4.Rasa Takut

'Apa yang harus ku lakukan?' ratap hatinya.

Wajah Cyrene mulai memucat merasakan benda dingin yang menempel dilehernya. Tiga pria itu mulai menggiring Cyrene agar mengikuti mereka menuju mobil yang terparkir beberapa meter dari tempatnya berdiri. Usahanya untuk melepaskan diri pun justru membuat pria di belakangnya menekan pisau itu, menumbuhkan rasa takut di hatinya hingga ia tidak lagi merasakan darah yang telah mengalir dari lehernya.

Sebelum mereka berhasil membawa Cyrene lebih jauh, suara raungan mobil terdengar memekakan telinga seolah hal itu sengaja dilakukan oleh seseorang. Serentak mereka mengarahkan pandangan mereka ke sumber suara hanya untuk menyadari sebuah mobil Jeep Gladiator hitam melaju kearah mereka.

Ketika mobil itu semakin dekat, mobil itu berbelok dengan tajam hingga terdengar suara decitan ban yang beradu dengan aspal membuat mereka menutupi telinga mereka.

Pintu mobil terbuka dan sosok yang Cyrene kenal muncul dibaliknya. Menatap pria yang mencengkram tangan Cyrene dengan kilatan amarah dimatanya.

"Aku hanya meninggalkannya sebentar untuk mengambil mobilku, dan kalian menganggunya?" geramnya.

"Lepaskan dia selama aku masih mengatakannya dengan baik-baik!" perintah Bernardo.

"Kami tidak punya alasan untuk menurutimu. Kau pikir siapa dirimu?" ejek salah satu dari mereka.

Dengan kesal, Bernardo menendang batu yang tidak sengaja dia injak dan dengan tepat mengenai tangan yang menodongkan pisau pada Cyrene.

"Aarrghh,,," erangnya segera menarik tangannya, satu tangannya yang bebas reflek menutupi memar akibat batu yang ditendang Bernardo.

Menyadari kesempatan itu, Cyrene menghentakkan kakinya tepat diatas kaki pria yang mencengkram tangannya.

"Arrghh,,," erangnya mengangkat kakinya.

Cyrene memanfaatkan keterkejutan mereka dengan gerakan secepat yang ia bisa, lalu mendorong pria itu dan bergegas berlari kearah Bernardo.

"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Bernardo cemas.

"Aku,,, tidak,,, apa-apa," jawab Cyrene sedikit terengah sembari mengatur nafasnya dari rasa panik dan takut yang dirasakan.

"Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sen_,,," kalimat Bernardo terhenti ketika melihat darah yang mengalir dileher Cyrene.

Dengan lembut Bernardo menaikkan dagu Cyrene dan melihat luka goresan yang masih mengeluarkan darah disana.

"Mereka yang melakukan ini?" tanya Bernardo geram.

"Aku tidak apa-apa, kita tinggalkan saja tempat ini," pinta Cyrene mengingat tiga pria itu memiliki senjata tajam.

"Baik-baik saja? Apa kau bercanda?" sahut Bernardo kesal menatap tajam pada mereka.

"Hey,,, serahkan wanita itu kepada kami!" ujar salah satu dari mereka setelah berhasil mengatasi rasa sakit yang baru saja mereka dapatkan.

"Serahkan?" ulang Bernando dengan senyum mengejek.

"Kalian bahkan tidak memiliki hak untuk memberi perintah padaku," jawab Bernando melangkah mendekat.

"Jangan,,,!" cegah Cyrene menahan lengan pakaian Bernando.

"Mereka memiliki senjata tajam, mereka bisa melukaimu," imbuhnya khawatir.

Bernando menepis lembut tangan Cyrene tanpa suara, melangkah mendekati mereka yang mulai maju untuk menyerang Bernando bersama-sama.

Hal mengejutkan terjadi ketika Bernando menghajar tiga pria itu dengan sangat mudah. Mereka bahkan sampai terdesak dan mengunakan pisaunya untuk menyerang Bernardo. Namun, hal itu ditangkis dengan begitu mudah oleh Bernardo.

"Cukup,,, Hentikan!" teriak Cyrene mulai panik.

Pada saat yang sama, Bernardo mulai kehilangan kendali dan terus memukuli mereka, suara Cyrene seolah tidak sampai di telinganya. Amarah terpancar sangat jelas diwajah garangnya.

Cyrene melebarkan matanya ketika Bernardo bahkan akan melanjutkan pukulannya ketika pria itu tersungkur dan tak bisa bergerak lagi.

Tanpa berpikir panjang, Cyrene segera berlari menghampiri Bernardo dan menghentikan tangannya.

"Cukup,,, Hentikan,,, Kumohon,,," pinta Cyrene.

"Kamu bisa membunuh mereka," Cyrene berusaha menarik tangan Bernardo untuk menjauh.

"Akan lebih baik jika orang seperti mereka mati bukan?" geram Bernardo.

Sekilas Cyrene melihat dengan jelas wajah ketakutan dari tiga pria itu. Tak sampai disana, petugas keamanan yang berada direstoran terlihat menghampiri tempat dimana mereka berdiri.

"Sudah cukup, jangan diteruskan lagi," pinta Cyrene menahan tangan Bernardo.

"Mereka harus belajar apa itu menghormati wanita. Jika mereka masih menyayangi nyawa mereka, tidak seharusnya mereka mempermainkan nyawa orang lain," gram Bernardo berniat menyerang lagi.

"Ada apa ini?" seru petugas keamanan begitu tiba disana.

Tidak ingin keadaan memburuk, Cyrene memeluk Bernardo sembari mendorong tubuhnya untuk mundur.

"Kumohon hentikan! Kita serahkan saja pada polisi," ucap Cyrene mulai gemetar.

"Kita pergi dari sini, kumohon," ucap Cyrene penuh harap.

Bernardo melunak ketika merasakan tubuh Cyrene gemetar saat memeluknya, lalu menunduk dan mendapati wajah wanita di depannya terlihat pucat

"Baiklah,,," jawab Bernardo menyerah.

'Dia bukan orang yang biasa melihat kekerasan, seharusnya aku bisa lebih menahan diri, atau dia akan menjauh dariku dengan alasan takut padaku,' batin Bernando.

"Mereka berusaha melukai saya, tolong hubungi polisi saja," ucap Cyrene singkat lalu pergi dari tempat itu.

"Ehh,,,Tunggu!" seru petugas keamaan restoran itu yang di abaikan begitu saja.

Bernardo menuntun Cyrene agar naik kemobilnya dan meninggalkan tempat itu.

"Kita ke rumah sakit dulu, oke? Kamu perlu diobati," ucap Bernardo memecah keheningan.

"Tidak! Tolong antar aku pulang saja. Aku bisa mengatasinya sendiri," tolak Cyrene cepat.

"Luka mu harus di tangani Cyrene. Kamu tidak akan tau apakah itu akan memburuk atau tidak," sahut Bernardo lembut.

"Bagaimana jika itu infeksi?" imbuhnya.

"Aku tidak mau," jawab Cyrene tanpa menoleh.

"Adakah seseorang yang tinggal bersamamu?" tanya Bernardo hati-hati.

"Tidak," jawab Cyrene singkat.

Bernardo melirik sekilas ke arah Cyrene yang menatap lurus ke depan. Perlahan, ia mengurangi kecepatan mobilnya dan menghentikan mobilnya didepan sebuah klinik. Tanpa mematikan mesin mobil, ia menoleh ke arah Cyrene yang memberikan tatapan bingung padanya.

"Hanya dua menit, aku janji, oke?" ucap Bernardo sebelum pergi yang dibalas dengan anggukan pelan dari Cyrene.

Tak berselang lama, Bernardo kembali dengan kantong obat ditangannya. Tanpa mengatakan apa pun, Bernardo segera melepas jas yang ia kenakan dan meletakkannya disandaran jok mobil.

"Aku obati lukamu sebentar," ucap Bernardo dengan suara tak menerima penolakan seraya mengulung lengan kemejanya.

Dengan hati-hati, Bernardo mulai membersihkan luka Cyrene dengan kapas yang telah diberi antiseptik sebelumnya.

"Ini akan sedikit perih, tapi tolong tahan sebentar," ucap Bernardo mulai mengoleskan obat.

Cyrene mengernyit ketika rasa perih mulai terasa. Namun tak lama kemudian rasa perih itu berangsur memudar bersamaan dengan Bernardo selesai menutup luka dileher Cyrene menggunakan plester luka.

"Selesai," ucap Bernardo.

Cyrene menatap Bernardo dengan tatapan takjub. Perlakuan lembut dan sangat hati-hati ketika mengobati lukanya sangat berbanding terbalik dengan penampilannya.

"Maafkan aku. Andai aku lebih cepat, kau tidak akan seperti ini." sesal Bernardo dengan ekspresi penyesalan yang terlihat jelas.

"Bukan salahmu. Aku sangat berterima kasih kamu disana" jawab Cyrene pelan lalu memalingkan wajahnya.

Bernardo mendesah pelan menyadari tangan Cyrene masih gemetar. Perlahan Bernardo meraih tangan Cyrene dan mengenggam lembut tangan itu.

"Kamu masih gemetar," ucap Bernardo membuat Cyrene dengan cepat menoleh padanya.

"Kemana aku harus mengantarmu?" tanya Bernardo.

"Tidak jauh dari sini. Hanya perlu satu kali belok di persimpangan selanjutnya," jawab Cyrene mulai tenang.

"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Akan lebih baik jika kau di rumah untuk saat ini," ucap Bernardo lagi.

Cyrene mengangguk pelan, sementara Bernardo mulai menjalankan mobilnya mengikuti intruksi yang Cyrene berikan. Mereka berhenti di depan sebuah apartemen yang tampak begitu tenang.

"Jadi,,, Kau tinggal disini?" tanya Bernardo.

"Yah,,,, Begitulah. Terima kasih sudah mengantarku," ucap Cyrene tersenyum tipis.

"Bukan masalah. Tapi, apa kau yakin baik-baik saja?" tanya Bernardo.

"Yah,,, Kurasa begitu," jawab Cyrene sedikit ragu.

"Baiklah jika begitu," sambut Bernardo.

Cyrene turun dari mobil Bernardo. Dalam hatinya ia hanya berharap bisa segera sampai ditempat tidurnya. Namun, ketika Cyrene baru berjalan beberapa langkah, pertanyaan Bernardo menghentikan langkahnya dan memaksanya untuk kembali berbalik.

"Apakah kita bisa bertemu lagi, Ren?" tanya Bernardo.

"Ah,,, Maaf, aku mengganti nama mu seenaknya," sambung Bernardo cepat.

"Tidak," mengeleng pelan.

"Beberapa kenalanku memang menggunakan nama itu, dan aku tidak keberatan jika kamu juga menggunakannya," imbuhnya.

"Sungguh? Kamu tidak keberatan?" tanya Bernardo memastikan.

"Sama sekali tidak," jawab Cyrene.

"Jadi,,, apakah kita bisa bertemu lagi dan keluar di lain waktu?" tanya Bernardo.

"Tentu," jawab Cyrene tersenyum.

"Terima kasih," balas Bernardo turut tersenyum.

Setelah menganggukan kepalanya, Cyrene berbalik dan masuk ke apartemennya. Begitu sampai dilantai apartemen miliknya, Cyrene dengan asal melempar tasnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.

"Haahhh,,," desahnya pelan.

"Apa-apaan tadi? Hari ini menjadi hari buruk dan terburuk," Cyrene mendesah panjang.

"Padahal, aku hanya ingin meminta maaf,"

"Tapi, tempat mewah, preman menyebalkan itu, dan_,,,,"

Tangannya meraba luka yang ada di lehernya.

"Fakta bahwa cover yang dimiliki sesorang tidak mencerminkan apa isi didalamnya ternyata aku melihat itu didalam dirinya. Cara dia merawat lukaku dan berbicara padaku. Sikap lembutnya, dia menutupinya dengan sangat baik," gumam Cyrene pelan.

Cyrene mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membuka kembali pesan dari sang teman yang menuliskan sebaris nama.

"Bernardo Alfred Davidson,"

Cyrene membaca sekali lagi nama Bernando, lalu menjatuhkan ponselnya di atas bantal. Perlahan, kedua mata Cyrene mulai menutup, tarikan nafasnya menjadi lebih tenang, tak lama kemudian Cyrene terlelap dalam tidurnya.

Sementara itu, Bernardo masih berada di luar apartemen. Mengawasi lantai apartemen yang Cyrene tempati dari mobilnya dan ingin memastikan wanita itu tetap aman.

...%%%%%%%...

. . . . .

. . . . .

To be continued,,,

Terpopuler

Comments

Vincar

Vincar

angkat jadi bodyguard aja gak sih heheh

2024-06-11

1

Birru

Birru

sakit banget itu tpi kenapa nolak diobatin sih.. jadinya bern yang hars turun tangan

2024-06-01

0

Utayiresna🌷

Utayiresna🌷

pasti sepedih itu🙈

2024-05-09

0

lihat semua
Episodes
1 1. Camp
2 2.Peduli
3 3.Pertemuan
4 4.Rasa Takut
5 5. Datang ke Cafe
6 6. Bahaya!
7 7. Di Ganggu.
8 8. Tiba-tiba
9 9. Pindah,,,?!?
10 10. Masa kini
11 11. Hadiah
12 12. Kejadian
13 13. Melihatnya
14 14. Sikap abai
15 15. Misi Ringan
16 16. Sepakat (Masa lalu 1)
17 17. Rasa Khawatir (Masa lalu 2)
18 18. Keributan pagi hari (Masa lalu 3)
19 19. Pertama kali berkumpul (Masa lalu 4)
20 20. Mengenal lebih dekat (Masa lalu 5)
21 21. Kemunculan Das (Masa lalu 6)
22 22. Khawatir (Masa lalu 7)
23 23. Cemburu (Masa lalu 8)
24 24.Perasaan yang berubah (Masa lalu 9)
25 25. Menjebak (Masa lalu 10)
26 26. Hampir (Masa lalu 11)
27 27. Aku Mencintaimu (Masa lalu 12)
28 28. Tidak Mengingat (Masa lalu 13)
29 29. Terjalin (Masa lalu 14)
30 30. Kencan sesungguhnya. (Masa lalu 15)
31 31. Rencana (Masa lalu 16)
32 32. Cincin (Masa lalu 17)
33 33. Lamaran (Masa lalu 18)
34 34. (Masa lalu 19)
35 35. (Masa lalu 20)
36 36 (Masa lalu 21)
37 37. ( Masa lalu 22)
38 38. (Masa lalu 23)
39 39. (Masa lalu 24)
40 40. (Masa lalu 25)
41 41. (Masa lalu 26)
42 42. (Masa lalu 27)
43 43. (Masa Lalu 28)
44 44. (Masa Lalu 29)
45 45. (Masa Lalu 30 )
46 46. ( Masa Lalu 31 )
47 47. ( Masa Lalu 32 )
48 48. ( Masa Lalu 33 )
49 49. ( Masa Lalu 34 )
50 50. ( Masa Lalu 35 )
51 51. ( Masa Lalu 36 )
52 52. ( Masa Lalu 37 )
53 53. ( Masa Lalu 38 )
54 54. ( Masa Lalu 39 )
55 55. ( Masa Lalu 40 )
56 56. ( Masa Lalu 41)
57 57. ( Masa Lalu 42 )
58 58. ( Masa Lalu 43 )
59 59. ( Masa Lalu 44 )
60 60. ( Masa Lalu 45 )
61 61. ( Masa Lalu 46 )
62 62. ( Masa Lalu 47 )
63 63. ( Masa Lalu 48 )
64 64. ( Masa Lalu 49 end )
65 65. Masa Kini1 SB
66 66. Masa Kini2 SB
67 67. Masa Kini3 SB
68 68. Masa Kini4 SB
69 69. Masa Kini5 SB
70 70. Masa Kini6 SB
71 71. Masa Kini7 SB
72 72. Masa Kini8 SB
73 73. Masa Kini9 SB
74 74. Masa Kini10 SB
75 75. Masa Kini11 SB
76 76. Masa Kini12 SB
77 77. Masa Kini13 SB
78 78. Masa Kini14 SB
79 79. Masa Kini15 SB
80 80. Masa Kini16 SB
81 81. Masa Kini17 SB
82 82. Masa Kini18 SB
83 83. Masa Kini19 SB
84 84. Masa Kini20 SB
85 85. Masa Kini21 SB
86 86. Masa Kini22 SB
87 87. Masa Kini23 SB
88 88. Masa Kini24 SB
89 89. Masa Kini25 SB
90 90. Masa Kini26 SB
91 91. Masa Kini27 SB
92 92. Masa Kini28 SB
93 93. Masa Kini29 SB
94 94. Masa Kini30 SB
95 95. Masa Kini31 SB
96 96. Masa Kini32 SB
97 97. Masa Kini33 SB
98 98. Masa Kini34 SB.
99 99. Masa Kini35 SB
100 100. Masa Kini36 SB
101 101. Masa Kini37 SB.
102 102. Masa Kini38 SB
103 103. Masa Kini39 SB
104 104. Masa Kini40 SB
105 105. Masa Kini41 SB
106 106. Masa Kini42 SB
107 107. Masa Kini43 SB
108 108. Masa Kini44 SB
109 109. Masa Kini45 SB
110 110. Masa Kini46 SB
111 111. Masa Kini47 SB
112 112. Masa Kini48 SB
113 113. Masa Kini49 SB
114 114. Masa Kini50 SB
115 115. Masa Kini51 SB
116 116. Masa Kini52 SB
117 117. Masa Kini53 SB
118 118. Masa Kini54 SB
119 119. Masa Kini55 SB
120 120. Masa Kini56 SB
121 121. Masa Kini57 SB
122 122. Masa Kini58 SB
123 123. Masa Kini59 SB
124 124. Masa Kini60 SB
125 125 Masa Kini61 SB.
126 126. Masa Kini62 SB
127 127. Masa Kini63 SB
128 128. Masa Kini64 SB
129 129. Masa Kini65 SB
130 130. Masa Kini66 SB
131 131. Masa Kini67 SB
132 132. Masa Kini68 SB
133 133. Masa Kini69 SB
134 134. Masa Kini70 SB
135 135. Masa Kini71 SB
136 136. Masa Kini72 SB
137 137. Masa Kini73 SB
138 138. Masa Kini74 SB
139 139. Masa Kini75 SB
140 140. Masa Kini76 SB
141 141. Masa Kini78 SB
142 Karya baru
Episodes

Updated 142 Episodes

1
1. Camp
2
2.Peduli
3
3.Pertemuan
4
4.Rasa Takut
5
5. Datang ke Cafe
6
6. Bahaya!
7
7. Di Ganggu.
8
8. Tiba-tiba
9
9. Pindah,,,?!?
10
10. Masa kini
11
11. Hadiah
12
12. Kejadian
13
13. Melihatnya
14
14. Sikap abai
15
15. Misi Ringan
16
16. Sepakat (Masa lalu 1)
17
17. Rasa Khawatir (Masa lalu 2)
18
18. Keributan pagi hari (Masa lalu 3)
19
19. Pertama kali berkumpul (Masa lalu 4)
20
20. Mengenal lebih dekat (Masa lalu 5)
21
21. Kemunculan Das (Masa lalu 6)
22
22. Khawatir (Masa lalu 7)
23
23. Cemburu (Masa lalu 8)
24
24.Perasaan yang berubah (Masa lalu 9)
25
25. Menjebak (Masa lalu 10)
26
26. Hampir (Masa lalu 11)
27
27. Aku Mencintaimu (Masa lalu 12)
28
28. Tidak Mengingat (Masa lalu 13)
29
29. Terjalin (Masa lalu 14)
30
30. Kencan sesungguhnya. (Masa lalu 15)
31
31. Rencana (Masa lalu 16)
32
32. Cincin (Masa lalu 17)
33
33. Lamaran (Masa lalu 18)
34
34. (Masa lalu 19)
35
35. (Masa lalu 20)
36
36 (Masa lalu 21)
37
37. ( Masa lalu 22)
38
38. (Masa lalu 23)
39
39. (Masa lalu 24)
40
40. (Masa lalu 25)
41
41. (Masa lalu 26)
42
42. (Masa lalu 27)
43
43. (Masa Lalu 28)
44
44. (Masa Lalu 29)
45
45. (Masa Lalu 30 )
46
46. ( Masa Lalu 31 )
47
47. ( Masa Lalu 32 )
48
48. ( Masa Lalu 33 )
49
49. ( Masa Lalu 34 )
50
50. ( Masa Lalu 35 )
51
51. ( Masa Lalu 36 )
52
52. ( Masa Lalu 37 )
53
53. ( Masa Lalu 38 )
54
54. ( Masa Lalu 39 )
55
55. ( Masa Lalu 40 )
56
56. ( Masa Lalu 41)
57
57. ( Masa Lalu 42 )
58
58. ( Masa Lalu 43 )
59
59. ( Masa Lalu 44 )
60
60. ( Masa Lalu 45 )
61
61. ( Masa Lalu 46 )
62
62. ( Masa Lalu 47 )
63
63. ( Masa Lalu 48 )
64
64. ( Masa Lalu 49 end )
65
65. Masa Kini1 SB
66
66. Masa Kini2 SB
67
67. Masa Kini3 SB
68
68. Masa Kini4 SB
69
69. Masa Kini5 SB
70
70. Masa Kini6 SB
71
71. Masa Kini7 SB
72
72. Masa Kini8 SB
73
73. Masa Kini9 SB
74
74. Masa Kini10 SB
75
75. Masa Kini11 SB
76
76. Masa Kini12 SB
77
77. Masa Kini13 SB
78
78. Masa Kini14 SB
79
79. Masa Kini15 SB
80
80. Masa Kini16 SB
81
81. Masa Kini17 SB
82
82. Masa Kini18 SB
83
83. Masa Kini19 SB
84
84. Masa Kini20 SB
85
85. Masa Kini21 SB
86
86. Masa Kini22 SB
87
87. Masa Kini23 SB
88
88. Masa Kini24 SB
89
89. Masa Kini25 SB
90
90. Masa Kini26 SB
91
91. Masa Kini27 SB
92
92. Masa Kini28 SB
93
93. Masa Kini29 SB
94
94. Masa Kini30 SB
95
95. Masa Kini31 SB
96
96. Masa Kini32 SB
97
97. Masa Kini33 SB
98
98. Masa Kini34 SB.
99
99. Masa Kini35 SB
100
100. Masa Kini36 SB
101
101. Masa Kini37 SB.
102
102. Masa Kini38 SB
103
103. Masa Kini39 SB
104
104. Masa Kini40 SB
105
105. Masa Kini41 SB
106
106. Masa Kini42 SB
107
107. Masa Kini43 SB
108
108. Masa Kini44 SB
109
109. Masa Kini45 SB
110
110. Masa Kini46 SB
111
111. Masa Kini47 SB
112
112. Masa Kini48 SB
113
113. Masa Kini49 SB
114
114. Masa Kini50 SB
115
115. Masa Kini51 SB
116
116. Masa Kini52 SB
117
117. Masa Kini53 SB
118
118. Masa Kini54 SB
119
119. Masa Kini55 SB
120
120. Masa Kini56 SB
121
121. Masa Kini57 SB
122
122. Masa Kini58 SB
123
123. Masa Kini59 SB
124
124. Masa Kini60 SB
125
125 Masa Kini61 SB.
126
126. Masa Kini62 SB
127
127. Masa Kini63 SB
128
128. Masa Kini64 SB
129
129. Masa Kini65 SB
130
130. Masa Kini66 SB
131
131. Masa Kini67 SB
132
132. Masa Kini68 SB
133
133. Masa Kini69 SB
134
134. Masa Kini70 SB
135
135. Masa Kini71 SB
136
136. Masa Kini72 SB
137
137. Masa Kini73 SB
138
138. Masa Kini74 SB
139
139. Masa Kini75 SB
140
140. Masa Kini76 SB
141
141. Masa Kini78 SB
142
Karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!