16. Sepakat (Masa lalu 1)

Flashback 7 tahun yang lalu - - - - -

"Kau sudah sangat sering datang ke cafe itu selama beberapa hari terakhir ini, Bernardo,"

"Dan sekarang kau datang padaku setelah memberikan hasil kerjamu dengan permintaan konyolmu?"

"Apakah kau sedang bercanda denganku"

Suara datar namun mengintimidasi itu keluar dari sosok pria yang tengah menghisap cerutu di tangannya. Sosoknya yang duduk tegap di kursi kebesarannya dengan dua orang di belakangnya menatap tajam pada Bernardo.

'BUGH,,,,!'

Sebuah pukulan keras mendarat tepat di kepala Bernardo hingga membuat tubuhnya berlutut sembari memegangi kepalanya yang mulai mengeluarkan darah.

Bernardo hanya mengernyit, menatap nanar pada pria yang masih menghisap cerutu di tangannya dengan tenang. Ia bahkan tidak memiliki keinginan untuk membalas perlakuan yang ia terima.

'BUGH,,,!'

Sekali lagi pukulan keras mendarat di sisi kepalanya hingga menghasilkan luka goresan panjang di dahinya dan cukup untuk membuat darahnya mengalir.

"Bukan dia yang menjadi alasanku berhenti," ucap Bernardo tetap di posisi berlutut.

Bernardo melirik sekilas pada orang yang melayangkan tongkat padanya, lalu beralih pada pria bercerutu di depannya.

"Sejak awal, aku memang sudah berniat untuk berhenti setelah semua hutangku padamu terbayar," imbuhnya.

"Dan kau pikir, kau bisa seenaknya keluar begitu saja?" dengus pria itu kembali menghisap cerutunya.

"Tidak," jawab Bernardo menurunkan tangannya masih tetap berlutut.

"Aku tahu ada harga yang harus aku bayar jika aku keluar,"

"Aku juga akan memastikan semua hal yang berkaitan dengan kalian tidak akan keluar ke permukaan," imbuhnya.

"Kurasa, wanita bodoh itu sudah mencuci otakmu," dengus salah satu pria di belakang pria bercerutu.

Bernardo memberikan tatapan tajam pada pria yang baru saja bersuara, kini ia benar-benar mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang tidak ia katakan hanya dengan mendengar ucapanya.

"Dia tidak tahu apa pun, kenapa kau mengusiknya, Das?" tanya Bernardo menahan amarahnya.

"Aku hanya menjalankan perintah," jawab Das menaikkan bahunya.

"Mereka yang mengetahui tentang kita harus di singkirkan sekecil apapun informasi yang dia ketahui," imbuhnya.

"Apa?" sambut Bernardo terkejut dan segera mengarahkan pandanganya pada pria bercerutu.

"Tapi, dia tidak tahu apa pun tentang kita," sanggahnya.

"Apa kau yakin tentang itu?" cibir Das.

"Kau yakin dia tidak tahu tentang pekerjaanmu?" imbuhnya.

"Aku_,,,"

"Fakta bahwa dia mengenalmu tetap tidak bisa di ubah, dan kau tau apa artinya itu," potong Das.

"Apakah kau juga akan menentang perintah, tuan Alastor?" imbuhnya bertanya.

Bernardo kembali menatap pria bercerutu yang selalu ia sebut tuan Alastor, dan segera menunduk tidak berdaya.

'Aku tidak peduli jika aku mati di sini, tapi bagaimana jika mereka menyakiti Ren setelah ini?'

'Aku juga tidak akan bisa melawan mereka seorang diri tanpa rencana apa pun,' batin Bernardo.

Bernardo terdiam cukup lama, berpikir keras dengan menimbang-nimbang hal yang menjadi kemungkinan tertinggi yang bisa terjadi.

"Aku akan tetap melakukan pekerjaanku, tapi tolong lepaskan dia,"

"Aku akan pastikan dia tidak mengetahui apa pun tentang kita,"

"Dan tidak akan melakukan hal apa pun yang bisa membuat keberadaan kita terancam," ucap Bernardo.

"Jadi, kau ingin mengatakan mengurungkan niatmu untuk berhenti?" tanya Alastor.

"Ya," tegas Bernardo.

"Bagaimana jika ternyata dia hanya memanfaatkanmu untuk mendapatkan semua informasi darimu? Dia seorang mata-mata bisa menjadi kemungkinan," ucap Alastor.

"Dia bukan seorang mata-mata, aku sudah menyelidikinya," jawab Bernardo.

"Dan aku yakin Das juga sudah menyelidikinya," imbuhnya.

"Bukankah kau yang mengirim orang-orang itu untuk menghancurkan cafe dan masuk ke apartemennya?" tanya Bernardo.

"Dan kau tentu tahu kenapa aku melakukannya. Semua yang ku lakukan karena aku di perintahkan untuk melakukannya," jawab Das manaikan bahunya dengan ekspresi tak bersalah.

"Bukankah mereka tidak menemukan apapun?" tanya Bernardo.

"Kau bisa pergi sekarang," ucap Alastor datar.

"Apakah_,,,,"

"Aku tidak akan menyentuhnya selama kau melakukan pekerjaanmu," potong Alastor.

"Baik, terima kasih," ucap Bernardo menunduk.

Bernardo segera bangkit dan pergi meninggalkan tempat yang terasa seperti penjara baginya. Perasaan tidak berdaya yang selalu ia rasakan membuat dirinya diam-diam melatih tubuhnya sendiri agar bisa melawan mereka suatu hari nanti.

Meminta bantuan polisi pun tidak akan berguna karena ada anggota mereka yang masuk kedalam kepolisian untuk menjadi mata-mata. Hal itu mambuat pergerakannya sangat terbatas dimana dia hanya seorang diri.

"Apakah tuan sungguh-sungguh akan melepaskan wanita itu?" tanya das.

"Kita biarkan mereka untuk sementara," jawab Alastor.

"Bernardo masih sangat berguna, dan tidak ada yang sebaik dia di sini, termasuk kau Das," imbuhnya.

"Itu adalah hal yang sangat jelas," sambut Das tersenyum.

"Hoo,,, kau langsung mengakuinya?" sambut Alastor.

"Karena dia memang lebih baik dariku," jawab Das tersenyum.

"Semua mobil yang dia dapatkan dan di modifikasi olehnya memiliki nilai jual yang sangat tinggi, dan itu memberikan keuntungan yang besar,"

"Dia hanya lembek," imbuhnya.

"Kau benar. Berbeda denganmu, dia tidak pernah sekali pun membunuh seseorang," sambut Alastor.

"Jadi, mari kita biarkan dia bersenang-senang sebentar dengan wanitanya,"

"Segera singkirkan jika ada hal mencurigakan," imbuhnya.

"Baik," jawab Das mengangguk patuh.

...%%%%%%%%...

"Uungghh,,,,!"

Cyrene merenggangkan tubuhnya dengan menarik kedua tangannya ke atas setelah pekerjaan terakhir selesai.

"Akhirnya renovasi cafe selesai," ucap Gavin tersenyum lega.

"Beberapa pelanggan kita sudah tidak sabar menunggu cafe kita buka," ucap wanita di belakang Gavin.

"Heh,,, kau bahkan hanya membantu dua hari terakhir," cibir Gavin.

"Hei,,, aku tidak datang karena keluargaku sakit," semburnya sembari melempar serbet di tangannya.

"Ya,, Ya,,, Ya,,, apapun,,," sambut Gavin abai melempar kembali serbet itu pada pemiliknya.

"Berhentilah bertengkar!" sela Cyrene.

"Menyebalkan!" sungutnya.

"Uhm,,,, apakah kakak tidur di cafe lagi?" sambungnya bertanya.

"Kurasa begitu," jawab Cyrene.

"Bagaimana jika aku bantu memperbaiki saluran air di apartemen kakak?" tawar Gavin.

"Ini sudah satu minggu lebih kakak tidur di cafe," imbuhnya.

"Kalau tidak, kakak minta bantuan Emma saja untuk mencarikan orang yang lebih bisa di andalkan untuk memperbaiki saluran airnya," tambahnya.

"Tidak perlu," tolak Cyrene.

'Saluran air di apartemen rusak hanya alasan agar kalian tidak banyak bertanya tentang apa yang terjadi.' sambung Cyrene dalam hati.

"Aku sudah mendapat kabar kalau itu akan selesai besok," kilah Cyrene.

"Baiklah, tapi katakan saja jika kakak perlu bantuanku," ucap Gavin.

"Perhatian sekali," cibir Emma.

"Ahh,,, aku baru ingat," seru Emma tiba-tiba sembari memberikan senyum jahil.

"Bagaimana dengan kecan buta kakak? Apakah dia tampan? Dia terlihat tampan dari foto yang dia kirimkan padaku_,,, aduhhh,,"

Emma mengaduh sebelum ia menyelesaikan kalimatnya saat Cyrene menarik hidungnya.

"Kau harus minta maaf padanya," ucap Cyrene.

"Aku seperti orang bodoh saat betemu dengannya karena tidak tahu apa pun yang kau bicarakan dengannya dan memilih mengatakan apa adanya,"

"Jadi, kau harus minta maaf dan jelaskan dengan benar apa yang terjadi," ucap Cyrene.

"Iya,,, Iya,,, aku mengerti," jawab Emma mengusap hidungnya.

"Apakah itu artinya kencan butanya berhasil?" imbuhnya bertanya.

"Kak Bernardo sering datang kemari, tapi sudah satu minggu ini tidak terlihat," sela Gavin.

"Kamu terlihat akrab dengannya," sambut Emma menyipitkan matanya.

"Kesan pertama, aku sempat mengira kak Bernardo adalah tipe arogan, tapi ternyata dia orang yang sangat baik," papar Gavin.

"Jika kak Bernardo adalah orang yang kamu maksud di kencan buta ini, maka aku akan setuju jika kak Ren bersama kak Bernardo," tambahnya.

"Woah,,,, sepertinya aku menemukan pasangan yang baik untuk kak Ren," sambut Emma bertepuk tangan.

"Emma,,,!" tegur Cyrene berkacak pinggang.

"Kalau aku tidak begitu, kakak mana mau berkencan. Padahal kakak cantik_,, bukan, tapi sangat cantik tapi sibuk di cafe sampai mengabaikan setiap orang yang mendekati kakak," jawab Emma tanpa beban.

"Apakah kamu ingin bonusmu hilang bulan ini, Emma?" gertak Cyrene.

"Oh,,, tidak masalah. Aku rela kehilangan bonus asalkan kakak bisa berkencan dengan pria tampan yang aku pilih," jawab Emma percaya diri.

"Astaga,,, anak ini,,," sambut Cyrene menepuk dahinya.

Emma hanya tersenyum lebar, membuat Cyrene dan Gavin tertawa. Merasa hal seperti itu adalah hal yang biasa mereka lakukan.

Mereka berdua yang sudah bersama Cyrene sejak dia mulai merintis usahanya, mengenal dengan sangat baik sosok Cyrene yang mereka anggap sebagai kakak.

Cyrene bahkan tidak menyelesaikan pendidikannya dan memilih membantu mereka berdua membiayai pendidikan mereka berdua, dan kini keduanya berkerja untuknya.

"Lebih baik sekarang kalian berdua pulang," ucap Cyrene.

"Kita akan membuka cafe nya lusa, dan besok akan cukup sibuk,"

"Kamu juga perlu membuat kudapan andalanmu, Emma," tambahnya.

"Kakak tenang saja, aku sudah siap untuk besok," sahut Emma mengangkat satu tangannya dengan jari terkepal..

"Ahh,,, satu hal yang hampir ku lupa," ucap Cyrene beralih pada Gavin.

"Besok, pergilah ke toko langganan kita dan minta mereka untuk mengirimkan susu dan krimer," lanjutnya.

"Baik kak," sahut Gavin.

"Aku juga sudah memesan biji kopinya dan itu akan di antar besok," lanjutnya.

"Baiklah, sekarang pulanglah," ucap Cyrene.

Emma dan Gavin pamit, sementara Cyrene tetap berada di cafe dan segera mengunci pintu setelah dua karyawannya itu pergi. Kepergian dua orang itu membuat Cyrene terusik dengan perkataan Gavin sebelumnya.

"Satu minggu, benar, dia sudah satu minggu ini tidak terlihat, apakah terjadi sesuatu padanya? Dia bahkan tidak menghubungiku sama sekali," gumam Cyrene dengan raut wajah khawatir.

Cyrene menatap keluar cafe selama beberapa saat, dan baru saja berbalik untuk menjauh dari pintu ketika sebuah ketukan pintu membuat dirinya kembali berbalik menghadap pintu hanya untuk melihat Bernardo berdiri di luar cafe.

Cyrene bergegas membuka pintu, berniat untuk melempar banyak pertanyaan pada pria itu ketika ia melihat darah yang mengalir di garis pipi dan leher Bernardo hingga ia menelan kembali semua pertanyaan di gantikan dengan raut wajah khawatir.

"Apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa seperti ini?" tanya Cyrene panik.

. . . . .

. . . . .

To be continued,,,,

Terpopuler

Comments

Rona Risa

Rona Risa

kasihan bernardo 🥺

2024-04-08

1

Rona Risa

Rona Risa

karyawan teladan 🤣

2024-04-08

1

Rona Risa

Rona Risa

sangat berhasil 🤭

2024-04-08

1

lihat semua
Episodes
1 1. Camp
2 2.Peduli
3 3.Pertemuan
4 4.Rasa Takut
5 5. Datang ke Cafe
6 6. Bahaya!
7 7. Di Ganggu.
8 8. Tiba-tiba
9 9. Pindah,,,?!?
10 10. Masa kini
11 11. Hadiah
12 12. Kejadian
13 13. Melihatnya
14 14. Sikap abai
15 15. Misi Ringan
16 16. Sepakat (Masa lalu 1)
17 17. Rasa Khawatir (Masa lalu 2)
18 18. Keributan pagi hari (Masa lalu 3)
19 19. Pertama kali berkumpul (Masa lalu 4)
20 20. Mengenal lebih dekat (Masa lalu 5)
21 21. Kemunculan Das (Masa lalu 6)
22 22. Khawatir (Masa lalu 7)
23 23. Cemburu (Masa lalu 8)
24 24.Perasaan yang berubah (Masa lalu 9)
25 25. Menjebak (Masa lalu 10)
26 26. Hampir (Masa lalu 11)
27 27. Aku Mencintaimu (Masa lalu 12)
28 28. Tidak Mengingat (Masa lalu 13)
29 29. Terjalin (Masa lalu 14)
30 30. Kencan sesungguhnya. (Masa lalu 15)
31 31. Rencana (Masa lalu 16)
32 32. Cincin (Masa lalu 17)
33 33. Lamaran (Masa lalu 18)
34 34. (Masa lalu 19)
35 35. (Masa lalu 20)
36 36 (Masa lalu 21)
37 37. ( Masa lalu 22)
38 38. (Masa lalu 23)
39 39. (Masa lalu 24)
40 40. (Masa lalu 25)
41 41. (Masa lalu 26)
42 42. (Masa lalu 27)
43 43. (Masa Lalu 28)
44 44. (Masa Lalu 29)
45 45. (Masa Lalu 30 )
46 46. ( Masa Lalu 31 )
47 47. ( Masa Lalu 32 )
48 48. ( Masa Lalu 33 )
49 49. ( Masa Lalu 34 )
50 50. ( Masa Lalu 35 )
51 51. ( Masa Lalu 36 )
52 52. ( Masa Lalu 37 )
53 53. ( Masa Lalu 38 )
54 54. ( Masa Lalu 39 )
55 55. ( Masa Lalu 40 )
56 56. ( Masa Lalu 41)
57 57. ( Masa Lalu 42 )
58 58. ( Masa Lalu 43 )
59 59. ( Masa Lalu 44 )
60 60. ( Masa Lalu 45 )
61 61. ( Masa Lalu 46 )
62 62. ( Masa Lalu 47 )
63 63. ( Masa Lalu 48 )
64 64. ( Masa Lalu 49 end )
65 65. Masa Kini1 SB
66 66. Masa Kini2 SB
67 67. Masa Kini3 SB
68 68. Masa Kini4 SB
69 69. Masa Kini5 SB
70 70. Masa Kini6 SB
71 71. Masa Kini7 SB
72 72. Masa Kini8 SB
73 73. Masa Kini9 SB
74 74. Masa Kini10 SB
75 75. Masa Kini11 SB
76 76. Masa Kini12 SB
77 77. Masa Kini13 SB
78 78. Masa Kini14 SB
79 79. Masa Kini15 SB
80 80. Masa Kini16 SB
81 81. Masa Kini17 SB
82 82. Masa Kini18 SB
83 83. Masa Kini19 SB
84 84. Masa Kini20 SB
85 85. Masa Kini21 SB
86 86. Masa Kini22 SB
87 87. Masa Kini23 SB
88 88. Masa Kini24 SB
89 89. Masa Kini25 SB
90 90. Masa Kini26 SB
91 91. Masa Kini27 SB
92 92. Masa Kini28 SB
93 93. Masa Kini29 SB
94 94. Masa Kini30 SB
95 95. Masa Kini31 SB
96 96. Masa Kini32 SB
97 97. Masa Kini33 SB
98 98. Masa Kini34 SB.
99 99. Masa Kini35 SB
100 100. Masa Kini36 SB
101 101. Masa Kini37 SB.
102 102. Masa Kini38 SB
103 103. Masa Kini39 SB
104 104. Masa Kini40 SB
105 105. Masa Kini41 SB
106 106. Masa Kini42 SB
107 107. Masa Kini43 SB
108 108. Masa Kini44 SB
109 109. Masa Kini45 SB
110 110. Masa Kini46 SB
111 111. Masa Kini47 SB
112 112. Masa Kini48 SB
113 113. Masa Kini49 SB
114 114. Masa Kini50 SB
115 115. Masa Kini51 SB
116 116. Masa Kini52 SB
117 117. Masa Kini53 SB
118 118. Masa Kini54 SB
119 119. Masa Kini55 SB
120 120. Masa Kini56 SB
121 121. Masa Kini57 SB
122 122. Masa Kini58 SB
123 123. Masa Kini59 SB
124 124. Masa Kini60 SB
125 125 Masa Kini61 SB.
126 126. Masa Kini62 SB
127 127. Masa Kini63 SB
128 128. Masa Kini64 SB
129 129. Masa Kini65 SB
130 130. Masa Kini66 SB
131 131. Masa Kini67 SB
132 132. Masa Kini68 SB
133 133. Masa Kini69 SB
134 134. Masa Kini70 SB
135 135. Masa Kini71 SB
136 136. Masa Kini72 SB
137 137. Masa Kini73 SB
138 138. Masa Kini74 SB
139 139. Masa Kini75 SB
140 140. Masa Kini76 SB
141 141. Masa Kini78 SB
142 Karya baru
Episodes

Updated 142 Episodes

1
1. Camp
2
2.Peduli
3
3.Pertemuan
4
4.Rasa Takut
5
5. Datang ke Cafe
6
6. Bahaya!
7
7. Di Ganggu.
8
8. Tiba-tiba
9
9. Pindah,,,?!?
10
10. Masa kini
11
11. Hadiah
12
12. Kejadian
13
13. Melihatnya
14
14. Sikap abai
15
15. Misi Ringan
16
16. Sepakat (Masa lalu 1)
17
17. Rasa Khawatir (Masa lalu 2)
18
18. Keributan pagi hari (Masa lalu 3)
19
19. Pertama kali berkumpul (Masa lalu 4)
20
20. Mengenal lebih dekat (Masa lalu 5)
21
21. Kemunculan Das (Masa lalu 6)
22
22. Khawatir (Masa lalu 7)
23
23. Cemburu (Masa lalu 8)
24
24.Perasaan yang berubah (Masa lalu 9)
25
25. Menjebak (Masa lalu 10)
26
26. Hampir (Masa lalu 11)
27
27. Aku Mencintaimu (Masa lalu 12)
28
28. Tidak Mengingat (Masa lalu 13)
29
29. Terjalin (Masa lalu 14)
30
30. Kencan sesungguhnya. (Masa lalu 15)
31
31. Rencana (Masa lalu 16)
32
32. Cincin (Masa lalu 17)
33
33. Lamaran (Masa lalu 18)
34
34. (Masa lalu 19)
35
35. (Masa lalu 20)
36
36 (Masa lalu 21)
37
37. ( Masa lalu 22)
38
38. (Masa lalu 23)
39
39. (Masa lalu 24)
40
40. (Masa lalu 25)
41
41. (Masa lalu 26)
42
42. (Masa lalu 27)
43
43. (Masa Lalu 28)
44
44. (Masa Lalu 29)
45
45. (Masa Lalu 30 )
46
46. ( Masa Lalu 31 )
47
47. ( Masa Lalu 32 )
48
48. ( Masa Lalu 33 )
49
49. ( Masa Lalu 34 )
50
50. ( Masa Lalu 35 )
51
51. ( Masa Lalu 36 )
52
52. ( Masa Lalu 37 )
53
53. ( Masa Lalu 38 )
54
54. ( Masa Lalu 39 )
55
55. ( Masa Lalu 40 )
56
56. ( Masa Lalu 41)
57
57. ( Masa Lalu 42 )
58
58. ( Masa Lalu 43 )
59
59. ( Masa Lalu 44 )
60
60. ( Masa Lalu 45 )
61
61. ( Masa Lalu 46 )
62
62. ( Masa Lalu 47 )
63
63. ( Masa Lalu 48 )
64
64. ( Masa Lalu 49 end )
65
65. Masa Kini1 SB
66
66. Masa Kini2 SB
67
67. Masa Kini3 SB
68
68. Masa Kini4 SB
69
69. Masa Kini5 SB
70
70. Masa Kini6 SB
71
71. Masa Kini7 SB
72
72. Masa Kini8 SB
73
73. Masa Kini9 SB
74
74. Masa Kini10 SB
75
75. Masa Kini11 SB
76
76. Masa Kini12 SB
77
77. Masa Kini13 SB
78
78. Masa Kini14 SB
79
79. Masa Kini15 SB
80
80. Masa Kini16 SB
81
81. Masa Kini17 SB
82
82. Masa Kini18 SB
83
83. Masa Kini19 SB
84
84. Masa Kini20 SB
85
85. Masa Kini21 SB
86
86. Masa Kini22 SB
87
87. Masa Kini23 SB
88
88. Masa Kini24 SB
89
89. Masa Kini25 SB
90
90. Masa Kini26 SB
91
91. Masa Kini27 SB
92
92. Masa Kini28 SB
93
93. Masa Kini29 SB
94
94. Masa Kini30 SB
95
95. Masa Kini31 SB
96
96. Masa Kini32 SB
97
97. Masa Kini33 SB
98
98. Masa Kini34 SB.
99
99. Masa Kini35 SB
100
100. Masa Kini36 SB
101
101. Masa Kini37 SB.
102
102. Masa Kini38 SB
103
103. Masa Kini39 SB
104
104. Masa Kini40 SB
105
105. Masa Kini41 SB
106
106. Masa Kini42 SB
107
107. Masa Kini43 SB
108
108. Masa Kini44 SB
109
109. Masa Kini45 SB
110
110. Masa Kini46 SB
111
111. Masa Kini47 SB
112
112. Masa Kini48 SB
113
113. Masa Kini49 SB
114
114. Masa Kini50 SB
115
115. Masa Kini51 SB
116
116. Masa Kini52 SB
117
117. Masa Kini53 SB
118
118. Masa Kini54 SB
119
119. Masa Kini55 SB
120
120. Masa Kini56 SB
121
121. Masa Kini57 SB
122
122. Masa Kini58 SB
123
123. Masa Kini59 SB
124
124. Masa Kini60 SB
125
125 Masa Kini61 SB.
126
126. Masa Kini62 SB
127
127. Masa Kini63 SB
128
128. Masa Kini64 SB
129
129. Masa Kini65 SB
130
130. Masa Kini66 SB
131
131. Masa Kini67 SB
132
132. Masa Kini68 SB
133
133. Masa Kini69 SB
134
134. Masa Kini70 SB
135
135. Masa Kini71 SB
136
136. Masa Kini72 SB
137
137. Masa Kini73 SB
138
138. Masa Kini74 SB
139
139. Masa Kini75 SB
140
140. Masa Kini76 SB
141
141. Masa Kini78 SB
142
Karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!