EP 02 PERMULAAN

"Aida..bertahanlah! Bangunlah...Aida!"

   Aida bangun dari pingsannya, nafasnya terengah engah. Aida melihat ke sekeliling ruangan, ruangan ini begitu aneh. Bukan rumah sakit, atau tempat pengungsian. Karena di dalam sana hanya ada dirinya saja yang terbaring.

   Aida merasakan sakit di tangan bagian kirinya, dilihatnya tangannya sudah memakai perban putih. Kepalanya juga di balut oleh perban juga. Ruangan ini didirikan dengan tenda berwarna hijau tua. Di sebelahnya ada peralatan medis, seperti jarum, beberapa botol cairan dan sebagainya.

    Jika di rasa rasai lagi, entah kenapa ada yang aneh dengan dirinya. Dirinya tidak mengingat apapun, yang dia ingat hanyalah namanya saja dan kecelakaan pesawat sebelumnya. Apa yang terjadi? Lalu suara seorang wanita yang memanggilnya? Siapa dia?

    "Apa yang terjadi? Aku sama sekali tidak mengingat apapun"  rutuk hati Aida.

   Dua orang yang memakai baju serba hitam, dari sepatu, baju, topi dan maskernya berwarna hitam. Mereka berdua menatap Aida dengan tajam, wajah mereka begitu menyeramkan bagi Aida yang masih anak anak.

   (Dalam bahasa Rusia) "Dia sudah bangun, kita apakan dia?" Ucap salah satu dari mereka.

    Aida kebingungan, kenapa bahasanya begitu aneh? Aida hanya diam mendengarkan.

    "Atasan bilang, jika dia sudah bangun langsung bawa keluar" jawab temannya.

    "Kau yakin? Padahal dia baru saja bangun" tanya temannya kembali.

    "Ya sudahlah, ini juga perintah. Jika kita tidak mengikutinya bisa bisa kita tidur di kandang macan!" Jawab temannya.

    "Hah, baiklah. Hey kau! Sekarang bangunlah dan ikut kami" ucap salah satu dari mereka.

    Aida merasa jika orang tadi berbicara padannya, hanya saja dirinya tidak mengerti apa yang di katakannya.

   "Cih! Malah bengong, cepat bangun!" Ucap salah satu dari mereka yang langsung menarik tangan kanan Aida dengan kasar.

    "Aww, sakit. Lepaskan aku!" Ucap Aida.

   Aida di bawa paksa ke luar tenda, di luar dirinya langsung di hempaskan sampai terjatuh.

   Tangan kirinya tak sengaja terbentur ke tanah, rasa sakit terasa di bagian tangan kirinya. Aida memegang tangan kirinya sambil menahan sakit.

   Di luar tenda, tidak seperti yang Aida harapkan. Di luar banyak sekali orang yang berlalu lalang, ada yang membawa kotak, berjalan ke sana kemari, ada juga yang memberi arahan pada seseorang.

   "Apa ini?" Ucap Aida pelan.

   Salah satu dari dua orang yang tadi mendekati Aida, di angkatnya dirinya agar berdiri secara paksa. Orang tersebut memegang tangan kirinya, Aida menjerit kesakitan.

    "Hei, apa yang kau lakukan?! Itu sakit! Lepaskan aku!" Teriak Aida.

   "Cih! Ini bocah" ucap orang tersebut kesal.

   Datang seorang lagi dengan menggunakan pakaian khas Dokter, terlihat orang tersebut laki laki. Dirinya mendekat saat melihat keributan terjadi pada Aida. Terlihat ada nama di baju sebelah kirinya bernama Dr.Cris.

   "Hei, lepaskan tanganmu darinya. Kau ingin membuat tangannya patah?" Ucap Dokter Cris.

   "Hah! Ini sudah tugas kami membawanya!" Ucap orang yang tadi memaksa Aida untuk berdiri.

   "Bukan seperti itu caranya, jika kau bersikap kasar padannya tentu anak itu tidak akan mengerti. Sudah kalian pergi saja, anak ini aku yang akan urus" ucap Dokter Cris.

   Dua orang yang tadi bersama Aida langsung pergi Tanpa berkata kata, sepertinya Dokter Cris adalah orang yang berpengaruh di sini. Aida menatap Dokter Cris, begitu juga dengan Dokter Cris. Dirinya menatap Aida yang masih terduduk di tanah.

    Dokter Cris mulai mendekati Aida dan berjongkok di hadapannya. Lalu dengan wajah yang ramah sambil tersenyum, Dokter Cris berkata. "Kamu tidak apa apa? Ayo ikutlah denganku, aku akan mengobati lukamu" ucap Dokter Cris dengan lembut.

   Aida mematung, bahasanya bisa dia mengerti. "Anu, paman..." Ucap Aida memberanikan untuk berbicara.

   "Hahaha, kamu pasti terkejut ya. Ayo kita ke ruangan ku dulu dan mengobati lukamu. Setelah itu, aku akan memberitahumu kenapa kamu ada di sini" ucap Dokter Cris menjulurkan tangannya.

   Aida merasa jika Dokter Cris tidak jahat, Aida mengikuti arahan Dokter Cris. Hingga tiba dirinya di sebuah tenda berwarna hijau tua. Namun ini lebih kecil dari ruangan sebelumnya.

    Di dalam terdapat satu meja dengan beberapa lembar dokumen di atasnya serta lampu, ada tiga kursi di pasang di meja tersebut, satu di belakangnya dan duanya di depan meja. Lalu ada beberapa laci bertingkat, alat alat medis lainnya dan satu kasur untuk pasien, lengkap dengan satu selimut dan satu bantal.

   "Nah kamu duduk di sini dulu ya" ucap Dokter Cris.

   Aida duduk di salah satu dua kursi di depan meja, Dokter Cris membawa anti septik, perban dan beberapa buah plester luka.

    Setelah membawa benda tersebut, Dokter Cris duduk di samping Aida dan membuka perban di kepalanya. Terdapat beberapa luka yang di jahit, dokter cris membersihkan sisa darah yang masih ada di luka tersebut dan di ganti dengan perban putih yang baru. Setelah itu lanjut ke bagian tangan kirinya dan melakukan hal yang sama.

   "Anu, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Aida memulai percakapan.

   "Haha, kamu tidak sabaran juga ya. Baiklah aku akan memberitahumu, kenapa kamu ada di sini? Tentu itu sudah menjadi pertanyaan yang lumrah, kenapa kamu ada disini karena... kamu di temukan ada di sungai, mengambang dan seterusnya kami menemukanmu di sini" jawab Dokter Cris.

    "Sungai? Tapi, bukankah aku kecelakaan pesawat? Karena itulah yang aku ingat"  rutuk hati Aida.

    "Ya, penyebabnya masih belum pasti dan kami masih mencari identitasmu. Jadi, selama kami belum mendapatkan identitasmu kami akan merawatmu di sini. Kamu juga harus mentaati peraturan ya, jika tidak kamu pasti akan di hukum" jawab Dokter Cris sambil membersihkan sisa darah dari luka tangan Aida.

   "..., Lalu kenapa aku tidak mengingat apapun?" Tanya Aida kembali.

   "Kenapa? Itu karena kondisi mentalmu yang menyebabkan hilangnya beberapa memori dalam ingatanmu, tapi tenang saja kau bisa mengingat semuanya secara perlahan" jawab Dokter Cris.

   Aida termenung, dirinya benar benar tidak ingat apapun. Tapi anehnya, Dokter Cris bilang jika dirinya di temukan di sungai padahal dirinya jatuh dari pesawat. Ini agak aneh, ya benar benar aneh. Apakah itu hanya mimpi saja?

    "Baiklah sudah selesai, lukamu akan mengering dalam waktu lima hari, jadi selama lima hari ini kamu akan tinggal dulu di sini lalu setelah kamu sembuh kamu bisa pindah ke asrama" ucap Dokter Cris sambil membereskan perban dan peralatan yang tadi dia pakai.

   Asrama? Apa ini semacam sekolah? Tapi jika dilihat, disini hanya ada orang dewasa saja tidak ada anak anak selain dirinya.

   "Baiklah, terimakasih karena mau  mengobati ku paman" jawab Aida.

   "Haha, wajahku setua itu ya? Padahal aku baru saja berumur 21 tahun" ucap dokter cris.

   "Eh? Maksudku kakak" ucap Aida.

   "Haha, tidak apa apa. Panggil saja aku kakak Cris atau Cris saja, biar lebih mudah" jawab Dokter Cris.

   "Baik" jawab Aida.

    "Haha, benar benar anak penurut ya. Sayang sekali dirinya harus mengalami hal ini"  rutuk hati Dokter Cris.

                                                                                  ***

Hari hari berganti, Aida di rawat oleh Dokter Cris selama satu Minggu. Pekerjaannya hanya duduk, makan, tidur, dan belajar bahasa dengan Dokter Cris. Dokter Cris sangat berbeda dengan yang lain, Dokter Cris lebih lembut dan selalu membuat Aida nyaman.

    Ini adalah hari terakhir Aida tinggal bersama Dokter Cris, Dokter Cris bilang jika dirinya sudah sembuh total dan akan di pindahkan ke asrama.

   Aida di antar langsung oleh Dokter Cris menuju asrama yang tak jauh dari tempatnya, tapi tetap saja dirinya harus menaiki kendaraan agar cepat sampai. Serta jalanannya pun tidak mulus, banyak bebatuan serta jalan yang berbelok belok.

    Tapi hanya 15 menit dari sana, mobil yang di kendarai Aida dan Dokter Cris berhenti. Di depan mereka ada sebuah gerbang yang terbuat dari besi dan di jaga oleh beberapa orang.

    Seorang penjaga dengan menggunakan baju hijau tua mendekat ke arah mobil, "tunjukan identitasmu" ucap penjaga tersebut.

   Dokter Cris mengeluarkan sesuatu dari balik kerah bajunya, ada sebuah kalung logam bertuliskan namannya serta pangkatnya sebagai seorang dokter.

    "Boleh aku masuk sekarang?" Tanya Dokter Cris sambil tersenyum.

    "Baik, maaf membuatmu menunggu. Silahkan masuk" jawab penjaga tersebut yang lalu membukakan pintu yang terbuat dari besi tersebut.

    Dokter Cris melajukan kembali mobilnya, lalu memarkirkannya di tempat parkiran. Aida dan Dokter Cris keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu besi lainnya.

    Rupanya letak asrama ini berada di tengah hutan, sayang sekali Aida tidak tahu kini dirinya ada di mana. Karena Dokter Cris tidak memberitahunya, katanya tempat ini di rahasiakan. Memangnya ini tempat apa? Semacam persembunyian kah?

   Dokter Cris dan Aida masuk melewati pintu dari besi, di dalam terdapat beberapa orang yang berlalu lalang. Di sini terdapat beberapa bangunan bertingkat, ada juga yang memakai tenda. Di sini lebih ramai di bandingkan di tempatnya kemarin.

   Cris dan Aida masuk ke sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, di dalam ada kasur tunggal serta lemari kecil dan ada meja di mana meja tersebut di duduki oleh seseorang. Orang tersebut begitu gagah dengan otot-ototnya yang besar dan kuat, wajahnya begitu tegas menatap tajam pada Dokter Cris lalu menatap Aida.

   "Komandan Zero, saya membawa anak ini sesuai perintahmu" ucap dokter Dokter Cris.

   "Haha! Bagus, sekarang kau boleh pergi" jawab komandan Zero dengan bahasa yang tidak di mengerti oleh Aida.

    "Lah, orang ini memakai bahasa yang berbeda lagi. Aku tidak mengerti apa yang di  katakannya "  ucap Aida dalam hati.

    "Nah, mulai sekarang kamu akan tinggal di sini. Dia adalah komandan Zero, kau harus bersikap baik padannya dan kamu harus mematuhinya" ucap Dokter Cris pada Aida sambil tersenyum.

    Aida mengangguk, "baiklah" jawab Aida.

   "Biar saya saja yang mengantarnya komandan" ucap Dokter Cris.

   "Baiklah, terserah. Anak ini sudah istirahat cukup lama, besok kau akan mulai bekerja keras" jawab komandan Zero dengan senyum mengerikan ke arah Aida.

   Dokter Cris hanya diam dengan wajah yang kesal, Aida tidak mengerti apa yang tadi komandan Zero bicarakan karena dirinya tidak mengerti bahasa yang di katakan oleh komandan Zero.

    Dokter Cris mengantar Aida ke sebuah bangunan bertingkat, di sana Dokter Cris menempatkan kamar Aida di lantai bawah. Ada kasur bertingkat berbaris dua jajar dengan tiga tingkat, kamar ini bisa di isi oleh 6 orang sekaligus.

    "Nah, ini kamar kamu. Baju kamu ada di dalam lemari, pakai itu mulai besok ya" ucap Dokter Cris yang lalu meninggalkan Aida sendirian.

    Aida memilih kasur di bagian bawah karena dirinya tidak mau capek capek memanjat ke atas. Aida duduk termenung di kasurnya, kamarnya masih kosong melompong, entah dirinya akan dapat teman sekamar atau tidak.

   Aida penasaran dengan bajunya di dalam lemari, Aida mencoba mengecek lemari yang ada di sampingnya. Omong omong sepertinya setiap kamar ada satu lemari, di dalamnya terdapat 6 setelan baju dengan atasan berwarna putih dengan tangan pendek, dan celana panjang berwarna hitam. Bahkan ke 6 dari baju tersebut sama ukuran dan warnanya.

    "Hei siapa kau!" Teriak seseorang dari pintu masuk kamar dengan bahasa yang tidak di mengerti oleh Aida.

   "Hah!?" Jawab Aida sedikit kaget dan langsung menutup lemari.

   "Siapa kau?! Apa kau pencuri!" Ucap anak tersebut.

    Aida masih melongo tidak paham yang anak tersebut katakan. Anak ini sepertinya satu tahun di atasnya, laki laki dengan rambut pendek.

    "Hei, kau membuat keributan lagi bisa bisa kita berdua harus tidur di atap" ucap salah satunya lagi yang tiba tiba muncul dari balik pintu.

    "Ini anak dari tadi cuman melongo, dia tidak menjawab perkataanku. Dasar! Apa perlu aku beri pelajaran dulu baru dia akan menjawab?!" Jawab anak tersebut kesal.

   "..." Anak yang baru saja muncul dari balik pintu mendekat pada Aida, di tatapnya wajah Aida dengan serius.

   "Kau..apa kau anak baru? Wajahmu belum pernah aku lihat. Siapa namamu?" Ucap anak tersebut.

   "Eh? Apa?" Jawab Aida tidak mengerti.

   "Hah, sepertinya dia bukan orang sini. Wajah dan gaya bicaranya pun berbeda" ucap anak tersebut yang lalu menarik kerah baju bagian belakang Aida agar bahu bagian kirinya terlihat. Ada tulisan hitam dari tato sebuah angka bertuliskan 467.

   "Haah, rupanya benar kau anak baru. Jadi kita punya junior di sini, aku 324. Lalu dia 342, salam kenal teman sekamar baru 467" ucap anak tersebut yang di panggil sebagai 324.

    Mungkin kalian bingung kenapa di sini tidak ada nama melainkan nomor, karena mayoritas beberapa dari anak anak atau orang dewasa tidak mengetahui nama mereka, jadi nama mereka di gantikan dengan nomor. Hanya yang berpangkat tinggi saja yang bisa mendapatkan sebuah nama.

    "Hoo, jadi dia anak baru toh? Perempuan lagi, pasti dia tidak akan lama disini. Menyebalkan juga karena kamar ini akan jadi semakin sempit" rutuk 324.

    Aida hanya memperhatikan dua anak tersebut berbicara, dirinya benar benar tidak paham. Lalu Aida baru menyadarinya jika ada tato nomor di bahunya. Sejak kapan itu ada di sana? Lalu anak anak ini juga memilikinya. Sebenarnya ini tempat apa?

    Aida memutuskan untuk berkeliling, di sini ada tempat pemandian umum, khusus laki laki dan perempuan. Lalu ada sebuah lapangan besar yang sekarang sedang ada beberapa orang berlatih di sana, mereka meniru salah seorang yang ada di depan mereka yang sepertinya itu guru atau pelatih. Mereka meninju udara secara terus-menerus, lalu menendang ke atas, dan seterusnya di ulang beberapa kali.

    "Ini tempat apa sih? Benar benar aneh, bahasa mereka, tingkah laku mereka, dan juga tempatnya pun aneh karena ini di tengah tengah hutan. Dan juga, tempat ini di jaga dengan ketat, bahkan seekor tikus pun ragu bisa keluar masuk di sini"  ucap hati Aida.

Terpopuler

Comments

Khanagakari

Khanagakari

maaf atas ketidak nyamannya saat membaca, karena saya menulisnya si laptop, jadi mungkin ada beberapa ketikan yang tidak sesuai dengan ukuran handphone.

2024-02-01

2

Abdul

Abdul

ceritanya bagus, cuma ada kesalahan pada ketikan. bintang tiganya malah ada di pinggir bukan di tengah 😅

2024-02-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!