Bab 5 - Kenangan

'Taman ini yang muncul di mimpiku!' batin seorang pria saat memasuki area taman. Taman yang masuk dalam mimpinya.

Dewa berjalan menyusuri taman dan matanya menatap ke arah bangku taman. Ia pun duduk di sana. Beginilah posisinya semalam dalam mimpi. Tapi di mana wanita itu? Kenapa tidak ada di sampingnya?

Pria itu melipat tangan di dada dan akan menunggu beberapa saat. Tatapannya masih melihati sekitar. Mungkin saja wanita itu ada di sekitarnya.

'Anggap saja aku sedang berjemur!' batinnya sambil akan menunggu15 menit berlalu. Matahari pagi ini terlalu terik.

Tapi tidak sampai 5 menit kemudian, Dewa pun bangkit dan berlalu pergi. Ia tidak tahan berjemur lagi. Bisa kering juga dia lama-lama duduk di sana.

Tak lama di kantornya tepat di ruangannya, Dewa kembali mengingat wanita dalam mimpinya. Pertama tersenyum, lalu kedua menangis. Ia sungguh bingung kenapa 2 malam berturut-turut terus memimpikan wanita itu. Wanita yang sama. Ada apa? Petanda apa?

'Apa nanti malam aku mimpi dia lagi?' pikirnya kemudian. Mungkin setiap malam ia akan memimpikan wanita itu.

Pikiran Dewa mulai terusik oleh wanita misterius itu. Ya, wanita misterius. Karena hanya muncul dalam mimpi saja. Bikin tanda tanya besar di atas kepalanya.

"Pak," ucap seorang pria yang menyadarkan lamunan Dewa.

"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu? Ke mana tanganmu, Zol?" tanya Dewa dengan nada sinis. Asistennya masuk begitu saja. Tidak sopan sama sekali.

"Sa-saya sudah berkali-kali mengetuk pintu, Pak. Anda tidak menjawab, saya kira anda pingsan di dalam makanya saya masuk saja." jawab Zol sejujurnya. Begitulah tadi yang dipikirkannya.

"Kenapa kamu pikir saya pingsan? Saya itu pria yang sangat sehat dan kuat!" jawab Dewa tidak terima. Ia ini pria tampan yang sempurna.

Zol hanya dapat membuang nafasnya dengan pelan. Kepedean Dewa sungguh terlalu.

"Ada apa?" tanya Dewa lagi.

"Jam 10 ada rapat bulanan, Pak."

"Baiklah." ucap Dewa lalu tangannya mengisyaratkan Zol untuk keluar.

Setelah Zol keluar, Dewa melihat arlojinya. Masih pukul 9, masih ada 1 jam lagi waktu sebelum rapat. Tidak ada pekerjaan, apa yang akan dilakukannya sekarang. Melamun lagi?

Senyum di wajahnya terbit. Ia akan tidur sebentar untuk bertemu wanita itu.

Dewa menyandarkan tubuh di kursinya, dengan tangan melipat di dada ia pun menutup mata.

"Pak-Pak Dewa." Zol menepuk pelan pundak pria itu. Atasannya itu tidur atau berpikir?

Dewa membuka mata dan melihat Zol. "Ada apa?"

"Sudah pukul 10. Waktunya rapat, Pak." ucap Zol memberitahu.

Mata Dewa melihat ke arlojinya, benar sudah pukul 10. Ia tadi tertidur sebentar, tapi kenapa tidak bermimpi bertemu wanita itu. Bahkan mimpi lain pun tidak. Kenapa ia tidak bermimpi sama sekali?

"Pak." Panggil Zol kembali. Atasannya itu malah melamun.

"Sebentar, Zol!" ia masih mengumpulkan nyawa dan kesadarannya. Mengingat-ingat ada mimpi atau tidak. Tapi sepertinya tidak. Ia baru tidur dan dibangunkan. Bagaimana mau mimpi, tidurnya sebentar.

"Pak." Panggil Zol lagi.

"Saya dengar, Zol!"

"Anda melamun, Pak. Saya takut anda kesambet."

"Zol!" Mata Dewa menatap tajam ke arah Zol. Kok kesal dengan perkataan pria yang lebih muda darinya itu.

"Saya permisi, Pak." Zol memilih kabur menghindari pria pemarah tersebut.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

'Tami... Maafkan aku.'

Aldo melihat-lihat foto-foto kebersamaannya yang tersimpan dalam ponsel. Foto kenangan mereka selama 5 tahun belakang ini.

Banyak kenangan yang sudah terjadi. Senang, sedih, bahagia, terharu, semuanya ada. Saat Tami marah dan merajuk juga menjadi kenangannya.

Tami, wanita pertama yang dicintainya. Wanita cantik dan penuh senyuman manis. Aldo jatuh cinta pada Tami karena senyumannya di awal bertemu. Senyuman yang seakan bersinar yang membuat mata Aldo fokus padanya.

Aldo serius ingin bersama Tami, menikahi wanita itu dan menjadikan pelabuhan terakhirnya. Hidup bahagia selamanya. Tapi, kesenjangan sosial mereka menjadi tembok pembatas. Tembok yang menjulang begitu tinggi, bahkan terlalu sulit untuk dirobohkan.

Hanya memberitahu bagaimana wanitanya saja, mamanya sudah menolak mentah-mentah. Langsung tidak suka, padahal mamanya belum bertemu dengan Tami. Lain jika sudah bertemu.

Hanya karena Tami wanita biasa. Yang hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Tami ditolak.

Awal pertama masih menjalin kasih dengan Tami, Aldo sudah menceritakan kekasihnya. Tapi langsung ditolak mamanya. Bahkan memintanya untuk segera mengakhiri hubungan mereka.

Aldo hanya mengiyakan saja, tapi tetap menjalin kasih dengan Tami diam-diam. Backstreetan dari mamanya. Ia tidak bisa dan tidak mau berpisah dari wanita itu.

Harapan Aldo, makin lama waktu berlalu mamanya akan mulai berubah. Tapi sang mama malah menjodohkannya dengan Kitty, wanita manja yang sama sekali bukan tipenya. Berkali-kali sudah menolak perjodohan, tapi malah mamanya mengancam akan bunuh diri, jika ia tidak mau menikah dengan Kitty.

Tidak ada pilihan selain menurut pada mamanya.

"Tami, semoga kamu menemukan pria baik yang tidak seperti diriku ini. Kamu harus bahagia. Maafkan aku yang sudah membuatmu terluka." Aldo mengelus wajah Tami dalam layar ponselnya.

Aldo sudah menyia-nyiakan waktu 5 tahun wanita itu. Jika saja, saat itu. Saat mamanya menyuruh meninggalkan wanitanya dan ia menurut. Pasti Tami tidak akan sesakit ini. Perasaan mereka baru terjalin dan akan mudah bagi Tami melupakannya. Tapi, ia malah bertahan dan menyakiti Tami. Sudah pasti wanita itu akan sulit move on darinya. Berharap waktu bisa menyembuhkan luka yang sudah ia goreskan.

Aldo akan mencoba menerima Kitty dan pernikahan itu. Mungkin beginilah takdir cintanya. Tami bukan jodohnya. Kebahagiaannya bersama dengan Kitty.

Aldo pun mulai menghapus foto-foto Tami di ponsel. Menghapus foto sambil membuang nafasnya dengan kasar.

Bukan hanya foto, video, nomor ponsel yang diblokir semua dihapus Aldo. Agar tidak ada ingatannya lagi pada Tami. Tidak ada ingatannya sedikit pun. Jadi pria itu tidak perlu merasa bersalah dan akan terus melanjutkan hidupnya.

Aldo juga membuka lemari. Mencari barang-barang yang berhubungan dengan Tami. Baik itu hadiah yang diberikan atau pun barang couple-an yang mereka pilih bersama.

Baju, sepatu, topi, tas, jam tangan dan barang lainnya masuk dalam satu kardus besar. Lalu Aldo mengangkat kardus itu dan membawa ke halaman belakang.

Satu persatu barang-barangnya mulai dibakar dan dengan cepat api membakar kenangan itu. Barang kenangan itu kini mulai menjadi abu.

Aldo akan melupakan Tami selamanya, makanya memilih membakar barang-barang kenangan itu. Tidak mau dibuang atau diberikannya pada pekerja rumah atau pun disumbangkan. Sungguh, ia tidak mau mengingat Tami saat melihat barang itu. Biarkan hilang dalam kobaran api.

'Kuharap kita tidak akan bertemu lagi, Tam. Maafkan aku.'

.

.

.

Terpopuler

Comments

Aleika_mama

Aleika_mama

harusnya kamu jujur aldo, walaupun pada akhirnya tami sama kecewanya setidaknya dia jauh lebih baik.. tidak terlalu sakit hati..

2024-10-16

1

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

bentar lg jg km bertemu dg Tami entah1/2/3/4tdhun lg pasui ketemu Aldo dg Tami krn Om km Dewa akan menikahi Tami dan mamamu akan menyesal Aldo begitu jg dirimu.tetnyata ada Dewa disini siapa lg ya

2024-05-05

0

nis_ma

nis_ma

Gak tau aja si Aldo, di masa depan si Tami bakal jadi tantenya wkwk

2024-02-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Harapan
2 Bab 2 - Mimpi
3 Bab 3 - Maafkan Aku
4 Bab 4 - Sakit
5 Bab 5 - Kenangan
6 Bab 6 - Mimpi Lagi
7 Bab 7 - Kecewa
8 Bab 8 - Hari Berlalu
9 Bab 9 - Hari Sial
10 Bab 10 - Gendeng
11 Bab 11 - Deg
12 Bab 12 - Kamu Mau?
13 Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14 Bab 14 - Terus Memaksa
15 Bab 15 - Malam Ini
16 Bab 16 - Istriku
17 Bab 17 - Suami Sendiri
18 Bab 18 - Ini Nyata
19 Bab 19 - Transfer
20 Bab 20 - Suka Kamu
21 Bab 21 - Demi Kamu
22 Bab 22 - Boleh Cium?
23 Bab 23 - Mak Tami
24 Bab 24 - Mas Dewa
25 Bab 25 - 3 Hari
26 Bab 26 - Ikut Aku
27 Bab 27 - Tante
28 Bab 28 -Jangan Memaksa
29 Bab 29 - Menginginkanmu
30 Bab 30 - Penghangat Ranjang
31 Bab 31 - Ke Rumah Rona
32 Bab 32 - Ceraikan Dia
33 Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34 Bab 34 - Pikiran Aldo
35 Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36 Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37 Bab 37 - Kejujuran
38 Bab 38 - Tidak Terima
39 Bab 39 - Penuh Cinta
40 Bab 40 - Php
41 Bab 41 - Tolong
42 Bab 42 - Kerasukan
43 Bab 43 - Hati-hati
44 Bab 44 - Sudah Terukir
45 Bab 45 - Pingit
46 Bab 46 - Hari Bahagia
47 Bab 47 - Berlayar
48 Bab 48 - Bulan Madu
49 Bab 49 - Percaya Kamu
50 Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51 Bab 51 - Penjelasan
52 Bab 52 - Sudah Pergi
53 Bab 53 - Semakin Dekat
54 Bab 54 - Adik Sepupu
55 Bab 55 - Begitu Manis
56 Bab 56 - Apapun Itu
57 Bab 57 - Gelap Mata
58 Bab 58 - Salah Target
59 Bab 59 - Menyesal
60 Bab 60 - Sudah Sadar
61 Bab 61 - Berusaha Tegar
62 Bab 62 - Mulai Stres
63 Bab 63 - Butuh Waktu
64 Bab 64 - Galau Sendiri
65 Bab 65 - Rasa Bersalah
66 Bab 66 - Aku Mencintaimu
67 Bab 67 - Penjelasan Dewa
68 Bab 68 - Aku Mau Pulang
69 Bab 69 - Bertemu
70 Bab 70 - Akhirnya
71 Promo
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 - Harapan
2
Bab 2 - Mimpi
3
Bab 3 - Maafkan Aku
4
Bab 4 - Sakit
5
Bab 5 - Kenangan
6
Bab 6 - Mimpi Lagi
7
Bab 7 - Kecewa
8
Bab 8 - Hari Berlalu
9
Bab 9 - Hari Sial
10
Bab 10 - Gendeng
11
Bab 11 - Deg
12
Bab 12 - Kamu Mau?
13
Bab 13 - Ayo, Kita Menikah!
14
Bab 14 - Terus Memaksa
15
Bab 15 - Malam Ini
16
Bab 16 - Istriku
17
Bab 17 - Suami Sendiri
18
Bab 18 - Ini Nyata
19
Bab 19 - Transfer
20
Bab 20 - Suka Kamu
21
Bab 21 - Demi Kamu
22
Bab 22 - Boleh Cium?
23
Bab 23 - Mak Tami
24
Bab 24 - Mas Dewa
25
Bab 25 - 3 Hari
26
Bab 26 - Ikut Aku
27
Bab 27 - Tante
28
Bab 28 -Jangan Memaksa
29
Bab 29 - Menginginkanmu
30
Bab 30 - Penghangat Ranjang
31
Bab 31 - Ke Rumah Rona
32
Bab 32 - Ceraikan Dia
33
Bab 33 - Hanya Masa Lalu
34
Bab 34 - Pikiran Aldo
35
Bab 35 - Kita Perlu Bicara
36
Bab 36 - Siapa Mantanmu?
37
Bab 37 - Kejujuran
38
Bab 38 - Tidak Terima
39
Bab 39 - Penuh Cinta
40
Bab 40 - Php
41
Bab 41 - Tolong
42
Bab 42 - Kerasukan
43
Bab 43 - Hati-hati
44
Bab 44 - Sudah Terukir
45
Bab 45 - Pingit
46
Bab 46 - Hari Bahagia
47
Bab 47 - Berlayar
48
Bab 48 - Bulan Madu
49
Bab 49 - Percaya Kamu
50
Bab 50 - Tentang Masa Lalu
51
Bab 51 - Penjelasan
52
Bab 52 - Sudah Pergi
53
Bab 53 - Semakin Dekat
54
Bab 54 - Adik Sepupu
55
Bab 55 - Begitu Manis
56
Bab 56 - Apapun Itu
57
Bab 57 - Gelap Mata
58
Bab 58 - Salah Target
59
Bab 59 - Menyesal
60
Bab 60 - Sudah Sadar
61
Bab 61 - Berusaha Tegar
62
Bab 62 - Mulai Stres
63
Bab 63 - Butuh Waktu
64
Bab 64 - Galau Sendiri
65
Bab 65 - Rasa Bersalah
66
Bab 66 - Aku Mencintaimu
67
Bab 67 - Penjelasan Dewa
68
Bab 68 - Aku Mau Pulang
69
Bab 69 - Bertemu
70
Bab 70 - Akhirnya
71
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!