EP 08 IMPIAN

   Di ruangan laboratorium, terdapat satu kasur yang di tempati oleh seorang anak perempuan, Ada seorang wanita berdiri di samping kasur tersebut dan satu anak laki laki yang berlutut di hadapannya.

   "Cristian, ini adalah perintah langsung dariku. Kau harus menjaganya selama aku tak ada, jagalah dia baik itu dengan nyawamu" ucap wanita tersebut.

   "Baik! Saya Cristian bersumpah, agar menjaganya dengan nyawa saya!" Ucap anak laki laki tersebut sambil berlutut di hadapan wanita tersebut.

                            ***

    Dokter Cris bangun dari tidurnya, ini adalah ruangannya Dokter Cris. Terlihat Dokter Cris tidur sambil duduk di kursinya. Matanya masih merah karena baru bangun tidur, lalu Dokter Cris melihat ke sekeliling. Saat melihat ke kasur pasien, Dokter Cris tidak melihat Aida terbaring di sana. Dokter Cris langsung bangun dari duduknya dan segera pergi ke luar.

   Hari sudah pagi rupanya, jika tidak salah Dokter Cris begadang semalaman karena harus melakukan sesuatu dan karena kelelahan akhirnya dirinya ketiduran.

   Kamp pada pagi hari terlihat ramai dengan para prajurit kamp yang lari pagi dan melakukan aktifitas lainnya. Namun Dokter Cris mencari Aida, biasanya Aida saat pagi hari akan ikut pada rombongan untuk latihan pagi, tapi pagi ini dirinya tidak melihat Aida. Kemana Aida pergi? Apa dia sudah kembali ke asrama? Atau dia mengunjungi suatu tempat?

                           ***

    Di sebuah tebing, yang letaknya tak jauh dari lokasi kamp. Aida terlihat duduk di ujung tebing melamun sendirian. Terlihat di bawah tebing ada sebuah jurang yang begitu dalam, di bawah sana terlihat ada beberapa tengkorak manusia yang sudah sedikit hancur.

    Kenapa bisa ada tengkorak di sana? Karena tempat ini sebenarnya adalah tempat pengeksekusian. Aida pernah melihat ada seseorang yang di eksekusi dengan cara menembak kepalanya di tebing ini. Lalu mayat orang tersebut langsung di buang ke dalam jurang begitu saja. Entah siapa yang di eksekusi tapi ada yang mengatakan itu adalah para prajurit yang mengkhianati kamp, ada juga yang mengatakan itu adalah warga sipil yang memang sengaja di bunuh. Entah apa itu benar atau tidak karena Aida tidak bisa memastikannya.

    Aida masih melamun sendirian, beberapa kali dirinya melempar batu kerikil ke dalam jurang. Aida masih terpikirkan ucapan 006 yang menyebut bahwa dirinya melakukan hal yang tak senonoh agar bisa naik pangkat dengan mudah. Padahal Aida mendapatkannya dengan hasil kerja kerasnya sendiri dengan melakukan perintah dari komandan Zero untuk menyelesaikan beberapa misi.

    Di tengah tengah lamunannya Aida mendengar suara langkah kaki mendekatinya, terlihat Dokter Cris berjalan sedikit membungkuk karena jalanan yang agak menanjak. Nafasnya sedikit terengah-engah karena berjalan begitu jauh, karena jalanan untuk mencapai atas tebing hanya bisa di lewati dengan jalan kaki.

    Aida hanya menatap Dokter Cris sebentar lalu kembali memalingkan wajahnya menatap jurang dari atas tebing.

    "Hah...hah..ya ampun..hah..aku mencari-carimu dari tadi..hah...kenapa kau jauh jauh datang ke sini?" Ucap Dokter Cris masih dengan nafas yang terengah-engah.

   "..." Aida tidak menjawab, Dokter Cris lalu duduk di samping Aida. Terasa kakinya sedikit panas dan pegal akibat berjalan lama sekali.

    Dokter Cris menatap Aida, terlihat wajah Aida sedikit murung. "Hei Aida, kenapa..."

    "Kenapa kau kemari?" Ucap Aida memotong perkataan Dokter Cris.

    "Apa?" Ucap Dokter Cris.

    "Kenapa kau kemari? Dan bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" Ucap Aida kembali.

    "Ya, itu..ehh..ya aku tahu kau pasti ada di sini karena...kau sepertinya suka tempat ini. Aku selalu melihatmu datang kemari, ya tempat ini adalah tempat paling tenang di banding kamp. Apalagi kau suka sekali tempat yang seperti ini

    Lalu kenapa aku kemari? Karena aku khawatir padamu, kemarin aku melihatmu pingsan begitu saja. Sebagai seorang Dokter sudah tugasku untuk merawat pasienku kan?" jawab Dokter Cris agak terbata bata.

    "..." Aida tidak menjawab dan terus menatap ke arah jurang.

    "..., Kamu sepertinya ada masalah, apa ada sesuatu yang menganggumu?" Tanya Dokter Cris.

    "..." Aida masih tidak mau menjawab.

    "Ya apapun masalahmu kau bisa memberitahuku..."

    "Kenapa kau selalu ingin di dekatku?" Tanya Aida memotong kembali perkataan Dokter Cris.

   "Ya?" Ucap Dokter Cris agak bingung.

   "Kau lebih dekat denganku di banding dengan yang lain, bahkan orang lain menganggap aku melakukan hal yang kotor pada komandan Zero agar aku bisa naik pangkat dengan cepat. Kenapa kau selalu ingin ada di dekatku?" Tanya Aida kembali dengan wajah serius menatap Dokter Cris.

    Dokter Cris termangu sambil menatap Aida, Dokter Cris terlihat agak bingung harus menjawab apa pada Aida.

   "Ya itu...hehe bagaimana jika aku bilang aku menyukaimu?" Ucap Dokter Cris sambil tersenyum.

    "Hah?!" Ucap Aida kesal dengan tatapannya yang semakin tajam pada Dokter Cris, Aida merasa ingin sekali menghajar Dokter Cris dan melemparkannya ke dalam jurang.

    Dokter Cris mengangkat kedua tangannya ke atas sejajar dengan telinganya, "...aku hanya bercanda..sungguh" ucap Dokter Cris agak takut melihat wajah Aida yang marah padanya.

    "..." Aida memalingkan wajahnya tak mau melihat wajah Dokter Cris.

    "..kamu tahu? Kamu mirip seperti orang yang ku kenal" ucap Dokter Cris hendak menjelaskan.

    "..." Aida hanya diam mendengarkan, dirinya masih tidak mau menatap wajah Dokter Cris.

    "Orang itu sangat berani, hebat dan tangguh. Dia seperti dirimu Aida, aku berharap aku bisa melindunginya" ucap Dokter Cris sambil tersenyum.

    Aida diam lalu menatap wajah Dokter Cris sebentar lalu menunduk lagi menatap ke arah bawah tebing. Dokter Cris masih tersenyum pada Aida, beberapa saat tidak ada dari mereka yang berbicara.

    "Apa kau punya keluarga?" Tanya Aida pelan sambil menunduk menatap ke bawah jurang.

    "Keluarga?" Ucap Dokter Cris.

   "Ya, apa kau memiliki keluarga? Apa orang yang kau kenal itu adalah keluargamu?" Tanya Aida kembali.

   "Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Dokter Cris balik.

   "Kau bilang ingin melindunginya, berarti dia itu keluarga mu yang sangat berharga kan?" Jawab Aida.

    Dokter Cris termenung, matanya menatap ke arah bawah jurang. Kembali dirinya teringat saat dirinya masih kecil, ada seorang anak perempuan dan Dokter Cris yang umurnya berbeda beberapa tahun dengan anak perempuan tersebut.

   Anak perempuan tersebut berlari ke sana kemari di sebuah taman bunga, bunga berwarna warni memenuhi tanah. Dokter Cris hanya memperhatikan anak tersebut di belakangnya. Sambil mengikuti anak perempuan tersebut, Dokter Cris melihat lihat taman bunga di sekelilingnya. Ada bunga mawar putih yang bermekaran di mana mana, pemandangan bagaikan lautan bunga.

    Angin bertiup pelan, menggerakkan rambut pirang Dokter Cris. Dokter Cris baru sadar jika anak perempuan tadi tak ada di hadapannya. Dengan segera Dokter Cris mencarinya ke tengah taman bunga tersebut.

   Setelah beberapa menit berlari, Dokter Cris menghentikan langkahnya. Di depannya orang yang dia cari sudah berdiri di atas hamparan bunga dandelion. Bunga dandelion yang lepas dari tangkainya berterbangan kemana mana. Anak perempuan tersebut memetik beberapa tangkai bunga dandelion lalu mendekat pada Dokter Cris.

   "Mulai sekarang kita adalah keluarga ya" ucap anak perempuan tersebut tersenyum sambil menyerahkan bunga dandelion yang baru saja dia petik pada Dokter Cris.

    Aida menatap Dokter Cris yang malah melamun, apa Cris tidak punya keluarga juga? Apa pertanyaannya tadi membuatnya tersinggung?

   "..hehe" Dokter Cris tertawa pelan, sambil tersenyum dirinya menatap Aida, Aida juga balik menatap Dokter Cris.

   "Ya, yang kamu katakan itu memang benar.  Dia  adalah keluargaku, keluarga yang paling berharga bagiku" ucap Dokter Cris masih menatap Aida.

   Dokter Cris lalu bangkit dari duduknya, lalu memandang pemandangan hijau di hadapannya. Selain kengerian akibat ada jurang yang sangat dalam di bawah tebing, namun pemandangan hutan terlihat begitu indah di pandang dari atas tebing. Sejauh mata memandang hanya ada dedaunan hijau yang masih asri.

    Aida memperhatikan Dokter Cris yang berdiri di sampingnya, "kamu tahu Aida, semua orang pasti memiliki impiannya masing masing. Impianku adalah, ingin menjadi orang yang kuat dan bisa  melindunginya  dan  menyelamatkannya " ucap Dokter Cris masih dengan tersenyum dirinya mengatakan dengan berani pada Aida.

   "Demi bisa  melindunginya  aku terus berusaha kuat, karena itulah aku ada di sini" ucap Dokter Cris sambil menatap Aida.

   "Jadi Aida, apapun impianmu maka wujudkan lah impianmu itu. Jangan dengarkan mulut orang lain, tapi dengarkanlah hatimu" ucap Dokter Cris dengan tegas pada Aida sambil tersenyum.

    "Impian?"  Ucap hati Aida.

   Benar juga, dirinya pasti punya alasan kenapa harus ada di sini. Jika di pikir pikir lagi, Aida memimpikan sebuah keluarga, dirinya ingin menjauh dari kamp. Dan hidup dengan damai bersama keluarganya, itulah impiannya.

   Mendengar perkataan Dokter Cris, Aida kembali bersemangat untuk mencapai impiannya. Dirinya tidak akan mudah menyerah, dirinya akan terus berusaha agar bisa keluar dari kamp lalu bertemu dengan keluarganya.

    Tatapan Dokter Cris terlihat berbinar, melihat Aida kembali bersemangat membuat dirinya pun ikut semangat. Dokter Cris lalu berbalik badan dan berjalan hendak menuruni tebing. Aida menatap punggung Dokter Cris yang berjalan menjauh, Dokter Cris selalu memikul semua bebannya sendirian, namun dirinya tidak pernah mengeluh dan terus bekerja keras agar bisa mencapai impiannya.

   "Ya ya ya, kita sudahi dulu. Baguslah kamu kembali bersemangat lagi, tapi sekarang lebih baik kita pulang. Perutku dari pagi belum di isi, semoga saja di kantin masih ada makanan" ucap Dokter Cris sambil meneruskan langkahnya.

    Aida melihat Dokter Cris semakin menjauh, entah kenapa hatinya kini merasa begitu nyaman. Dari yang awal hatinya begitu sesak dan sakit, tapi berkat Dokter Cris rasa sakitnya hilang. Aida merasakan jantungnya sedikit berdegup kencang, tidak biasanya Aida seperti ini. Terasa perasaan aneh dalam dirinya, Aida tersenyum tipis lalu dengan pelan dirinya mengikuti Dokter Cris untuk kembali ke kamp.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!