"Karena Nyonya Muda tidak ingin Nyonya Besar dan Tuan Besar sedih." Jawab kepala pelayan sambil menahan amarahnya terhadap Redi, pria jelmaan iblis.
"Kamu pernah melapor sekali kalau putraku pulang mabuk-mabukan setelah itu tidak lapor lagi, kenapa?" Tanya Mommy Elisabeth penasaran begitu pula dengan Daddy Edward.
"Karena gara-gara melapor membuat Nyonya Muda di siksa. Sejak saat itu Saya tidak berani melapor lagi." Jawab kepala pelayan menjelaskan dengan wajah sendu.
"Anak itu benar-benar tidak berubah." Ucap Daddy Edward dengan nada kesal.
"Iya, Dad." Ucap Mommy Elisabeth dengan wajah penuh kecewa.
Tidak berapa lama pintu ruang UGD terbuka dan dokter berjalan mendekati mereka. Orang tua Redi dan kepala pelayan mendekati dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan menantuku, Dok?" Tanya Mommy Elisabeth dengan wajah kuatir.
"Untung di bawa secepatnya ke rumah sakit kalau tidak ibu dan janinnya tidak bisa diselamatkan." Jawab dokter tersebut.
"Apa, Dok? Menantuku hamil?" Tanya Mommy Elisabeth dengan wajah bahagia.
"Iya hamil dan untuk memastikan berapa usia kehamilannya bisa di cek ke dokter kandungan." Jawab dokter tersebut.
"Boleh kami menengok menantu kami?" Tanya Mommy Elisabeth penuh harap.
"Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan. Jawab dokter tersebut.
"Baik, Dok." Jawab mereka dengan serempak.
Skip
Kini mereka berada di ruang perawatan VVIP sambil menunggu Clara tersadar akibat pengaruh obat bius. Hingga beberapa saat Clara perlahan membuka matanya dan menatap sekeliling ruangan.
"Aku di mana?" Tanya Clara lirih sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu di rumah sakit sayang. Mommy mau telepon Redi dulu." Ucap Mommy Elisabeth.
"Jangan Mommy, nanti Clara kena marah lagi." Mohon Clara.
"Kamu tenang saja Mommy akan melindungimu." Ucap Mommy Elisabeth.
"Tapi Mom ..." Ucapan Clara terpotong oleh Mommy Elisabeth.
"Tenang saja, setelah kamu pulang dari rumah sakit kamu dan putraku tinggal bersama kami." Ucap Mommy Elisabeth.
"Tapi kalau kak Redi menolak, bagaimana Mom?" Tanya Clara yang tidak ingin serumah dengan Redi.
"Tenang saja karena kamu hamil pasti Redi tidak akan bisa menolak permintaan kami." Jawab Mommy Elisabeth.
"Aku hamil, Mom?" Tanya Clara dengan wajah terkejut.
"Iya sayang. Mommy dan Daddy sangat bahagia karena sebentar lagi kami akan mempunyai cucu." Ucap Mommy Elisabeth sambil memeluk menantu kesayangannya.
'Semoga dengan kehamilanku membuat suamiku berubah.' Ucap Clara dalam hati sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Tidak berapa lama datang Redi kemudian Mommy Elisabeth menyuruh Redi dan Clara untuk tinggal bersamanya.
Awalnya Redi tidak setuju tapi lagi-lagi karena ancaman Daddy Edward membuat Redi tidak bisa berkutik.
Ketika mereka tinggal di manson milik orang tua Redi, Redi bersikap baik dan romantis dengan istrinya. Selain itu Redi pura - pura dirinya sadar dan menyesali perbuatannya membuat orang tuanya sangat senang.
Namun ketika di kamar, Redi langsung berubah di mana Redi bersikap dingin dan acuh. Hingga di usia tujuh bulan Redi mempunyai rencana jahat terhadap istrinya.
"Kamu bilang sama orang tuaku kalau kita ingin tinggal di mansion milikku!" Perintah Redi ketika mereka berada di kamarnya.
"Maaf, Aku tidak bisa." Ucap Clara yang tidak ingin dirinya di siksa oleh suaminya.
"Pokoknya Aku tidak mau tahu. Aku dan kamu harus pindah ke mansion milikku." Ucap Redi dengan nada ketus.
"Tapi ..." Ucapan Clara terpotong oleh Redi.
"Kalau kamu tidak mau melakukan apa yang Aku perintahkan maka jangan salahkan Aku. Jika Aku memberikan obat agar anak yang kamu kandung mati bersama ibunya." Ancam Redi sambil menatap istrinya dengan tatapan membunuh.
"Baik... Baik... Aku akan lakukan tapi dengan satu syarat jangan bunuh putri kita." Mohon Clara sambil menahan agar air matanya tidak keluar.
"Dengar, Ya! Walau itu putriku tapi Aku tidak akan mengakuinya. Jadi anak yang kamu kandung itu adalah putrimu! Ingat putrimu! Bukan putri kita." Ucap Redi sambil menatap tajam dan menunjuk - nunjuk ke arah wajah Clara.
"Iya, Aku akan mengingatnya kalau anak yang Aku kandung adalah putriku." Jawab Clara sambil menggigit bibirnya untuk menahan agar air matanya tidak keluar.
"Bagus, ingat lakukan perintahku!" Perintah Redi sambil berjalan meninggalkan Clara tanpa memperdulikan perasaan Clara sedikitpun.
"Baik." Jawab Clara dengan singkat.
Clara pun melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya. Awalnya ke dua mertuanya tidak setuju tapi Clara tidak putus asa untuk membujuk ke dua mertuanya karena bagi dirinya keselamatan putrinya lebih penting.
Setelah dua puluh lima menit akhirnya ke dua mertuanya terpaksa menyetujui permintaan menantu kesayangannya.
Skip
Kini Clara dan Redi tinggal di mansion milik Redi dan sikap Redi semakin menjadi-jadi. Hingga usia kandungan Clara menginjak sembilan bulan dan tinggal menunggu waktu melahirkan.
Clara sebenarnya ingin bercerai tapi tidak tega melihat kebahagiaan ke dua orang tuanya dan juga ke dua mertuanya membuat Clara menelan pil yang sangat pahit.
tok tok tok
"Masuk." Jawab Clara sambil membelai perutnya yang sudah membuncit.
ceklek
Kepala pelayan membuka pintu kamar Clara kemudian menunduk hormat.
"Maaf Nyonya Muda, ada tamu namanya nyonya Ririn." Ucap kepala pelayan sambil memberikan hormat.
"Oh iya, Bi. Dia adalah sahabatku suruh naik ke atas saja Bi." Ucap Clara sambil tersenyum.
"Baik, Nyonya Muda." Jawab kepala pelayan dengan patuh.
Kepala pelayan itupun pergi hingga lima menit kemudian pintu kamarnya dibuka tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
ceklek
"Clara apa kabar?" Tanya Ririn sambil berjalan ke arah Clara.
"Kabarku baik, bagaimana denganmu?" Tanya Clara sambil tersenyum melihat sahabat baiknya.
"Baik, seperti yang kamu lihat." Jawab Ririn sambil memeluk Clara dari arah samping karena Clara hamil besar.
Mata Ririn tanpa berkedip menatap barang-barang mewah milik Clara membuat dirinya semakin iri hati dengan keberuntungan Clara.
"Syukurlah. Oh iya, katanya waktu itu kamu tidak jadi menikah? Kenapa?" Tanya Clara penasaran.
"Iya benar, karena ternyata calon suamiku cacat dan tiba - tiba bangkrut karena itulah Aku menolaknya dengan tegas." Jawab Ririn.
"Setelah itu apa yang kamu lakukan?" Tanya Clara.
"Aku kerja membantu orangtuaku tapi bertahun-tahun bekerja membuatku bosan hingga akhirnya Aku ingin bekerja di kota ini." Jawab Ririn.
"Oh iya, katamu suamimu pemilik perusahaan? Bagaimana kalau Aku bekerja di perusahaan suamimu?" Tanya Ririn mengalihkan pembicaraan.
"Iya benar, tapi Aku akan tanya sama suamiku dulu." Jawab Clara.
"Ok, Aku tunggu kabar baiknya. Oh ya boleh Aku menginap di rumahmu?" Tanya Ririn penuh harap.
'Siapa tahu Aku bisa menggoda suaminya dan menjadikan Aku wanita simpanan. Syukur - syukur Aku dinikahi dan sahabatku diceraikan.' Sambung Ririn dalam hati penuh harap.
"Silahkan. Di sini juga banyak kamar kosong jadi kamu tinggal pilih." Ucap Clara tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
"Ok. Aku pilih kamarnya dekat kamarmu ya." Pinta Ririn tanpa punya rasa malu sedikitpun.
"Silahkan." Jawab Clara.
Ririn pun keluar dari kamar Clara dan memilih kamar yang ada di samping kamar Clara sedangkan Clara hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Semoga apa yang kulakukan tidak salah." Ucap Clara.
Sorenya Redi pulang dari kantor sedangkan Ririn duduk di ruang keluarga dengan memakai pakaian seksi sambil menunggu kedatangan suami sahabatnya.
Hingga yang di tunggu datang di mana Redi berjalan melewati ruang keluarga.
"Nona siapa?" Tanya Redi sambil memandangi tubuh seksi Ririn yang sangat menggoda.
"Kenalkan Saya Ririn, sahabatnya Clara." Ucap Ririn berdiri dan memperkenalkan dirinya dengan suara menggoda.
"Kalau Saya Redi, silahkan duduk." Ucap Redi sambil masih memandangi kemolekan Ririn dan beberapa kali menelan salivanya dengan kasar.
"Terima kasih." Jawab Ririn sambil tersenyum menggoda dan memperlihatkan dua gunung kembarnya.
"Oh ya, Saya sudah ijin menginap di sini sama istri kakak, apakah boleh?" Tanya Ririn sambil merendahkan tubuhnya agar terlihat dua gunung kembarnya agar di sentuh.
"Silahkan." Jawab Redi sambil mengedipkan matanya kemudian memainkan dua gunung kembar milik Ririn.
"Terima kasih, oh ya apakah di perusahaan kak Redi ada lowongan? Maaf kalau Saya memanggilnya dengan sebutan kakak." Ucap Ririn dengan suara masih menggoda dan membelai adik kecil milik Redi.
"Tidak apa-apa santai saja, di perusahaan kakak ada tapi..." Ucap Redi menggantungkan kalimatnya sambil memeluk tubuh Ririn.
"Tapi apa?" Tanya Ririn sambil mengedipkan matanya dan membalas pelukan Redi.
'Tapi dengan satu syarat yaitu bersedia melayaniku.' Bisik Redi.
Redi terpaksa melepaskan pelukannya kemudian berjalan ke arah kamar pribadinya untuk menidurkan adik kecilnya yang sudah mulai menegang. Sedangkan Ririn hanya tersenyum mendengar ucapan vulgar suami sahabatnya.
"Kapanpun aku tunggu undangannya." Ucap Ririn sambil tersenyum menyeringai.
Sejak Redi dan Clara pindah ke mansion mereka tidak tidur satu kamar. Clara pun tidak mau berdekatan dengan suaminya karena perasaan untuk suaminya sudah mati sejak suaminya tidak mengakui putrinya.
Redi tidak mempermasalahkan hal itu karena dirinya tidak mau menyentuh Clara. Hingga keesokkan harinya Ririn mulai bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Redi.
"Kenapa kita berangkat pagi?" Tanya Ririn dengan suara menggoda.
"Ada sesuatu yang ingin Aku kerjakan." Jawab Redi sambil tersenyum mesum.
Ririn hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Redi duduk di kursi pengemudi sedangkan Ririn duduk di samping pengemudi.
Redi mengendarai mobil dengan kecepatan sedang hingga dua puluh lima menit kemudian mereka sudah sampai di perusahaan milik orang tua Redi yang sudah diberikan untuk dirinya.
"Ikut Aku masuk ke dalam ruanganku!" Perintah Redi ketika mereka berada di ruangan CEO milik Redi.
"Ok." Jawab Ririn dengan singkat dan patuh.
Ririn tanpa curiga mengikuti langkah Redi hingga mereka sampai ke kamar pribadi milik Redi yang terhubung dengan ruangan kerja.
"Wow.... Enak ya kalau lelah bekerja, langsung istirahat dan ruangan kamar ini bentuknya mirip hotel." Ucap Ririn sambil menatap sekeliling kamar dengan pandangan takjub.
grep
"Iya benar. Aku ingin sekali merasakan tubuhmu sekarang." Bisik Redi sambil memeluk tubuh mungil Clara.
"Tapi Aku tidak mau kalau hanya menjadi penghangat ranjang Kak Redi." Ucap Ririn sambil tubuhnya bersandar di dada bidang Redi tanpa ada rasa canggung sama sekali.
"Tenang saja setelah istriku melahirkan maka Aku akan menikah denganmu dan istriku akan Aku ceraikan." Ucap Redi berbohong.
'Cih asal kamu tahu, Aku hanya memakai satu kali setelah itu Aku buang dan itu berlaku untuk dirimu.' Sambung Redi dalam hati.
"Ok." Jawab Ririn dengan singkat.
Merekapun melakukan kegiatan suami istri di mana Ririn merelakan harta berharganya yang selama ini di jaganya. Untuk diberikan oleh Redi asalkan dirinya bisa menjadi Nyonya Redi dan hidup dengan kemewahan.
Setelah selesai melakukan hubungan suami istri, merekapun mandi bersama. Entah kenapa biasanya Redi hanya bermain sekali setelah itu memutus hubungan dengan wanita tersebut dengan memberikan imbalan uang.
Tapi ketika bermain sekali dengan Ririn dirinya menjadi ketagihan dan tidak pernah merasakan bosan malah menginginkan lagi dan lagi.
"Punyaku masih perih." Ucap Ririn ketika tubuhnya disatukan kembali oleh Redi.
"Maaf, Aku sangat ketagihan dengan tubuhmu." Ucap Redi sambil menggoyangkan pinggulnya berulang kali.
'Itu karena Aku memakai susuk agar orang yang melakukan itu padaku akan menjadi ketagihan dan membuatnya candu dengan tubuhku.' Ucap Ririn dalam hati.
Seminggu Kemudian
Tidak terasa hubungan Ririn dengan Redi tidak ada yang mengetahui baik istrinya maupun ke dua orang tuanya. Namun sepandai pandainya tupai melompat akhirnya ketahuan juga itulah yang terjadi pada Ririn dan Redi.
Clara yang merasa perutnya mulai kram keluar dari kamarnya untuk meminta bantuan kepala pelayan dan tanpa sengaja dirinya mendengar suara desahan dua orang di kamar sahabatnya yang bernama Ririn.
ceklek
Clara membulatkan matanya dengan sempurna ketika melihat suaminya sedang berada di atas tubuh sahabatnya sedangkan sahabatnya berada di bawah melakukan hubungan suami istri.
"Kalian..." Ucap Clara tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
Redi yang merasa kesal kesenangannya di ganggu langsung menarik adik kecilnya kemudian berjalan mendekati istrinya.
plak
"Ini hukuman akibat mengganggu kesenangan kami." Ucap Redi sambil menampar pipi Clara dengan sangat keras hingga sudut bibirnya mengelurkan darah segar.
"Ririn, kamu itu sahabatku kenapa kamu tega padaku? Hiks... hiks.. hiks..." Ucap Clara sambil terisak dan memegangi pipinya yang terasa perih akibat tamparan suaminya tanpa memperdulikan ucapan suaminya.
"Aku ingin hidup enak dengan menjadi Nyonya Redi." Jawab Ririn tanpa punya rasa bersalah sedikitpun.
"Kamu jahat! Selama ini Aku membantumu dan mau berteman denganmu, tapi inikah balasanmu padaku?" Tanya Clara dengan wajah penuh kecewa.
"Berisik, sayang usir Dia!" Usir Ririn tanpa punya rasa empati sedikitpun.
bruk
"Akhhhhh sakit..." Teriak Clara.
Tanpa punya rasa empati sedikitpun Redi mendorong tubuh istrinya hingga terjatuh ke lantai yang sangat dingin membuat istrinya berteriak kesakitan.
"AKU MENGUTUK KALIAN BERDUA, DI MANA SUATU SAAT NANTI PUTRIKU AKAN MEMBALAS SEMUA RASA SAKIT YANG AKU RASAKAN SELAMA INI YANG TELAH KALIAN BERIKAN PADAKU DENGAN BERKALI-KALI LIPAT!!!" Teriak Clara dengan suara menggelegar.
duar
duar
Terdengar suara petir saling bersahutan membuat Redi marah.
"Aku tidak takut sama sekali. Sebelum putrimu melakukan itu Aku akan menyiksanya dan membunuhnya." Ucap Redi.
Sambil berbicara Redi menendang perut Clara dengan sangat kejam tanpa punya rasa empati sedikitpun. Padahal janin yang di perut Clara adalah darah dagingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Ai Maryami
iih baru mulai baca ceritanya dah serem
2024-07-17
1
Helen Nirawan
jd cewe oon , isshh laki gt di piara , buang ke laut , gk usah pake acara gk tega ama ortu , yg ada lu jd gila , mang sapa yg peduli , ishhhh , gk mutu , lembek , cengeng
2024-07-16
1
Oi Min
iki hasil akhir seko ijinmu nang Ririn jalang
2024-06-06
0