Semua teman-temannya menatap ke arah bawah dan melihat seorang gadis cantik sedang berjalan ke arah kantin.
"Oh itu, namanya Rina adiknya Putri Sandra." jawab temannya dengan serempak.
"Kok Aku baru melihatnya?" Tanya Vincent sambil menatap wajah cantik Rina.
"Dia itu bintang model dan beberapa bulan lalu habis membintangi beberapa iklan makanya jarang terlihat." Jawab salah satu temannya.
"Apakah kamu ada rencana untuk mendekatinya?" Tanya teman satunya lagi.
"Saat ini belum, karena aku belum mendapatkan mahkota berharganya. Kalau sudah dapat baru Aku akan mendekati adiknya." Ucap Vincent dengan nada santai.
"Apa?? Apa kamu sudah gila kamu mau melakukan itu? Diakan gadis culun memang kamu berminat?" Tanya teman yang pertama dengan wajah tidak percaya.
"Aku saja jijik melihatnya, apalagi kalau sampai melakukan itu." Ucap teman yang ke dua sambil menunjukkan ekspresi jijik.
"Iya benar." Jawab teman-teman lainnya dengan serempak.
"Pas lagi main, wajahnya Aku tutupi dan membayangkan wajah gadis yang sangat cantik dan seksi." Ucap Vincent dengan cuek.
"Terserah kamu saja karena Aku tidak perduli." Ucap temannya sambil menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Vincent.
"Ok, Aku ingin turun ke lantai bawah." Ucap Vincent sambil berdiri dan berjalan menuruni anak tangga.
"Hei Vincent seperti biasakan?" Tanya teman-temannya.
"Ya, seperti biasa. Masukkan semua tagihan makan dan minuman ke dalam rekeningku, aku yang traktir kalian semua." Jawab Vincent dengan nada santai.
Vincent menuruni anak tangga hingga ke lantai dasar dan melihat Rina tapi dirinya pura-pura tidak melihatnya bertepatan kedatangan Putri Sandra.
"Hallo sayang." Panggil Vincent sambil memeluk Putri Sandra dari arah samping tapi sekali-kali matanya melirik ke arah Rina.
"Hallo sayang, sudah makan?" Tanya Putri Sandra sambil membalas pelukan Vincent.
"Sudah donk, kamu sudah belum?" Tanya Vincent dengan suara menggoda.
"Belum, ini Aku mau makan." Jawab Putri Sandra sambil tersenyum malu.
Vincent sesekali melirik ke arah Rina hingga Vincent melihat wajah merah Rina seperti orang menahan amarah membuat Vincent tersenyum menyeringai.
'Kena juga.' Ucap Vincent dalam hati.
"Aku temani makanmu, bagaimana?" Tanya Vincent.
"Boleh." Jawab Putri Sandra sambil tersenyum bahagia.
Vincent memesan makanan dan minuman untuk Putri Sandra sedangkan dirinya hanya memesan minuman.
"Boleh Aku duduk di sini?" Tanya Rina tiba - tiba datang.
Tanpa menunggu jawaban, Rina tanpa punya rasa malu langsung menarik kursi dan duduk di samping Vincent.
Kini Vincent berada di tengah-tengah mereka dan tanpa punya rasa malu sedikitpun Rina mengarahkan kaki kanannya ke kaki kanan Vincent kemudian digerakkan secara perlahan.
'Dasar wanita murahan, tapi Aku ingin mencobanya dan kalau sudah bosan langsung Aku tinggalkan.' Ucap Vincent dalam hati.
"Boleh, silahkan duduk." Ucap Putri Sandra tanpa ada curiga sedikitpun.
"Terima kasih, Kak." Jawab Rina sambil tersenyum ke arah Vincent.
"Dia siapa, Dik?" Tanya Rina sambil masih menatap ke arah Vincent.
"Oh, kenalkan Dia adalah kekasihku. Namanya Vincent." Jawab Putri Sandra memperkenalkan kekasihnya.
"Hallo, kenalkan namaku Rina." Ucap Rina memperkenalkan dirinya sambil tangannya diarahkan ke Vincent.
"Kenalkan namaku Vincent." Jawab Vincent sambil membalas uluran tangan Rina.
Setelah dua menit bersalaman mereka melepaskan tangannya tapi mata mereka saling menatap.
"Kakak tidak pesan makanan?" Tanya Putri Sandra dengan wajah polosnya.
"Hmmmm... pesan apa ya?" Tanya Rina manja pada dirinya sendiri sambil mengetuk-ngetuk bibirnya berulang kali seperti sedang berpikir.
"Bagaimana kalau Aku yang pesankan?" Tanya Vincent memberikan usul.
"Boleh." Jawab Rina sambil mengedipkan matanya ke arah Vincent.
'Huh... Dasar cewek murahan... Tapi boleh juga karena saat ini Aku belum ada penggantinya. Karena wanita itu sudah mati bunuh diri... Lumayan buat penghangat ranjangku." Ucap Vincent dalam hati.
Vincent sudah mantap untuk menjadikan Rina penghangat ranjangnya sampai dirinya bosan sedangkan Rina sangat senang karena bagi Rina siapapun tidak akan menolak pesonanya.
Vincent memanggil pelayan dan memesankan makanan dan minuman, setelah selesai pelayan itupun meninggalkan mereka.
"Kak Vincent, kelas berapa?" Tanya Rina.
"Kelas dua belas B dan kebetulan sekelas dengan Putri Sandra." Jawab Vincent.
"Sama dong, hanya saja kita beda kelas." Ucap Rina dengan wajah sedih.
'Aku akan meminta Kepala Sekolah untuk memindahkan Aku agar bisa sekelas dengan Vincent. Tidak perduli jika Putri Sandra satu kelas denganku, toh sebentar lagi Putri Sandra mati di tangan kami.' Sambung Rina dalam hati.
"Kalau kamu mau, Aku bisa meminta pemilik sekolah agar kamu bisa satu kelas dengan kami." Ucap Vincent memberikan usulan.
"Boleh." Jawab Rina dengan singkat sambil tersenyum.
"Oke. Besok kamu sudah bisa pindah." Ucap Vincent.
"Terima kasih." Jawab Rina sambil tersenyum manis.
Vincent hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Putri Sandra hanya diam mendengarkan mereka mengobrol.
"Sudah lama pacaran dengan adiku?" Tanya Rina dengan wajah pura - pura bahagia.
"Belum ada seminggu. Tapi Aku mengejarnya sudah dua bulan." Jawab Vincent.
'Demi taruhan Aku terpaksa pura-pura mengejarnya dan setelah Aku memenangkan taruhan Aku juga berpura-pura baik karena aku ingin mencoba untuk memakannya. Sambung Vincent dalam hati.
'Tapi sebelum mencobanya, Aku ingin mencoba adiknya dulu karena Aku bisa melihat kalau adiknya lebih murahan.' Sambung Vincent dalam hati.
'Huh ... Beruntung sekali Putri Sandra, semua harta yang Aku nikmati menjadi miliknya dan selama hampir setahun kami berpura-pura baik padanya hingga umur tujuh belas tahun.' Ucap Rina dalam hati.
'Setelah kami berhasil meminta tanda tangan surat pernyataan pemindahan semua aset berharganya barulah kami akan menyiksanya sampai akhirnya mati dengan cara mengenaskan.' Sambung Rina dalam hati.
"Kok pada diam?" Tanya Putri Sandra sambil melambaikan tangannya ke arah Rina dan Vincent.
"Eh ...." Ucap mereka berdua dengan serempak dan tersadar dari lamunannya.
"Kakak makan saja dulu karena punya Kakak masih lama." Ucap Rina.
"Tidak apa - apa, Kak. Aku akan menunggu makanan Kakak datang." Jawab Putri Sandra.
"Baiklah." Ucap Rina.
'Putri Sandra sangat beruntung karena kekasihnya sangat tampan dan sepertinya barang yang dipakai semua barang branded. Kenapa sih gadis culun itu selalu beruntung?' Tanya Rina dalam hati dengan wajah kesal.
'Bagaimanapun caranya Aku akan merebutnya, enak saja Putri Sandra hidup bahagia.' Sambung Rina dalam hati.
Tidak berapa lama pesanan Rina datang dan mereka pun makan dalam diam. Tidak ada satupun yang berbicara hanya saja Rina dan Vincent saling menatap dan kadangkala mereka tersenyum.
Setelah lima belas menit makan dan minum mereka kembali ke kelas masing-masing. Hingga pelajaran kelas berakhir.
Putri Sandra dan Rina naik mobil di mana sopir sudah menunggu sejak dua belas menit yang lalu. Mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang hingga di tengah jalan yang sepi mereka melihat seorang pria tergeletak di tengah jalan.
Pria tersebut bersimbah darah sambil berusaha untuk bangun membuat Putri Sandra meminta sopir untuk menghentikan mobilnya karena tidak tega melihatnya.
Awalnya Rina menolaknya tapi karena Putri Sandra memohon membuat Rina terpaksa meminta sopir untuk berhenti.
Selain keluarganya yang tidak suka dengan Putri Sandra ternyata sopir tersebut juga sama. Hanya saja keluarganya pura - pura baik berbeda dengan sopir tersebut.
Di mana sopir tersebut tidak mau menuruti permintaan Putri Sandra karena itulah Putri Sandra memohon ke Rina agar mobilnya berhenti.
Setelah mobil berhenti, Putri Sandra membuka pintu mobil kemudian keluar dari mobil dan langsung berlari ke arah pria tersebut.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit." Ucap Putri Sandra sambil memapah pria tersebut.
Pria tersebut hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka berjalan tertatih - tatih ke arah mobil. Sedangkan sopir dan Rina sama sekali tidak membantunya hingga Putri Sandra membuka pintu mobil.
"Kenapa di bawa ke dalam mobil?" Tanya Rina dengan nada kesal.
"Pria ini terluka parah dan Aku mohon agar di bawa ke rumah sakit." Mohon Putri Sandra.
"Tidak, kalau Dia penjahat bagaimana?" Tanya Rina sambil menahan pintu mobilnya agar tidak bisa di buka.
Sopir keluarganya yang mengerti langsung mengunci mobil tersebut agar Rina tidak perlu menahan pintu mobil. Kemudian sopir tersebut membuka sedikit jendela mobil.
"Kak Putri Sandra, Aku tidak mau ya kalau pria itu membunuhku karena Aku sangat sayang dengan nyawaku." Ucap Rina.
"Rina, kamu tenang saja. Jika seandainya pria ini ingin membunuh kita maka Aku akan memeluknya agar kalian bisa kabur dan menyelamatkan diri. Jadi Aku mohon tolong bawa ke rumah sakit." Mohon Putri Sandra.
"Kakak tidak sayang dengan nyawa, Kakak?" Tanya Rina.
"Aku sayang dengan nyawaku tapi Aku tidak bisa melihat orang terluka. Jika memang Aku ditakdirkan mati maka Aku akan menerimanya asalkan kalian baik - baik saja. Jadi Aku mohon tolong selamatkan pria ini." Mohon Putri Sandra mengulangi perkataannya.
"Buka pintunya!" Perintah Rina akhirnya.
Rina terpaksa melakukannya karena tidak ingin Putri Sandra membenci dirinya dan tidak menuruti permintaan orang tuanya. Sopir itupun terpaksa melakukan permintaan Rina kemudian Rina keluar dari mobil.
"Aku duduk di depan karena Aku tidak mau dekat dengan pria itu." Ucap Rina.
Putri Sandra hanya menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke dalam mobil dengan perlahan.
Setelah masuk ke dalam mobil Rina mengeluarkan sapu tangan untuk menutup hidungnya karena bau anyir darah yang keluar dari tubuh pria tersebut.
Berbeda dengan Putri Sandra di mana Putri Sandra mengeluarkan sapu tangan kemudian dibasahi dengan air minum.
"Tahan ya." Ucap Putri Sandra sambil perlahan menlap tubuh pria tersebut kemudian meniupnya.
Pria tersebut hanya menganggukkan kepalanya sambil masih menatap wajah Putri Sandra.
'Walau culun tapi sangat baik berbeda dengan gadis satunya cantik tapi tidak ada rasa empati.' Ucap pemuda tersebut dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Oi Min
kok adik?? putri Sandra kan kakaknya Rina
2024-06-06
1
Shinta Dewiana
heh...nasib sandra miris ya
2024-03-22
0