Bernardo mendaratkan dua jarinya di dagu Cyrene sembari membimbing wanita di sampingnya untuk kembali menatapnya, hingga membuat pandangan mereka kembali bertemu dan berhasil menciptakan keheningan yang terasa panjang bagi Cyrene.
Secara perlahan, pandangan Bernardo bergerak turun dan terhenti di bibir Cyrene, lalu kembali ke matanya seolah meminta ijin.
Cyrene hanya bergeming, tidak melakukan perlawanan saat tangan Bernardo menyentuh wajahnya. Bahkan saat Bernardo mendekatkan wajahnya, ia tidak berusaha menghindar.
Jari tangan Bernardo berpindah ke tengkuk Cyrene. Wajahnya kian mendekat dengan mengikis jarak di antara mereka hingga bibir mereka hampir bersentuhan.
"Hats-chi,,,!"
Suara bersin di belakang mereka membuat mereka berdua tersentak dan segera menjauhkan wajah mereka masing-masing.
Cyrene memalingkan wajahnya yang telah berubah merah padam menahan malu seolah mereka baru saja ketahuan melakukan sesuatu.
'TAAKK,,!'
"Aaww,,,!" rintih Emma memegangi kepalanya.
"Ish,,, dasar,,,, kau ini penganggu!" gerutu Gavin setelah menjitak kepala Emma.
"Haish,,, gagal,,," cetus Theo bernada kecewa.
"Maaf, aku mana tahu kalau aku akan bersin," jawab Emma membela diri.
Mereka bertiga segera keluar dari balik pintu dan bersikap seolah tidak melihat apapun. Kembali bergabung bersama Cyrene dan Bernardo yang saling membuang muka.
"Wajah kakak merah, apakah kakak demam?" tanya Gavin memasang wajah polos.
"Tidak," jawab Cyrene.
"Aku akan membersihkan ini dulu," imbuhnya segera beranjak dari tempatnya sembari membawa beberapa piring kotor.
"Aku bantu," ucap Bernardo.
"Tidak perlu, aku sendiri saja!" tolak Cyrene.
Cyrene meninggalkan Bernardo dengan langkah terburu-buru, meninggalkan kebingungan di wajah Bernardo namun tiga orang di dekatnya justru berusaha menahan tawa mereka.
'Apakah dia marah padaku?' batin Bernardo.
...%%%%%%%%...
"Hemmm,,, dia lumayan juga," gumam Das sembari menatap layar laptop di pangkuannya.
"Sepertinya tidak akan buruk jika aku mendekatinya untuk bermain sebentar," imbuhnya.
"Cyrene Jodie Elvarreta si pemilik cafe sekaligus seorang barista,"
"Aku penasaran apa yang di lihat Bernardo dari sosok wanita ini,"
Seringai lebar terbentuk di bibir Das saat membaca informasi yang berhasil ia dapatkan dari meretas data pribadi Cyrene.
Suara ponsel menyela kegiatannya yang tengah membaca data Cyrene, dan segera mengeluarkan ponselnya untuk menerima panggilan dari anak buahnya.
"Katakan!" perintahnya begitu ponsel menempel di telinganya.
📞📞📞📞
"Cafe itu akan kembali buka mulai besok. Hari ini mereka masih mempersiapkan untuk pembukaan, dan besok di buka untuk umum secara gratis," ungkap si penelepon.
"Menarik,,,," sambut Das.
"Apakah kau melihat dia ada di sana?" imbuhnya bertanya.
"Aku tidak melihatnya. Aku hanya melihat satu pemuda yang lebih muda dari wanita itu dan seorang gadis," jawabnya.
"Kudengar mereka berdua adalah karyawan dari wanita itu," lanjut si penelepon.
"Ah,,, aku juga sempat melihat seorang pria datang pagi ini dan belum terlihat keluar sejak dia datang sampai sekarang,"
"Karena kaca cafe masih tertutup tirai, aku tidak bisa melihat bagian dalam, tapi banyak orang di sekitar yang datang sekedar untuk bertanya dan segera keluar setelah mereka tahu besok akan buka gratis," paparnya.
"Baiklah, terus awasi dan laporkan jika kamu melihat Bernardo di sana," perintah Das.
"Baik," jawabnya.
📞📞📞📞
"Pembukaan gratis untuk semua orang," ulang Das sembari berpikir sejenak.
"Itu artinya aku bisa datang dan bersikap sebagai seorang pembeli,"
"Kalaupun Bernardo berada di sana, dia hanya akan bersikap tidak mengenalku alih-alih memancing keributan,"
Seringai lebar kembali terbentuk di bibirnya, memberikan tatapan yang sulit di artikan ketika ia kembali menatap layar laptop yang memperlihatkan beberapa foto Cyrene yang berhasil ia dapatkan.
...%%%%%%%%...
### Malam harinya.
"Terima kasih banyak untuk hari ini, Theo," ucap Cyrene saat berdiri di depan cafe.
Theo tersenyum sembari menatap Cyrene dan Bernardo secara bergantian sebelum menjawab.
"Aku senang bisa membantu, lebih lagi jika itu untukmu," jawab Theo mengedipkan matanya.
"Pft,,,,"
Theo berusaha menahan tawanya meski pada akhirnya tetap gagal saat ia mendapatkan tatapan tajam dari Bernardo setelah apa yang baru saja ia lakukan.
"Kenapa? Apakah ada yang lucu?" tanya Cyrene bingung.
"Tidak, bukan apa-apa, aku hanya teringat dengan sesuatu yang lucu saja," kilah Theo.
"Ah,,, begitu,"
"Hei,,, tolong jangan lupa untuk datang besok," ucap Cyrene.
"Tentu, aku pasti akan datang besok," sambut Theo.
"Kamu juga bisa membawa teman-temanmu bersamamu," ucap Cyrene lagi.
"Heee,,,, sungguh? Kau tidak keberatan tentang itu?" tanya Theo.
"Sama sekali tidak, aku akan senang jika kamu bisa datang bersama temanmu," jawab Cyrene.
"Baiklah, hanya saja aku tidak bisa menjanjikannya," sahut Theo.
"Aku bisa mengerti," jawab Cyrene.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit, selamat malam Cyrene," ucap Theo sembari mengerakkan dua jari di pelipisnya dan mengedipkan sebelah matanya.
"Aku juga pamit, kak," sela Gavin.
"Aku juga," timpal Emma.
"Berhati-hatilah dalam perjalanan pulang kalian," balas Cyrene mengingatkan.
"Pasti kak," sambut mereka berdua serempak.
"Apakah kamu akan kembali ke apartemen malam ini?" tanya Bernardo setelah Gavin pergi menggunakan sepeda motornya bersama Emma yang membonceng di belakangnya.
"Sepertinya tidak malam ini," jawab Cyrene berbalik dan masuk ke dalam cafe lagi diikuti Bernardo di belakangnya.
"Hari ini cukup melelahkan, dan besok aku tidak ingin terlambat membuka cafe, jadi aku akan tidur di sini," sambungnya.
"Begitu," sambut Bernardo.
"Uhm,,, aku tidak bermaksud buruk, tapi bolehkah aku tetap di sini?" harapnya.
Cyrene berbalik menghadap Bernardo, menatapnya dengan alis terangkat yang membuat Bernardo menggosok tengkuknya.
"Pft,,, tentu saja," sambut Cyrene tertawa.
"Kenapa kamu terlihat tegang sekali?" imbuhnya.
"Aku hanya tidak ingin menempatkanmu dalam situasi tidak nyaman," jawab Bernardo.
"Jadi, aku akan pergi jika kamu merasa tidak nyaman dengan keberadaanku di sini," sambungnya.
"Aku tidak keberatan, tapi aku penasaran dengan satu hal," ucap Cyrene seraya duduk di kursi di depan mini bar.
"Apa itu?" tanya Bernardo.
Bernardo duduk di samping Cyrene seraya memutar kursinya hingga mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Aku tidak pernah lagi melihatmu menggunakan mobil, tidak setelah pertemuan pertama kita,"
"Tapi, tolong jangan salah paham, aku tidak memiliki maksud apapun. Aku hanya penasaran mengapa?" tutur Cyrene.
"Aku hanya sedang tidak ingin menggunakannya," jawab Benardo.
"Aku meninggalkanya di rumah," imbuhnya.
"Apakah rumahmu jauh?" tanya Cyrene lagi.
"Tidak begitu jauh, hanya perlu waktu setengah jam perjalanan saja menggunakan mobil," jawab Bernardo.
"Itu lumayan jauh," sambut Cyrene.
"Apakah kamu menyukai Jeep?" sambung Cyrene bertanya lagi.
"Yah,,, bisa di katakan begitu," jawab Bernardo.
"Dari semua jenis mobil, aku lebih menyukai Jeep di bandingkan apapun," imbuhnya.
"Dan kamu memodifikasi sendiri mobil yang kamu gunakan sesuai dengan keinginanmu?" tanya Cyrene.
"Tepat," sambut Bernardo.
"Kau tahu? Meski terlihat sederhana, tapi mobil bisa memperlihatkan karakter seseorang," ungkapnya.
"Bagaimana bisa?" sambut Cyrene kurang percaya.
"Kamu tidak percaya?" tanya Bernardo.
"Lebih tepatnya, aku tidak mengerti dengan bagaimana caranya," ralat Cyrene.
"Sederhana saja," jawab Bernardo.
"Misalnya saja, ketika seseorang menggunakan mobil SUV. Setiap orang yang melihatnya akan langsung berpikir pemilik mobil itu sangat menyukai petualangan dan sosok yang maskulin,"
"Mobil klasik akan membuat orang berpikir pemiliknya adalah seorang yang romantis,"
"Mobil Pick-up, orang akan langsung menyebut mereka sebagai sosok seorang pekerja keras,"
"Dan mobil sport, banyak dari mereka akan menganggap pemiliknya adalah sosok yang menyukai adrenalin, dan suka menjadi pusat perhatian,"
"Ketika kamu menggunakan dua mobil yang berbeda, mereka yang melihatmu juga akan memberikan penilaian berbeda hanya karena mobil yang kamu gunakan," terang Bernardo.
"Bagaimana jika mereka menggunakan jasa taksi?" tanya Cyrene.
"Mereka akan berpikir orang itu ingin menghemat pengeluaran atau malas untuk mengemudi sendiri," jawab Bernardo.
Cyrene tertawa kecil, membenarkan apa yang di katakan Bernardo memang tidak salah jika di pikir ulang alasan beberapa orang menggunakan jasa taksi atau bus. Termasuk dirinya sendiri yang lebih memilih menggunakan jasa taksi untuk berangkat ke cafe setiap harinya.
Selama beberapa saat, Cyrene tersenyum saat melihat betapa Bernardo terlihat antusias saat membicarakan tentang mobil.
Hal itu membuat ia mengerti mengapa Bernardo memilih Jeep sebagai mobil pilihannya. Melihat sosok Bernardo, mobil Jeep memang paling cocok jika di lihat dari penampilan luarnya. Di mana Jeep memiliki karakter kuat dan tangguh.
'Dia terlihat berbeda ketika membicarakan tentang mobil. Matanya bahkan lebih berbinar dibandingkan saat dia membiarakan tentang pekerjaannya,'
'Kuharap, dia benar-benar bisa terlepas dari para sindikat gelap itu. Dia terlihat lebih hidup saat ini dibandingkan sebelumnya. Bahkan aku bisa melihat dia tertawa lepas bersama Gavin dan Emma,' batin Cyrene penuh harap.
...%%%%%%%%...
### Keesoakan harinya....
. . . .
. . . . .
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Birru
gak tahu harus komen apa.. saking terbawa suasana saat membaca🥺
2024-06-21
0
Rona Risa
iklan-iklan untuk edo-ren ❤️❤️❤️
2024-04-09
1
Rona Risa
pembaca juga berharap begitu 😭
2024-04-09
1