Pagi hari tiba, langit berwarna ke jingga an, tapi matahari belum muncul. Aida masih tertidur, dua teman sekamarnya tidak terlihat ada di dalam sana. Hanya ada Aida Seorang yang masih terlelap.
Terdengar suara pintu di buka, seseorang memasuki kamar Aida. Orang tersebut dengan paksa melepas selimut Aida sampai Aida bangun karena terkejut. Orang tersebut menatap tajam pada Aida, Aida yang masih terkejut serta tidak tahu apa yang terjadi hanya balik menatap orang tinggi di depannya.
Orang tersebut malah kesal dan membangunkan Aida secara paksa. "Hei, apa apaan?!" Ucap Aida masih tidak mengerti.
"Cepat ganti baju sana! Dasar tidur saja kerjaanmu. Sialan! Kenapa harus aku yang harus membangunkan mu, cepat pakai baju ini dan pergi keluar, sekarang!" Ucap orang tersebut marah marah, biarpun begitu Aida tidak tahu apa yang orang itu katakan. Tapi melihat orang tersebut memberikannya baju walaupun agak di lempar dengan kasar, sepertinya dia mengerti.
Aida memakai baju hitam putihnya, lalu ke luar kamar. "Kemana yang lain? Dari tadi aku tidak melihat mereka" ucap Aida pelan.
Di luar kamar, orang tadi rupanya menunggu Aida, "kau ini lama sekali, cepat kau harus pergi!" Ucap orang tersebut menarik tangan Aida dengan kasar.
Langkah orang dewasa tentu lebih besar dengan langkah kaki anak kecil, Aida sampai beberapa kali hampir terjatuh karena harus menyamakan langkah kakinya dengan orang tersebut.
Di luar asrama sudah ada sebuah mobil truk berwarna hitam, Aida di paksa masuk ke dalam truk tersebut dari belakang. Terlihat ada 15 orang dewasa yang juga duduk berdampingan dengan Aida. Wajah mereka tampak putus asa, tak ada juga dari mereka yang berbicara.
"Kenapa dengan mereka? Omong omong apa tidak salah aku ikut dengan mereka? Aku juga tidak tahu sebenarnya aku akan di bawa kemana" ucap hati Aida.
Truk yang di kendarai Aida mulai melaju perlahan, keluar dari pagar besi dan terus melajui jalanan yang berbelok belok Entah kemana Supir membawa Aida dan yang lainnya, namun jika dilihat mereka terus masuk ke dalam hutan.
Tak ada yang berbicara sepatah katapun, mereka semua yang menumpangi truk ini seperti pasrah pada keadaan yang akan mereka alami.
Beberapa lama dari sana, truk berhenti di sebuah lapangan besar, Aida dan lima belas orang lainnya turun dari truk. Lalu maju secara berbaris, perlahan memasuki lapangan.
Di lapangan ruapanya sudah banyak orang yang berbaris di tengah lapangan, jika di jumlahkan ada 72 orang yang berbaris. Aida ikutan berbaris di antara barisan, Aida masih bingung kenapa hanya ada dirinya saja anak anak disini. Semuanya kecuali dirinya orang orang dewasa. Apa benar dirinya harus ada di sini?
Seseorang maju kedepan lalu berteriak dengan kencang, dirinya membicarakan sesuatu tetapi sayangnya Aida tidak paham apa yang orang tersebut bicarakan. Orang tersebut mengangkat tangan kanannya lalu muncul 10 orang membawa senjata berupa pistol. Wajah Aida langsung tegang, kenapa orang orang itu membawa senjata? Mereka akan menembak apa?
Orang tersebut kembali berteriak memberi isyarat, orang orang yang awalnya berbaris rapi kini berhamburan berlari ke sana kemari untuk menyelamatkan dirinya.
10 orang yang membawa senjata tersebut langsung menembak secara bersamaan. Aida sontak panik, satu dua orang terkena tembakan. Aida tentu saja akan langsung berlari karena takut tertembak. Dirinya berlari untuk menyelamatkan dirinya keluar dari lapangan dan masuk ke dalam hutan.
"Apa apaan mereka tadi?! Apakah mereka ingin membunuhku?! Apa ini pembunuhan massal?! Atau ini hukuman mati untukku?!" Teriak Aida sambil terus berlari.
Tidak lama Aida berlari, Aida terkejut karena jalannya di tutupi oleh pagar besi berduri. Aida bingung harus ke mana, orang orang ini benar benar tidak membiarkan siapapun pergi. Aida benar benar bingung dirinya harus kemana.
"Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?!" Ucap Aida dalam hati.
Dua orang ternyata mengikuti Aida, Aida sempat berlari namun pada akhirnya tertangkap.
"Ahh! Tolong!!! Lepaskan aku!!!" Teriak Aida.
Aida di seret kembali ke tengah lapangan, lapangan terlihat basah dengan darah manusia. Beberapa orang meninggal di tempat dan sudah di bereskan. Di tengah lapangan ada 16 orang yang tampaknya berhasil selamat dari peluru, namun ada juga beberapa yang terluka di bagian tangan dan kakinya. Mereka semua berbaris di tengah lapangan dengan rasa takut menyelimuti tubuh mereka.
Aida di paksa agar berbaris juga di antara barisan, jika dilihat dirinya tidak terluka parah seperti yang lain. Masih dengan orang yang sama, di depan mereka berdiri seseorang lalu berteriak kembali seperti mengatakan sesuatu. Lagi lagi Aida tidak paham maksud perkataannya karena tidak mengerti bahasanya.
Tidak lama setelah orang tersebut selesai berbicara, orang yang tadinya berbaris langsung merapatkan dirinya pada tanah seperti posisi push up. Aida juga mengikuti yang lainnya, Aida dan yang lainnya langsung melakukan push up. Aida yang baru saja 3× push up langsung sudah lelah dan berhenti. Namun seseorang datang dan langsung memecut Aida dengan keras menggunakan tali kasar.
Aida merasakan sakit perih dan panas di punggungnya akibat pecutan orang tersebut. Air matanya jatuh menahan sakit di punggungnya, karena tak mau di pecut lagi Aida terpaksa harus menuruti kemauan orang tersebut dengan berpush up entah harus berapa lama.
Sudah lima menit berpush up, beberapa orang sudah kelelahan, namun sedetik mereka berhenti mereka langsung di pecut dengan keras. Aida dan yang lain terpaksa harus bertahan agar tidak terkena pecutan.
Di tempat lain, ada dua orang di atas menara, satu duduk di kursi dan yang satunya lagi berdiri di sampingnya. Orang yang duduk rupanya itu adalah komandan Zero, dirinya menonton Aida serta yang lain di atas sana sambil menghisap rokok.
"Hahaha, anak itu lumayan juga. Mari kita lihat seberapa tangguhnya anak itu" ucap komandan Zero dengan senyum seringai yang menakutkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments