Waktu terus berlalu, Dokter Cris dan Aida sudah sampai di kamp pada siang hari. Mereka berdua mengunjungi kantin lalu duduk di salah satu meja. Dokter Cris membawakan Aida makanan dua nampan berisi makanan dengan satu piring nasi dan satu mangkok sup ayam untuk dirinya dan Aida. Jarang jarang kamp memberikan lauk dengan daging, jadi tentu saja Dokter Cris tidak mau melewatkan makanan ini.
Terlihat dari wadah yang berisikan sup ayam, Dokter Cris sengaja memberikan daging yang lebih pada Aida. Karena jika Dokter cris perhatikan Aida sangat menyukai daging ayam. Dulu saat Aida berumur 13 atau 14 tahun, Aida pernah marah marah pada petugas kantin, karena Aida tidak kebagian daging ayam atau dagingnya terlalu sedikit di banding kuah sayurnya.
Dua nampan berisi makanan, Dokter Cris meletakannya di atas meja. Dokter Cris memberikan satu nampan pada Aida, Aida yang melihat daging sayur di mangkuknya langsung senang. Melihat daging ayam tersebut perut Aida langsung berbunyi seperti mengisyaratkan agar memakan supnya. Tanpa menunggu lama, Aida segera melahap makanan yang ada di depannya. Dokter Cris yang melihat Aida makananya. dengan lahap tersenyum senang, dia juga mulai menyendok makanannya.
Tak lama setelahnya, Aida dan Dokter Cris sudah menghabiskan makanannya. Dokter Cris lalu bangkit berdiri.
"Aku ada suatu keperluan, jadi aku pergi dulu ya, sampai jumpa" ucap Dokter Cris berjalan menjauhi Aida sambil melambaikan tangannya pada Aida.
Aida menatap Dokter Cris yang menjauh darinya sampai tak terlihat dari pandangannya. Hari ini dirinya tak ada pekerjaan yang bisa di lakukannya, Aida memutuskan untuk kembali saja ke asramanya.
Aida berjalan ke luar kantin, hari terlihat masih siang. Matahari tepat berada di atas, jika berjalan dari kamp ke asrama bisa membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Karena dirinya hari ini libur dan tak ada kendaraan yang bisa dirinya pinjam jadi Aida memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Aida berjalan menuju gerbang kamp yang terbuat dari besi dan di kelilingi oleh kawat berduri. Di depan gerbang ada dua orang yang bertugas di bagian dalam, mereka berdua tidak berkata apa apa pada Aida dan langsung membukakan pintu gerbang. Mungkin karena mereka kini tahu bahwa Aida sudah berada di atas pangkat mereka, jadi mereka harus patuh pada Aida.
Setelah pintu gerbang terbuka, Aida berjalan keluar gerbang. Di luar juga ada dua orang yang berjaga di luar gerbang. Terlihat setelah di luar gerbang, hutan yang lebat menyambutnya. Di sekelilingnya banyak sekali pepohonan dan semak belukar, jalan yang tidak rata terlihat membelah hutan.
Aida mulai berjalan menelusuri hutan, terlihat di dahan pohon ada satu dua burung yang hinggap di sana. Berjalan sendirian seperti ini membuat dirinya tenang, ya karena Aida sangat suka tempat yang sepi.
Burung burung berkicau dengan merdu, sepanjang perjalanan Aida melihat hewan hewan hutan seperti tupai, burung dan juga beberapa kupu kupu. Mendengar kicauan burung yang merdu membuat hati Aida tenang, Aida menyimak suara nyanyian burung burung tersebut.
Sedang enak enaknya melamun, Aida tidak sadar jika ada seekor babi hutan berukuran besar setinggi lututnya berlari ke arahnya dari samping kiri. Karena terkejut Aida sontak melompat ke belakang, babi hutan tersebut berhasil di hindarinya dan malah menabrak pohon di seberang jalan. Saking cepat dan kerasnya babi hutan tersebut menabrak pohon, pohon tersebut sampai bergetar dan beberapa daunnya berjatuhan.
"Ouh itu pasti sakit" ucap Aida sedikit mengerutkan dahinya, pasti babi itu pusing tujuh keliling sekarang.
"Makanya kalau berlari itu lihat lihat dulu, jangan main lari saja. Kan malah kejedot tu kepala ke pohon" ucap Aida dalam hati.
Babi hutan tersebut mundur tiga langkah lalu menggeleng gelengkan kepalanya, sesaat babi tersebut terdiam. Namun, saat babi tersebut berbalik dan melihat Aida yang masih berdiri di tempatnya, entah kenapa Babi tersebut mengambil ancang ancang untuk mennyeluduk Aida.
Kedua kaki babi tersebut bersiap siaga untuk berlari, tatapannya begitu lurus pada Aida, babi tersebut mengerang pelan seiring dirinya bernafas, bahkan air liurnya menetes keluar. Aida yang melihat babi tersebut merasa jijik dan juga agak khawatir, karena diseruduk oleh babi hutan lumayan juga sakitnya, biarpun Aida belum pernah mengalaminya tapi tetap saja Aida tidak mau di seruduk oleh seekor babi hutan.
Babi hutan tersebut berlari dengan cepat mengarah pada Aida, Aida langsung melompat ke samping. Babi hutan tersebut berhasil dihindarinya, namun babi hutan tersebut membelok dan kembali berlari ke arahnya.
Aida melihat ada pohon di belakangnya, dengan cepat Aida segera memanjat pohon tersebut menghindari serudukan babi hutan tersebut.
Babi hutan tersebut menghentikan lajunya dan berdiri di bawah pohon yang Aida panjat. Tahu jika Aida ada di atas pohon babi tersebut menunggu di bawah pohon.
Sudah lama menunggu babi hutan tersebut tidak menjauh dari pohon yang Aida panjat. Aida merasakan rasa pegal pada bagian tangannya karena harus terus berpegangan pada batang pohon. Babi hutan di bawahnya masih saja menunggu, Aida sedang memikirkan bagaimana caranya agar dirinya bisa pergi menjauhi babi hutan tersebut.
Aida melihat pisau yang tersarung di paha bagian kanannya, apa perlu dia bunuh saja babi hutan itu? Karena sepertinya babi hutan ini tidak membiarkan Aida untuk pergi.
"Baiklah, aku akan membunuhnya jika begini terus!" Ucap Aida dalam hati.
Aida mulai melepaskan tangan kanannya dari batang pohon dan mengeluarkan pisau. Tatapannya tajam pada babi hutan tersebut, Aida bersiap untuk melompat dari atas pohon.
Tapi baru saja dirinya akan melompat, babi hutan tersebut seperti mendengar sesuatu dan pada akhirnya berlari menjauh memasuki hutan.
"Lah, itu dia mau kemana? Ahk masa bodoh yang penting dia sudah pergi. Sekarang aku harus cepat menjauh sebelum babi itu datang lagi" ucap Aida dalam hati.
Setelah memastikan tak ada tanda tanda dari babi hutan tadi, Aida turun dari atas pohon. Aida celingak-celinguk sebentar memastikan lagi jika babi itu tidak akan muncul secara tiba tiba lagi. Setelah merasa aman Aida mengembalikan lagi pisau pada sarungnya yang tadi dia keluarkan.
"Babi yang aneh, kenapa bukannya dari tadi kau pergi? Setelah aku mengeluarkan pisau baru kau pergi, hhmmm tapi ada yang aneh dengan babi itu. Apa hanya perasaanku saja ya? ...sudahlah untuk apa di pikirkan, lebih baik aku segera pergi dari sini" ucap Aida yang lalu berjalan menjauh dari tempatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Abdul
babinya takut melihat pisau jadi pergi deh...
2024-02-02
0