Flashback 7 tahun yang lalu - - - - -
"Kau sudah sangat sering datang ke cafe itu selama beberapa hari terakhir ini, Bernardo,"
"Dan sekarang kau datang padaku setelah memberikan hasil kerjamu dengan permintaan konyolmu?"
"Apakah kau sedang bercanda denganku"
Suara datar namun mengintimidasi itu keluar dari sosok pria yang tengah menghisap cerutu di tangannya. Sosoknya yang duduk tegap di kursi kebesarannya dengan dua orang di belakangnya menatap tajam pada Bernardo.
'BUGH,,,,!'
Sebuah pukulan keras mendarat tepat di kepala Bernardo hingga membuat tubuhnya berlutut sembari memegangi kepalanya yang mulai mengeluarkan darah.
Bernardo hanya mengernyit, menatap nanar pada pria yang masih menghisap cerutu di tangannya dengan tenang. Ia bahkan tidak memiliki keinginan untuk membalas perlakuan yang ia terima.
'BUGH,,,!'
Sekali lagi pukulan keras mendarat di sisi kepalanya hingga menghasilkan luka goresan panjang di dahinya dan cukup untuk membuat darahnya mengalir.
"Bukan dia yang menjadi alasanku berhenti," ucap Bernardo tetap di posisi berlutut.
Bernardo melirik sekilas pada orang yang melayangkan tongkat padanya, lalu beralih pada pria bercerutu di depannya.
"Sejak awal, aku memang sudah berniat untuk berhenti setelah semua hutangku padamu terbayar," imbuhnya.
"Dan kau pikir, kau bisa seenaknya keluar begitu saja?" dengus pria itu kembali menghisap cerutunya.
"Tidak," jawab Bernardo menurunkan tangannya masih tetap berlutut.
"Aku tahu ada harga yang harus aku bayar jika aku keluar,"
"Aku juga akan memastikan semua hal yang berkaitan dengan kalian tidak akan keluar ke permukaan," imbuhnya.
"Kurasa, wanita bodoh itu sudah mencuci otakmu," dengus salah satu pria di belakang pria bercerutu.
Bernardo memberikan tatapan tajam pada pria yang baru saja bersuara, kini ia benar-benar mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang tidak ia katakan hanya dengan mendengar ucapanya.
"Dia tidak tahu apa pun, kenapa kau mengusiknya, Das?" tanya Bernardo menahan amarahnya.
"Aku hanya menjalankan perintah," jawab Das menaikkan bahunya.
"Mereka yang mengetahui tentang kita harus di singkirkan sekecil apapun informasi yang dia ketahui," imbuhnya.
"Apa?" sambut Bernardo terkejut dan segera mengarahkan pandanganya pada pria bercerutu.
"Tapi, dia tidak tahu apa pun tentang kita," sanggahnya.
"Apa kau yakin tentang itu?" cibir Das.
"Kau yakin dia tidak tahu tentang pekerjaanmu?" imbuhnya.
"Aku_,,,"
"Fakta bahwa dia mengenalmu tetap tidak bisa di ubah, dan kau tau apa artinya itu," potong Das.
"Apakah kau juga akan menentang perintah, tuan Alastor?" imbuhnya bertanya.
Bernardo kembali menatap pria bercerutu yang selalu ia sebut tuan Alastor, dan segera menunduk tidak berdaya.
'Aku tidak peduli jika aku mati di sini, tapi bagaimana jika mereka menyakiti Ren setelah ini?'
'Aku juga tidak akan bisa melawan mereka seorang diri tanpa rencana apa pun,' batin Bernardo.
Bernardo terdiam cukup lama, berpikir keras dengan menimbang-nimbang hal yang menjadi kemungkinan tertinggi yang bisa terjadi.
"Aku akan tetap melakukan pekerjaanku, tapi tolong lepaskan dia,"
"Aku akan pastikan dia tidak mengetahui apa pun tentang kita,"
"Dan tidak akan melakukan hal apa pun yang bisa membuat keberadaan kita terancam," ucap Bernardo.
"Jadi, kau ingin mengatakan mengurungkan niatmu untuk berhenti?" tanya Alastor.
"Ya," tegas Bernardo.
"Bagaimana jika ternyata dia hanya memanfaatkanmu untuk mendapatkan semua informasi darimu? Dia seorang mata-mata bisa menjadi kemungkinan," ucap Alastor.
"Dia bukan seorang mata-mata, aku sudah menyelidikinya," jawab Bernardo.
"Dan aku yakin Das juga sudah menyelidikinya," imbuhnya.
"Bukankah kau yang mengirim orang-orang itu untuk menghancurkan cafe dan masuk ke apartemennya?" tanya Bernardo.
"Dan kau tentu tahu kenapa aku melakukannya. Semua yang ku lakukan karena aku di perintahkan untuk melakukannya," jawab Das manaikan bahunya dengan ekspresi tak bersalah.
"Bukankah mereka tidak menemukan apapun?" tanya Bernardo.
"Kau bisa pergi sekarang," ucap Alastor datar.
"Apakah_,,,,"
"Aku tidak akan menyentuhnya selama kau melakukan pekerjaanmu," potong Alastor.
"Baik, terima kasih," ucap Bernardo menunduk.
Bernardo segera bangkit dan pergi meninggalkan tempat yang terasa seperti penjara baginya. Perasaan tidak berdaya yang selalu ia rasakan membuat dirinya diam-diam melatih tubuhnya sendiri agar bisa melawan mereka suatu hari nanti.
Meminta bantuan polisi pun tidak akan berguna karena ada anggota mereka yang masuk kedalam kepolisian untuk menjadi mata-mata. Hal itu mambuat pergerakannya sangat terbatas dimana dia hanya seorang diri.
"Apakah tuan sungguh-sungguh akan melepaskan wanita itu?" tanya das.
"Kita biarkan mereka untuk sementara," jawab Alastor.
"Bernardo masih sangat berguna, dan tidak ada yang sebaik dia di sini, termasuk kau Das," imbuhnya.
"Itu adalah hal yang sangat jelas," sambut Das tersenyum.
"Hoo,,, kau langsung mengakuinya?" sambut Alastor.
"Karena dia memang lebih baik dariku," jawab Das tersenyum.
"Semua mobil yang dia dapatkan dan di modifikasi olehnya memiliki nilai jual yang sangat tinggi, dan itu memberikan keuntungan yang besar,"
"Dia hanya lembek," imbuhnya.
"Kau benar. Berbeda denganmu, dia tidak pernah sekali pun membunuh seseorang," sambut Alastor.
"Jadi, mari kita biarkan dia bersenang-senang sebentar dengan wanitanya,"
"Segera singkirkan jika ada hal mencurigakan," imbuhnya.
"Baik," jawab Das mengangguk patuh.
...%%%%%%%%...
"Uungghh,,,,!"
Cyrene merenggangkan tubuhnya dengan menarik kedua tangannya ke atas setelah pekerjaan terakhir selesai.
"Akhirnya renovasi cafe selesai," ucap Gavin tersenyum lega.
"Beberapa pelanggan kita sudah tidak sabar menunggu cafe kita buka," ucap wanita di belakang Gavin.
"Heh,,, kau bahkan hanya membantu dua hari terakhir," cibir Gavin.
"Hei,,, aku tidak datang karena keluargaku sakit," semburnya sembari melempar serbet di tangannya.
"Ya,, Ya,,, Ya,,, apapun,,," sambut Gavin abai melempar kembali serbet itu pada pemiliknya.
"Berhentilah bertengkar!" sela Cyrene.
"Menyebalkan!" sungutnya.
"Uhm,,,, apakah kakak tidur di cafe lagi?" sambungnya bertanya.
"Kurasa begitu," jawab Cyrene.
"Bagaimana jika aku bantu memperbaiki saluran air di apartemen kakak?" tawar Gavin.
"Ini sudah satu minggu lebih kakak tidur di cafe," imbuhnya.
"Kalau tidak, kakak minta bantuan Emma saja untuk mencarikan orang yang lebih bisa di andalkan untuk memperbaiki saluran airnya," tambahnya.
"Tidak perlu," tolak Cyrene.
'Saluran air di apartemen rusak hanya alasan agar kalian tidak banyak bertanya tentang apa yang terjadi.' sambung Cyrene dalam hati.
"Aku sudah mendapat kabar kalau itu akan selesai besok," kilah Cyrene.
"Baiklah, tapi katakan saja jika kakak perlu bantuanku," ucap Gavin.
"Perhatian sekali," cibir Emma.
"Ahh,,, aku baru ingat," seru Emma tiba-tiba sembari memberikan senyum jahil.
"Bagaimana dengan kecan buta kakak? Apakah dia tampan? Dia terlihat tampan dari foto yang dia kirimkan padaku_,,, aduhhh,,"
Emma mengaduh sebelum ia menyelesaikan kalimatnya saat Cyrene menarik hidungnya.
"Kau harus minta maaf padanya," ucap Cyrene.
"Aku seperti orang bodoh saat betemu dengannya karena tidak tahu apa pun yang kau bicarakan dengannya dan memilih mengatakan apa adanya,"
"Jadi, kau harus minta maaf dan jelaskan dengan benar apa yang terjadi," ucap Cyrene.
"Iya,,, Iya,,, aku mengerti," jawab Emma mengusap hidungnya.
"Apakah itu artinya kencan butanya berhasil?" imbuhnya bertanya.
"Kak Bernardo sering datang kemari, tapi sudah satu minggu ini tidak terlihat," sela Gavin.
"Kamu terlihat akrab dengannya," sambut Emma menyipitkan matanya.
"Kesan pertama, aku sempat mengira kak Bernardo adalah tipe arogan, tapi ternyata dia orang yang sangat baik," papar Gavin.
"Jika kak Bernardo adalah orang yang kamu maksud di kencan buta ini, maka aku akan setuju jika kak Ren bersama kak Bernardo," tambahnya.
"Woah,,,, sepertinya aku menemukan pasangan yang baik untuk kak Ren," sambut Emma bertepuk tangan.
"Emma,,,!" tegur Cyrene berkacak pinggang.
"Kalau aku tidak begitu, kakak mana mau berkencan. Padahal kakak cantik_,, bukan, tapi sangat cantik tapi sibuk di cafe sampai mengabaikan setiap orang yang mendekati kakak," jawab Emma tanpa beban.
"Apakah kamu ingin bonusmu hilang bulan ini, Emma?" gertak Cyrene.
"Oh,,, tidak masalah. Aku rela kehilangan bonus asalkan kakak bisa berkencan dengan pria tampan yang aku pilih," jawab Emma percaya diri.
"Astaga,,, anak ini,,," sambut Cyrene menepuk dahinya.
Emma hanya tersenyum lebar, membuat Cyrene dan Gavin tertawa. Merasa hal seperti itu adalah hal yang biasa mereka lakukan.
Mereka berdua yang sudah bersama Cyrene sejak dia mulai merintis usahanya, mengenal dengan sangat baik sosok Cyrene yang mereka anggap sebagai kakak.
Cyrene bahkan tidak menyelesaikan pendidikannya dan memilih membantu mereka berdua membiayai pendidikan mereka berdua, dan kini keduanya berkerja untuknya.
"Lebih baik sekarang kalian berdua pulang," ucap Cyrene.
"Kita akan membuka cafe nya lusa, dan besok akan cukup sibuk,"
"Kamu juga perlu membuat kudapan andalanmu, Emma," tambahnya.
"Kakak tenang saja, aku sudah siap untuk besok," sahut Emma mengangkat satu tangannya dengan jari terkepal..
"Ahh,,, satu hal yang hampir ku lupa," ucap Cyrene beralih pada Gavin.
"Besok, pergilah ke toko langganan kita dan minta mereka untuk mengirimkan susu dan krimer," lanjutnya.
"Baik kak," sahut Gavin.
"Aku juga sudah memesan biji kopinya dan itu akan di antar besok," lanjutnya.
"Baiklah, sekarang pulanglah," ucap Cyrene.
Emma dan Gavin pamit, sementara Cyrene tetap berada di cafe dan segera mengunci pintu setelah dua karyawannya itu pergi. Kepergian dua orang itu membuat Cyrene terusik dengan perkataan Gavin sebelumnya.
"Satu minggu, benar, dia sudah satu minggu ini tidak terlihat, apakah terjadi sesuatu padanya? Dia bahkan tidak menghubungiku sama sekali," gumam Cyrene dengan raut wajah khawatir.
Cyrene menatap keluar cafe selama beberapa saat, dan baru saja berbalik untuk menjauh dari pintu ketika sebuah ketukan pintu membuat dirinya kembali berbalik menghadap pintu hanya untuk melihat Bernardo berdiri di luar cafe.
Cyrene bergegas membuka pintu, berniat untuk melempar banyak pertanyaan pada pria itu ketika ia melihat darah yang mengalir di garis pipi dan leher Bernardo hingga ia menelan kembali semua pertanyaan di gantikan dengan raut wajah khawatir.
"Apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa seperti ini?" tanya Cyrene panik.
. . . . .
. . . . .
To be continued,,,,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Rona Risa
kasihan bernardo 🥺
2024-04-08
1
Rona Risa
karyawan teladan 🤣
2024-04-08
1
Rona Risa
sangat berhasil 🤭
2024-04-08
1