Masih berjalan mengikuti Dokter Cris, Aida tidak tahu di mana dirinya berada. Karena semua yang dia lihat di gelapnya malam hanya pohon pohon yang berjajar dengan suasana yang begitu mencekam.
"Kita sebenarnya mau ke mana? Kembali ke kamp? Bukankah kau tahu kalau di sana ada monster itu?" Tanya Aida.
"Kita tidak menuju kamp, tapi ada tempat menurutku di mana orang yang kita cari ada di sana" jawab Dokter Cris sambil terus berjalan.
"..." Aida tidak berkata apa apa lagi, Aida bingung harus bertanya apa lagi pada Dokter Cris. Krena ada ratusan pertanyaan di kepalanya dan entah harus mana terlebih dulu Aida tanyakan.
"Cris, kau bilang kita di culik kan? Lalu kau di jadikan bahan percobaan. Apa yang mereka lakukan padamu? Atau pada kita?" Tanya Aida.
"...itu, hhmm.." Dokter Cris terdiam seperti berpikir bagaimana cara menjawab pertanyaan Aida.
"...?" Aida juga terdiam menunggu jawaban dari Dokter Cris.
"Aku juga tak terlalu mengingatnya, tapi yang aku tahu saat aku berada di dalam laboratorium dan saat itu aku juga langsung kehilangan kesadaranku" jawab Dokter Cris.
"..." Aida diam mendengarkan.
"Saat aku sadar, semuanya sudah hancur. Dan aku segera mengeluarkanmu dari dalam laboratorium" jawab Dokter Cris.
"Lalu setelah itu?" Tanya Aida.
"..kita di selamatkan oleh nyonya Amelia saat itu" jawab Dokter Cris, terlihat wajahnya sedikit muram.
"Ibuku? Menyelamatkan kita?" Tanya Aida.
"Ya, Nyonya Amelia adalah seorang polisi Inggris. Saat mengetahui kau menghilang, nyonya Amelia segera pergi bertugas untuk mencarimu" jawab Dokter Cris.
"Ibuku seorang polisi? Inggris? Tapi bagaimana bisa?" Ucap Aida dalam hati.
Tak terasa waktu berputar dengan cepat, karena keasikan bertanya jadi perjalanan mereka tampak sebentar. Dokter Cris, berhenti melangkah, Aida juga menghentikan langkahnya.
Di depan mereka adalah jalan buntu, Aida mendongak ke atas, mereka seperti berada di dalam sebuah lubang. Aida berjalan maju untuk lebih dekat dengan Dokter Cris, namun kakinya tidak sengaja menginjak sesuatu.
Aida melihat ke bawah, kakinya menginjak suatu benda berwarna putih. Benda itu begitu rapuh sampai membelah menjadi beberapa bagian. Aida tak terlalu melihatnya dengan jelas karena kurangnya pencahayaan, namun Aida menajamkan matanya ke arah benda yang tadi di injaknya. Samar samar cahaya bulan menyoroti tempat di mana Aida dan Dokter Cris berada, samar samar Aida mulai melihat dengan jelas apa yang baru saja di injaknya.
Aida mundur dua langkah dengan terkejut, dirinya baru saja menginjak kerangka manusia. Aida melihat ke sekelilingnya, rupanya bukan hanya ada satu melainkan ada banyak kerangka manusia di tanah yang setengah sudah hancur.
"Tempat ini, bukankah ini tebing pengeksekusian?" Ucap Aida.
"Benar sekali" ucap Dokter Cris.
"Memangnya di sini ada apa?" Tanya aida.
"...mari kita lihat saja" jawab Dokter Cris dengan serius.
Dokter Cris melangkah mendekati tebing, Aida mengikutinya dari belakang. Dirinya harus agak hati hati melangkah, karena banyak tulang berulang tersebar di mana mana.
Di ujung tebing, terdapat tumbuhan merambat yang bergelantungan di sekitar tebing, Dokter Cris mengeluarkan pisau dari sarungnya dan bersiaga. Nampaknya akan terjadi sesuatu di dalam sini, Aida juga bersiap dengan mengeluarkan pisau dari sarungnya.
Dokter Cris perlahan maju dan membuka tumbuhan merambat yang rupanya menutupi sebuah pintu dari besi. Ada pintu rahasia lain di kamp, padahal Aida sering berkunjung kemari tapi baru kali ini dirinya tahu jika ada sebuah pintu di bawah tebing. Karena lokasi pintunya yang tertutup, jadi pintu ini tak bisa terlihat dari atas.
Dokter Cris perlahan membuka pintu besi tersebut, terdengar suara berdecit pelan seiring pintu bergerak. Di dalam begitu gelap, Dokter Cris menutup kembali pintu. Tak lama setelah itu, Dokter Cris mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, rupanya itu senter. Kenapa tidak dari tadi Dokter Cris mengeluarkannya?
"Kenapa kau tidak mengeluarkannya dari tadi?" Ucap Aida agak kesal, karena berjalan di hutan yang gelap tadi Aida sering sekali tersandung oleh ranting atau dahan pohon yang jatuh atau tersandung karena akar pohon dan bebatuan.
"..hehe..soalnya baterai senterku hampir habis, jadi aku hemat hemat pakainya hehe, lupa mengisinya dengan baterai baru" ucap Dokter Cris agak salah tingkah.
"..." Aida diam, bukan waktunya untuk berdebat, lagipula Dokter Cris itu memang pelupa dari dulu.
Dokter Cris dan Aida, berjalan lebih dalam dari ke dalam ruangan. Ada sebuah belokan ke kanan dan di ujungnya ada dua pintu yang berbentuk sama terbuat dari besi.
"Aduh, ada dua. Kita akan pilih yang mana dulu?" Ucap Dokter Cris.
"...kita berpisah saja dulu, mungkin salah satu dari pintu itu menuju ke suatu tempat, jika kita berbarengan masuk ke salah satu pintu dan kita masuk ke pintu yang salah pasti akan jauh untuk kembali" ucap Aida memberi saran.
"Hhmmm, iya juga sih. Kau bisa pergi tanpaku?" Ucap Dokter Cris.
"Hanya ini saja mana aku takut, aku saja pergi ke Medan perang sendiri hanya bermodal nyali" jawab Aida.
"Baiklah, kita pisah di sini. Kau ke kiri dan aku ke kanan, jika jalan di sana buntu segera susul aku" ucap Dokter Cris.
"Iya iya, aku tahu" jawab Aida.
Dokter Cris memberikan senternya pada Aida, "loh, kenapa kau memberikan sentermu padaku?" Tanya Aida.
"Kau lebih membutuhkannya, tenang saja. Aku tidak mudah tersandung seperti dirimu di tempat gelap, ya sudah aku pergi dulu! Hati hati ya!" Ucap Dokter Cris yang langsung membuka pintu di sebelah kanan dan langsung masuk ke dalam pintu tersebut.
Aida mematung di tempat, apa benar Dokter Cris tidak akan apa apa tanpa senternya ini. Jika jalan ada yang rusak atau berlubang dia tidak akan bisa melihatnya kan? Aida mengeleng gelengkan kepalanya, ini bukan waktunya untuk menghawatirkan orang lain. Kini dirinya harus segera masuk ke dalam pintu tersebut dan mencari sesuatu di dalamnya, mungkin saja orang yang Dokter Cris maksud ada di sana.
Aida perlahan membuka pintu dari besi tersebut, di dalamnya begitu gelap. Untung saja Dokter Cris memberikannya senter. Aida berjalan perlahan masuk ke dalam, ini seperti sebuah lorong yang lurus ke depan.
Aida masih berjalan perlahan, di dalam sini begitu lembab. Terlihat dari Ding-Ding lorong ada beberapa lumut yang tumbuh dan di atas ada beberapa pipa yang meneteskan air. Hanya ada suara gemercik air yang menetes dari pipa yang bocor dan suara jejak kakinya. Aida masih belum melihat ujung dari lorong ini, Aida melihat ke belakang dirinya juga sudah jauh dari pintu yang tadi dia lewati.
"...ayolah aku sudah terbiasa diam di hutan bersiaga kalau ada musuh yang datang, hanya ini saja tak akan membuatku takut!" Ucap Aida memberanikan diri.
Aida terus berjalan, di pegang eratnya pisau di tangan kanannya. Dengan berhati hati Aida melangkah, hingga sepertinya aida tiba di ujung lorong, namun ada tangga menuju ke atas.
"Tangga? Apa tempat ini bertingkat?" Ucap Aida pelan.
Aida menyoroti tangga sampai kemana tangga itu berakhir, rupanya di atasnya ada beberapa lantai. Aida mulai menaiki setiap anak tangga dengan hati hati, karena tangga ini cukup licin.
Di lantai dua, tak ada ruangan apapun yang ada hanya anak tangga yang terus ke atas. Aida terus menaiki anak tangga, entah sudah berapa kali dirinya menaiki tangga di setiap lantai.
"Hah..hah..kenapa tidak ada lift di sini? ...biasanya tempat yang besar dan bertingkat pasti selalu ada lift nya. Tapi ini tidak..astaga aku lelah sekali...menaiki anak tangga sebanyak 6 lantai..dan tangganya pun licin seperti ini..salah injak sedikit saja pasti langsung pindah alam ini.." ucap Aida.
Aida terus melanjutkan perjalanannya, setiap anak tangga Aida lewati hingga akhirnya tiba di lantai 8. Ada sebuah ruangan yang berpintu sama seperti pintu lainnya, sepertinya ini adalah lantai paling tinggi. Tanpa berpanjang lebar Aida segera membukanya, di dalam terdapat banyak pintu yang terbuat dari kayu berwarna coklat tua. Mungkin ada sebanyak 5 pintu, Aida mencoba membuka dari yang paling dekat terlebih dahulu, namun pintunya rusak dan tidak bisa di buka.
Aida berjalan ke pintu santunya dan seterusnya, masing masing pintu Aida mencoba untuk membuka nya namun sayang tak ada yang bisa terbuka. Aida baru menyadari jika ada satu pintu lagi yang tersudut, pintu itu nampaknya sudah rusak parah dan bisa di hancurkan. Aida mundur dua langkah lalu mengambil ancang ancang. Aida mendobrak pintu tersebut sekuat tenaga, hanya dalam satu hentakan pintu tersebut hancur.
Di dalam nampak banyak sekali kotak kotak dokumen yang berjajar sesuai pada kotaknya masing masing. Aida melihat lihat sekilas dokumen dokumen yang ada di sana, namun sayang sekali Aida tidak mengerti bahasa yang tertulis di dokumen tersebut.
Aida kembali melihat lihat isi ruangan, ada sebuah kotak hitam yang ada di atas laci di sudut ruangan. Aida membuka kotak tersebut dan isinya sebuah pistol, namun ada sesuatu yang membuat Aida terdiam. Ada sebuah dokumen yang memperlihatkan namanya yaitu Aida, lalu ada beberapa foto saat dirinya berada di kamp, saat dirinya masih kecil sampai sekarang. Mulai dari saat dirinya pertama kali latihan di kamp, lalu mulai bekerja di kamp, dan saat dirinya melakukan misi.
Aida terdiam memandangi dokumen tersebut, sayangnya jika Aida bisa mengerti bahasa yang tertulis di dokumen tersebut mungkin dirinya bisa mengetahui sesuatu.
Aida melihat ke sekeliling, ada sebuah tangga menuju ke bawah di dalam ruangan ini. Aida melihat ke bawah, sepertinya tak ada apa apa di sana. Namun rasa penasarannya lebih kuat daripada tekadnya, Aida turun menuruni tangga tersebut.
Di bawah sana, Aida terdiam melihat isi di dalam tebing ini yang begitu besar. Ada 9 lantai dilihat dari atas sini, masing masing terhubung dengan tangga. Aida tak bisa melihat ke bawah karena saking jauhnya dengan lantai dasar.
Apakah Cris ada di bawah sana? Atau dia malah menuju ke tempat lain? Aida menyoroti setiap lantai dari atas, tapi tak lama kemudian senter yang di pegangnya berkedip. Lalu setelah itu mati total, Aida lupa jika baterai senter ini hanya sedikit lagi. Berarti sekarang dirinya harus berjalan mengandalkan insting nya saja.
Aida mulai meraba raba benda yang bisa di pegangnya, ini benar benar begitu gelap. Aida sampai tak bisa melihat apapun, Aida berhasil memegang sesuatu sepertinya itu besi penyangga agar tidak terjatuh ke bawah.
Namun dari balik itu, Aida mendengar sesuatu mendekat padannya. Aida mulai bersiaga dengan pistol yang baru saja dia dapatkan. Suara tersebut semakin mendekat dan mendekat, suaranya seperti suara desahan nafas. Suara tersebut terdengar olehnya berada tak jauh di hadapannya, apa itu? Apa itu monster? Aida tak tahu pasti karena dirinya tak bisa melihat apa apa. Suara desahan itu menghilang beberapa saat, namun setelah itu terdengar suara seseorang berlari kencang ke arahnya dan suara teriakan terdengar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments