Rencana Jahat Ririn

Kini jenasah sudah berada di mansion milik Daddy Edward bersama istrinya. Istrinya tidak berhenti mengeluarkan air mata sedangkan ibunya Clara memeluk dari arah samping sambil mengusap punggung sahabatnya agar kuat.

"Aku tahu, kamu pasti sedih sama seperti yang Aku rasakan ketika Aku kehilangan putriku." Ucap ibunya Clara dan tidak berapa air matanya keluar.

"Hiks... hiks... Padahal semalam kami sempat mengobrol sebelum tidur tapi ternyata paginya.... hiks... hiks..." Ucap Mommy Elisabeth sambil terisak.

Tidak berapa lama datang Redi bersama istrinya membuat Mommy Elisabeth menatap tajam ke arah Redi.

"Kalian berdua pergi, Aku benci kalian!!" Teriak Mommy Elisabeth mengingat ketika kekasih putranya membentak suaminya.

"Hei Nenek Tua, kamu tidak berhak mengusir kami. Karena ayahku sudah meninggal jadi ini merupakan rumah kami." Ucap Redi tanpa punya rasa empati sedikitpun.

"Setelah menguburkan Kakek Tua kalian pergi dari sini kalau tidak bodyguard - bodyguardku akan mengusir kalian." Sambung Redi tanpa punya rasa empati.

"Kamu!! Menyesal kami merawatmu seharusnya kamu mati di tempat pembuangan sampah." Ucap Mommy Elisabeth dengan nada kesal.

Redi yang malu dan kesal dengan ibu angkatnya tangannya dilayangkan ke atas hendak menampar ibu angkatnya.

Grep

"Jangan sekali-kali kamu menampar istri sahabatku. Ingat kita lagi berduka jaga sikapmu." Ucap ayahnya Clara kemudian mendorong tangan Redi dengan kasar.

Redi menatap tajam mantan mertuanya dan berusaha bersabar karena banyak pelayat yang menjelek-jelekkan dirinya dan istrinya yang baru saja di nikahinya kemarin itu juga karena desakan Ririn.

Setelah selesai mengubur jenasah ayah angkatnya Redi mereka kembali ke mansion. Sampai di depan pintu mansion mereka tidak diperbolehkan masuk oleh para bodyguard yang di bayar oleh Redi.

"Maaf Nyonya Besar, silahkan pergi dari sini dan itu koper Nyonya Besar." Ucap salah satu bodyguard sambil menunjuk koper di sebelah ibu angkatnya Redi.

"Apa!!!" Teriak ibu angkatnya Redi.

"Sudah, lebih baik kamu tinggal bersama kami, tubuhmu masih lemah." Ucap ibunya Clara sambil memeluk sahabatnya dari arah samping.

"AKU MENYUMPAHIMU REDI, KAMI MENEMUKANMU DI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH MAKA MATIPUN DI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH!!!" Teriak ibu angkatnya Redi menyumpahi Redi sambil menunjuk - nunjuk ke arah wajah Redi.

"UNTUK KAMU WANITA MURA*AN SUATU SAAT NANTI CUCUKU AKAN MEMBALAS SEMUA APA YANG KAMU LAKUKAN TERHADAP IBUNYA SEKALIGUS SAHABATMU YANG SANGAT TULUS DAN MENGANGGAPMU SEBAGAI SAUDARA." Sambung Mommy Elisabeth sambil menunjuk - nunjuk ke arah wajah Ririn.

Duar

Duar

Bagai petir di siang bolong terdengar suara petir saling bersahutan membuat ibunya Clara menarik ibu angkatnya Redi untuk masuk ke dalam mobil.

"Ayo kita pulang ke rumah kami sepertinya mau hujan." Ucap ibunya Clara.

bruk

Ibu angkat Redi tiba-tiba tidak sadarkan diri dan untunglah ayahnya Clara menahan tubuhnya hingga tidak terjatuh kemudian menggendong besannya sekaligus istri sahabatnya ala bridal style menuju ke arah mobil.

Ibunya Clara membuka pintu belakang mobil agar ibu angkat Redi berbaring di jok kursi belakang pengemudi kemudian mereka meninggalkan tempat tersebut.

Setelah lima belas menit kepergian mereka pengacara keluarga datang ke mansion tersebut.

Pengacara itupun menceritakan keperluannya barulah pengacara keluarga itu masuk ke dalam mansion dan duduk di ruang keluarga. Redi dan istri mudanya datang menemui pengacara tersebut.

"Ada apa ya pak?" Tanya Redi yang mengetahui kalau pria itu adalah pengacara keluarga.

"Maaf, Nyonya Besar Elisabeth kemana ya?" Tanya pengacara tanpa menjawab pertanyaan Redi.

"Oh Mommyku sedang pergi menemui sahabatnya. Ada apa ya pak?" Tanya Redi berbohong.

"Kemarin Tuan Besar Edward berbicara padaku kalau semua aset berharga miliknya jatuh ke tangan cucunya yang bernama Putri Sandra termasuk mansion ini ketika genap berusia tujuh belas tahun." Jawab pengacara tersebut.

"Apa??? Bagaimana mungkin?" Tanya Redi dan istrinya yang bernama Ririn dengan serempak sambil menampilkan wajahnya yang sangat terkejut.

"Itulah yang terjadi, jadi untuk Nyonya Besar Elisabeth setiap bulannya akan mendapatkan tunjangan dua puluh juta." Ucap pengacara tersebut.

"Tapi bagaimana mungkin? Aku putranya kenapa diberikan untuk putriku yang masih bayi?" Tanya Redi dengan nada kesal.

Redi terpaksa mengatakan putrinya agar pengacaranya tidak mengetahui kebusukan hatinya walau sebenarnya sudah tahu semua.

"Maaf itu atas permintaan Tuan Besar Edward." Ucap pengacara tersebut sambil memperhatikan gerak gerik Redi dan Ririn.

"Oh ya satu lagi, sebelum meninggal Tuan Besar Edward mengatakan jika seandainya cucunya meninggal maka semua aset miliknya akan diberikan ke panti asuhan." Sambung pengacara tersebut.

"Apa??? si*l!!" Umpat ke duanya dengan serempak.

"Maaf ini uang untuk Nyonya Besar Elisabeth dua puluh juta rupiah. Tolong kalau Nyonya Besar Elisabeth sudah pulang berikan pada Nyonya Besar." Ucap pengacara tersebut sambil menyerahkan amplop yang berisi uang.

"Baik Pak." Jawab Ririn sambil menerima uang tersebut.

"Maaf, Saya permisi dulu." Ucap pengacara tersebut sambil berdiri meninggalkan mereka berdua.

'Apa yang dikatakan Tuan Besar Edward ternyata memang benar kalau Tuan Muda Redi tidak punya rasa malu sedikitpun karena jelas-jelas kemarin menyerang Tuan Besar Edward.' Ucap pengacara tersebut dalam hati sambil berjalan ke arah mobil.

"Padahal Tuan Muda Redi di rawat sejak bayi hingga sekarang ini, dasar anak tidak tahu di untung. Untung saja Tuan Besar Edward merubah surat wasiatnya jadi Tuan Muda Redi tidak sepeserpun menerima uangnya." Sambung pengacara tersebut sambil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.

"Akhhhhh si*l!!!" Teriak Redi dengan nada kesal.

"Sabar sayang, putrimu kan masih bayi jadi untuk sementara perusahaan bisa kamu pegang dulu sambil memikirkan cara lain untuk menyingkirkan putrimu." Ucap Ririn sambil tersenyum devil.

Rencana jahat Ririn sudah ada yaitu menyingkirkan Putri Sandra agar Ririn bisa menguasai hartanya seorang diri sedangkan suaminya suatu saat nanti akan disingkirkan.

"Iya benar katamu, kalau Dia sudah tujuh belas tahun kita tinggal memaksanya agar menandatangani surat pemindahan warisan." Ucap Redi sambil tersenyum devil.

Redi sama sekali tidak memperdulikan kalau Putri Sandra adalah putri kandungnya. Karena hatinya ingin menguasai harta Ayah angkatnya yang berlimpah ruah.

"Aku setuju." Ucap Ririn.

'Ternyata rencanaku sama seperti pria tua ini.' Sambung Ririn dalam hati.

'Untung ada uang dua puluh juta jadi Aku bisa pakai buat bayar gigolo untuk memuaskan Aku. Aku tinggal mencari alasan agar uang itu untukku semuanya.' Sambung Ririn dalam hati lagi.

"Ya sudah, karena Aku lelah dan ingin melakukan hubungan suami istri jadi kamu yang bekerja dan tenang saja uang dua puluh juta buatmu saja." Ucap Redi sambil berbaring di sofa panjang.

"Baiklah." Jawab Ririn sambil tersenyum bahagia karena mendapatkan uang dua puluh juta rupiah tanpa perlu mencari alasan.

"Kita main di kamar saja." Sambung Ririn.

"Baik." Jawab Redi dengan singkat.

Merekapun berjalan ke arah kamar yang dulu pernah ditempatin oleh Redi. Merekapun melakukan hubungan suami istri dengan hati sangat gembira karena sudah memiliki apa yang diinginkan oleh mereka.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Sebentar lagi part tentang pembalasan perbuatan mereka.

Tolong bacanya jangan lompat² ya biar novelku bisa di kontrak dengan nilai bab terbaik. soalnya kalau tidak dapat bab terbaik author hanya dapat duit dikit banget ngga sampai 200 perak. Sedih deh author

Ayo dong Vote, like, hadiah, komentar dan tip agar author semangat menulisnya. 😚😚😍😍😘😘

Terima kasih yang sudah Vote, like, hadiah, komentar dan tip nya serta terima kasih juga buat para pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘

Salam Author,

Yakasa

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Terpopuler

Comments

Moertini

Moertini

jahat sekali Rara dan Rendi apakah mereka berhasil membunuh Sandra dilanjutin thor penasaran niiii semangat

2024-08-24

0

NOiR🥀

NOiR🥀

mental..

2024-07-26

0

Oi Min

Oi Min

ck..... dasar pasangan bandot

2024-06-06

1

lihat semua
Episodes
1 Awal Mula
2 Pergi Kemana?
3 Aku Bersumpah
4 Surat Kematian Palsu
5 Redi dan Ririn Di Usir
6 Pemuda
7 Rencana Jahat Ririn
8 Enam Belas Tahun Kemudian
9 Flash Back
10 Vincent
11 Awal Bertemu
12 Tuan Muda Jonathan William
13 Apa Yang Mesti Daddy Lakukan?
14 Tawa Jahat
15 Merindukannya
16 Tuan Jonathan
17 Jantungku Berdetak Kencang
18 Putri Sandra dan Nathan
19 Jambret
20 Empat Pasang Mata
21 Asisten Sekretaris
22 Apa Yang Kamu Minta?
23 Sedikit Saja
24 Sangat Nyaman
25 Apakah Kakak Lupa?
26 Mau Minta Hadiah Apa?
27 Membantumu
28 Jiwa Usilnya
29 Ada Apa?
30 Tapi Kek ...
31 Membalaskan Dendam
32 Tali Panjang
33 Awal Pembalasan
34 Ada Apa Redi?
35 Hukuman Untuk Redi
36 Brangkas
37 Atas Nama
38 Pria Tampan
39 Kembali Bertemu
40 Jual Saja
41 Tumben
42 Milikku
43 Empat Pemuda Tampan
44 Suara Bariton
45 Aku jawab apa ya?
46 Kenapa Kamu Tidak Mempertahankanku?
47 Satu Kata
48 Menahan Amarahnya
49 Ada Apa?
50 Nathan Dan Putri Sandra
51 Apakah Benar?
52 Karma
53 Ada apa?
54 Kamu Tidak Pantas
55 Di Usir
56 Dokumen
57 Dela dan Tuan Louis
58 Milik Bersama
59 Tuan Berani Pada Kami
60 Barang Berharga
61 Kenapa Aku Tidak Berhak?
62 Adik Kecil
63 Karma
64 Redi Meninggal Dunia
65 Keceplosan
66 Tidak Percaya
67 Kematian Ririn
68 Janji
69 Alergi Cumi dan Udang
70 Tidak Suka
71 Dua puluh lima juta
72 Simpanan
73 Penasaran
74 Kembali ke jaman dahulu
75 Menikah Dengan Putra Sulung
76 Han, apa yang harus aku lakukan?
77 Pria Tampan
78 Tuan Muda Pertama dan Reynald
79 Putri Sandra Kesakitan
80 Maaf
81 Di Hukum
82 Racun
83 Tuan Muda Zulke
84 Kamera CCTV
85 Angel
86 Kenapa Terburu-buru Turun
87 Wanita Sangat Cantik
88 Pura-pura
89 Tamat
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Awal Mula
2
Pergi Kemana?
3
Aku Bersumpah
4
Surat Kematian Palsu
5
Redi dan Ririn Di Usir
6
Pemuda
7
Rencana Jahat Ririn
8
Enam Belas Tahun Kemudian
9
Flash Back
10
Vincent
11
Awal Bertemu
12
Tuan Muda Jonathan William
13
Apa Yang Mesti Daddy Lakukan?
14
Tawa Jahat
15
Merindukannya
16
Tuan Jonathan
17
Jantungku Berdetak Kencang
18
Putri Sandra dan Nathan
19
Jambret
20
Empat Pasang Mata
21
Asisten Sekretaris
22
Apa Yang Kamu Minta?
23
Sedikit Saja
24
Sangat Nyaman
25
Apakah Kakak Lupa?
26
Mau Minta Hadiah Apa?
27
Membantumu
28
Jiwa Usilnya
29
Ada Apa?
30
Tapi Kek ...
31
Membalaskan Dendam
32
Tali Panjang
33
Awal Pembalasan
34
Ada Apa Redi?
35
Hukuman Untuk Redi
36
Brangkas
37
Atas Nama
38
Pria Tampan
39
Kembali Bertemu
40
Jual Saja
41
Tumben
42
Milikku
43
Empat Pemuda Tampan
44
Suara Bariton
45
Aku jawab apa ya?
46
Kenapa Kamu Tidak Mempertahankanku?
47
Satu Kata
48
Menahan Amarahnya
49
Ada Apa?
50
Nathan Dan Putri Sandra
51
Apakah Benar?
52
Karma
53
Ada apa?
54
Kamu Tidak Pantas
55
Di Usir
56
Dokumen
57
Dela dan Tuan Louis
58
Milik Bersama
59
Tuan Berani Pada Kami
60
Barang Berharga
61
Kenapa Aku Tidak Berhak?
62
Adik Kecil
63
Karma
64
Redi Meninggal Dunia
65
Keceplosan
66
Tidak Percaya
67
Kematian Ririn
68
Janji
69
Alergi Cumi dan Udang
70
Tidak Suka
71
Dua puluh lima juta
72
Simpanan
73
Penasaran
74
Kembali ke jaman dahulu
75
Menikah Dengan Putra Sulung
76
Han, apa yang harus aku lakukan?
77
Pria Tampan
78
Tuan Muda Pertama dan Reynald
79
Putri Sandra Kesakitan
80
Maaf
81
Di Hukum
82
Racun
83
Tuan Muda Zulke
84
Kamera CCTV
85
Angel
86
Kenapa Terburu-buru Turun
87
Wanita Sangat Cantik
88
Pura-pura
89
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!