudah ditinggal, malas lagi untuk melakukannya.

Dewa pun menurut saja. Wanita itu sedikit keras kepala.

"Memang mau bilang apa? Katakan saja!" ucap Tami sambil menyabuni piring dan gelas.

"Nanti saja. Aku akan membantumu dulu." ucap Dewa. Kini ia meraih piring yang sudah disabuni Tami dan membilasnya.

"Biar aku saja, Pak!" tolak Tami. Dewa malah ikut-ikutan.

"Biar cepat!"

Tak lama mereka sudah duduk di ruang nonton. Dewa menyerahkan amplop coklat pada Tami.

"Apa ini, Pak?" tanyanya seraya menerima amplop tersebut.

"Kamu buka baru tahu."

"Apa ini mungkin kontrak pernikahan?" tebak Tami. Mungkin saja Dewa berubah pikiran.

"Tidak ada kontrak-kontrak dalam pernikahan kita! Aku tidak mau mempermainkan pernikahan, Tami! Sudah kamu buka saja, dari pada kamu terus berpikiran yang aneh-aneh!" ucap Dewa sambil mengisyaratkan dengan matanya buka saja jangan banyak cerita.

"Aku buka ini ya?" Tami memastikan kembali.

Dewa mengangguk dan Tami pun meraih isi di dalam amplop tersebut.

Deg deg ser...

Isi dalam amplop dua buah buku. Buku nikah.

"I-ini?" Kembali Tami berdebar-debar. Ia memiliki buku nikah.

"Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita. Yang ini punyaku yang ini punya kamu." ucap Dewa menunjukkan kedua buku itu.

Tami terdiam menatap buku itu, lalu menatap sang suami. Sempat mengira Dewa menikahinya secara siri jadi tidak tercantum dalam negara. Tapi, ternyata dugaannya salah. Pernikahan mereka sah secara hukum dan agama.

"Oh iya, lihat ini juga! Ini kartu keluarga kita. Aku kepala genknya dan kamu wakilnya!" ucap Dewa sambil tersenyum lebar.

Tami mencibir, kepala genk apaan? Dewa lebay.

Di kartu keluarga itu ada 2 nama. Nama Dewa sebagai kepala keluarga dan di bawahnya ada namanya. Keterangan di sana, ibu rumah tangga.

Entahlah, ada perasaan terharu menghinggapinya. Tami pernah mengkhayalkan memiliki ini saat menjalin kasih dengan Aldo. Tapi, malah yang mewujudkan keinginannya pria asing yang mendadak muncul dan mengalihkan semuanya.

"Nanti kotak-kotak kosong ini, nama anak-anak kita. Kita buat anak 5 ya."

Uhuk... Uhuk... Tami tersedak dengan perkataan Dewa. Ia saja masih kaget dengan semua ini. Kini malah membahas anak. Anaknya 5 pula itu. Pria itu pandai sekali mendebarkan hati dan perasaannya.

"Kamu tidak apa?" Dewa tampak khawatir, ia mengelus leher istrinya itu. Pasti kaget karena ucapannya.

Tapi Dewa merasa apa yang diucapkannya benar. Dalam pernikahan memiliki anak adalah hal yang wajar. 5 orang rasanya cukup untuk mereka.

Tami menjauhkan tangan Dewa. Sudah hatinya tidak karuan, sentuhan tangan pria itu membuat tubuhnya meremang. Pagi ini dia sudah mendapat banyak cobaan.

"Aku tidak apa, Pak. Ini apa?" tanya Tami mengalihkan pembicaraan. Ia menunjuk koper itu.

"Pakaian kamu. Aku meminta Zol menyiapkan beberapa pakaian untukmu." jawab Dewa meraih dan membukanya agar Tami dapat melihat.

"Zol?" tanya Tami. Siapa itu.

"Dia asistenku. Semalam yang membantu pernikahan kita" jelas Dewa.

Tami tercengang sesaat dan menormalkan wajahnya kembali. Pria itu punya asisten, apa pekerjaan suaminya ini?

Dengan mengabaikan tanda tanya besar di kepalanya, tapi melihat beberapa pakaian dalam koper itu. Mata Tami menatap serius ke arah brandnya.

'Pasti kw!' yakin Tami. Tidak mungkin ini semua asli. Dewa tidak mungkin membelikannya pakaian brand terkenal yang mahal harganya.

Memegang kaos itu dan merasakan kainnya yang begitu lembut. 'Pasti ini kw super.'

"Kenapa? Apa kamu tidak suka?" tanya Dewa yang melihat Tami diam melihat pakaian itu.

"Kalau tidak suka. Kita akan beli pakaian lain!" ucap Dewa. Mungkin seleranya Tami berbeda.

"Ti-tidak usah! Pakaianku ada di kost, aku mau ke sana untuk mengambilnya!" ucap Tami. Pakaiannya di kost-an juga banyak.

"Ya, sudah. Aku akan ikut denganmu." hari ini Dewa akan mengintili ke mana pun istrinya itu.

"Untuk apa ikut?" Tami bisa sendiri.

"Bantu-bantu."

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Mata Dewa terpaku saat melihat Tami keluar dari kamar. Wanita itu tampak sangat cantik dan memukau. Memakai kaos berlengan pendek dan rok selutut. Juga wajahnya didempul make up tipis dan rambut digerai.

Tami sedikit malu melihat tatapan pria itu. Tatapannya begitu berbinar padanya. Bikin salting saja.

"Jadi pergi tidak?" Tami sengaja menepuk pelan lengan Dewa. Menyadarkan pria itu untuk tidak terlalu menatapnya lagi.

"Sayang, kamu sangat cantik." puji Dewa. Ia mengakui pesona istrinya itu.

Wajah Tami mulai merona dipuji begitu. Pujiannya mengena langsung ke hati yang terdalam.

"Tidak usah memujiku. Aku tidak punya uang receh!" ucap Tami sengaja meledek pria itu. Biar dia tidak terus-terusan baper.

Dewa jadi tersenyum tipis. Ada saja jawaban wanita itu.

"Uang kertas juga tidak apa kok!" balas Dewa akan menggoda wanita itu kembali.

"Uang kertas aku juga tidak punya!" jawab Tami. Ia sudah tidak bekerja lagi.

"Aku menerima transferan!" Dewa masih menjawab juga.

Tami jadi terkekeh mendengar perkataan pria itu. "Apa sih? Garing tahu!"

Karena gemas sendiri, Tami mencubit perut pria itu. Dan Dewa menahan tahannya.

"Kamu transfer saja hati dan perasaanmu padaku. Aku sudah bahagia." jelas Dewa dengan suara lembut dan pandangan yang meresahkan.

Nyeesss... Nyeesss... Hati Tami mulai meleleh. Ia mudah sekali baperan.

'Dasar pak Dewa tukang gombal!' Tami membatin.

"Ayo, pergi!" ucap Tami memilih mengakhiri pembahasan yang aneh itu. Ia akan melepaskan pegangan tangan Dewa.

"Apa yang anda lakukan?" Tami refleks memegang leher Dewa, karena tiba-tiba pria itu menggendong dirinya. Menggendong ala koala.

"Pak, turunkan aku!" ucap Tami menggeliat. Posisi mereka sangat tidak nyaman.

"Akan aku turunkan kalau kamu sudah mentransfernya." ucap Dewa. Ia akan memanfaatkan kesempatan itu.

"A-aku tidak punya uang. Saldo di kartu ATM-ku 0,00!" Tami sengaja mengatakan itu.

Dewa jadi terkekeh geli. "Transfer hati dan perasaan kamu sekarang!"

"Haha... An-anda ada-ada saja. Bagaimana hati dan perasaan bisa ditransfer?!" ucap Tami menormalkan kegugupannya. Gombalan Dewa receh sekali.

"Bisa, dengan ini!" ucap Dewa memajukan bibirnya.

Glek... Tami menelan salivanya dengan susah. Ia berada dalam bahaya.

"Ayo, cepat kamu transfer sekarang!"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

Oke di transfer Tami hati dan perasaanmu pd suamimu Dewa

2024-05-05

1

atik

atik

ih Dewa modus

2024-02-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Harapan
2 Bab 2 - Mimpi
3 Bab 3 - Maafkan Aku
4 Bab 4 - Sakit
5 Bab 5 - Kenangan
6 Bab 6 - Mimpi Lagi
7 Bab 7 - Kecewa
8 Bab 8 - Hari Berlalu
9 Bab 9 - Hari Sial
10 Bab 10 - Gendeng
11 Bab 11 - Deg
12 Bab 12 - Kamu Mau?
13 Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14 Bab 14 - Terus Memaksa
15 Bab 15 - Malam Ini
16 Bab 16 - Istriku
17 Bab 17 - Suami Sendiri
18 Bab 18 - Ini Nyata
19 Bab 19 - Transfer
20 Bab 20 - Suka Kamu
21 Bab 21 - Demi Kamu
22 Bab 22 - Boleh Cium?
23 Bab 23 - Mak Tami
24 Bab 24 - Mas Dewa
25 Bab 25 - 3 Hari
26 Bab 26 - Ikut Aku
27 Bab 27 - Tante
28 Bab 28 -Jangan Memaksa
29 Bab 29 - Menginginkanmu
30 Bab 30 - Penghangat Ranjang
31 Bab 31 - Ke Rumah Rona
32 Bab 32 - Ceraikan Dia
33 Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34 Bab 34 - Pikiran Aldo
35 Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36 Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37 Bab 37 - Kejujuran
38 Bab 38 - Tidak Terima
39 Bab 39 - Penuh Cinta
40 Bab 40 - Php
41 Bab 41 - Tolong
42 Bab 42 - Kerasukan
43 Bab 43 - Hati-hati
44 Bab 44 - Sudah Terukir
45 Bab 45 - Pingit
46 Bab 46 - Hari Bahagia
47 Bab 47 - Berlayar
48 Bab 48 - Bulan Madu
49 Bab 49 - Percaya Kamu
50 Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51 Bab 51 - Penjelasan
52 Bab 52 - Sudah Pergi
53 Bab 53 - Semakin Dekat
54 Bab 54 - Adik Sepupu
55 Bab 55 - Begitu Manis
56 Bab 56 - Apapun Itu
57 Bab 57 - Gelap Mata
58 Bab 58 - Salah Target
59 Bab 59 - Menyesal
60 Bab 60 - Sudah Sadar
61 Bab 61 - Berusaha Tegar
62 Bab 62 - Mulai Stres
63 Bab 63 - Butuh Waktu
64 Bab 64 - Galau Sendiri
65 Bab 65 - Rasa Bersalah
66 Bab 66 - Aku Mencintaimu
67 Bab 67 - Penjelasan Dewa
68 Bab 68 - Aku Mau Pulang
69 Bab 69 - Bertemu
70 Bab 70 - Akhirnya
71 Promo
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 - Harapan
2
Bab 2 - Mimpi
3
Bab 3 - Maafkan Aku
4
Bab 4 - Sakit
5
Bab 5 - Kenangan
6
Bab 6 - Mimpi Lagi
7
Bab 7 - Kecewa
8
Bab 8 - Hari Berlalu
9
Bab 9 - Hari Sial
10
Bab 10 - Gendeng
11
Bab 11 - Deg
12
Bab 12 - Kamu Mau?
13
Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14
Bab 14 - Terus Memaksa
15
Bab 15 - Malam Ini
16
Bab 16 - Istriku
17
Bab 17 - Suami Sendiri
18
Bab 18 - Ini Nyata
19
Bab 19 - Transfer
20
Bab 20 - Suka Kamu
21
Bab 21 - Demi Kamu
22
Bab 22 - Boleh Cium?
23
Bab 23 - Mak Tami
24
Bab 24 - Mas Dewa
25
Bab 25 - 3 Hari
26
Bab 26 - Ikut Aku
27
Bab 27 - Tante
28
Bab 28 -Jangan Memaksa
29
Bab 29 - Menginginkanmu
30
Bab 30 - Penghangat Ranjang
31
Bab 31 - Ke Rumah Rona
32
Bab 32 - Ceraikan Dia
33
Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34
Bab 34 - Pikiran Aldo
35
Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36
Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37
Bab 37 - Kejujuran
38
Bab 38 - Tidak Terima
39
Bab 39 - Penuh Cinta
40
Bab 40 - Php
41
Bab 41 - Tolong
42
Bab 42 - Kerasukan
43
Bab 43 - Hati-hati
44
Bab 44 - Sudah Terukir
45
Bab 45 - Pingit
46
Bab 46 - Hari Bahagia
47
Bab 47 - Berlayar
48
Bab 48 - Bulan Madu
49
Bab 49 - Percaya Kamu
50
Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51
Bab 51 - Penjelasan
52
Bab 52 - Sudah Pergi
53
Bab 53 - Semakin Dekat
54
Bab 54 - Adik Sepupu
55
Bab 55 - Begitu Manis
56
Bab 56 - Apapun Itu
57
Bab 57 - Gelap Mata
58
Bab 58 - Salah Target
59
Bab 59 - Menyesal
60
Bab 60 - Sudah Sadar
61
Bab 61 - Berusaha Tegar
62
Bab 62 - Mulai Stres
63
Bab 63 - Butuh Waktu
64
Bab 64 - Galau Sendiri
65
Bab 65 - Rasa Bersalah
66
Bab 66 - Aku Mencintaimu
67
Bab 67 - Penjelasan Dewa
68
Bab 68 - Aku Mau Pulang
69
Bab 69 - Bertemu
70
Bab 70 - Akhirnya
71
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!