5. Datang ke Cafe

### Keesokan harinya......

Cyrene keluar dari apartemennya untuk berangkat kerja seperti biasanya dengan menggunakan jasa taksi yang telah ia pesan sebelumnya.

Entah apa yang membuatnya menoleh kebelakang beberapa kali, Cyrene merasakan dirinya tengah diawasi. Ia mengelengkan kepalanya, mengusir pikiran buruk yang sempat masuk ke dalam pikirannya dan mencoba untuk mengabaikannya.

Taksi berhenti di depan sebuah Cafe yang masih tutup. Setelah membayar ongkos taksi, Cyrene berjalan kearah Cafe sembari tangannya merogoh kedalam tasnya untuk mengeluarkan kunci.

Cyrene melangkah masuk, meletakkan tasnya, meraih apron hitam yang ia gantung untuk ia kenakan, lalu mengikat rambutnya dan mulai membersihkan alat-alat, meja, serta lantai cafe.

Merasa semua telah siap, ia membalik papan yang tergantung di pintu masuk, 'OPEN'.

Lonceng yang berada diatas pintu cafe berbunyi membuat Cyrene mengarahkan pandangannya ke pintu lalu tersenyum ramah.

"Maaf kak, aku terlambat," ujar pemuda yang baru saja datang.

"Tak apa, kau tidak terlalu terlambat karena pengunjung belum datang," jawab Cyrene tersenyum.

"Tapi, aku penasaran apa yang terjadi? Kamu bukan orang yang akan terlambat tanpa alasan," tanya Cyrene.

"Motor ku bermasalah," jawabnya sembari menggosok belakang lehernya.

"Dan kau terpaksa mendorong motormu mencapai bengkel?" tebak Cyrene.

"Benar," jawabnya tersipu.

"Baiklah, itu hal yang tak bisa dihindari. Aku bisa mengerti, Gavin," sambut Cyrene.

"Terima kasih," sahut Gavin lega.

Dia pun bergegas mengenakan apron miliknya. Mempersiapkan cangkir cangkir kopi serta memasukkan biji kopi pada mesin dan mengoperasikan mesinnya.

Lonceng diatas pintu kembali terdengar diikuti dengan beberapa pengunjung memasuki cafe. Gavin segera menghampiri mereka, sementara Cyrene mulai menuangkan kopi pada cangkir yang telah disiapkan Gavin ketika mendengar bunyi 'Bib'.

"Oke,,, Ini yang terakhir," ucap Gavin.

Gavin meletakkan kopi di meja terakhir dan kembali duduk di kursi yang ada didepan minibar.

Lonceng kembali terdengar diikuti dengan seorang pria berperawakan tinggi besar melangkah masuk. Gavin bersiap berdiri untuk melayani pria itu. Namun, pria itu berjalan mendekati bar dan berdiri didepan Cyrene yang tengah fokus dengan komputer di depannya.

"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Gavin ramah.

"Yah,,, Tentu,,, satu Piccolo untukku," jawabnya datar.

"Baik, mohon tunggu sebentar," jawab Gavin ramah.

Cyrene merasa familiar dengan suara yang baru saja dia dengar segera mendongak dan tatapan mereka bertemu. Pria itu tersenyum geli melihat reaksi Cyrene yang melebarkan kedua matanya.

"Bernardo?" desis Cyrene terkejut.

"Aku sempat berpikir kamu tidak mengingat namaku," sambut Bernardo.

"Eh,,, Apakah tuan ini kenalan kakak?" tanya Gavin saat menyiapkan cangkir.

"Ehmm,,, Ya," jawab Cyrene ragu.

"Jawabanmu terdengar ragu," sindir Bernardo terkekeh pelan.

"Bu-bukan begitu," sanggah Cyrene terbata.

"Tapi_,,,,"

"Ragu karena berpikir aku akan bersikap tidak mengenalmu?" tebak Bernardo seolah bisa membaca pikiran Cyrene.

Cyrene mengosok belakang telinganya dengan jari telunjuk, tersipu.

"Ini pesanan anda," Gavin menyela seraya menyodorkan secangkir kopi pada Bernardo dengan sopan.

"Terima kasih," ucap Bernardo tersenyum kecil pada Gavin lalu duduk di salah satu kursi yang ada didepan Cyrene.

"Apakah kamu ingin makan sesuatu sebagai pendamping?" tawar Cyrene ramah.

"Itu terdengar enak, tapi maaf sekali aku harus menolaknya. Apakah tidak apa-apa?" sambut Bernardo bertanya.

"Kamu tidak perlu meminta maaf hanya karena menolak tawaranku. Kamu bisa menolak jika tidak ingin.Tidak semua pengunjung menerima tawaran makanan pendamping, itu hanya untuk mereka yang menginginkannya," jawab Cyrene ramah.

"Terima kasih," sambut Bernardo lalu menyeruput kopinya.

"Ini pertama kalinya kamu datang ke cafe ini, apakah kamu memiliki urusan di dekat sini?" tanya Cyrene.

"Tidak," mengeleng seraya meletakkan cangkir di tangannya.

"Aku hanya ingin kemari dan melihat cafe ini sedikit ramai, dan itu membuatku penasaran. Namun, siapa sangka aku justru akan bertemu denganmu lagi," imbuhnya.

Cyrene tersenyum ramah tanpa rasa curiga sampai Bernando kembali berbicara.

"Apakah cafe ini milikmu?" tanyanya.

"Kulihat, pemuda itu menghormatimu," imbuhnya

"Uhm,,, Yah,, begitulah," jawab Cyrene.

"Pemilik sekaligus barista?" tanya Bernando lagi.

"Ya,"

"Kenapa kamu tidak menyerahkan bagian ini kepada bawahanmu?" tanya Bernando.

"Perlu waktu untuk belajar meracik kopi, dan aku tidak bisa asal tunjuk yang akan membuat rasa kopi yang aku sediakan di cafe ini berubah," terang Cyrene.

"Ah,,, aku mengerti," sambut Bernando kembali menyeruput kopinya.

"Omong-omong apakah kalian hanya berdua?" tanya Bernardo lagi.

"Sebenarnya bertiga, tapi satu orang tidak datang hari ini karena urusan keluarga," jawab Cyrene.

Lonceng yang ada diatas pintu cafe kembali berbunyi menandakan seseorang masuk. Beberapa pengunjung datang secara bersamaan dan memilih tempat duduk masing-masing.

"Aku akan urus ini, kak Ren yang urus kopinya," ucap Gavin.

"Baiklah," sambut Cyrene.

Gavin mendekati mereka untuk menanyakan pesanan mereka.

"Maaf, aku akan mengurus ini sebentar," ucap Cyrene pada Bernardo.

"Tentu, apakah aku perlu pindah?" tanya Bernardo.

"Tidak, siapa pun boleh duduk disitu, karena itu juga di siapkan untuk pengunjung," jawab Cyrene tanpa menoleh.

Tangannya bergerak cepat menyiapkan beberapa cangkir dan mulai meracik kopi. Disaat tangannya meletakkan penyaring kopi, tangan lain yang bebas menekan tombol mesin.

"Lima Latte, dua Espreso, tiga White Flat, empat Picollo, dan satu Double Shoot," ucap Gavin lalu pergi lagi saat ada pelanggan yang memanggilnya.

Tanpa bertanya ulang, Cyrene dapat mengingat semua yang di sebutkan Gavin tanpa kesalahan, bahkan beberapa pesanan datang lagi dan dapat teratasi dengan tepat.

Cyrene menyesuaikan bahan-bahan pelengkap yang diperlukan dan menuang kopi ke masing-masing cangkir dengan cepat dan mulai meletakkan di meja bar untuk memudahkan Gavin mengantarkan tiap pesanan. Terakhir, Cyrene melukis art pada Latte terakhir yang telah siap.

'Dia sangat cekatan dan terampil. Aku benar-benar terkesan dengan keahliannya,' batin Bernardo tersenyum tipis.

'Sayang sekali yang menyiapkan minumanku bukan dia. Apakah jika dia yang membuatnya akan membuat perbedaan pada rasanya?' bisik hatinya lalu mendesah pelan.

"Apakah semua baik-baik saja?" tanya Cyrene mendekati meja dimana Bernardo duduk.

"Semua baik, mengapa kamu bertanya?" jawab Bernardo balas bertanya.

"Karena tadi kamu mendesah, jadi aku pikir mungkin ada sesuatu yang salah, mungkin dengan rasa kopinya?" jawab Cyrene.

"Tidak, hanya memikirkan pekerjaan," jawab Bernardo mengelak.

"Benarkah?" tanya Cyrene kurang percaya.

"Tentu saja," jawab Bernardo.

"Omong-omong aku masih belum tau pasti tentang pekerjaanmu selain kamu hanya mengatakan berhubungan dengan mobil," ucap Cyrene.

"Bisa kamu jelaskan lebih spesifik lag_,,,"

"Dua Doppio." Gavin kembali menyela obrolan mereka.

Cyrene tersenyum meminta maaf, sementara Bernardo hanya mengangkat bahunya dan tersenyum penuh pengertian.

Cyrene kembali meninggalkan Bernardo. Hingga tidak menyadari pandangan Bernardo terus tertuju pada Cyrene tanpa sekali pun mengalihkan perhatiannya.

'Sepertinya tempat ini cukup ramai ketika pagi," pikirnya.

Setelah menghabiskan minumanya, Bernardo melihat jam tangannya, berniat untuk pergi meninggalkan cafe. Setelah meletakkan uang dibawah cangkir minumannyanya, ia pergi tanpa mengatakan apa pun saat melihat Cyrene sibuk menyiapkan kopi dan kudapan untuk pengunjung yang datang.

Suasana cafe berangsur-angsur lenggang. Gavin membereskan meja ketika pengunjung meninggalkan meja mereka. Sementara Cyrene mencatat semua pemasukan di komputer miliknya.

Gavin dan Cyrene saling membantu memastikan semua pengunjung puas dengan minuman dan kudapan mereka.

"Haahhh,,, akhirnya beres," desah Gavin setelah selesai mencuci gelas terakhir.

"Sepertinya hari ini lebih ramai dari kemarin," ucap Cyrene sambil membersihkan meja dengan serbet.

"Aku bahkan sampai tidak sadar saat teman kakak pergi," ucap Gavin.

"Aku pun tidak," jawab Cyrene mendekati meja dimana tadi Bernardo duduk.

"Haahh,,, Kenapa dia meninggalkan uang sebanyak ini," desah Cyrene ketika mengambil cangkir dan menemukan uang dibawahnya.

"Kenapa kak?" tanya Gavin mendekati Cyrene dan mengambil alih cangkir ditangannya.

"Bagaimana cara memberikan uang kembaliannya kalau begini? Kita bahkan tidak tau dia akan datang lagi atau tidak," ucap Cyrene.

"Dia pasti datang lagi," jawab Gavin percaya diri.

"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?" tanya Cyrene.

"Insting," jawab Gavin asal.

"Lagi pula, kak Ren kan bisa menghubunginya. Bukankah itu lebih mudah?" tanya Gavin.

"Benar juga," sahut Cyrene.

"Tunggu sebentar,,," Cyrene melirik jam yang tergantung di dinding cafe.

"Kurasa aku bisa menghubunginya sebentar," sambungnya.

Gavin tersenyum jahil.

"Dia terlihat garang, tapi berhati lembut," celetuk Gavin.

"Oh diamlah," sahut Cyrene.

"Aku serius kak. Apakah kak Ren tidak sadar dia menatap kak Ren sangat dalam," goda Gavin.

"Berisik!" sahut Cyrene.

Gavin tergelak, sementara Cyrene mencoba untuk mengubungi Bernardo. Namun, ketika panggilannya di angkat, Cyrene tidak mengenali suara yang menjawab panggilannya, membuat Cyrene mematikan ponselnya dengan cepat.

"Aneh," gumam Cyrene pelan.

"Kenapa kak?" tanya Gavin.

"Aneh sekali, yang menjawab panggilanku bukan dia," jawab Cyrene.

Suara lonceng kembali mengalihkan perhatian Cyrene. Membuat Cyrene melupakan sejenak hal aneh yang menganjal di hatinya, meletakkan ponselnya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Tanpa disadari olehnya, ponsel Cyrene berkedip beberapa kali. Tak lama setelah ponselnya berkedip, sebuah panggilan masuk dengan nama 'Bernardo' tertera di layar ponsel.

Detik berikutnya, pesan Bernardo masuk dan kembali panggilan darinya kembali muncul.

@Bernardo

"Apakah kamu baik-baik saja?"

"Hubungi aku segera setelah kamu membaca pesanku!"

Pesan dari Bernardo kembali masuk dan di akhiri dengan ponsel Cyrene mati.

Ketika hari berubah gelap dan cafe telah tutup, Gavin dan Cyrene melangkah keluar cafe, tak lupa ia juga mengunci pintunya.

"Kak Ren mau aku antar?" tawar Gavin.

"Tidak perlu, aku bisa pesan taksi," tolak Cyrene seraya mengeluarkan ponsel.

"Oh Tidak,,," desis Cyrene menyadari ponselnya mati.

"Kenapa kak?" tanya Gavin.

"Gavin, bisa tolong pesankan taksi untukku?ponselku mati entah bagaimana," pinta Cyrene.

"Tentu kak, tunggu sebentar,,," sahut Gavin seraya mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi untuk Cyrene.

"Terima kasih banyak Gavin," sambut Cyrene.

"Kak Ren tak perlu sungkan padaku. Tapi, aku tidak mengerti, tidak biasanya ponsel kakak mati," ucap Gavin heran.

"Entahlah, mungkin aku lupa mengisi daya ponselku sebelum berangkat, aku akan isi dayanya begitu tiba diapartemenku," jawab Cyrene.

Beberapa menit kemudian, taksi yang Gavin pesan datang. Cyrene berterima kasih sekali lagi sebelum masuk ke dalam taksi.

"Hati-hati kak, hubungi aku kalau kakak membutuhkan sesuatu," ucap Gavin.

"Tentu, selamat malam, Gavin," sahut Cyrene melambai pada Gavin yang segera membalasnya.

Gavin pun berjalan menuju bengkel tempat dirinya meletakkan motornya. Tanpa menyadari sebuah mobil hitam mengikuti taksi yang di naiki Cyrene hingga tiba di apartemennya.

Cyrene melangkah menuju apartemennya tanpa rasa curiga sampai ia berada di dalam apartemen.

"Aahh,,, hari ini melelahkan sekali," desahnya pelan.

Setelah meletakkan tasnya, Cyrene masuk ke kamarnya berniat untuk mengisi daya ponselnya yang mati. Membiarkan ponselnya yang terhubung dengan kabel sementara dirinya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melepas lelah.

Tepat saat Cyrene menutup pintu kamar mandi, sebuah siluet seseorang muncul di balik tirai yang menutupi jendela menuju balkon di kamarnya.

. . . . . .

. . . . . .

To be continued,,,,,

Terpopuler

Comments

Vincar

Vincar

kerja di kafe ternyata 😊

2024-06-11

1

Birru

Birru

takut ihh siapa ya kira"

2024-06-01

1

Utayiresna🌷

Utayiresna🌷

aku kasih bunga sama iklan🌹

2024-05-09

1

lihat semua
Episodes
1 1. Camp
2 2.Peduli
3 3.Pertemuan
4 4.Rasa Takut
5 5. Datang ke Cafe
6 6. Bahaya!
7 7. Di Ganggu.
8 8. Tiba-tiba
9 9. Pindah,,,?!?
10 10. Masa kini
11 11. Hadiah
12 12. Kejadian
13 13. Melihatnya
14 14. Sikap abai
15 15. Misi Ringan
16 16. Sepakat (Masa lalu 1)
17 17. Rasa Khawatir (Masa lalu 2)
18 18. Keributan pagi hari (Masa lalu 3)
19 19. Pertama kali berkumpul (Masa lalu 4)
20 20. Mengenal lebih dekat (Masa lalu 5)
21 21. Kemunculan Das (Masa lalu 6)
22 22. Khawatir (Masa lalu 7)
23 23. Cemburu (Masa lalu 8)
24 24.Perasaan yang berubah (Masa lalu 9)
25 25. Menjebak (Masa lalu 10)
26 26. Hampir (Masa lalu 11)
27 27. Aku Mencintaimu (Masa lalu 12)
28 28. Tidak Mengingat (Masa lalu 13)
29 29. Terjalin (Masa lalu 14)
30 30. Kencan sesungguhnya. (Masa lalu 15)
31 31. Rencana (Masa lalu 16)
32 32. Cincin (Masa lalu 17)
33 33. Lamaran (Masa lalu 18)
34 34. (Masa lalu 19)
35 35. (Masa lalu 20)
36 36 (Masa lalu 21)
37 37. ( Masa lalu 22)
38 38. (Masa lalu 23)
39 39. (Masa lalu 24)
40 40. (Masa lalu 25)
41 41. (Masa lalu 26)
42 42. (Masa lalu 27)
43 43. (Masa Lalu 28)
44 44. (Masa Lalu 29)
45 45. (Masa Lalu 30 )
46 46. ( Masa Lalu 31 )
47 47. ( Masa Lalu 32 )
48 48. ( Masa Lalu 33 )
49 49. ( Masa Lalu 34 )
50 50. ( Masa Lalu 35 )
51 51. ( Masa Lalu 36 )
52 52. ( Masa Lalu 37 )
53 53. ( Masa Lalu 38 )
54 54. ( Masa Lalu 39 )
55 55. ( Masa Lalu 40 )
56 56. ( Masa Lalu 41)
57 57. ( Masa Lalu 42 )
58 58. ( Masa Lalu 43 )
59 59. ( Masa Lalu 44 )
60 60. ( Masa Lalu 45 )
61 61. ( Masa Lalu 46 )
62 62. ( Masa Lalu 47 )
63 63. ( Masa Lalu 48 )
64 64. ( Masa Lalu 49 end )
65 65. Masa Kini1 SB
66 66. Masa Kini2 SB
67 67. Masa Kini3 SB
68 68. Masa Kini4 SB
69 69. Masa Kini5 SB
70 70. Masa Kini6 SB
71 71. Masa Kini7 SB
72 72. Masa Kini8 SB
73 73. Masa Kini9 SB
74 74. Masa Kini10 SB
75 75. Masa Kini11 SB
76 76. Masa Kini12 SB
77 77. Masa Kini13 SB
78 78. Masa Kini14 SB
79 79. Masa Kini15 SB
80 80. Masa Kini16 SB
81 81. Masa Kini17 SB
82 82. Masa Kini18 SB
83 83. Masa Kini19 SB
84 84. Masa Kini20 SB
85 85. Masa Kini21 SB
86 86. Masa Kini22 SB
87 87. Masa Kini23 SB
88 88. Masa Kini24 SB
89 89. Masa Kini25 SB
90 90. Masa Kini26 SB
91 91. Masa Kini27 SB
92 92. Masa Kini28 SB
93 93. Masa Kini29 SB
94 94. Masa Kini30 SB
95 95. Masa Kini31 SB
96 96. Masa Kini32 SB
97 97. Masa Kini33 SB
98 98. Masa Kini34 SB.
99 99. Masa Kini35 SB
100 100. Masa Kini36 SB
101 101. Masa Kini37 SB.
102 102. Masa Kini38 SB
103 103. Masa Kini39 SB
104 104. Masa Kini40 SB
105 105. Masa Kini41 SB
106 106. Masa Kini42 SB
107 107. Masa Kini43 SB
108 108. Masa Kini44 SB
109 109. Masa Kini45 SB
110 110. Masa Kini46 SB
111 111. Masa Kini47 SB
112 112. Masa Kini48 SB
113 113. Masa Kini49 SB
114 114. Masa Kini50 SB
115 115. Masa Kini51 SB
116 116. Masa Kini52 SB
117 117. Masa Kini53 SB
118 118. Masa Kini54 SB
119 119. Masa Kini55 SB
120 120. Masa Kini56 SB
121 121. Masa Kini57 SB
122 122. Masa Kini58 SB
123 123. Masa Kini59 SB
124 124. Masa Kini60 SB
125 125 Masa Kini61 SB.
126 126. Masa Kini62 SB
127 127. Masa Kini63 SB
128 128. Masa Kini64 SB
129 129. Masa Kini65 SB
130 130. Masa Kini66 SB
131 131. Masa Kini67 SB
132 132. Masa Kini68 SB
133 133. Masa Kini69 SB
134 134. Masa Kini70 SB
135 135. Masa Kini71 SB
136 136. Masa Kini72 SB
137 137. Masa Kini73 SB
138 138. Masa Kini74 SB
139 139. Masa Kini75 SB
140 140. Masa Kini76 SB
141 141. Masa Kini78 SB
142 Karya baru
Episodes

Updated 142 Episodes

1
1. Camp
2
2.Peduli
3
3.Pertemuan
4
4.Rasa Takut
5
5. Datang ke Cafe
6
6. Bahaya!
7
7. Di Ganggu.
8
8. Tiba-tiba
9
9. Pindah,,,?!?
10
10. Masa kini
11
11. Hadiah
12
12. Kejadian
13
13. Melihatnya
14
14. Sikap abai
15
15. Misi Ringan
16
16. Sepakat (Masa lalu 1)
17
17. Rasa Khawatir (Masa lalu 2)
18
18. Keributan pagi hari (Masa lalu 3)
19
19. Pertama kali berkumpul (Masa lalu 4)
20
20. Mengenal lebih dekat (Masa lalu 5)
21
21. Kemunculan Das (Masa lalu 6)
22
22. Khawatir (Masa lalu 7)
23
23. Cemburu (Masa lalu 8)
24
24.Perasaan yang berubah (Masa lalu 9)
25
25. Menjebak (Masa lalu 10)
26
26. Hampir (Masa lalu 11)
27
27. Aku Mencintaimu (Masa lalu 12)
28
28. Tidak Mengingat (Masa lalu 13)
29
29. Terjalin (Masa lalu 14)
30
30. Kencan sesungguhnya. (Masa lalu 15)
31
31. Rencana (Masa lalu 16)
32
32. Cincin (Masa lalu 17)
33
33. Lamaran (Masa lalu 18)
34
34. (Masa lalu 19)
35
35. (Masa lalu 20)
36
36 (Masa lalu 21)
37
37. ( Masa lalu 22)
38
38. (Masa lalu 23)
39
39. (Masa lalu 24)
40
40. (Masa lalu 25)
41
41. (Masa lalu 26)
42
42. (Masa lalu 27)
43
43. (Masa Lalu 28)
44
44. (Masa Lalu 29)
45
45. (Masa Lalu 30 )
46
46. ( Masa Lalu 31 )
47
47. ( Masa Lalu 32 )
48
48. ( Masa Lalu 33 )
49
49. ( Masa Lalu 34 )
50
50. ( Masa Lalu 35 )
51
51. ( Masa Lalu 36 )
52
52. ( Masa Lalu 37 )
53
53. ( Masa Lalu 38 )
54
54. ( Masa Lalu 39 )
55
55. ( Masa Lalu 40 )
56
56. ( Masa Lalu 41)
57
57. ( Masa Lalu 42 )
58
58. ( Masa Lalu 43 )
59
59. ( Masa Lalu 44 )
60
60. ( Masa Lalu 45 )
61
61. ( Masa Lalu 46 )
62
62. ( Masa Lalu 47 )
63
63. ( Masa Lalu 48 )
64
64. ( Masa Lalu 49 end )
65
65. Masa Kini1 SB
66
66. Masa Kini2 SB
67
67. Masa Kini3 SB
68
68. Masa Kini4 SB
69
69. Masa Kini5 SB
70
70. Masa Kini6 SB
71
71. Masa Kini7 SB
72
72. Masa Kini8 SB
73
73. Masa Kini9 SB
74
74. Masa Kini10 SB
75
75. Masa Kini11 SB
76
76. Masa Kini12 SB
77
77. Masa Kini13 SB
78
78. Masa Kini14 SB
79
79. Masa Kini15 SB
80
80. Masa Kini16 SB
81
81. Masa Kini17 SB
82
82. Masa Kini18 SB
83
83. Masa Kini19 SB
84
84. Masa Kini20 SB
85
85. Masa Kini21 SB
86
86. Masa Kini22 SB
87
87. Masa Kini23 SB
88
88. Masa Kini24 SB
89
89. Masa Kini25 SB
90
90. Masa Kini26 SB
91
91. Masa Kini27 SB
92
92. Masa Kini28 SB
93
93. Masa Kini29 SB
94
94. Masa Kini30 SB
95
95. Masa Kini31 SB
96
96. Masa Kini32 SB
97
97. Masa Kini33 SB
98
98. Masa Kini34 SB.
99
99. Masa Kini35 SB
100
100. Masa Kini36 SB
101
101. Masa Kini37 SB.
102
102. Masa Kini38 SB
103
103. Masa Kini39 SB
104
104. Masa Kini40 SB
105
105. Masa Kini41 SB
106
106. Masa Kini42 SB
107
107. Masa Kini43 SB
108
108. Masa Kini44 SB
109
109. Masa Kini45 SB
110
110. Masa Kini46 SB
111
111. Masa Kini47 SB
112
112. Masa Kini48 SB
113
113. Masa Kini49 SB
114
114. Masa Kini50 SB
115
115. Masa Kini51 SB
116
116. Masa Kini52 SB
117
117. Masa Kini53 SB
118
118. Masa Kini54 SB
119
119. Masa Kini55 SB
120
120. Masa Kini56 SB
121
121. Masa Kini57 SB
122
122. Masa Kini58 SB
123
123. Masa Kini59 SB
124
124. Masa Kini60 SB
125
125 Masa Kini61 SB.
126
126. Masa Kini62 SB
127
127. Masa Kini63 SB
128
128. Masa Kini64 SB
129
129. Masa Kini65 SB
130
130. Masa Kini66 SB
131
131. Masa Kini67 SB
132
132. Masa Kini68 SB
133
133. Masa Kini69 SB
134
134. Masa Kini70 SB
135
135. Masa Kini71 SB
136
136. Masa Kini72 SB
137
137. Masa Kini73 SB
138
138. Masa Kini74 SB
139
139. Masa Kini75 SB
140
140. Masa Kini76 SB
141
141. Masa Kini78 SB
142
Karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!