6. Bahaya!

Tepat saat Cyrene menutup pintu kamar mandi, siluet seseorang muncul di tirai yang menutupi jendela menuju balkon kamarnya.

Beberapa menit kemudian, Cyrene keluar dari kamar mandi mengenakan atasan tanpa lengan dan celana pendek dengan handuk yang menutupi kepala. Bulir air masih terlihat menetes dari rambut basahnya.

Ia duduk menghadap meja rias miliknya, dan mulai mengeringkan rambutnya. Bayangan seseorang kembali terlihat di jendela kamarnya. Namun, saat Cyrene menoleh, bayangan itu menghilang begitu saja.

'Hanya perasaanku saja, sepertinya aku kelelahan hari ini,' batin Cyrene menaikan bahunya.

Mengabaikan hal itu, Cyrene meletakkan pengering rambut setelah dirasakan rambutnya benar-benar kering lalu meraih laptop miliknya dan membawanya ke tempat tidur.

Dengan duduk bersila di atas tempat tidur, Cyrene membuka laptopnya dan mulai mendata penjualan di cafe hari ini.

'KLOTAK,,,,'

Sebuah suara berasal dari balkon menarik perhatian Cyrene.

'Apakah aku salah mendengar atau aku memang mendengar suara diluar? Tapi tidak mungkin kan? Ini lantai 8!' pikirnya.

Menggelengkan kepalanya, ia memilih kembali melanjutkan pekerjaannya. Mencatat bahan apa saja yang sudah waktunya untuk mengisi ulang stok persediaan cafe.

TOK,,,

TOK,,,

TOK,,,

Lagi, kali ini sebuah ketukan kaca terdengar dari balkon kamarnya dengan suara lebih jelas dari sebelumnya.

'Mustahil! Bagaimana mungkin ada orang di sana?Atau mungkinkah ada kucing atau anjing yang terjebak di luar?' batin Cyrene mencoba tetap berpikir positif.

Dengan langkah pelan, Cyrene mulai mendekati balkon dan menyingkap tirai putih yang menutup pintu sekaligus menjadi jendela menuju balkon. Kedua matanya menelisik setiap sudut balkon ketika tiba-tiba sosok pria bertubuh besar muncul dari balik tirai dan berdiri tepat di depannya.

"AAHHH,,,!" pekik Cyrene melangkah mundur hingga jatuh terduduk karena terkejut.

Tubuhnya gemetar ketakutan memikirkan hal buruk yang bisa saja terjadi. Pria itu kembali mengetuk pelan pintu kaca seolah meminta Cyrene untuk segera membukakan pintu untuknya.

"Ren, ini aku, tolong buka pintunya!" ucapnya.

Perlu waktu beberapa saat bagi Cyrene untuk menyadari yang berada di balkon adalah Bernardo. Masih sedikit gemetar karena terkejut, ia segera bangun dan mendekati pintu.

"Apa kamu sudah gila? Kamu menakutiku!" hardik Cyrene marah setelah membuka pintu.

"Dan bagaimana caranya kamu bisa di sini? Bagaimana caranya kamu naik?" cecarnya.

"Sshhh,,," Bernardo menutup mulut Cyrene dan mendorongnya agar masuk.

Dengan gerakan cepat Bernardo mengeser kembali pintu yang terbuka serta menutup tirai dan mengunci pintu. Bernardo bahkan mematikan lampu kamar.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Cyrene tak mengerti.

"Aku akan menjelaskan semuanya, tapi tolong pelankan suaramu!" ucap Bernardo pelan namun terdengar serius.

"Dimana ponselmu?" tanya Bernardo.

"Disana," jawab Cyrene menunjuk ponsel di atas meja terhubung dengan kabel.

"Kenapa?" tanya Cyrene heran melihat wajah tegang Bernardo.

Tanpa menjawab, Bernardo bergegas mengambil ponsel Cyrene dan mengeceknya.Tangannya mengacak-acak kasar rambutnya. Wajahnya berubah menjadi lebih tegang dari sebelumnya.

"Sial,,, mereka mendapatkannya!" Bernardo menggeram kesal.

"Apa maksudnya itu? Dan bagaimana kamu bisa membuka ponselku yang masih terkunci?" tanya Cyrene curiga.

Cyrene perlahan melangkah mundur menatap Bernardo dengan tatapan ngeri. Kini ia merasakan rasa takut merayap di hatinya.

'Ini terlalu mencurigakan di pikirkan dari sudut manapun. Bagaimana caranya dia mencapai balkon kamarku? Dan membuka ponselku tanpa sandi?Konyol! Aku harus keluar dari sini!' bisik hatinya.

Bernardo menoleh menatap Cyrene dan tersenyum sedih.

"Jangan beri aku tatapan seperti itu, Ren! Aku bersumpah tidak memiliki niat sedikit pun untuk menyakitimu," ucap Bernardo pelan.

"Dan kamu ingin aku percaya? Lucu sekali," sambut Cyrene mendengus kesal.

Bernardo mendesah pelan sembari meletakkan ponsel Cyrene di tempat tidurnya. Perlahan melangkah medekati Cyrene yang kembali melangkah mundur saat Bernardo mendekat.

"Apakah sekarang kau takut padaku, Ren?" tanya Bernardo tersenyum tipis.

Cyrene menelan ludah dan terus melangkah mundur. Matanya terus mengawasi Bernardo. Tiba-tiba Bernardo maju dengan gerakan cepat meraih tangan Cyrene dan menariknya dengan satu sentakan ringan.

Cyrene terkesiap dengan gerakan tiba-tiba Bernardo yang menyebabkan dirinya kehilangan keseimbangan dan menabrak Bernardo.

Berbalik secepat yang dia bisa, Cyrene mencoba memberontak. Namun, Bernardo melingkarkan tangannya di pinggang Cyrene dari belakang dan satu tangan lain di mulutnya lalu merapat ke dinding dengan sebuah lemari pakaian di sampingnya.

"Sshh,,, Sebentar saja, tolong diam!" bisik Bernardo serius.

Matanya menatap tajam ke arah balkon. Cyrene mendongak dan melihat dengan jelas kekhawatiran di wajahnya yang terus mengawasi balkon.

Tak lama berselang, terlihat bayangan orang di balik tirai yang terlihat seperti merayap dan melompat dengan mudah untuk mencapai balkon. Lampu kamar yang dimatikan Bernardo sangat membantu untuk mengatahui ada berapa orang di luar sana karena sinar bulan malam itu membentuk siluet pria berperawakan besar.

'Lima? atau enam? Siapa mereka? Bagaimana mereka bisa di sana? Memanjat tidaklah masuk akal. Jika tangga, mana ada tangga yang cukup tinggi untuk mencapai lantai ini?' pikir Cyrene.

"Kau yakin dia tinggal di sini?" tanya salah satu dari mereka.

Suara berat seorang pria bertubuh paling tinggi bertanya pada temannya terdengar di telinga Cyrene. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk menangkap apa yang dibicarakan mereka dangan bantuan keheningan di sekitar Cyrene.

"Aku yakin. Aku sudah menyadap ponselnya, semua informasi menggarahkan dia tinggal di sini. Lalu GPS nya juga menunjukkan ini tempat terakhir yang dia tuju. Tapi sekarang GPS nya mati," jawab pria lainnya.

'Di sadap? Sejak kapan?' Cyrene melebarkan matanya. 'Jadi, yang di lakukan Bernardo tadi mematikan GPS ponselku untuk menghindari mereka?' tanyanya dalam hati.

Membayangkan mereka datang lebih dulu sebelum Bernardo membuat Cyrene menelan ludah. Merasa semua akan lebih mengerikan jika Bernardo tidak datang tepat waktu.

Bernardo menarik tubuh Cyrene lebih dekat ke arahnya saat melihat orang yang berada di balkon mencoba mencari celah untuk melihat isi kamar. Detak jantung Cyrene berpacu dan keringat mulai membasahi keningnya.

"Tidak ada siapa pun di sini!" pria di luar menggeram kesal.

"Lampu kamarnya bahkan tidak menyala, itu berarti dia tidak di sini," sambungnya.

"Apa kita tunggu di sini hingga dia kembali?" tanya yang lain.

"Kita tak punya banyak waktu untuk itu," jawabnya kesal.

"Kita pergi dulu untuk saat ini. Kurasa kita masih aman karena dia belum membuat laporan apa pun pada polisi," lanjutnya.

Seolah itu adalah perintah pemimpin mereka, dengan patuh mereka menurut pergi.

Bernardo menurunkan tangan yang menutup mulut Cyrene tanpa melepaskan tangan yang ada di pinggangnya.

"Siapa mereka?" tanya Cyrene berbisik.

"Mungkin kamu akan lebih cepat mengerti jika menyebutnya mafia," jawab Bernardo.

"Apa,,,?!?" Cyrene terkejut.

Mendongakkan kepalanya menatap Bernardo meminta penjelasan.

"Kurasa mereka sudah benar-benar pergi dari sini. Tapi, untuk berjaga-jaga, jangan hidupkan lampu untuk sementara," ucap Bernardo.

"Setidaknya itu tidak akan menarik perhatian mereka untuk kembali," lanjutnya.

Bernardo menunduk dan menyadari Cyrene tengah mendongak menatapnya. Keheningan terjadi saat tatapan mata mereka bertemu. Hingga akhirnya Bernardo tersadar tangannya masih melingkar di pinggang Cyrene.

"Aahh,,,Maaf,!" ucap Bernardo gugup segera menarik tangannya.

"Hei,,,Jawab aku!"

"Katakan padaku kenapa mereka mencariku? Apa yang sudah aku lakukan? Aku merasa tidak pernah bertemu mereka, aku juga tidak mengenali suara mereka," tanya Cyrene menahan tangan Bernardo.

"Bukan kamu, tapi aku, Ren," jawab Bernardo pelan.

"Ini kesalahanku. Seharusnya aku lebih menahan diri untuk tidak menemuimu. Maafkan aku,"

"Tapi, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu," janji Bernardo.

"Tunggu,,,Tunggu,,,Apa maksud perkataanmu? Aku tidak ingin berasumsi sendiri hanya mendengar sepenggal kalimatmu yang tak kau selesaikan,"

"Jadi, tolong jelaskan padaku apa artinya itu?" desak Cyrene.

Bernardo menatap dalam Cyrene. Sebagian hatinya merasa bersalah telah menariknya ke dalam hidupnya. Tapi, sebagian hatinya lagi merasa sangat senang akhirnya bisa mendekatinya setelah sekian lama hanya bisa melihatnya dari jauh.

"Aku bukan orang baik-baik, Ren," ucap Bernardo menghembuskan nafas kasar.

Cyrene menunggu tanpa mendesak lagi. Melihat wajah Bernardo seperti menahan beban berat, Cyrene manarik tangan Bernardo dan memintanya untuk duduk dikarpet bulu yang ada di sisi tempat tidur miliknya.

"Tunggu di sini sebentar!" ucap Cyrene lalu keluar kamar meninggalkan Bernardo.

Tak lama kemudian, Cyrene kembali dengan dua cangkir kopi dan menyodorkan satu cangkir untuk Bernardo yang segera menerimanya.

Hening__,,,,

Cyrene duduk di samping Bernardo bersandar pada tempat tidurnya lalu mendesah pelan sebelum berkata tanpa melihat Bernardo.

"Kau tak perlu mengatakannya jika itu akan membuatmu terbebani," ucap Cyrene memecah keheningan.

"Aku minta maaf telah mendesakmu.Tapi, aku tidak akan mengakui bahwa kau tidak baik,"

"Fakta bahwa kau berada di sini hanya untuk membantuku tidak akan di lakukan oleh orang yang kau sebut TIDAK BAIK tadi. Jadi, jangan katakan hal itu lagi padaku,"

"Aku berterima kasih padamu sudah menolongku dua kali," ucap Cyrene tulus lalu menoleh dengan senyum hangat di wajahnya.

Bernardo tertegun dan menatap Cyrene lagi. Sebuah senyum tipis tumbuh di bibirnya.

"Apa?" Cyrene manaikan alisnya.

"Apakah aku mengatakan hal yang salah?" tanya Cyrene.

"Tidak," Bernardo menggeleng.

"Ini pertama kalinya kau berbicara panjang padaku tanpa tersendat dan rasa takut," jawab Bernardo.

"Apakah itu olokan yang kau samarkan sebagai sanjungan atau bagaimana?" tanya Cyrene menyipitkan mata.

"Baiklah, aku tertangkap," jawab Bernardo tertawa ringan.

"Tapi, aku senang mendengarnya," lanjutnya.

"Sejujurnya, bukan karena aku merasa terbebani atau apa pun kamu menyebutnya. Tapi, aku hanya perlu waktu untuk memilah dari mana aku harus memulai mengatakannya padamu," jelas Bernardo lalu menyeruput kopinya.

"Hemm,,, kopi ini lebih enak dari yang ada di cafe, apa yang membuatnya berbeda?" pertanyaan yang terdengar seperti gumaman bagi Cyrene namun memilih untuk tetap menjawabnya.

"Karena aku menambahkan satu bahan dari yang seharusnya. Gavin hanya mengikuti resep yang ku berikan sesuai dengan menu yang ada di cafe," jawab Cyrene.

"Dan yaah dia baru saja belajar dan aku mengakui kemampuannya," tambahnya.

"Sungguh mengesankan. Kau barista yang berbakat," puji Bernardo tulus.

"Itu berlebihan, siapapun bisa meracik kopi jika belajar," sambut Cyrene.

"Tapi tangan yang berbakat lebih menentukan rasa yang di hasilkan, karena mereka tidak hanya menggunakan tangan. Tapi, indra penciuman mereka juga bekerja dengan lebih baik," jawab Bernardo.

"Dalam hal penciuman memang benar, tapi kalau bakat aku tidak yakin," jawab Cyrene mengelak.

"Rendah hati," gumam Bernardo lirih.

"Heemm,,,? Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Cyrene.

Bernardo menggeleng tanpa suara. Setelah menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, Bernardo melanjutkan.

"Mereka dan aku berada dalam organisasi yang sama, di bawah kendali orang yang sama. Katakan saja, aku adalah bagian dari mereka," ungkap Bernardo.

Cyrene tertegun, mencoba mencerna pernyataan Bernardo, memastikan apakah telinganya masih berfungsi dengan baik. Namun, ketika matanya bertemu dengan mata Bernardo, dia tau yang dikatakan Bernardo adalah kebenaran. Tapi, ada kesedihan di sana.

"Alasan apa yang membuatmu melakukan itu? Kamu melakukan hal yang bertentangan dengan hatimu, bukankah begitu?" tanya Cyrene.

"Ini pertama kalinya aku mendengar seseorang mengatakan hal selembut itu padaku," sambut Bernardo tersenyum kecut.

"Mungkin karena kamu tidak mengijinkan seseorang untuk mengatakannya padamu," jawab Cyrene.

"Aku tak pernah dekat dengan seseorang sebelumnya, sepanjang hidupku hingga saat ini, aku hanya melakukan pekerjaan untuknya," ungkap Bernardo menengadah menatap langit-langit kamar.

"Kedua orang tuaku terlilit hutang dalam jumlah besar, mereka tidak mampu untuk membayar hutang itu dan memilih bunuh diri. Meninggalkanku begitu saja yang saat itu berusia 9 tahun, dan aku tidak bisa melawan mereka selain mencoba untuk melunasi semua hutang itu,"

"Satu-satunya yang bisa ku berikan sebagai jaminan adalah tubuhku sendiri," Bernardo berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya dan tersenyum getir.

Cyrene menutup mulutnya tanpa sadar air mata telah mengalir membasahi pipinya.

"Ahh,,, maafkan aku, apakah aku tanpa sadar mengatakan sesuatu yang menyakitimu?" tanya Bernardo terkejut saat menoleh dan melihat Cyrene menitikkan air mata.

"Tidak,,,Tidak,,, aku konyol sekali tanpa sadar menangis di depanmu," ucap Cyrene menghapus air matanya.

"Aku hanya tak bisa membayangkan semua hal yang menimpamu," ungkap Cyrene.

Bernardo menahan tangan Cyrene, lalu menghapus sisa air mata dengan ibu jarinya.

"Tidurlah, kamu terlihat lelah" ucap Bernardo.

"Tapi,,,"

"Aku akan tetap di sini menjagamu dan memastikan mereka tidak menyentuhmu," potong Bernardo.

"Dan mengatakan semua yang ingin kau tau, tapi tidak malam ini," sambungnya.

Tak ingin berdebat, Cyrene mengangguk dan berbaring di tempat tidurnya. Sementara Bernardo berdiri dan berjaga di dekat pintu menuju balkon mengawasi keadaan di luar.

'Siapa yang akan menyangka, di balik sosok kuatnya, dia juga memiliki kerapuhan. Dia membangun benteng untuk dirinya sendiri dan tidak membiarkan siapa pun masuk kedalamnya. Dia terlihat kesepian,' batin Cyrene.

'Meski begitu, aku masih tidak mengerti kenapa mereka mencariku? Dari apa yang mereka bicarakan, jelas mereka tidak memiliki niat baik. Kesalahan apa yang aku lakukan pada mereka?'

Cyrene bertanya-tanya dalam hatinya apa yang sebenarnya di rasakan oleh seorang Bernardo? Dan mengapa dia bisa begitu mudahnya menceritakan ini pada orang yang baru saja dia kenal seperti dirinya? Serta, mengapa dirinya di cari orang-orang yang tidak di undang itu? hingga tanpa sadar Cyrene tengelam dalam tidurnya.

...%%%%%%%...

. . . . .

. . . . .

To be continued,,,,

Terpopuler

Comments

Vincar

Vincar

Sudah mengenal pedihnya perjuangan sejak kecil 🥹

ketinggalkan 🌹+ iklan

2024-06-11

1

Birru

Birru

mungkin dia lebih nyaman denganmu...

2024-06-01

1

Birru

Birru

kerenn aku juga lagi belajar tentng barista

2024-06-01

1

lihat semua
Episodes
1 1. Camp
2 2.Peduli
3 3.Pertemuan
4 4.Rasa Takut
5 5. Datang ke Cafe
6 6. Bahaya!
7 7. Di Ganggu.
8 8. Tiba-tiba
9 9. Pindah,,,?!?
10 10. Masa kini
11 11. Hadiah
12 12. Kejadian
13 13. Melihatnya
14 14. Sikap abai
15 15. Misi Ringan
16 16. Sepakat (Masa lalu 1)
17 17. Rasa Khawatir (Masa lalu 2)
18 18. Keributan pagi hari (Masa lalu 3)
19 19. Pertama kali berkumpul (Masa lalu 4)
20 20. Mengenal lebih dekat (Masa lalu 5)
21 21. Kemunculan Das (Masa lalu 6)
22 22. Khawatir (Masa lalu 7)
23 23. Cemburu (Masa lalu 8)
24 24.Perasaan yang berubah (Masa lalu 9)
25 25. Menjebak (Masa lalu 10)
26 26. Hampir (Masa lalu 11)
27 27. Aku Mencintaimu (Masa lalu 12)
28 28. Tidak Mengingat (Masa lalu 13)
29 29. Terjalin (Masa lalu 14)
30 30. Kencan sesungguhnya. (Masa lalu 15)
31 31. Rencana (Masa lalu 16)
32 32. Cincin (Masa lalu 17)
33 33. Lamaran (Masa lalu 18)
34 34. (Masa lalu 19)
35 35. (Masa lalu 20)
36 36 (Masa lalu 21)
37 37. ( Masa lalu 22)
38 38. (Masa lalu 23)
39 39. (Masa lalu 24)
40 40. (Masa lalu 25)
41 41. (Masa lalu 26)
42 42. (Masa lalu 27)
43 43. (Masa Lalu 28)
44 44. (Masa Lalu 29)
45 45. (Masa Lalu 30 )
46 46. ( Masa Lalu 31 )
47 47. ( Masa Lalu 32 )
48 48. ( Masa Lalu 33 )
49 49. ( Masa Lalu 34 )
50 50. ( Masa Lalu 35 )
51 51. ( Masa Lalu 36 )
52 52. ( Masa Lalu 37 )
53 53. ( Masa Lalu 38 )
54 54. ( Masa Lalu 39 )
55 55. ( Masa Lalu 40 )
56 56. ( Masa Lalu 41)
57 57. ( Masa Lalu 42 )
58 58. ( Masa Lalu 43 )
59 59. ( Masa Lalu 44 )
60 60. ( Masa Lalu 45 )
61 61. ( Masa Lalu 46 )
62 62. ( Masa Lalu 47 )
63 63. ( Masa Lalu 48 )
64 64. ( Masa Lalu 49 end )
65 65. Masa Kini1 SB
66 66. Masa Kini2 SB
67 67. Masa Kini3 SB
68 68. Masa Kini4 SB
69 69. Masa Kini5 SB
70 70. Masa Kini6 SB
71 71. Masa Kini7 SB
72 72. Masa Kini8 SB
73 73. Masa Kini9 SB
74 74. Masa Kini10 SB
75 75. Masa Kini11 SB
76 76. Masa Kini12 SB
77 77. Masa Kini13 SB
78 78. Masa Kini14 SB
79 79. Masa Kini15 SB
80 80. Masa Kini16 SB
81 81. Masa Kini17 SB
82 82. Masa Kini18 SB
83 83. Masa Kini19 SB
84 84. Masa Kini20 SB
85 85. Masa Kini21 SB
86 86. Masa Kini22 SB
87 87. Masa Kini23 SB
88 88. Masa Kini24 SB
89 89. Masa Kini25 SB
90 90. Masa Kini26 SB
91 91. Masa Kini27 SB
92 92. Masa Kini28 SB
93 93. Masa Kini29 SB
94 94. Masa Kini30 SB
95 95. Masa Kini31 SB
96 96. Masa Kini32 SB
97 97. Masa Kini33 SB
98 98. Masa Kini34 SB.
99 99. Masa Kini35 SB
100 100. Masa Kini36 SB
101 101. Masa Kini37 SB.
102 102. Masa Kini38 SB
103 103. Masa Kini39 SB
104 104. Masa Kini40 SB
105 105. Masa Kini41 SB
106 106. Masa Kini42 SB
107 107. Masa Kini43 SB
108 108. Masa Kini44 SB
109 109. Masa Kini45 SB
110 110. Masa Kini46 SB
111 111. Masa Kini47 SB
112 112. Masa Kini48 SB
113 113. Masa Kini49 SB
114 114. Masa Kini50 SB
115 115. Masa Kini51 SB
116 116. Masa Kini52 SB
117 117. Masa Kini53 SB
118 118. Masa Kini54 SB
119 119. Masa Kini55 SB
120 120. Masa Kini56 SB
121 121. Masa Kini57 SB
122 122. Masa Kini58 SB
123 123. Masa Kini59 SB
124 124. Masa Kini60 SB
125 125 Masa Kini61 SB.
126 126. Masa Kini62 SB
127 127. Masa Kini63 SB
128 128. Masa Kini64 SB
129 129. Masa Kini65 SB
130 130. Masa Kini66 SB
131 131. Masa Kini67 SB
132 132. Masa Kini68 SB
133 133. Masa Kini69 SB
134 134. Masa Kini70 SB
135 135. Masa Kini71 SB
136 136. Masa Kini72 SB
137 137. Masa Kini73 SB
138 138. Masa Kini74 SB
139 139. Masa Kini75 SB
140 140. Masa Kini76 SB
141 141. Masa Kini78 SB
142 Karya baru
Episodes

Updated 142 Episodes

1
1. Camp
2
2.Peduli
3
3.Pertemuan
4
4.Rasa Takut
5
5. Datang ke Cafe
6
6. Bahaya!
7
7. Di Ganggu.
8
8. Tiba-tiba
9
9. Pindah,,,?!?
10
10. Masa kini
11
11. Hadiah
12
12. Kejadian
13
13. Melihatnya
14
14. Sikap abai
15
15. Misi Ringan
16
16. Sepakat (Masa lalu 1)
17
17. Rasa Khawatir (Masa lalu 2)
18
18. Keributan pagi hari (Masa lalu 3)
19
19. Pertama kali berkumpul (Masa lalu 4)
20
20. Mengenal lebih dekat (Masa lalu 5)
21
21. Kemunculan Das (Masa lalu 6)
22
22. Khawatir (Masa lalu 7)
23
23. Cemburu (Masa lalu 8)
24
24.Perasaan yang berubah (Masa lalu 9)
25
25. Menjebak (Masa lalu 10)
26
26. Hampir (Masa lalu 11)
27
27. Aku Mencintaimu (Masa lalu 12)
28
28. Tidak Mengingat (Masa lalu 13)
29
29. Terjalin (Masa lalu 14)
30
30. Kencan sesungguhnya. (Masa lalu 15)
31
31. Rencana (Masa lalu 16)
32
32. Cincin (Masa lalu 17)
33
33. Lamaran (Masa lalu 18)
34
34. (Masa lalu 19)
35
35. (Masa lalu 20)
36
36 (Masa lalu 21)
37
37. ( Masa lalu 22)
38
38. (Masa lalu 23)
39
39. (Masa lalu 24)
40
40. (Masa lalu 25)
41
41. (Masa lalu 26)
42
42. (Masa lalu 27)
43
43. (Masa Lalu 28)
44
44. (Masa Lalu 29)
45
45. (Masa Lalu 30 )
46
46. ( Masa Lalu 31 )
47
47. ( Masa Lalu 32 )
48
48. ( Masa Lalu 33 )
49
49. ( Masa Lalu 34 )
50
50. ( Masa Lalu 35 )
51
51. ( Masa Lalu 36 )
52
52. ( Masa Lalu 37 )
53
53. ( Masa Lalu 38 )
54
54. ( Masa Lalu 39 )
55
55. ( Masa Lalu 40 )
56
56. ( Masa Lalu 41)
57
57. ( Masa Lalu 42 )
58
58. ( Masa Lalu 43 )
59
59. ( Masa Lalu 44 )
60
60. ( Masa Lalu 45 )
61
61. ( Masa Lalu 46 )
62
62. ( Masa Lalu 47 )
63
63. ( Masa Lalu 48 )
64
64. ( Masa Lalu 49 end )
65
65. Masa Kini1 SB
66
66. Masa Kini2 SB
67
67. Masa Kini3 SB
68
68. Masa Kini4 SB
69
69. Masa Kini5 SB
70
70. Masa Kini6 SB
71
71. Masa Kini7 SB
72
72. Masa Kini8 SB
73
73. Masa Kini9 SB
74
74. Masa Kini10 SB
75
75. Masa Kini11 SB
76
76. Masa Kini12 SB
77
77. Masa Kini13 SB
78
78. Masa Kini14 SB
79
79. Masa Kini15 SB
80
80. Masa Kini16 SB
81
81. Masa Kini17 SB
82
82. Masa Kini18 SB
83
83. Masa Kini19 SB
84
84. Masa Kini20 SB
85
85. Masa Kini21 SB
86
86. Masa Kini22 SB
87
87. Masa Kini23 SB
88
88. Masa Kini24 SB
89
89. Masa Kini25 SB
90
90. Masa Kini26 SB
91
91. Masa Kini27 SB
92
92. Masa Kini28 SB
93
93. Masa Kini29 SB
94
94. Masa Kini30 SB
95
95. Masa Kini31 SB
96
96. Masa Kini32 SB
97
97. Masa Kini33 SB
98
98. Masa Kini34 SB.
99
99. Masa Kini35 SB
100
100. Masa Kini36 SB
101
101. Masa Kini37 SB.
102
102. Masa Kini38 SB
103
103. Masa Kini39 SB
104
104. Masa Kini40 SB
105
105. Masa Kini41 SB
106
106. Masa Kini42 SB
107
107. Masa Kini43 SB
108
108. Masa Kini44 SB
109
109. Masa Kini45 SB
110
110. Masa Kini46 SB
111
111. Masa Kini47 SB
112
112. Masa Kini48 SB
113
113. Masa Kini49 SB
114
114. Masa Kini50 SB
115
115. Masa Kini51 SB
116
116. Masa Kini52 SB
117
117. Masa Kini53 SB
118
118. Masa Kini54 SB
119
119. Masa Kini55 SB
120
120. Masa Kini56 SB
121
121. Masa Kini57 SB
122
122. Masa Kini58 SB
123
123. Masa Kini59 SB
124
124. Masa Kini60 SB
125
125 Masa Kini61 SB.
126
126. Masa Kini62 SB
127
127. Masa Kini63 SB
128
128. Masa Kini64 SB
129
129. Masa Kini65 SB
130
130. Masa Kini66 SB
131
131. Masa Kini67 SB
132
132. Masa Kini68 SB
133
133. Masa Kini69 SB
134
134. Masa Kini70 SB
135
135. Masa Kini71 SB
136
136. Masa Kini72 SB
137
137. Masa Kini73 SB
138
138. Masa Kini74 SB
139
139. Masa Kini75 SB
140
140. Masa Kini76 SB
141
141. Masa Kini78 SB
142
Karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!