"Pak, tolong percepat mobilnya." Mohon Putri Sandra.
Putri Sandra mengatakan hal itu karena sopirnya melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Sopir tersebut tidak melakukan permintaan Putri Sandra sedangkan Rina yang sudah tidak tahan bau darah membuat Rina menyuruh sopir untuk mempercepat mobilnya.
Tanpa menjawab sopir tersebut langsung melajukan kendaran dengan kecepatan tinggi hingga tidak membutuhkan waktu lama mobil tersebut sampai di rumah sakit.
"Kakak mau di tinggal atau ikut kami?" Tanya Rina ketika melihat membuka pintu mobil.
"Tinggal saja karena Aku tiga tega meninggalkan pria ini." Jawab Putri Sandra sambil turun dari mobil.
Putri Sandra meminta bantuan ke sekuriti untuk memapah pria yang masih berada di dalam mobil. Sedangkan Rina dan sopir tersebut sama sekali tidak perduli dan tidak punya rasa empati sedikitpun terhadap pria yang hampir sekarat.
Singkat cerita kini pria tersebut di ruang oprasi sedangkan Putri Sandra mengurus administrasi dengan menggunakan uang tabungan.
Putri Sandra sangat suka menabung dan jarang jajan, hari ini dirinya jajan karena ingin bertemu dengan Vincent tapi ternyata Vincent membayari makanannya.
Hingga dua jam menunggu akhirnya pintu ruang oprasi terbuka bersamaan dokter keluar. Putri Sandra langsung berjalan ke arah dokter tersebut.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya Putri Sandra dengan wajah kuatir.
"Keadaannya baik - baik saja dan untungnya di tolong tepat waktu jika tidak bisa membahayakan nyawanya." Jawab dokter tersebut.
"Syukurlah." Ucap Putri Sandra sambil menghembuskan nafas dengan lega.
"Oh ya, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan." Ucap dokter tersebut.
"Berikan kamar perawatan kelas 1." Pinta Putri Sandra.
'Entah kenapa Aku tidak tega memberikan kamar perawatan kelas dua atau kelas tiga.' Sambung Putri Sandra dalam hati.
"Baik." Jawab dokter tersebut dengan singkat.
Kemudian dokter itupun berpamitan hingga berapa saat kemudian ruang oprasi terbuka dengan lebar. Dua perawat mendorong brangkar di mana pria tersebut masih setia memejamkan matanya.
Skip
Kini Putri Sandra duduk di kursi dekat ranjang sambil menunggu pria tersebut sadar dari obat biusnya.
"Di lihat - lihat ternyata pria ini sangat tampan dan lebih dewasa dari pada Vincent." Ucap Putri Sandra.
"Aduh, kamu itu sudah punya pacar jadi kamu tidak boleh melirik pria lain." Ucap Putri Sandra sambil memukul kepalanya dengan pelan.
Tidak berapa lama pria tersebut perlahan membuka matanya sambil memijat keningnya yang pusing.
"Aku di mana?" Tanya pria tersebut.
"Tuan ada di rumah sakit, ada yang bisa Aku bantu?" Tanya Putri Sandra.
"Aku sangat haus, ambilkan Aku minum." Jawab pria tersebut.
"Baik." Jawab Putri Sandra dengan singkat.
Putri Sandra mengambil gelas yang sudah ada sedotannya kemudian diberikan ke pria tersebut. Pria itupun meminum hingga habis tanpa sisa sedikitpun.
"Siapa namamu?" Tanya pria tersebut ketika sudah selesai minum dengan menggunakan sedotan.
"Putri Sandra, kalau Tuan?" Tanya Putri Sandra.
"Panggil saja Nathan jangan pakai Tuan." Jawab Nathan.
"Kalau nama tidak sopan, bagaimana kalau Kak Nathan?" Tanya Putri Sandra.
"Terserah." Jawab Nathan.
"Apakah kamu tahu di mana ponselku?" Tanya Nathan.
Nathan menanyakan ponselnya karena dirinya memakai pakaian pasien dan di atas meja dekat ranjang tidak ada.
"Tadi perawat memberikan kantong plastik." Jawab Putri Sandra sambil mengambil kantong plastik tersebut yang ada di lemari kecil.
"Bisa ambilkan ponselku?" Tanya Nathan.
"Bisa, sebentar." Jawab Putri Sandra sambil mencari.
Setelah ketemu Putri Sandra memberikan ponsel tersebut ke Nathan. Setelah ponselnya di terima Nathan, Putri Sandra menyimpan kembali pakaian milik Nathan ke dalam lemari.
Nathan mengetik sesuatu di layar ponselnya sedangkan Putri Sandra hanya diam sambil sesekali memperhatikan wajah tampan Nathan.
'Kenapa jantungku berdebar kencang? Apakah Aku suka dengan Kak Nathan?' Tanya Putri Sandra dalam hati.
'Tapi kenapa dengan Kak Vincent, jantungku biasa saja? Apa karena Aku merasa hutang nyawa makanya Aku tidak tega untuk menolaknya?' Tanya Putri Sandra dalam hati.
"Aku akan kirim pesan ke orang kepercayaanku untuk datang jadi berapa uang yang mesti Aku bayarkan?" Tanya Nathan setelah selesai mengetik pesan.
"Tidak perlu. Aku menolong Kak Nathan ikhlas dan Aku akan pulang jika orang kepercayaan Kak Nathan datang." Jawab Putri Sandra.
'Biasanya gadis atau wanita sangat suka dengan uang tapi kenapa gadis ini menolaknya?' Tanya Nathan dalam hati.
Ketika Nathan ingin berbicara bersamaan kedatangan pria di mana pria tersebut adalah orang kepercayaan Nathan.
Putri Sandra langsung berdiri namun tangannya di tahan oleh Nathan membuat Putri Sandra menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Kak?" Tanya Putri Sandra.
"Bagaimana caranya Aku membalas kebaikanmu?" Tanya Nathan.
"Lakukan apa yang barusan Aku lakukan." Jawab Putri Sandra sambil tersenyum.
"Maksudnya?" Tanya Nathan.
"Ketika Kak Nathan melihat ada orang lain terluka maka Kak Nathan melakukan apa yang barusan Aku lakukan walau Kak Nathan sama sekali tidak mengenalnya." Jawab Putri Sandra.
"Bagaimana kalau orang itu jahat dan meminta semua hartamu lalu membunuhmu?" Tanya Nathan.
"Maka Aku akan memberikan semua hartaku dan Aku akan mengatakan padanya kalau Aku adalah orang yang terakhir dibunuhnya." Jawab Putri Sandra tanpa banyak berpikir.
"Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Nathan.
"Aku tidak tega melihat orang terluka." Jawab Putri Sandra sambil menarik tangannya dengan perlahan.
"Tunggu." Ucap Nathan sambil menahan tangan Putri Sandra.
"Ada apa?" Tanya Putri Sandra.
"Aku ingin memberikan ini padamu dan Aku minta kamu memakainya atau menyimpan kalung ini." Ucap Nathan sambil melepaskan kalung miliknya yang bertahun - tahun di pakainya.
"Aku akan pakai." Ucap Putri Sandra ketika Nathan memberikan kalung ke dirinya.
Putri Sandra memakai kalung tersebut kemudian melepaskan gantungan boneka buatan dirinya yang selalu tergantung di tasnya.
"Aku ingin memberikan gantungan boneka buatanku. Kalau suka mohon di simpan tapi kalau tidak suka silahkan berikan ke orang lain." Ucap Putri Sandra.
"Aku tidak akan memberikan gantungan boneka ini ke orang lain karena Aku suka." Jawab Nathan sambil menerima gantungan boneka.
Putri Sandra hanya tersenyum kemudian berpamitan sambil tersenyum ke arah Nathan kemudian menundukkan kepalanya ke arah orang kepercayaan Nathan sambil tersenyum.
'Baru kali ini Tuan Muda Jonathan William tersenyum dan baru kali ini ada seorang gadis yang baik dan tidak sombong.' Ucap asisten setianya dalam hati.
"Kamu selidiki latar belakang Putri Sandra!" Perintah Nathan dengan nada dingin dan berwajah datar.
"Baik, Tuan." Jawab asisten setianya dengan patuh.
"Maaf Tuan, apakah Tuan Muda ingin pindah ruangan VVIP?" Tanya asisten setianya.
"Tidak usah." Jawab Nathan dengan wajah masih datar dan dingin.
'Kembali ke awal berwajah dingin dan datar berbeda ketika dekat dengan Nona Muda Putri Sandra.' Sambung asisten setianya dalam hati.
'Apa jangan - jangan Tuan Muda Jonathan William ada perasaan?' Tanya asisten setianya dalam hati.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Jangan banyak berpikir kalau tidak ingin pindah ke Afrika." ucap Nathan.
"Maaf, Tuan Muda." Ucap asisten setianya.
Tanpa menjawab Nathan mengibaskan tangannya agar asisten setianya pergi karena tubuhnya masih lelah dan perlu istirahat.
Asisten setianya hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
'Baru kali ini Aku sangat nyaman ketika dekat dengan Putri Sandra.' ucap Nathan dalam hati sambil memandangi bonekanya.
Nathan memeluk gantungan boneka tersebut dan tidak berapa lama Nathan tertidur dengan pulas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Helen Nirawan
jodoh tuh
2024-07-16
1
Shinta Dewiana
mistery...
2024-03-22
0