### Keesokan harinya......
Cyrene keluar dari apartemennya untuk berangkat kerja seperti biasanya dengan menggunakan jasa taksi yang telah ia pesan sebelumnya.
Entah apa yang membuatnya menoleh kebelakang beberapa kali, Cyrene merasakan dirinya tengah diawasi. Ia mengelengkan kepalanya, mengusir pikiran buruk yang sempat masuk ke dalam pikirannya dan mencoba untuk mengabaikannya.
Taksi berhenti di depan sebuah Cafe yang masih tutup. Setelah membayar ongkos taksi, Cyrene berjalan kearah Cafe sembari tangannya merogoh kedalam tasnya untuk mengeluarkan kunci.
Cyrene melangkah masuk, meletakkan tasnya, meraih apron hitam yang ia gantung untuk ia kenakan, lalu mengikat rambutnya dan mulai membersihkan alat-alat, meja, serta lantai cafe.
Merasa semua telah siap, ia membalik papan yang tergantung di pintu masuk, 'OPEN'.
Lonceng yang berada diatas pintu cafe berbunyi membuat Cyrene mengarahkan pandangannya ke pintu lalu tersenyum ramah.
"Maaf kak, aku terlambat," ujar pemuda yang baru saja datang.
"Tak apa, kau tidak terlalu terlambat karena pengunjung belum datang," jawab Cyrene tersenyum.
"Tapi, aku penasaran apa yang terjadi? Kamu bukan orang yang akan terlambat tanpa alasan," tanya Cyrene.
"Motor ku bermasalah," jawabnya sembari menggosok belakang lehernya.
"Dan kau terpaksa mendorong motormu mencapai bengkel?" tebak Cyrene.
"Benar," jawabnya tersipu.
"Baiklah, itu hal yang tak bisa dihindari. Aku bisa mengerti, Gavin," sambut Cyrene.
"Terima kasih," sahut Gavin lega.
Dia pun bergegas mengenakan apron miliknya. Mempersiapkan cangkir cangkir kopi serta memasukkan biji kopi pada mesin dan mengoperasikan mesinnya.
Lonceng diatas pintu kembali terdengar diikuti dengan beberapa pengunjung memasuki cafe. Gavin segera menghampiri mereka, sementara Cyrene mulai menuangkan kopi pada cangkir yang telah disiapkan Gavin ketika mendengar bunyi 'Bib'.
"Oke,,, Ini yang terakhir," ucap Gavin.
Gavin meletakkan kopi di meja terakhir dan kembali duduk di kursi yang ada didepan minibar.
Lonceng kembali terdengar diikuti dengan seorang pria berperawakan tinggi besar melangkah masuk. Gavin bersiap berdiri untuk melayani pria itu. Namun, pria itu berjalan mendekati bar dan berdiri didepan Cyrene yang tengah fokus dengan komputer di depannya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Gavin ramah.
"Yah,,, Tentu,,, satu Piccolo untukku," jawabnya datar.
"Baik, mohon tunggu sebentar," jawab Gavin ramah.
Cyrene merasa familiar dengan suara yang baru saja dia dengar segera mendongak dan tatapan mereka bertemu. Pria itu tersenyum geli melihat reaksi Cyrene yang melebarkan kedua matanya.
"Bernardo?" desis Cyrene terkejut.
"Aku sempat berpikir kamu tidak mengingat namaku," sambut Bernardo.
"Eh,,, Apakah tuan ini kenalan kakak?" tanya Gavin saat menyiapkan cangkir.
"Ehmm,,, Ya," jawab Cyrene ragu.
"Jawabanmu terdengar ragu," sindir Bernardo terkekeh pelan.
"Bu-bukan begitu," sanggah Cyrene terbata.
"Tapi_,,,,"
"Ragu karena berpikir aku akan bersikap tidak mengenalmu?" tebak Bernardo seolah bisa membaca pikiran Cyrene.
Cyrene mengosok belakang telinganya dengan jari telunjuk, tersipu.
"Ini pesanan anda," Gavin menyela seraya menyodorkan secangkir kopi pada Bernardo dengan sopan.
"Terima kasih," ucap Bernardo tersenyum kecil pada Gavin lalu duduk di salah satu kursi yang ada didepan Cyrene.
"Apakah kamu ingin makan sesuatu sebagai pendamping?" tawar Cyrene ramah.
"Itu terdengar enak, tapi maaf sekali aku harus menolaknya. Apakah tidak apa-apa?" sambut Bernardo bertanya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf hanya karena menolak tawaranku. Kamu bisa menolak jika tidak ingin.Tidak semua pengunjung menerima tawaran makanan pendamping, itu hanya untuk mereka yang menginginkannya," jawab Cyrene ramah.
"Terima kasih," sambut Bernardo lalu menyeruput kopinya.
"Ini pertama kalinya kamu datang ke cafe ini, apakah kamu memiliki urusan di dekat sini?" tanya Cyrene.
"Tidak," mengeleng seraya meletakkan cangkir di tangannya.
"Aku hanya ingin kemari dan melihat cafe ini sedikit ramai, dan itu membuatku penasaran. Namun, siapa sangka aku justru akan bertemu denganmu lagi," imbuhnya.
Cyrene tersenyum ramah tanpa rasa curiga sampai Bernando kembali berbicara.
"Apakah cafe ini milikmu?" tanyanya.
"Kulihat, pemuda itu menghormatimu," imbuhnya
"Uhm,,, Yah,, begitulah," jawab Cyrene.
"Pemilik sekaligus barista?" tanya Bernando lagi.
"Ya,"
"Kenapa kamu tidak menyerahkan bagian ini kepada bawahanmu?" tanya Bernando.
"Perlu waktu untuk belajar meracik kopi, dan aku tidak bisa asal tunjuk yang akan membuat rasa kopi yang aku sediakan di cafe ini berubah," terang Cyrene.
"Ah,,, aku mengerti," sambut Bernando kembali menyeruput kopinya.
"Omong-omong apakah kalian hanya berdua?" tanya Bernardo lagi.
"Sebenarnya bertiga, tapi satu orang tidak datang hari ini karena urusan keluarga," jawab Cyrene.
Lonceng yang ada diatas pintu cafe kembali berbunyi menandakan seseorang masuk. Beberapa pengunjung datang secara bersamaan dan memilih tempat duduk masing-masing.
"Aku akan urus ini, kak Ren yang urus kopinya," ucap Gavin.
"Baiklah," sambut Cyrene.
Gavin mendekati mereka untuk menanyakan pesanan mereka.
"Maaf, aku akan mengurus ini sebentar," ucap Cyrene pada Bernardo.
"Tentu, apakah aku perlu pindah?" tanya Bernardo.
"Tidak, siapa pun boleh duduk disitu, karena itu juga di siapkan untuk pengunjung," jawab Cyrene tanpa menoleh.
Tangannya bergerak cepat menyiapkan beberapa cangkir dan mulai meracik kopi. Disaat tangannya meletakkan penyaring kopi, tangan lain yang bebas menekan tombol mesin.
"Lima Latte, dua Espreso, tiga White Flat, empat Picollo, dan satu Double Shoot," ucap Gavin lalu pergi lagi saat ada pelanggan yang memanggilnya.
Tanpa bertanya ulang, Cyrene dapat mengingat semua yang di sebutkan Gavin tanpa kesalahan, bahkan beberapa pesanan datang lagi dan dapat teratasi dengan tepat.
Cyrene menyesuaikan bahan-bahan pelengkap yang diperlukan dan menuang kopi ke masing-masing cangkir dengan cepat dan mulai meletakkan di meja bar untuk memudahkan Gavin mengantarkan tiap pesanan. Terakhir, Cyrene melukis art pada Latte terakhir yang telah siap.
'Dia sangat cekatan dan terampil. Aku benar-benar terkesan dengan keahliannya,' batin Bernardo tersenyum tipis.
'Sayang sekali yang menyiapkan minumanku bukan dia. Apakah jika dia yang membuatnya akan membuat perbedaan pada rasanya?' bisik hatinya lalu mendesah pelan.
"Apakah semua baik-baik saja?" tanya Cyrene mendekati meja dimana Bernardo duduk.
"Semua baik, mengapa kamu bertanya?" jawab Bernardo balas bertanya.
"Karena tadi kamu mendesah, jadi aku pikir mungkin ada sesuatu yang salah, mungkin dengan rasa kopinya?" jawab Cyrene.
"Tidak, hanya memikirkan pekerjaan," jawab Bernardo mengelak.
"Benarkah?" tanya Cyrene kurang percaya.
"Tentu saja," jawab Bernardo.
"Omong-omong aku masih belum tau pasti tentang pekerjaanmu selain kamu hanya mengatakan berhubungan dengan mobil," ucap Cyrene.
"Bisa kamu jelaskan lebih spesifik lag_,,,"
"Dua Doppio." Gavin kembali menyela obrolan mereka.
Cyrene tersenyum meminta maaf, sementara Bernardo hanya mengangkat bahunya dan tersenyum penuh pengertian.
Cyrene kembali meninggalkan Bernardo. Hingga tidak menyadari pandangan Bernardo terus tertuju pada Cyrene tanpa sekali pun mengalihkan perhatiannya.
'Sepertinya tempat ini cukup ramai ketika pagi," pikirnya.
Setelah menghabiskan minumanya, Bernardo melihat jam tangannya, berniat untuk pergi meninggalkan cafe. Setelah meletakkan uang dibawah cangkir minumannyanya, ia pergi tanpa mengatakan apa pun saat melihat Cyrene sibuk menyiapkan kopi dan kudapan untuk pengunjung yang datang.
Suasana cafe berangsur-angsur lenggang. Gavin membereskan meja ketika pengunjung meninggalkan meja mereka. Sementara Cyrene mencatat semua pemasukan di komputer miliknya.
Gavin dan Cyrene saling membantu memastikan semua pengunjung puas dengan minuman dan kudapan mereka.
"Haahhh,,, akhirnya beres," desah Gavin setelah selesai mencuci gelas terakhir.
"Sepertinya hari ini lebih ramai dari kemarin," ucap Cyrene sambil membersihkan meja dengan serbet.
"Aku bahkan sampai tidak sadar saat teman kakak pergi," ucap Gavin.
"Aku pun tidak," jawab Cyrene mendekati meja dimana tadi Bernardo duduk.
"Haahh,,, Kenapa dia meninggalkan uang sebanyak ini," desah Cyrene ketika mengambil cangkir dan menemukan uang dibawahnya.
"Kenapa kak?" tanya Gavin mendekati Cyrene dan mengambil alih cangkir ditangannya.
"Bagaimana cara memberikan uang kembaliannya kalau begini? Kita bahkan tidak tau dia akan datang lagi atau tidak," ucap Cyrene.
"Dia pasti datang lagi," jawab Gavin percaya diri.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?" tanya Cyrene.
"Insting," jawab Gavin asal.
"Lagi pula, kak Ren kan bisa menghubunginya. Bukankah itu lebih mudah?" tanya Gavin.
"Benar juga," sahut Cyrene.
"Tunggu sebentar,,," Cyrene melirik jam yang tergantung di dinding cafe.
"Kurasa aku bisa menghubunginya sebentar," sambungnya.
Gavin tersenyum jahil.
"Dia terlihat garang, tapi berhati lembut," celetuk Gavin.
"Oh diamlah," sahut Cyrene.
"Aku serius kak. Apakah kak Ren tidak sadar dia menatap kak Ren sangat dalam," goda Gavin.
"Berisik!" sahut Cyrene.
Gavin tergelak, sementara Cyrene mencoba untuk mengubungi Bernardo. Namun, ketika panggilannya di angkat, Cyrene tidak mengenali suara yang menjawab panggilannya, membuat Cyrene mematikan ponselnya dengan cepat.
"Aneh," gumam Cyrene pelan.
"Kenapa kak?" tanya Gavin.
"Aneh sekali, yang menjawab panggilanku bukan dia," jawab Cyrene.
Suara lonceng kembali mengalihkan perhatian Cyrene. Membuat Cyrene melupakan sejenak hal aneh yang menganjal di hatinya, meletakkan ponselnya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Tanpa disadari olehnya, ponsel Cyrene berkedip beberapa kali. Tak lama setelah ponselnya berkedip, sebuah panggilan masuk dengan nama 'Bernardo' tertera di layar ponsel.
Detik berikutnya, pesan Bernardo masuk dan kembali panggilan darinya kembali muncul.
@Bernardo
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Hubungi aku segera setelah kamu membaca pesanku!"
Pesan dari Bernardo kembali masuk dan di akhiri dengan ponsel Cyrene mati.
Ketika hari berubah gelap dan cafe telah tutup, Gavin dan Cyrene melangkah keluar cafe, tak lupa ia juga mengunci pintunya.
"Kak Ren mau aku antar?" tawar Gavin.
"Tidak perlu, aku bisa pesan taksi," tolak Cyrene seraya mengeluarkan ponsel.
"Oh Tidak,,," desis Cyrene menyadari ponselnya mati.
"Kenapa kak?" tanya Gavin.
"Gavin, bisa tolong pesankan taksi untukku?ponselku mati entah bagaimana," pinta Cyrene.
"Tentu kak, tunggu sebentar,,," sahut Gavin seraya mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi untuk Cyrene.
"Terima kasih banyak Gavin," sambut Cyrene.
"Kak Ren tak perlu sungkan padaku. Tapi, aku tidak mengerti, tidak biasanya ponsel kakak mati," ucap Gavin heran.
"Entahlah, mungkin aku lupa mengisi daya ponselku sebelum berangkat, aku akan isi dayanya begitu tiba diapartemenku," jawab Cyrene.
Beberapa menit kemudian, taksi yang Gavin pesan datang. Cyrene berterima kasih sekali lagi sebelum masuk ke dalam taksi.
"Hati-hati kak, hubungi aku kalau kakak membutuhkan sesuatu," ucap Gavin.
"Tentu, selamat malam, Gavin," sahut Cyrene melambai pada Gavin yang segera membalasnya.
Gavin pun berjalan menuju bengkel tempat dirinya meletakkan motornya. Tanpa menyadari sebuah mobil hitam mengikuti taksi yang di naiki Cyrene hingga tiba di apartemennya.
Cyrene melangkah menuju apartemennya tanpa rasa curiga sampai ia berada di dalam apartemen.
"Aahh,,, hari ini melelahkan sekali," desahnya pelan.
Setelah meletakkan tasnya, Cyrene masuk ke kamarnya berniat untuk mengisi daya ponselnya yang mati. Membiarkan ponselnya yang terhubung dengan kabel sementara dirinya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melepas lelah.
Tepat saat Cyrene menutup pintu kamar mandi, sebuah siluet seseorang muncul di balik tirai yang menutupi jendela menuju balkon di kamarnya.
. . . . . .
. . . . . .
To be continued,,,,,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Vincar
kerja di kafe ternyata 😊
2024-06-11
1
Birru
takut ihh siapa ya kira"
2024-06-01
1
Utayiresna🌷
aku kasih bunga sama iklan🌹
2024-05-09
1