EP 19 RONDE 2

Suasana kini kian mencekam, Dokter Cris menatap tajam pada wajah komandan Zero. Sebaliknya komandan Zero hanya menatap datar pada wajah Dokter Cris.

   "Cris, apa kau yakin bisa melakukannya?" Tanya Aida pelan, karena Aida agak menghawatirkan keadaan Dokter Cris yang sekarang, dan kini Dokter Cris dan dirinya harus berhadapan dengan orang terkuat dan terkejam di kamp.

   "Heh! Jangan meremehkan ku Aida, aku masih bisa menahannya, luka ini belum seberapa bagiku" jawab Dokter Cris dengan yakin.

   "Dasar kalian para bocah sombong, akan aku lenyapkan kalian dan ku beri tubuh kalian itu menjadi makanan mereka!" Ucap komandan Zero yang langsung bersiap mengeluarkan dua pisaunya.

   Komandan Zero langsung berlari dengan begitu cepat menyerang Aida dan Dokter Cris. Untung Aida dan Dokter Cris sempat menghindar, Aida menghindar ke kiri sedangkan Dokter Cris ke kanan.

   Komandan Zero terkenal dengan gerakannya yang cepat dan pandai menggunakan pisau. Aida dan Dokter Cris harus berhati hati pada pisau yang di pegang oleh komandan Zero.

   "Ayo Aida!" Ucap Dokter Cris dengan pisau sudah bersiaga di tangan kanannya.

   "Ya!" Jawab Aida yang sama sudah mengeluarkan pisaunya.

   Aida dan Dokter Cris berlari menghampiri komandan Zero yang berdiri tak jauh di depan mereka, Aida dan Dokter Cris mencoba menyerangnya secara bersamaan. Aida menyerang dari  sisi kiri dan Dokter Cris menyerang dari sisi kanan. Dua pisau mengarah pada komandan Zero, namun gerakan pisau komandan Zero lebih cepat dari gerakan pisau Aida dan Dokter Cris.

    Komandan Zero seperti sudah bisa membaca gerakan Dokter Cris dan Aida. Dengan mudah komandan Zero menahan dua pisau yang mengarah padanya menggunakan pisau yang dia pegang. Aida dan Dokter Cris segera mundur ke belakang karena serangannya gagal.

   "Hanya bocah, memangnya kalian bisa mengalahkan ku!" Ucap komandan Zero.

   Komandan Zero mulai bergerak kembali, komandan Zero bergerak zig zag ke arah Aida. Gerakannya begitu cepat, Aida sampai sulit melihat komandan Zero yang begitu cepat.

    "Gerakannya cepat sekali! Aku tak bisa melihatnya dengan jelas!"  Ucap Aida dalam hati.

   Tak terasa komandan Zero sudah ada di hadapan Aida, terlihat pantulan cahaya di pisau komandan Zero. Aida tak sempat menghindar, namun Dokter Cris dengan cepat menghampiri Aida dan menarik tubuhnya agar menghindar ke samping.

   "Kau tidak apa apa?!" Ucap Dokter Cris.

   "Ya, aku tak bisa melihat pergerakannya ini karena di sini begitu gelap" jawab Aida.

   "Jangan gunakan penglihatan mu, gunakan pendengaran mu. Ini salah satu dari triknya untuk lebih mudah mengalahkan lawan" jawab Dokter Cris.

   Aida memfokuskan pendengarannya, terdengar suara langkah kaki dengan cepat menuju ke arah mereka.

   "Menghindar!" Ucap Dokter Cris.

   Aida dan Aida langsung menghindar ke samping, tak berhenti dari sana terdengar suara langkah kaki lagi menghampiri Aida. Aida mendengar ada 4 langkah kaki dengan cepat bergerak zig zag setelahnya  terlihat pantulan cahaya dari pisau komandan Zero mengarah padanya. Aida langsung meloncat kebelakang menghindari serangan pisau komandan Zero.

   Tahu kalau ini adalah sebuah kesempatan, Dokter Cris sudah berada di belakang komandan Zero dan dengan cepat menghunuskan pisaunya. Namun lagi lagi gerakan pisaunya terhenti karena di tahan oleh pisau komandan Zero.

    Komandan Zero memegang tangan kanan Dokter Cris lalu membalikan badan dan menendang perut Dokter Cris menggunakan lututnya dengan begitu keras. Komandan Zero meninju bagian tulang bawah rusuk Dokter Cris dengan sangat kuat. Darah segar keluar dari mulut Dokter Cris, saking kerasnya tinju tersebut Dokter Cris sampai terpental cukup jauh.

   "Cris!" Aida berteriak.

   Terdengar suara langkah kaki sebanyak 4 kali menuju Aida, Aida tak sempat menghindar. Komandan Zero berhasil melukai Aida, satu sayatan pisau mengenai tangan kirinya. Aida mundur dua langkah menjaga jarak, namun lagi lagi terdengar suara langkah kaki sebanyak 4 kali menuju padanya dan tiga sayatan berhasil mengenai kaki Aida.

   Aida jatuh berlutut, kakinya terasa begitu sakit dan cukup sulit untuk berdiri kembali. Gerakan itu tak bisa terlihat oleh Aida, gerakan tersebut terlalu cepat dan dalam keadaan tempat yang gelap semakin membuatnya kesusahan untuk membaca gerakan komandan Zero.

    "Jangan gunakan penglihatan mu, tapi gunakanlah pendengaran mu"

   Aida teringat perkataan Dokter Cris sebelumnya, dirinya harus menggunakan pendengarannya. Aida mulai melemaskan tubuhnya, lalu berusaha untuk fokus.

   Terdengar di belakangnya ada suara langkah kaki dengan cepat, namun beberapa langkah mendekatinya gerakan kaki tersebut berubah menjadi zig zag, satu..dua..tiga.. empat, setelah menginjakkan langkah ke empatnya pisau melayang ke arahnya. Aida sepertinya mulai memahami teknik yang komandan Zero pakai, serangan yang sebelumnya Aida sengaja agar mengenai tubuhnya untuk memastikan gerakan komandan Zero. Sebuah luka sayatan sepanjang 15 cm berada di punggung Aida. Darah keluar dari luka tersebut, namun Aida tidak memedulikan nya karena kini Aida sudah mengetahui pergerakan komandan Zero.

    Aida bangkit berdiri memaksakan kakinya, Aida semakin memfokuskan pendengarannya. Terdengar suara langkah kaki secara zig zag menuju ke arahnya. Aida menghitung jumlah langkah kaki tersebut, satu, dua, tiga, setelah langkah kaki ke empat Aida mengayunkan pisaunya ke depan dan tepat menangkis serangan komandan Zero. Komandan Zero yang mengetahui jika Aida sudah tahu pergerakannya segera melompat mundur menjaga jarak.

    "Kau lumayan juga, tapi guru lebih hebat daripada muridnya!" Ucap komandan Zero yang lalu berlari menuju Aida.

   Komandan Zero berlari dengan kencang menuju Aida, setelah cukup dekat komandan Zero melompat ke atas. Dua pisaunya terhunus menuju Aida dari atas, Aida yang menyadarinya segera melompat ke belakang menghindari komandan Zero.

    Tidak berhenti dari sana, komandan Zero berlari lagi menuju Aida. Sayang sekali karena melompat tadi Aida kurang teliti dan kakinya terkilir. Aida tak mungkin bisa menghindari komandan Zero lagi, komandan Zero pun sudah dekat dengannya. Aida tak bisa bergerak sama sekali, karena kakinya sulit untuk di gerakan.

   Terlihat pantulan cahaya di pisau komandan Zero dengan cepat melesat ke arahnya, Aida hanya bisa pasrah karena tak mungkin bisa menghindarinya.

   "Haha! Matilah kau!" Teriak komandan Zero.

   Pisau meluncur dengan cepat menuju Aida, Aida menutup matanya. Namun sesaat Aida tidak merasakan apa apa, dirinya membuka matanya dan melihat Dokter Cris menghentikan pergerakan pisau komandan Zero dengan menahan tangan kanan komandan Zero menggunakan tangan kirinya.

   "Kau!" Ucap komandan Zero tidak suka.

   Dokter Cris menghunuskan pisaunya mengarah pada perut komandan Zero, namun komandan Zero lebih cepat menghindar sebelum pisaunya mengenai tubuh komandan Zero.

   "Cris, kau tidak apa apa?!" Ucap Aida khawatir karena melihat darah masih keluar dari mulut Dokter Cris.

   "Aku tak apa apa, tadi aku hanya tertidur sebentar" jawab Dokter Cris sambil tersenyum.

   Biarpun Dokter Cris menjawab seperti itu, pasti Dokter Cris tidak baik baik saja. Darah masih menetes keluar dari mulutnya, mana ada orang baik baik saja dalam keadaan seperti itu? Nafas Dokter Cris terengah engah dan wajahnya pun memucat, namun Dokter Cris masih bertahan agar terus bertarung dengan komandan Zero.

   "Wah wah wah, kau ini cukup merepotkan juga ya. Padahal tadi tinggal sedikit lagi, ya bagaimana jika kita percepat permainan ini? Kita buat menjadi semakin seru?" Jawab komandan Zero.

   "Hah?" Ucap Dokter Cris tidak paham.

   Komandan Zero naik ke reruntuhan tangga yang di atasnya ada mayat 026 tergeletak begitu saja. Aida dan Dokter Cris memperhatikan apa yang di lakukan oleh komandan Zero.

   Komandan Zero mengeluarkan sebuah suntikan yang isinya sudah ada cairan berwarna kuning. Melihat suntikan itu, Dokter Cris langsung terkejut.

   "Apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?!" Ucap Dokter Cris.

   Komandan Zero menatap Dokter Cris yang terlihat ketakutan, "apa yang akan ku lakukan? Kau pasti tahu apa yang akan aku lakukan kan?" Jawab komandan Zero.

    Komandan Zero menusukkan jarum suntik tersebut pada 026, wajah Dokter Cris langsung membeku. Sepertinya sesuatu yang berbahaya akan segera muncul, Aida tidak mengerti kenapa Dokter Cris sampai sebegitu takutnya. Cairan apa yang komandan zero masukkan di dalam suntikan tersebut?

    "Nah, mari kita lanjut ke ronde kedua" ucap komandan Zero sambil tersenyum.

    Komandan Zero melompat turun dari atas sana, Dokter Cris bersiap dengan pisau di tangan kanannya, tatapannya kini benar benar serius. Tak lama dari itu, terlihat di atas sana, tubuh 026 mengalami perubahan. Punggung 026 tampak bergerak, seperti ada sesuatu di dalam punggungnya. Aida dan Dokter Cris diam melihat 026 yang mulai berdiri lagi.

   "Dia..masih hidup?" Ucap Aida pelan.

   "cih!" Ucap Dokter Cris terlihat kesal.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!