EP 14 PECAHAN PUZZLE

"Aida?..Aida!" Ucap seseorang memanggil nama Aida.

    Aida membuka matanya, pandangannya masih buram namun perlahan pandangannya kembali normal, dirinya tak bisa bergerak. Tubuhnya masih lemas, namun ada yang aneh menurutnya. Siapa orang yang memanggilnya? Seorang wanita berambut coklat sebahu, dengan tubuh basah dia memperhatikan Aida dengan begitu khawatir.

    "Aida..syukurlah kamu baik baik saja..maafkan ibu Aida..ibu tak bisa melindungimu dengan baik..ibu.." ucap ibu Aida yang menangis.

   Aida masih bingung, ibu katanya? Wanita ini ibunya? Terlihat di wajah dan tangannya serta kakinya terdapat luka lecet dan memar. Apa dia baik baik saja? Ibu Aida dengan menangis terisak Isak, memeluk Aida dengan erat.

    Aida merasa pelukan ibunya terasa hangat, entah kenapa Aida merasa nyaman di pangkuannya. Apa ini benar benar ibunya? Dirinya masih mempunyai keluarga? Sungguh, hati Aida merasakan sesak akan rindu pada keluarganya, selama ini dirinya tidak tahu seperti apa itu keluarga, tidak tahu siapa orang tuanya. Melihat orang yang mengaku sebagai ibunya, hati Aida begitu tersentuh. Ingin rasanya Aida menangis, namun entah kenapa air matanya tidak mau keluar.

    Ibu Aida setelah puas menangis, langsung menggendong Aida. Walaupun berjalannya agak sempoyongan karena ada luka tembak di kakinya, ibu Aida tetap saja mengendong Aida menjauh dari aliran sungai.

   Ibu Aida membawa Aida masuk kembali ke dalam hutan, ibu Aida berjalan dengan hati hati karena sepertinya masih ada yang mencarinya. Sampai beberapa menit kemudian, ibu Aida menghentikan langkahnya. Sudah sangat jauh dirinya berjalan, ibu Aida merasa lelah karena kondisinya yang penuh dengan luka dan harus mengendong Aida. Namun demi seorang anak, ibu rela harus mempertaruhkan dirinya demi melindungi anak semata wayangnya. Biarlah dirinya merasakan sakit dan lelahnya asalkan anaknya bisa selamat.

    Tak lama setelah itu, ibu Aida kembali melanjutkan perjalanannya. Aida hanya diam karena tubuhnya begitu lemas, bahkan untuk bicara pun dirinya tak memiliki tenaga.

    beberapa menit berjalan, ibu Aida mendengar suara. Sepertinya itu adalah orang orang yang mencarinya, ibu Aida agak cemas karena di mana dirinya harus bersembunyi.

    Benar saja dugaannya, 5 orang laki laki mendekatinya. Kelima orang tersebut bersiaga dengan pistol di tangan mereka, ibu Aida masih bingung, apa yang harus di lakukannya. Karena tak mungkin jika dirinya bertarung dalam keadaan seperti ini, apalagi yang mereka inginkan adalah sesuatu yang di bawa oleh ibu Aida.

   Aida masih diam tidak bisa bergerak, ibu Aida memperhatikan Aida sejenak setelah itu menurunkan Aida dari pangkuannya. Aida di baringkan di tanah, ibu Aida berdiri agak sempoyongan karena luka tembak di kakinya. Ibu Aida berjalan tiga langkah ke depan mendekati 3 pria yang sudah siap untuk menangkap ibu Aida.

   "Apa yang akan dilakukannya? Sial! Seharusnya aku membantunya! Kenapa tubuhku tak bisa aku gerakkan? Ibu kalah jumlah dan juga kakinya terluka, aku tidak bisa membiarkannya bertarung sendirian seperti itu!..oh ayolah tubuh! Bergeraklah!" Ucap Aida dalam hati.

    Ibu Aida mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna biru muda berbentuk balok yang hanya sebesar 3cm, lima orang di hadapannya langsung bersiap. Sepertinya itulah benda yang mereka cari dari ibu Aida, entah apa isinya namun sepertinya barang kecil itu begitu amat berharga. Sampai sampai botol tersebut di jadikan kalung oleh ibu Aida agar tidak hilang.

    Ibu Aida melepaskan ikatan kalung tersebut dari botol kecil tersebut lalu menatap tajam pada lima orang di hadapannya. "Kalian menginginkan ini kan? Kalau begitu aku akan memberikannya pada kalian" ucap ibu Aida dengan sangat serius.

    "Cepat serahkan benda itu, jika tidak kami akan mengambilnya secara paksa!" Ucap salah satu dari mereka.

   Ibu Aida tersenyum, terlihat kegusaran di hatinya. Namun seorang ibu rela mengorbankan dirinya demi anaknya, ibu Aida langsung meminum cairan yang ada di dalam botol kecil tersebut. Lima orang yang melihat ibu Aida meminumnya terkejut sekaligus panik, bagaimana bisa ibu Aida meminum cairan berbahaya tersebut. Jika sekali meminumnya maka tak lama setelah itu dia pasti akan langsung mati.

    Ibu Aida tersenyum dengan lebar, tatapannya tak berubah. Terlihat wajah gembira karena sepertinya dirinya akan menang dengan mudah melawan lima orang di hadapannya.

   "Maafkan ibumu yang bodoh ini..Aida" ucap ibu Aida pelan pada Aida yang  terbaring di tanah.

   Aida masih terbaring lemas di tanah, walaupun dirinya bisa melihat ibunya dengan samar, namun sayangnya sepetinya kesadarannya tak akan bertahan lama.

    Terlihat tubuh ibu Aida mulai mengeluarkan garis hitam, tubuhnya mulai bergetar, dan matanya pun memerah. Lima orang yang melihat ibu Aida mundur dua langkah, mereka bersiap dengan apa yang akan terjadi.

    Ibu Aida mengerang dengan kencang, tubuhnya terasa panas dan terasa tercabik cabik. Terlihat di bagian perut ibu Aida mulai membuncit, semakin besar dan besar. Hingga perut ibu Aida meledak karena saking besarnya benjolan di perutnya, dari benjolan tersebut ada sebuah bola mata kuning agak kemerahan begitu besar, di setiap sisi dari bola mata tersebut keluar sebuah duri yang tajam menyerupai gigi.

    Bukan hanya perubahan di perutnya saja, kedua tangan ibu Aida membelah menjadi dua. Lalu tumbuh tulang yang begitu tajam bagaikan sebuah pedang. Lima orang yang melihatnya langsung bersiap siaga dengan pistol mereka, terlihat di wajah mereka, mereka begitu ketakutan, namun ini adalah perintah dari atasannya jadi mereka mau tak mau harus membunuh ibu Aida.

    "Serang dia secara bersamaan!" Ucap salah satu orang dari mereka berteriak dengan kencang memberi perintah.

   Lima orang menembak tubuh ibu Aida beberapa kali, namun tak ada reaksi dari ibu Aida. Hingga salah satu peluru menembus pada bagian bola mata yang berada di perut ibu Aida. Ibu Aida langsung menjerit kesakitan, sepertinya matanya itulah kelemahannya.

    Lima orang kini membuat barisan mengelilingi ibu Aida, pistol mereka sudah diisi ulang dan siap di lepas tembakkan. Karena kini mereka tahu apa kelemahan ibu Aida, gigi runcing yang ada di sekitar perut ibu Aida menutup bagian bola mata yang ada di perutnya.

    Tembakan dilepaskan kembali, belasan peluru menerjang tubuh ibu Aida. Ibu Aida dengan gesit menghindari peluru, namun masih ada beberapa peluru yang mengenainya. Kedua tangan ibu Aida di layangkan, tulang yang menyerupai pedang tersebut mengenai tiga orang dan memotong tubuh mereka menjadi dua bagian.

    "Kami memerlukan bantuan disini! Kirim bantuan secepatnya!" Ucap salah satu dari dua orang yang tersisa pada telepon satelit.

Dua orang yang tersisa menjauh sedikit dari ibu Aida karena takut terbelah akibat serangan dari ibu Aida. Ibu Aida berhenti sejenak setelah itu berbalik ke belakang melihat keadaan Aida yang masih terbaring.

    Seseorang dengan senjata sniper mengarahkan senjatanya pada kepala ibu Aida, satu tembakan di Lesatkan dan tepat mengenai kepala ibu Aida. Sebentar ibu Aida terbaring di tanah, namun dengan segera dirinya kembali berdiri.

    Ibu Aida berteriak, karena kesal seseorang menembaknya secara sembunyi sembunyi. Tak lama setelah itu, lebih dari 25 orang kembali mengepung ibu Aida dan Aida, terlihat mereka bukanlah lawan yang mudah. Namun ibu Aida tetap maju menyerang biarpun musuhnya lebih kuat dari lima orang tadi.

    Ibu Aida melayangkan serangannya secara bruntal, lima orang mati dengan tubuh mereka yang terbelah menjadi dua. Orang orang yang melawannya berusaha keras agar tidak terkena serangan ibu Aida.

    "Sniper! Hancurkan gigi di bagian perutnya! Itu kelemahannya!" Ucap seseorang.

    Orang yang memegang senjata sniper, dengan cepat membidik bagian perut ibu Aida, satu tembakan di luncurkan dan tepat mengenai perut ibu Aida. Dalam tembakan pertama tak ada reaksi, di coba kembali di tembakan ke dua. Satu gigi yang menutupi bagian perut ibu Aida hancur dan lepas dari kulit perut ibu Aida.

    Ibu Aida mengerang, gigi tajam yang menutupi mulutnya terbuka. Melihat peluang, dengan cepat puluhan tembakan

Meluncur ke arah perut ibu Aida agar mengenai bola mata yang ada di dalam perut ibu Aida. Gigi tajam yang membuka di bagian perut ibu Aida mulai bergetar, tak lama setelahnya gigi gigi tersebut di luncurkan bagaikan tombak ke arah lawan.

    Beberapa ada yang terkena gigi gigi tajam ibu Aida yang sengaja ibu Aida tembakan, namun ada beberapa peluru juga yang mengenai bola mata ibu Aida.

   Perlahan bola mata yang ada di bagian perut ibu Aida mengeluarkan cairan kuning seperti nanah. Ibu Aida terduduk lemas, bola matanya di bagian perutnya semakin banyak mengeluarkan cairan kuning.

    "Sekarang waktunya!" Ucap salah seorang berteriak dengan melemparkan sebuah bom berupa granat pada ibu Aida dan tepat meledak di bagian perut ibu Aida, membuat bola mata yang ada di perut ibu Aida pecah.

    Ibu Aida berteriak kesakitan, tubuhnya perlahan tak bisa dia rasakan. Belasan sisa dari mereka mendekat, salah satu dari mereka berdiri di hadapan ibu Aida dan menodongkan pistolnya pada bagian kepala ibu Aida.

   "Walaupun kau sudah meminum barang yang kami cari, tapi membawa tubuhmu saja sudah cukup bagi kami" ucap orang tersebut dengan dingin.

    Perlahan pelatuk pistol di tekan, namun sebelum pelatuk pistol sepenuhnya tertekan sebuah tembakan melayang dan mengenai kepala orang tersebut sampai dirinya terpental karena cepatnya gerakan peluru.

    Ibu Aida dan yang lainnya terdiam bingung, darimana datangnya serangan itu? Tak berselang lama setelah itu, tembakan lain menyusul. Semua peluru tepat menembak ke arah lawan, hanya ibu Aida saja yang tidak tertembak.

    Keadaan seketika hening, tak terdengar lagi suara tembakan, teriakan atau erangan. Ibu Aida terdiam melihat ke sekeliling, tak ada seorangpun di sekitarnya lalu siapa tadi yang menembak mereka?

   Ibu Aida merasakan tubuhnya terasa sakit kembali, tubuhnya pun kembali bergetar. Di saat itu juga, muncul seseorang dari dalam semak belukar mendekati ibu Aida. Orang tersebut laki laki, berambut pirang, serta pakaiannya nampak seperti baju prajurit kamp dengan pakaian serba hitam.

   Ibu Aida memperhatikan wajah orang tersebut, "...kau..Cris?" Ucap ibu Aida pelan.

   Orang yang rupanya adalah Dokter Cris perlahan mendekati ibu Aida, Dokter Cris menatap ibu Aida begitu pula dengan ibu Aida yang balik menatapnya.

   "..anda?" Ucap Dokter Cris, lalu melihat ke arah Aida yang masih terbaring di tanah.

   "Cris..cepatlah tembak aku, aku tidak mau membahayakan siapa pun lagi" ucap ibu Aida dengan nada suara yang bergetar.

   "Apa? Tapi.."

   "Ini perintah dariku! Setelah itu aku serahkan dia padamu, rawatlah dia sebaik  mungkin. Aku mempercayakannya padamu" ucap ibu Aida sedikit memberi senyuman pada Dokter Cris.

    Dokter Cris terdiam, dirinya agak ragu untuk menembak ibu Aida. Sepertinya keduanya memiliki sebuah hubungan, ibu Aida mengenal Dokter Cris, Dokter Cris juga mengenal ibu Aida.

   "Dia..tidak akan mengenalku kan?" Ucap Dokter Cris pada ibu Aida, terlihat dari raut wajahnya yang sedih.

   "..dia tidak akan mengenalimu, tapi..biarpun begitu..kau tetaplah keluarganya kan?" Jawab ibu Aida.

   Dokter Cris terdiam, pistol di tangannya ditodongkan ke arah kepala ibu Aida. Dokter Cris merasa sangat enggan untuk menembaknya, ibu Aida hanya menatap pasrah pada Dokter Cris.

   Namun ini perintah sekaligus demi kebebasan ibu Aida yang harus menahan sakit di sekujur tubuhnya, jika tidak segera dia musnahkan ibu Aida pasti akan berubah dan bisa saja melukai Aida atau dirinya.

   Aida yang kesadarannya semakin menipis, melihat Dokter Cris yang menodongkan pistolnya pada ibu Aida langsung terkejut. Apa yang akan dilakukan Dokter Cris? Apakah dia benar benar akan membunuh ibunya?

    "Cris? Apa yang akan kau lakukan? Hentikan itu!" Pelatuk pistol di lepas, sebuah peluru tepat menembak kepada kepala ibu Aida. Ibu Aida langsung terkapar di tanah, sebelum tertutupnya kedua mata ibu Aida, ibu Aida tersenyum pada Dokter Cris.

"Cris!!!"  Aida berteriak dalam hatinya.

                            ***

    Aida membuka matanya, keringat dingin membasahi dahinya. Apa yang tadi itu mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata? Dada Aida terasa sakit karena menahan emosi. Terlihat Aida tidak berada di kamp, melainkan di hutan. Tubuh Aida juga tidak ada garis hitam, apa kemarin juga itu mimpi?

   "Aida, kau baik baik saja?" Ucap Dokter Cris yang rupanya ada di sampingnya.

   Melihat Dokter Cris, Aida kembali teringat tentang hal yang baru saja dirinya lihat. Dokter Cris membunuh ibunya, sebenarnya siapa Dokter Cris? Jika dia orang jahat, mungkin dirinya sudah dibunuh olehnya dari dulu.

   Karena kini pikiran Aida sangat kacau, Aida langsung mendorong Dokter Cris dengan kasar dan mengambil pisau yang tersarung di paha kanan Dokter Cris secara paksa. Dokter Cris terjatuh ke tanah, pisau yang Aida pegang di tempelkan ya pada leher Dokter Cris.

   "Sebenarnya kau ini siapa?!" Ucap Aida sedikit berteriak.

   "..Aida? Apa maksudmu? Aku.."

   "Kau membunuh ibuku! Kenapa kau membunuhnya?!..katakan padaku kenapa kau membunuhnya? Kau selama ini menyembunyikan semua itu dariku..kenapa?.." ucap Aida.

   Tak terasa air mata jatuh pada pipi Dokter Cris, Aida menangis setelah mengingat kenangan 15 tahun yang lalu saat dirinya terlahir kali bersama ibunya. Kenapa Dokter Cris tidak langsung saja mengatakan semuanya dari awal? Mungkin dirinya tidak akan merasa sakit seperti ini.

    "Aida..aku.." ucap Dokter Cris pelan.

    Terlihat wajah Dokter Cris juga ikut merasa sedih, kejadian 15 tahun itu tak bisa dia lupakan. Karena saat itu juga dirinya harus membunuh orang yang dia percayai, namun dirinya melakukan itu karena demi Aida juga.

Terpopuler

Comments

Abdul

Abdul

cris!!!membunuh ibunya Aida!!!!

2024-02-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!