Seorang pria berperawakan tinggi besar dan berkulit coklat melangkah gontai memasuki apartemen yang terlihat kosong namun terawat. Rambut ikal hitam pekat sepanjang bahu diikat kebelakang, serta janggut dan kumis diwajahnya yang kurang terawat menambah kesan garang di wajahnya.
Pria itu memasuki salah satu ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar yang tampak bersih dan rapi, menatap kosong pada kamar itu seolah telah kehilangan sosok yang seharusnya berada di sana.
"SRUGHHH,,,!!"
dia menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur dengan mata menatap langit-langit kamar. Satu tangannya bergerak meraba lehernya dan mengeluarkan kalung yang ia kenakan, menatap kalung itu dengan tatapan bersalah. Wajah kerasnya melembut ketika ia melihat kalung itu, lalu tersenyum getir.
"Kamu ada dimana sekarang? Apakah kamu baik-baik saja?"
Ia bergumam pelan sembari menatap kalung liontin cincin dengan ukiran 'Renerdo' didalamnya.
"Aku terus mencarimu, tapi tidak pernah bisa mendapatkan informasi apapun. Kamu bahkan tidak pulang setelah tujuh tahun berlalu. Kemana sebenarnya kamu pergi, Ren?" gumamnya lagi.
"Rasa bersalah ini terus menghantuiku, apa kau tahu itu? Membayangkan mereka melakukan hal buruk padamu, membuatku semakin tenggelam dalam rasa bersalaku. Satu-satunya hal yang membuatku bertahan hidup dan menjalani kehidupanku sekarang hanyalah rasa percaya bahwa kamu akan kembali. Entah dari mana rasa itu datang, aku tidak bisa menjelaskannya,"
Pria yang tidak lain adalah Bernardo kembali bergumam kepada diri sendiri. Menatap kamar yang sebelumnya adalah kamar Cyrene. Penampilanya bahkan berubah seratus delapan puluh derajat.
Rambut yang semula pendek kini berubah panjang dan ia hanya mengikat rambutnya, bukan memotongnya. Kumis dan janggutnya yang sebelumnya selalu ia cukur bersih, kini ia biarkan begitu saja.
"Aku akan menerima semua kemarahanmu, tapi kumohon, jangan benci aku," ucapnya getir.
Bernardo mengenggam kuat kalung itu dengan harapan Cyrene segera kembali. Meski itu hanya dalam hitungan menit.
Ia memasuki apartemen Cyrene dengan cara menyelinap setelah berhasil membuat duplikat kunci melalui kenalannya. Berhasil meretas semua informasi penting tentang Cyrene hingga mempermudah dirinya jika seseorang memergokinya berada di apartemen yang ditinggalkan Cyrene dan bisa memberikan jawaban mengapa dirinya berada di sana.
Bernardo mendesah pelan, lalu bangun dari berbaringnya dan melangkah ke dapur. Ia menyeduh kopi yang ia beli untuk ia nikmati sendiri.
Dirinya selalu membersihkan apartemen itu sejak Cyrene pergi meninggalkan kota. Mereka yang berada di lantai bawah hanya mengatakan Cyrene tidak pindah, dan akan kembali, hanya saja tidak ada yang tahu kapan wanita itu akan kembali.
Setelah beberapa waktu berlalu, Bernardo keluar dari apartemen Cyrene. Menghampiri mobil yang ia parkirkan tak jauh dari gedung apartemen Cyrene, dan pergi setelah melihat jendela kamar untuk terakhir kali.
...%%%%%%%%...
### Disisi tempat lain,,,
Cyrene mengemudikan jeep dengan perasaan puas yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kau tidak mencoba alatnya, Ren?" tanya Glen memecah keheningan.
"Disini terlalu ramai, Glen. Aku akan mencobanya saat perjalanan pulang," jawab Cyrene tanpa menoleh.
"Jadi, apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" tanya Glen.
"Apakah kau lapar, Glen? Bagaimana kalau kita makan sesuatu?" tawar Cyrene masih terus fokus mengemudi.
"Bukan ide buruk," sambut Glen tersenyum.
"Baiklah, kita ke bistrot yang ada di depan sana," ucap Cyrene mulai mengurangi kecepatan jeep nya.
Mereka berdua masuk dan memilih tempat duduk ternyaman bagi mereka, memesan makanan yang mereka inginkan saat pelayan menghampiri mereka, lalu menunggu.
"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu padamu, Ren?" tanya Glen.
"Tanyakan saja," sambut Cyrene.
"Apakah kamu akan mengambil tawaran Carlo untuk kembali ke kota tempat tinggalmu?" tanya Glen.
"Apakah itu buruk?" jawab Cyrene balas bertanya.
"Tidak sama sekali, hanya saja, jika kamu pergi, bisakah aku ikut bersamamu sebagai doktermu?" tanya Glen sedikit berharap.
"Itu bukan wewenangku untuk memutuskannya," jawab Cyrene datar.
"Kau memiliki wewenang untuk itu, karena kamu memiliki kesempatan untuk memilih siapa yang akan kamu percaya untuk bersamamu selama misi berjalan sekaligus menjaga identitasmu," jelas Glen.
"Jika memang akan seperti yang kamu katakan, maka aku tidak keberatan," jawab Cyrene.
"Kau serius?" tanya Glen memastikan.
"Permisi,, silahkan pesanan anda,"
Seorang pelayan menyela sebelum Cyrene sempat memberikan jawabannya seraya memberikan pesanan mereka. Meletakkan makanan yang mereka berdua pesan, lalu berlalu pergi.
Mereka berdua menikmati makan siang dalam diam. Namun, hal itu tidak berlangsung lama ketika suara tembakan terdengar keras membuat semua pengunjung yang berada di dalam bistrot berteriak panik.
"DORR,,,!!"
Cyrene hanya melirik sekilas untuk melihat siapa yang membuat keributan ditempat ramai menggunakan senjata berbahaya.
"Tetap duduk ditempat kalian jika kalian tidak ingin terluka!" perintah seorang pria mengenakan topi ski dan penutup wajah.
Seluruh pengunjung bistrot menurut duduk dengan wajah takut mereka, beberapa orang meletakkan tangan diatas kepela mereka ketika suara tembakan kembali terdengar.
"Keluarkan semua benda berharga milik kalian, termasuk uang yang ada didalam sana," ujarnya menunjuk meja kasir.
Glen bersiap berdiri, namun dengan cepat dicegah Cyrene seraya menggelengkan kepalanya. Saat salah satu pria mendatangi meja mereka, Cyrene hanya mengakat kedua tangannya sembari menaikan bahunya sebagai tanda ia tidak memiliki dompet, namun memberi isyarat kepada Glen agar memberikan dompet miliknya pada mereka.
Glen hanya bisa mengikuti apa yang di minta Cyrene padanya meski hatinya menolak. Hingga, para perampok itu berhasil menjarah semua barang berharga dari pengunjung bistrot dan bistrot itu sendiri.
"Kenapa kau diam saja, Ren?" tanya Glen sedikit kesal.
"Apa kau sadar mereka ada sebelas orang?" jawab Cyrene balas bertanya dengan intonasi tenang.
"Sebelas? mereka hanya berlima," sanggah Glen.
"Ada dua mobil diluar, sebagian dari mereka berada diluar menunggu mereka selesai merampok, sekaligus mengawasi jika sewaktu-waktu polisi datang agar mereka bisa kabur," jelas Cyrene.
"Aku bisa menghadapi mereka, tapi aku tidak ingin," terang Cyrene.
Cyrene kembali memakan makanan didepannya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Bagaimana bisa kau membirakan ini terjadi begitu saja? Dan itu tepat didepan matamu?" tanya Glen tidak puas.
"Tenanglah,,!" jawab Cyrene.
"Nikmati saja makan siangmu," imbuhnya.
"Entahlah, aku bahkan tidak bernafsu lagi untuk itu," dengus Glen.
"Sikap tidak sabar yang kau miliki bisa menjerumuskanmu kapan saja, Glen," tutur Cyrene.
"Dan itu akan merugikanmu," imbuhnya.
Glen hanya mendengus kesal, lalu memalingkan wajahnya.
Cyrene menghela nafas panjang, lalu bangun dari duduknya. Ia mendekati wanita penjaga kasir yang masih tampak syok dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Hubungi polisi, dan mintalah mereka untuk pergi kearah timur menuju ngarai, kalian akan mendapatkan kembali apa yang sudah mereka rampas," ucap Cyrene seraya meletakan beberapa lembar uang.
"Untuk makanan yang telah kami makan," ucap Cyrene lagi.
Setelah mengatakan itu, Cyrene segera pergi meninggalkan raut wajah bingung dari pegawai kasir, namun dia tetap melakukan apa yang di intruksikan Cyrene padanya.
"Apa maksudmu mengatakan hal tadi?" tanya Glen.
Cyrene menaikan bahunya, lalu melangkah keluar dari bistrot diikuti Glen. Tanpa menjawab pertanyaan Glen, ia segera masuk kedalam jeep nya, dan menyalakan mesin.
"Aku sudah bilang aku tidak ingin menghadapi mereka,"
"Tidak jika itu di sini," imbuhnya.
Tanpa disadari oleh Cyrene, seseorang tampak berlari berusaha mengejar Cyrene yang telah masuk kedalam mobil. Namun saat orang itu mencapai mobil, Cyrene telah lebih dulu menjalankan mobil jeep nya.
Cyrene mengemudi dengan mengambil arah berlawanan dengan para perampok yang merampas barang berharga milik pengunjung bistrot.
Glen menjadi lebih terkejut lagi saat jalan yang di tuju cyrene adalah sebuah ngarai. Seolah telah memperhitungkan segalanya, Cyrene segera memasukan benda yang terlihat seperti Pendrive yang sebelumnya ia tunjukan pada Glen sekaligus menarik tuas transmisi.
Dalam hitungan detik, tiba-tiba kecepatan mobil bertambah lebih cepat dari yang seharusnya, dan cukup untuk membuat Glen terkejut hingga membuat ia mencengkram seatbelt yang melekat di tubuhnya.
"Pastikan saja lidahmu tidak tergigit," gumam Cyrene tersenyum percaya diri.
"Ngarai adalah tempat latihan terbaik," imbuhnya.
"Ren,, apa kau gila?" seru Glen tampak syok.
"Dalam hitungan mundur dua puluh detik, maka kau akan mengerti," ucap Cyrene masih fokus mengemudi.
Lembah curam dikanan kiri di jalan yang mereka lalui membuat Glen bergidik. Membayangkan jika sedikit saja ban mobil yang mereka tumpangi tergelincir, maka bisa di pastikan mobil itu akan masuk jurang. Meski begitu, ia tetap menghitung mundur.
Tepat di detik ke lima hitungan mundur, Glen melihat mobil yang dinaiki para perampok di bistrot tadi. Cyrene segera mendahului mobil itu, dalam sepersekian detik, ia memutar kemudi, membuat mobil menukik tajam dan berputar, berbalik arah menghadap mobil mereka.
Memanfaatkan keterkejutan mereka, Cyrene mengeluarkan pistol dari balik bajunya dan mengarahkan ke ban mobil mereka, membuat mobil hilang kendali dan menabrak tebing.
"BBRRAAKKK,,,,,, !!!!"
Suara keras lain berasal dari mobil dibelakang mereka, yang merupakan rekan mereka dalam merampok.
"Tetaplah di dalam mobil jika kau ingin membantu," tegas Cyrene.
"Apa,,,?!? Hei,,, Ren,,," Glen melebarkan matanya saat Cyrene turun dan menemui mereka.
Tepat seperti dugaan Cyrene sebelumnya, mereka berjumlah sebelas orang. Mereka serentak keluar dari mobil mereka tanpa luka parah di tubuh mereka seolah Cyrene memang sengaja untuk tidak membuat mereka terbunuh.
"Sial,,, aku lupa kalau Ren tidak akan bergerak jika itu didepan umum, kecuali dalam keadaan terdesak," umpat Glen kesal pada dirinya sendiri.
"Sekarang apa? Jika aku keluar, itu akan berakibat sama seperti waktu itu, Ren terluka lebih parah," gumam Glen.
Glen hanya bisa melihat dari dalam mobil dimana Cyrene berdiri tenang sembari mengikat rambut panjangnya. Berdiri didepan mereka yang tampak kesal dan memberikan tatapan siap membunuh.
...%%%%%%%%%...
. . . . .
. . . . .
To be continued....
NOTE...
-Bistrot
Adalah restoran kecil yang menyediakan menu makanan sederhana dengan harga menengah.
-Ngarai
Adalah sebuah lembah dalam bersisi terjal yang terbentuk akibat erosi aliran air sungai. Ngarai juga bisa disebut lembah dalam yang sempit dengan lereng yang sangat curam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Pena dua jempol
kutinggalkan mawah merah untuk kakak dan 1 iklan 🌹🫰🏿
2024-06-25
0
Vincar
Bagaimana mereka bisa terpisah ya?
kutinggalkan 🌹
2024-06-18
1
Birru
ren sangat luar biasa...
2024-06-15
0