Dokter Cris berjalan menelusuri sebuah lorong, tak jauh di ujung lorong ada sebuah pintu besi berwarna merah. Dokter Cris membuka pintu tersebut, ada sebuah lorong lagi namun setelahnya banyak sekali pintu dari kayu yang berjajar. Dokter Cris memperhatikan sekitar, ada sesuatu yang di rasakannya.
Begitu samar, terdengar suara jejak kaki di dalam ruangan yang tak jauh darinya, Dokter Cris berjalan dengan cepat dan menuju sebuah pintu kayu ke tiga dan dengan paksa Dokter Cris membuka nya dengan cara menendangnya.
Di dalam terlihat samar ada seseorang berdiri di tengah ruangan, terlihat badannya tinggi besar dan kekar. Namun Dokter Cris tidak takut sama sekali, Dokter Cris maju tiga langkah mendekati orang tersebut.
"Wah wah wah, kau bisa menemukanku secepat ini?" Ucap orang tersebut dengan suara yang berat dan tegas.
"Karena bau keringat Anda begitu tercium di hidung saya, jadi saya bisa dengan mudah menemukan anda" jawab Dokter Cris.
"Begitu ya, penciumanmu tajam juga. Tapi, secepat apapun kau menemukanku tetap akulah yang berada di garis depan" ucap orang tersebut.
"Hah? Apa maksud anda?" Ucap Dokter Cris.
"Heh! Bocah yang bersama denganmu, seharusnya kau tidak meninggalkannya sendirian" ucap orang tersebut dengan angkuhnya.
"Aida?" Ucap Dokter Cris pelan.
Terdengar begitu keras ada sebuah hantaman di lantai paling atas, Dokter Cris sampai terkejut dan melihat ke luar ruangan dari balik pintu. Puing puing bangunan runtuh dari atas, debu berterbangan memenuhi lantai atas.
Terdengar pula sebuah suara tembakan sebanyak tiga kali, Dokter Cris merasa jika Aida dalam bahaya. Rupanya orang ini sudah memasang sebuah perangkap di tempat ini, dan sengaja membuat dirinya dan Aida berpisah.
"Ya, karena permainannya sudah di mulai jadi, nikmatilah. Aku akan kembali lagi jika kalian sudah selesai bermain, semoga kau bisa melindunginya Cristian" ucap orang tersebut yang lalu menghilang dalam gelap.
"Cih, dasar sialan!" Ucap Dokter Cris kesal.
Suara hentakan kembali terdengar, kini lebih besar dari sebelumnya. Puing puing bangunan semakin banyak berjatuhan, Dokter Cris segera keluar dari dalam ruangan dan melihat apa yang terjadi di atas sana.
Jarak pandang Dokter Cris jadi pendek karena debu yang menutupinya, namun dirinya bisa melihat Aida melompat dari lantai atas ke bawah melewati tangga yang terpasang di setiap lantai.
"Aida!" Teriak Dokter Cris.
"Cris!?" Ucap Aida setelah mendengar Dokter Cris berteriak memanggil namannya.
Aida kembali bersiap, di lantai atas terlihat sesosok mahluk besar dengan dua tentakel di tangannya dengan kuku panjang yang bagaikan sabit, terlihat wajah dari sosok tersebut itu adalah 026. 026 berubah begitu pesat, tubuhnya sudah berbeda dari sebelumnya. Tubuh tanpa kulit dengan tangan yang berubah menjadi tentakel.
026 berteriak saat melihat Aida, 026 menghempaskan tentakelnya pada arah Aida. Aida segera melompat ke bawah menuju tangga yang ada di bawahnya tangga yang tadi dihempaskan oleh 026 hancur. Aida melihat tangga ini menuju ke ruangan yang ada di seberangnya, Aida segera berlari menjauh menuju ruangan seberang, namun 026 melompat dari atas ke hadapannya, tangga yang Aida tempati bergetar karena getaran yang di perbuat oleh 026.
"Sial, padahal setengah jalan lagi aku sampai di seberang" ucap Aida pelan.
Aida mundur memberi jarak, pistolnya sudah di arahkan ke bagian kepala 026 siap menembak. 026 mengaum kencang, dan hendak menghancurkan tangga yang sedang Aida tempati. Namun peluru pistol lebih cepat sudah mengenai sasaran. 026 mundur 2 langkah kesakitan, Aida tidak memberi ampun. Beberapa peluru dia luncurkan ke bagian kepala 026, terlihat wajah 026 sudah setengah hancur. Tubuh 026 juga sudah semakin melemas dan akhirnya terkulai lemas.
Aida dengan nafas yang terengah-engah menarik nafas panjang lega akhirnya 026 berhenti. Baru saja Aida merasa lega, di buat paniknya lagi karena tangga yang dia tempati bergetar. Sepertinya tangga ini kelebihan beban karena kondisi tangga yang sudah tua.
Aida melihat di ujung tangga, ada beberapa pagar tiang yang nampaknya patah dan hendak hancur. Aida segera berlari ke belakang takut jika dirinya ikut terjatuh ke bawah, namun belum juga sampai di ujung tangga. Ujung tangga lainnya mulai hancur, Aida hendak terjun ke bawah. Namun beruntung Aida sempat melompat dan berpegangan pada sisa tangga yang masih menempel, Aida dengan erat menahan tubuhnya yang bergelantungan di atas. Dokter Cris yang melihat panik dan segera berlari ke lantai atas untuk membantu Aida.
"Aida!" Dokter Cris berteriak memanggil nama Aida.
Aida masih dengan erat berpegangan pada sisa tangga agar dirinya tidak jatuh ke bawah. Dokter Cris mendekat pada Aida dan mengulurkan tangannya agar Aida memegang tangannya.
"Cepat raih tanganku!" Ucap Dokter Cris.
Aida meletakan pistolnya di saku celananya, lalu berusaha meraih tangan Dokter Cris. Sisa tangga yang Dokter Cris tempati terlihat akan lepas dari bautnya, tangga itu bergetar membuat pegangan tangan Aida terlepas.
"AHH!!!" Aida berteriak.
Namun sebelum Aida terjun ke bawah, Dokter Cris sempat memegang tangan Aida. Walau susah mengangkat tubuh Aida Dokter Cris tetap berusaha agar pegangannya tidak terlepas.
"Cris? Lepaskan saja! Kau bisa ikut jatuh nanti!" Teriak Aida.
"..aku sudah berjanji pada ibumu..kalau aku akan menjagamu!" Ucap Dokter Cris.
Aida terdiam, melihat kondisinya sekarang pasti tak akan memungkinkan jika Dokter Cris bisa mengangkatnya.
Benar saja, tangganya kini sudah lepas dan jatuh bersamaan dengan Dokter Cris dan Aida. Dokter Cris mendekatkan dirinya pada Aida sebelum dirinya dan Aida menghantam lantai dasar. Dengan erat tubuh Aida di peluknya, Dokter Cris siap menerima hentakan keras asalkan Aida tidak terluka. Dokter Cris dan Aida terjun bebas sampai ke lantai dasar. Dokter Cris semakin erat memeluk Aida.
Hingga tubuh mereka berdua menghantam lantai dasar dengan begitu keras, puing puing tangga berjatuhan dari atas. Tubuh Dokter Cris masih memeluk Aida dengan erat, seketika suasana menjadi hening. Dokter Cris tidak bergerak, namun masih dalam keadaan memeluk Aida. Hantaman yang di dapatkan oleh Dokter Cris begitu keras karena jatuh dari lantai 6 ke lantai dasar.
Aida yang masih sadar melihat Dokter Cris yang diam tidak bergerak segera bangun dan melihat kondisi Dokter Cris. Terlihat ada darah mengalir dari kepala Dokter Cris di akibatkan hantaman keras tadi.
"Cris..Cris?!" Ucap Aida memanggil nama Dokter Cris.
Tak ada jawaban dari Dokter Cris, Dokter Cris diam tidak bergerak sama sekali. Melihat Dokter Cris yang dalam keadaan seperti itu, membuat dirinya teringat kembali ibunya yang dalam keadaan yang hampir sama, darah keluar dari kepala.
Aida terdiam melihat tubuh Dokter Cris, namun terdengar suara langkah kaki di lantai kedua. Aida melihat ada seseorang bertubuh tinggi besar berdiri di sana. Namun sayangnya dirinya tak bisa melihat dengan jelas wajah orang tersebut.
"Wah wah wah, ini benar benar menyenangkan. Melihat seekor anjing menyelamatkan anjing lainnya, aku kira kau lah yang akan mati, rupanya malah dia lah yang mati lebih dulu, padahal permainan ini belum selesai" ucap orang tersebut.
Aida mematung, suara ini dirinya mengenal pemilik suara ini. "..anda..komandan Zero?!" Ucap Aida.
Orang yang Aida sebut adalah komandan Zero turun ke bawah dengan melompat dari lantai dua ke bawah, setelah mendekat rupanya benar saja itu adalah komandan Zero. Dengan wajah tegasnya dirinya tersenyum seperti berada di atas kemenangan.
"Wah, kau mengenaliku rupanya. Ya, tak apa apa, karena hanya sampai sini saja kau bisa mengenalku" jawab komandan Zero.
"..apa yang..apa yang telah anda perbuat! Jadi semua ini adalah ulah anda, komandan Zero!" Ucap Aida dengan nada suara yang kasar.
"Haaa, tentu saja aku lah yang melakukannya, jangan salahkan aku tapi salahkan lah orang yang ada di sampingmu itu" jawab komandan Zero.
"Apa?" Aida tidak mengerti.
"Jika bukan karena dia mengetahui rencana ku, aku tak mungkin akan melakukan ini. Dia selama ini mencuri informasi tanpa sepengetahuan ku dan memberikannya pada militer Inggris" jawab komandan Zero.
Aida terdiam, militer Inggris? Sebenarnya apa hubungan Dokter Cris dengan militer Inggris?
"Awalnya aku hanya berniat membunuhnya saja, tapi di pikir pikir lagi bagaimana jika dia di jadikan bahan percobaan ku lagi, aku mengubah seluruh anggota kamp menjadi monster. Sambil melihat dia meninggal habis di makan oleh mereka, aku juga bisa menguji kehebatan para monster itu" jawab komandan Zero.
Aida menatap tajam, rupanya ini semua ulah komandan Zero. Padahal para prajurit kamp sudah banyak membantu komandan Zero, namun mereka malah mendapatkan kematian dengan cara yang tidak wajar. Bahkan anak anak yang baru saja masuk harus menjadi korban uji coba eksperimen nya.
"..sepertinya..sudah cukup anda berbicara dari tadi" ucap Dokter Cris pelan.
Aida dan komandan Zero terkejut, Dokter Cris masih hidup padahal dirinya terjatuh dari atas. Dokter Cris bangun perlahan darahnya masih basah namun Dokter Cris mampu untuk berdiri.
"Cris kau.."
Dokter Cris memegang bahu Aida agar Aida tidak berbicara dulu padanya. Sambil tersenyum Dokter Cris menatap Aida dengan senang jika Aida tidak terluka apa apa, lalu tatapannya mengarah pada komandan Zero, tatapannya langsung berubah menjadi tajam menatap wajah komandan Zero.
"Kau masih sanggup berdiri rupanya, kau memang seorang monster ya?" Ucap komandan Zero.
"Heh! Jangan remehkan aku, aku tak akan mati semudah itu..Aku juga sudah muak mendengar kau berbicara, dari pada membuang waktu..lebih baik kita selesaikan urusan kita di sini!" Ucap Dokter Cris menantang komandan Zero.
"Heh! Jika itu maumu..MAJULAH KEMARI!" Ucap komandan Zero balik menantang.
Terlihat komandan Zero begitu semangat ingin membunuh lawan di depannya. Dokter Cris juga tak kalah semangat ingin segera mengalahkan komandan Zero. Jika komandan Zero kalah mungkin dirinya bisa menghentikan evolusi C-virus. Suasana menjadi begitu tegang, keduanya memancarkan aura membunuh yang kuat. Sepertinya pertarungan ke dua antara Dokter Cris, Aida dan komandan Zero akan segera di mulai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments