Tepat saat Cyrene menutup pintu kamar mandi, siluet seseorang muncul di tirai yang menutupi jendela menuju balkon kamarnya.
Beberapa menit kemudian, Cyrene keluar dari kamar mandi mengenakan atasan tanpa lengan dan celana pendek dengan handuk yang menutupi kepala. Bulir air masih terlihat menetes dari rambut basahnya.
Ia duduk menghadap meja rias miliknya, dan mulai mengeringkan rambutnya. Bayangan seseorang kembali terlihat di jendela kamarnya. Namun, saat Cyrene menoleh, bayangan itu menghilang begitu saja.
'Hanya perasaanku saja, sepertinya aku kelelahan hari ini,' batin Cyrene menaikan bahunya.
Mengabaikan hal itu, Cyrene meletakkan pengering rambut setelah dirasakan rambutnya benar-benar kering lalu meraih laptop miliknya dan membawanya ke tempat tidur.
Dengan duduk bersila di atas tempat tidur, Cyrene membuka laptopnya dan mulai mendata penjualan di cafe hari ini.
'KLOTAK,,,,'
Sebuah suara berasal dari balkon menarik perhatian Cyrene.
'Apakah aku salah mendengar atau aku memang mendengar suara diluar? Tapi tidak mungkin kan? Ini lantai 8!' pikirnya.
Menggelengkan kepalanya, ia memilih kembali melanjutkan pekerjaannya. Mencatat bahan apa saja yang sudah waktunya untuk mengisi ulang stok persediaan cafe.
TOK,,,
TOK,,,
TOK,,,
Lagi, kali ini sebuah ketukan kaca terdengar dari balkon kamarnya dengan suara lebih jelas dari sebelumnya.
'Mustahil! Bagaimana mungkin ada orang di sana?Atau mungkinkah ada kucing atau anjing yang terjebak di luar?' batin Cyrene mencoba tetap berpikir positif.
Dengan langkah pelan, Cyrene mulai mendekati balkon dan menyingkap tirai putih yang menutup pintu sekaligus menjadi jendela menuju balkon. Kedua matanya menelisik setiap sudut balkon ketika tiba-tiba sosok pria bertubuh besar muncul dari balik tirai dan berdiri tepat di depannya.
"AAHHH,,,!" pekik Cyrene melangkah mundur hingga jatuh terduduk karena terkejut.
Tubuhnya gemetar ketakutan memikirkan hal buruk yang bisa saja terjadi. Pria itu kembali mengetuk pelan pintu kaca seolah meminta Cyrene untuk segera membukakan pintu untuknya.
"Ren, ini aku, tolong buka pintunya!" ucapnya.
Perlu waktu beberapa saat bagi Cyrene untuk menyadari yang berada di balkon adalah Bernardo. Masih sedikit gemetar karena terkejut, ia segera bangun dan mendekati pintu.
"Apa kamu sudah gila? Kamu menakutiku!" hardik Cyrene marah setelah membuka pintu.
"Dan bagaimana caranya kamu bisa di sini? Bagaimana caranya kamu naik?" cecarnya.
"Sshhh,,," Bernardo menutup mulut Cyrene dan mendorongnya agar masuk.
Dengan gerakan cepat Bernardo mengeser kembali pintu yang terbuka serta menutup tirai dan mengunci pintu. Bernardo bahkan mematikan lampu kamar.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Cyrene tak mengerti.
"Aku akan menjelaskan semuanya, tapi tolong pelankan suaramu!" ucap Bernardo pelan namun terdengar serius.
"Dimana ponselmu?" tanya Bernardo.
"Disana," jawab Cyrene menunjuk ponsel di atas meja terhubung dengan kabel.
"Kenapa?" tanya Cyrene heran melihat wajah tegang Bernardo.
Tanpa menjawab, Bernardo bergegas mengambil ponsel Cyrene dan mengeceknya.Tangannya mengacak-acak kasar rambutnya. Wajahnya berubah menjadi lebih tegang dari sebelumnya.
"Sial,,, mereka mendapatkannya!" Bernardo menggeram kesal.
"Apa maksudnya itu? Dan bagaimana kamu bisa membuka ponselku yang masih terkunci?" tanya Cyrene curiga.
Cyrene perlahan melangkah mundur menatap Bernardo dengan tatapan ngeri. Kini ia merasakan rasa takut merayap di hatinya.
'Ini terlalu mencurigakan di pikirkan dari sudut manapun. Bagaimana caranya dia mencapai balkon kamarku? Dan membuka ponselku tanpa sandi?Konyol! Aku harus keluar dari sini!' bisik hatinya.
Bernardo menoleh menatap Cyrene dan tersenyum sedih.
"Jangan beri aku tatapan seperti itu, Ren! Aku bersumpah tidak memiliki niat sedikit pun untuk menyakitimu," ucap Bernardo pelan.
"Dan kamu ingin aku percaya? Lucu sekali," sambut Cyrene mendengus kesal.
Bernardo mendesah pelan sembari meletakkan ponsel Cyrene di tempat tidurnya. Perlahan melangkah medekati Cyrene yang kembali melangkah mundur saat Bernardo mendekat.
"Apakah sekarang kau takut padaku, Ren?" tanya Bernardo tersenyum tipis.
Cyrene menelan ludah dan terus melangkah mundur. Matanya terus mengawasi Bernardo. Tiba-tiba Bernardo maju dengan gerakan cepat meraih tangan Cyrene dan menariknya dengan satu sentakan ringan.
Cyrene terkesiap dengan gerakan tiba-tiba Bernardo yang menyebabkan dirinya kehilangan keseimbangan dan menabrak Bernardo.
Berbalik secepat yang dia bisa, Cyrene mencoba memberontak. Namun, Bernardo melingkarkan tangannya di pinggang Cyrene dari belakang dan satu tangan lain di mulutnya lalu merapat ke dinding dengan sebuah lemari pakaian di sampingnya.
"Sshh,,, Sebentar saja, tolong diam!" bisik Bernardo serius.
Matanya menatap tajam ke arah balkon. Cyrene mendongak dan melihat dengan jelas kekhawatiran di wajahnya yang terus mengawasi balkon.
Tak lama berselang, terlihat bayangan orang di balik tirai yang terlihat seperti merayap dan melompat dengan mudah untuk mencapai balkon. Lampu kamar yang dimatikan Bernardo sangat membantu untuk mengatahui ada berapa orang di luar sana karena sinar bulan malam itu membentuk siluet pria berperawakan besar.
'Lima? atau enam? Siapa mereka? Bagaimana mereka bisa di sana? Memanjat tidaklah masuk akal. Jika tangga, mana ada tangga yang cukup tinggi untuk mencapai lantai ini?' pikir Cyrene.
"Kau yakin dia tinggal di sini?" tanya salah satu dari mereka.
Suara berat seorang pria bertubuh paling tinggi bertanya pada temannya terdengar di telinga Cyrene. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk menangkap apa yang dibicarakan mereka dangan bantuan keheningan di sekitar Cyrene.
"Aku yakin. Aku sudah menyadap ponselnya, semua informasi menggarahkan dia tinggal di sini. Lalu GPS nya juga menunjukkan ini tempat terakhir yang dia tuju. Tapi sekarang GPS nya mati," jawab pria lainnya.
'Di sadap? Sejak kapan?' Cyrene melebarkan matanya. 'Jadi, yang di lakukan Bernardo tadi mematikan GPS ponselku untuk menghindari mereka?' tanyanya dalam hati.
Membayangkan mereka datang lebih dulu sebelum Bernardo membuat Cyrene menelan ludah. Merasa semua akan lebih mengerikan jika Bernardo tidak datang tepat waktu.
Bernardo menarik tubuh Cyrene lebih dekat ke arahnya saat melihat orang yang berada di balkon mencoba mencari celah untuk melihat isi kamar. Detak jantung Cyrene berpacu dan keringat mulai membasahi keningnya.
"Tidak ada siapa pun di sini!" pria di luar menggeram kesal.
"Lampu kamarnya bahkan tidak menyala, itu berarti dia tidak di sini," sambungnya.
"Apa kita tunggu di sini hingga dia kembali?" tanya yang lain.
"Kita tak punya banyak waktu untuk itu," jawabnya kesal.
"Kita pergi dulu untuk saat ini. Kurasa kita masih aman karena dia belum membuat laporan apa pun pada polisi," lanjutnya.
Seolah itu adalah perintah pemimpin mereka, dengan patuh mereka menurut pergi.
Bernardo menurunkan tangan yang menutup mulut Cyrene tanpa melepaskan tangan yang ada di pinggangnya.
"Siapa mereka?" tanya Cyrene berbisik.
"Mungkin kamu akan lebih cepat mengerti jika menyebutnya mafia," jawab Bernardo.
"Apa,,,?!?" Cyrene terkejut.
Mendongakkan kepalanya menatap Bernardo meminta penjelasan.
"Kurasa mereka sudah benar-benar pergi dari sini. Tapi, untuk berjaga-jaga, jangan hidupkan lampu untuk sementara," ucap Bernardo.
"Setidaknya itu tidak akan menarik perhatian mereka untuk kembali," lanjutnya.
Bernardo menunduk dan menyadari Cyrene tengah mendongak menatapnya. Keheningan terjadi saat tatapan mata mereka bertemu. Hingga akhirnya Bernardo tersadar tangannya masih melingkar di pinggang Cyrene.
"Aahh,,,Maaf,!" ucap Bernardo gugup segera menarik tangannya.
"Hei,,,Jawab aku!"
"Katakan padaku kenapa mereka mencariku? Apa yang sudah aku lakukan? Aku merasa tidak pernah bertemu mereka, aku juga tidak mengenali suara mereka," tanya Cyrene menahan tangan Bernardo.
"Bukan kamu, tapi aku, Ren," jawab Bernardo pelan.
"Ini kesalahanku. Seharusnya aku lebih menahan diri untuk tidak menemuimu. Maafkan aku,"
"Tapi, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu," janji Bernardo.
"Tunggu,,,Tunggu,,,Apa maksud perkataanmu? Aku tidak ingin berasumsi sendiri hanya mendengar sepenggal kalimatmu yang tak kau selesaikan,"
"Jadi, tolong jelaskan padaku apa artinya itu?" desak Cyrene.
Bernardo menatap dalam Cyrene. Sebagian hatinya merasa bersalah telah menariknya ke dalam hidupnya. Tapi, sebagian hatinya lagi merasa sangat senang akhirnya bisa mendekatinya setelah sekian lama hanya bisa melihatnya dari jauh.
"Aku bukan orang baik-baik, Ren," ucap Bernardo menghembuskan nafas kasar.
Cyrene menunggu tanpa mendesak lagi. Melihat wajah Bernardo seperti menahan beban berat, Cyrene manarik tangan Bernardo dan memintanya untuk duduk dikarpet bulu yang ada di sisi tempat tidur miliknya.
"Tunggu di sini sebentar!" ucap Cyrene lalu keluar kamar meninggalkan Bernardo.
Tak lama kemudian, Cyrene kembali dengan dua cangkir kopi dan menyodorkan satu cangkir untuk Bernardo yang segera menerimanya.
Hening__,,,,
Cyrene duduk di samping Bernardo bersandar pada tempat tidurnya lalu mendesah pelan sebelum berkata tanpa melihat Bernardo.
"Kau tak perlu mengatakannya jika itu akan membuatmu terbebani," ucap Cyrene memecah keheningan.
"Aku minta maaf telah mendesakmu.Tapi, aku tidak akan mengakui bahwa kau tidak baik,"
"Fakta bahwa kau berada di sini hanya untuk membantuku tidak akan di lakukan oleh orang yang kau sebut TIDAK BAIK tadi. Jadi, jangan katakan hal itu lagi padaku,"
"Aku berterima kasih padamu sudah menolongku dua kali," ucap Cyrene tulus lalu menoleh dengan senyum hangat di wajahnya.
Bernardo tertegun dan menatap Cyrene lagi. Sebuah senyum tipis tumbuh di bibirnya.
"Apa?" Cyrene manaikan alisnya.
"Apakah aku mengatakan hal yang salah?" tanya Cyrene.
"Tidak," Bernardo menggeleng.
"Ini pertama kalinya kau berbicara panjang padaku tanpa tersendat dan rasa takut," jawab Bernardo.
"Apakah itu olokan yang kau samarkan sebagai sanjungan atau bagaimana?" tanya Cyrene menyipitkan mata.
"Baiklah, aku tertangkap," jawab Bernardo tertawa ringan.
"Tapi, aku senang mendengarnya," lanjutnya.
"Sejujurnya, bukan karena aku merasa terbebani atau apa pun kamu menyebutnya. Tapi, aku hanya perlu waktu untuk memilah dari mana aku harus memulai mengatakannya padamu," jelas Bernardo lalu menyeruput kopinya.
"Hemm,,, kopi ini lebih enak dari yang ada di cafe, apa yang membuatnya berbeda?" pertanyaan yang terdengar seperti gumaman bagi Cyrene namun memilih untuk tetap menjawabnya.
"Karena aku menambahkan satu bahan dari yang seharusnya. Gavin hanya mengikuti resep yang ku berikan sesuai dengan menu yang ada di cafe," jawab Cyrene.
"Dan yaah dia baru saja belajar dan aku mengakui kemampuannya," tambahnya.
"Sungguh mengesankan. Kau barista yang berbakat," puji Bernardo tulus.
"Itu berlebihan, siapapun bisa meracik kopi jika belajar," sambut Cyrene.
"Tapi tangan yang berbakat lebih menentukan rasa yang di hasilkan, karena mereka tidak hanya menggunakan tangan. Tapi, indra penciuman mereka juga bekerja dengan lebih baik," jawab Bernardo.
"Dalam hal penciuman memang benar, tapi kalau bakat aku tidak yakin," jawab Cyrene mengelak.
"Rendah hati," gumam Bernardo lirih.
"Heemm,,,? Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Cyrene.
Bernardo menggeleng tanpa suara. Setelah menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, Bernardo melanjutkan.
"Mereka dan aku berada dalam organisasi yang sama, di bawah kendali orang yang sama. Katakan saja, aku adalah bagian dari mereka," ungkap Bernardo.
Cyrene tertegun, mencoba mencerna pernyataan Bernardo, memastikan apakah telinganya masih berfungsi dengan baik. Namun, ketika matanya bertemu dengan mata Bernardo, dia tau yang dikatakan Bernardo adalah kebenaran. Tapi, ada kesedihan di sana.
"Alasan apa yang membuatmu melakukan itu? Kamu melakukan hal yang bertentangan dengan hatimu, bukankah begitu?" tanya Cyrene.
"Ini pertama kalinya aku mendengar seseorang mengatakan hal selembut itu padaku," sambut Bernardo tersenyum kecut.
"Mungkin karena kamu tidak mengijinkan seseorang untuk mengatakannya padamu," jawab Cyrene.
"Aku tak pernah dekat dengan seseorang sebelumnya, sepanjang hidupku hingga saat ini, aku hanya melakukan pekerjaan untuknya," ungkap Bernardo menengadah menatap langit-langit kamar.
"Kedua orang tuaku terlilit hutang dalam jumlah besar, mereka tidak mampu untuk membayar hutang itu dan memilih bunuh diri. Meninggalkanku begitu saja yang saat itu berusia 9 tahun, dan aku tidak bisa melawan mereka selain mencoba untuk melunasi semua hutang itu,"
"Satu-satunya yang bisa ku berikan sebagai jaminan adalah tubuhku sendiri," Bernardo berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya dan tersenyum getir.
Cyrene menutup mulutnya tanpa sadar air mata telah mengalir membasahi pipinya.
"Ahh,,, maafkan aku, apakah aku tanpa sadar mengatakan sesuatu yang menyakitimu?" tanya Bernardo terkejut saat menoleh dan melihat Cyrene menitikkan air mata.
"Tidak,,,Tidak,,, aku konyol sekali tanpa sadar menangis di depanmu," ucap Cyrene menghapus air matanya.
"Aku hanya tak bisa membayangkan semua hal yang menimpamu," ungkap Cyrene.
Bernardo menahan tangan Cyrene, lalu menghapus sisa air mata dengan ibu jarinya.
"Tidurlah, kamu terlihat lelah" ucap Bernardo.
"Tapi,,,"
"Aku akan tetap di sini menjagamu dan memastikan mereka tidak menyentuhmu," potong Bernardo.
"Dan mengatakan semua yang ingin kau tau, tapi tidak malam ini," sambungnya.
Tak ingin berdebat, Cyrene mengangguk dan berbaring di tempat tidurnya. Sementara Bernardo berdiri dan berjaga di dekat pintu menuju balkon mengawasi keadaan di luar.
'Siapa yang akan menyangka, di balik sosok kuatnya, dia juga memiliki kerapuhan. Dia membangun benteng untuk dirinya sendiri dan tidak membiarkan siapa pun masuk kedalamnya. Dia terlihat kesepian,' batin Cyrene.
'Meski begitu, aku masih tidak mengerti kenapa mereka mencariku? Dari apa yang mereka bicarakan, jelas mereka tidak memiliki niat baik. Kesalahan apa yang aku lakukan pada mereka?'
Cyrene bertanya-tanya dalam hatinya apa yang sebenarnya di rasakan oleh seorang Bernardo? Dan mengapa dia bisa begitu mudahnya menceritakan ini pada orang yang baru saja dia kenal seperti dirinya? Serta, mengapa dirinya di cari orang-orang yang tidak di undang itu? hingga tanpa sadar Cyrene tengelam dalam tidurnya.
...%%%%%%%...
. . . . .
. . . . .
To be continued,,,,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Vincar
Sudah mengenal pedihnya perjuangan sejak kecil 🥹
ketinggalkan 🌹+ iklan
2024-06-11
1
Birru
mungkin dia lebih nyaman denganmu...
2024-06-01
1
Birru
kerenn aku juga lagi belajar tentng barista
2024-06-01
1