Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Aida tiba di asrama nya. Seperti biasa asramanya penuh dengan orang orang yang berlalu lalang, Aida berjalan menuju asramanya.
Di tengah perjalanannya, Aida melihat ada tiga orang orang kamp dengan 5 orang anak anak. Ke lima anak tersebut laki laki dan mungkin masih berusia 6 atau 7 tahun. Ke-5 anak tersebut di bawa ke lapangan kamp, terlihat dari tubuh mereka ada beberapa perban putih dan beberapa luka memar. Aida merasa agak aneh, karena selama dirinya ada di sini Aida belum pernah melihat anak anak berada di kamp.
Karena penasaran Aida mengikuti mereka dari belakang, gerbang lapangan kamp di jaga oleh dua orang. Aida hanya melihat di luar lapangan dari balik pagar besi.
Aida memperhatikan dari jauh, ke-5 anak anak tersebut berbaris di tengah lapangan. Terlihat wajah mereka ketakutan, tubuh mereka juga agak gemetaran saking takutnya.
Salah satu dari tiga orang kamp berbicara pada anak anak tersebut, karena terlalu jauh dan juga keadaan sedikit ramai jadi Aida tidak bisa mendengarkan dengan teliti. Tapi jika dilihat dari raut wajah orang tersebut, dia nampak seperti marah akan sesuatu.
Aida masih diam di tempat memperhatikan, orang yang tadi berbicara kini mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Benda yang di keluarkannya adalah pecutan, Aida agak tersentak kaget karena orang tersebut. Apa orang ini hendak menyiksa anak anak itu? Tentu Aida tidak bisa membiarkannya, karena Aida tahu bagaimana rasanya di siksa selama dirinya berada di pelatihan.
Orang tersebut mulai mencambuk seorang anak kecil di depannya, wajahnya kini sangat ketakutan begitu pula dengan yang lainnya. Anak tersebut hanya bisa meringkuk di tanah dengan kedua tangannya melindungi bagian kepalanya. Sambil menangis anak tersebut berteriak meminta ampun, tapi bukannya berhenti malah membuat cambukannya semakin keras. Tubuh anak tersebut terlihat memerah seiring tubuhnya di cambuk.
"Cih! Orang orang ini..!" Ucap Aida kesal.
Aida berjalan menuju gerbang utama jalan masuk ke lapangan kamp, raut wajahnya terlihat kesal. Aida berjalan dengan sedikit berlari ke hadapan pintu gerbang, namun dirinya langsung di hadang oleh dua penjaga yang berjaga di depan pintu.
"Hei, apa yang kau lakukan disini? Kau tidak boleh masuk, ini perintah dari para atasanmu!" Ucap salah satu dari dua penjaga tersebut.
"Ha?! Atasan kau bilang? kini akulah atasan mereka, jadi kau minggirlah!" Ucap Aida sambil melancarkan tinjunya pada wajah orang di hadapannya.
Salah satu penjaga yang baru saja Aida tinju, langsung terjatuh dengan hidungnya yang mengeluarkan darah. Tatapan Aida semakin tajam, dua orang penjaga tersebut hanya diam tidak bisa berbuat apa apa.
Aida langsung saja meninggalkan kedua penjaga tersebut dan langsung masuk ke dalam lapangan. Terlihat orang yang tadi Aida lihat hendak mencambuk kembali seorang anak yang meringkuk di hadapannya.
Tali cambuk melayang dengan cepat pada tubuh anak Didepannya, namun Aida lebih gesit dari gerakan tali tersebut. Tali cambukan berhasil Aida tahan dengan tangan kirinya, tali cambukan begitu erat Aida pegang. Tatapannya pada orang di hadapannya begitu menakutkan, tiga orang kamp hanya melongo melihat Aida bertindak seperti itu. Anak anak yang berada di belakangnya juga melihat Aida, Aida menarik cambuk dari tangan pemiliknya lalu melemparkannya ke sembarang arah.
"Hei! Apa yang kau lakukan?! Berani sekali kau bertindak seperti itu! Apa kau juga ingin ku hukum hah?!" Teriak orang di hadapannya tidak terima pecutannya di lempar oleh Aida.
Aida tidak menjawab dan hanya membalas dingin menatap orang di hadapannya, orang yang ada di hadapannya kini mengepalkan telapak tangannya hendak meninju Aida. Namun salah satu dari dua temannya mendekat lalu membisikkan sesuatu pada temannya itu.
"Hei, apa kau sudah gila? Dia sudah menjadi atasan kita! Pangkatnya jauh berada di atas kita!" Ucap orang tersebut.
Wajah temannya yang mendengar langsung mengeras karena terkejut juga karena kesal, "apa maksudmu?" Tanya orang tersebut.
"Aku dengar dia baru saja di naikkan pangkat menjadi 001, jika kita macam-macam padannya bisa bisa kepala kita akan menghilang dari tubuh kita" jawab temannya tersebut yang lalu menjauh satu langkah ke belakang.
Tiga orang di hadapannya kini hanya menunduk dalam diam, tidak ada dari mereka yang berani menatap wajah Aida. Sepertinya informasi tentang dirinya yang naik pangkat menjadi 001 sudah menyebar dengan cepat, Aida tidak mempedulikan orang yang di depannya dan langsung berbalik badan pada ke-5 anak anak tersebut yang terlihat masih sedikit ketakutan.
Aida menatap pada anak kecil yang masih terduduk di tanah, tubuhnya sedikit kotor dengan tangan dan kakinya yang memerah dengan getaran, berwarna merah gelap akibat cambukan yang dia dapat.
"Kau..tidak apa apa?" Tanya Aida pelan pada anak tersebut.
"Eh..?" Ucap anak tersebut.
"Cepatlah bangun, lalu obati lukamu" ucap Aida sambil mengulurkan tangannya pada anak tersebut.
Anak tersebut membalas uluran tangan Aida, anak tersebut berdiri walaupun badannya sedikit gemetaran. Di sekujur tubuhnya terasa rasa panas dan perih, apalagi di bagian punggungnya.
Aida berbalik menatap kembali tiga orang kamp yang masih berdiri di tempatnya, "dimana asrama untuk mereka?" Tanya Aida dengan dingin.
"Em..mereka baru datang kemarin, jadi..asrama untuk mereka belum disiapkan" jawab salah satu dari mereka agak ketakutan berbicara pada Aida, apa menjadi 001 memang semenakutkan itu di wajah mereka?
Aida menghembuskan nafas pelan, "begitu ya" ucap Aida.
Aida berbalik menatap anak-anak yang ada di belakangnya, Aida berpikir jika anak anak untuk sementara ini ada di asrama nya saja dulu. Karena kamar asmaranya masih ada beberapa tempat kosong, jika asrama untuk mereka sudah siap mereka bisa pergi.
"Kalau begitu untuk sementara sampai mereka memiliki asrama sendiri, lebih baik kalian menginap saja dulu di asramaku. Lagipula kalian tidak mau kan tidur di luar" ucap Aida.
Anak anak yang mendengarnya melihat Aida dengan begitu antusias, mereka merasa jika Aida berbeda dari yang lain. Biarpun wajahnya tampak dingin namun dia terlihat baik. Anak anak tersenyum sambil meng iya kan pada Aida sebagai tanda jika mereka terima tinggal sementara di asrama Aida.
"Kalau begitu ikuti aku, aku akan mengantar kalian ke asramaku. Lalu untuk kalian bertiga, kalian siapkan pakaian untuk mereka dan juga salep untuk luka anak ini. Aku ingin secepatnya" ucap Aida dengan nada dingin pada tiga orang kamp yang ada di belakangnya.
"Eh..baik!" Ucap salah satu dari mereka.
Aida berjalan melewati tiga orang Kamp yang masih berdiri dengan tegak, di ikuti oleh ke-5 anak anak di belakangnya. Setelah sampai di depan asmara Aida, Aida memasuki salah satu pintu yang dimana itu adalah kamarnya.
Aida dan ke-5 anak anak tersebut masuk ke dalam kamar, seperti biasa ada dua jajar kasur bertingkat tiga, lalu ada satu lemari dan meja kecil di tengah. Aida melihat pada salah satu dari kasur tersebut, di bagian kanan paling bawah terlihat kasurnya rapih seperti tidak di pakai. Aida baru menyadari bahwa teman sekamarnya benar benar pergi meninggalkannya. Aida hanya menghembuskan nafas pelan, lalu duduk di kasurnya.
"Kalian pilihlah kasur mana yang kalian inginkan, jangan berisik dan jangan mengangguku mengerti" ucap Aida.
"Baik!" Jawab anak anak.
Tok..Tok..Tok.., terdengar suara pintu di ketuk. Aida membuka pintu dan rupanya itu salah satu orang yang tadi dia perintah untuk membawakan baju ganti untuk anak anak.
"Ini pakaiannya, lalu ini salep yang anda minta" ucap orang tersebut sambil menyerahkan botol salep berukuran bulat yang berwarna putih dan kantong berwarna hitam besar yang berisikan baju.
"Ah..kalau begitu cepatlah pergi" ucap Aida setelah membawa kantong dan botol salep tersebut.
"Baik" ucap orang tersebut yang langsung pergi.
Aida menutup pintu lalu menghampiri anak anak yang masih mencari tempat mereka untuk tidur. Aida meletakan kantong hitam yang berisi baju tersebut di lantai.
"Ini baju untuk kalian, masing masing dua setelan baju. Sekarang kalian bersihkanlah tubuh kalian sebelum tidur, jika sudah kembali ke sini untuk tidur" ucap Aida.
"Baik" ucap anak anak senang.
Anak anak pergi ke kamar mandi umum dengan membawa masing masing satu setelan baju. Aida duduk di kasurnya, Aida terpikir jika untuk menghabiskan waktu cutinya lebih baik melatih anak anak ini sampai dirinya selesai cuti. Lagipula dirinya masih tidak percaya pada latihan orang orang kamp yang begitu keras pada anak anak.
Ah..tumben sekali Dokter Cris tidak menemuinya pada sore hari ini, biasanya pada sore hari Dokter Cris selalu datang padanya walaupun hanya sekadar ingin bertemu. Ya..mungkin dia sangat sibuk sekarang, Aida harap Dokter Cris tidak sampai sakit karena begadang.
Menit demi menit berlalu, tak terasa Aida termenung sendirian selama satu jam. Entah kenapa Aida merasa jika kini asramanya sangat sepi tanpa ocehan 006 dan 026 yang sering bertengkar karena masalah kecil.
"Kami kembali" ucap salah satu anak anak yang baru saja kembali dari pemandian umum.
Baju mereka sudah bersih begitu pula dengan tubuh mereka, baju kotor mereka pisahkan agar besok mereka bisa mencucinya. Anak anak naik ke kasur mereka masing masing, Aida melihat anak yang tadi dengan luka merah akibat pecutan duduk di kasur sebelahnya.
"Hei kau" ucap Aida memanggil anak tersebut.
"Ya?" Jawab anak tersebut langsung menatap Aida.
"..., Kemarilah" ucap Aida.
Anak tersebut menuruti keinginan Aida, anak tersebut mendekat beberapa langkah pada Aida. Aida menyuruh anak tersebut agar duduk di sampingnya, anak tersebut menurutinya kembali.
Anak itu duduk di samping Aida, Aida membuka baju bagian atasnya lalu membaliknya agar mempunggunginya. Terlihat punggung anak tersebut banyak sekali luka garis merah akibat tadi sore di cambuk. Aida mengeluarkan botol bulat kecil berwarna putih dari saku celananya dan membuka tutup botol, di dalamnya berisi salep luka berwarna putih.
Anak di hadapannya tidak berkata dan hanya diam saja saat Aida mulai mengoleskan salep luka tersebut pada lukanya. Biarpun lukanya yang di olesi salep oleh Aida terasa perih, anak ini diam saja sambil menahan rasa sakit perih di punggungnya.
Tak lama Aida mengolesi salep di luka anak tersebut, Aida menutup kembali botol salep tersebut lalu memasukannya ke saku celananya.
"Sekarang kalian semua tidurlah, besok kalian harus mulai berlatih" ucap Aida yang bangkit dari duduknya.
"Baik!" Jawab anak anak.
Anak anak sudah mulai merapihkan kasur mereka untuk segera tidur, Aida berniat ke luar sebentar untuk mencari udara segar karena entah kenapa dadanya sedikit terasa sesak. Apa karena dirinya tak biasa banyak bertemu dengan orang lain makanya jadi seperti ini? Ya mau bagaimanapun Aida tak terlalu memikirkannya.
Aida berjalan ke luar asmaranya, terlihat langit begitu gelap. Tak ada kelap kelip bintang maupun cahaya bulan di atas sana, Aida memegang dadanya yang terasa sesak. Entah kenapa Aida merasa jika badai akan segera datang, dirinya jadi teringat akan Dokter Cris. Aida belum melihatnya sejak siang tadi, apa Dokter Cris begitu sibuk malam ini? Biasanya mau sesibuk apapun dirinya pasti Dokter Cris selalu memberi kabar padanya.
"Cris..?" Ucap Aida pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments