"Kamu harus pindah dari kota ini, Ren!" pinta Bernardo.
"Apa,,?!?" sambut Cyrene terkejut.
"Kenapa aku harus pindah?" tanya Cyrene.
"Mereka akan terus mencarimu. Dan aku khawatir tidak bisa selalu datang untuk menjagamu," terang Bernardo.
"Kamu tidak harus selalu datang untukku," sambut Cyrene.
"Mereka bisa menyakitimu, Ren!" balas Bernardo meninggikan suaranya.
"Kau tidak tau apa saja yang bisa mereka lakukan padamu," imbuhnya.
"Aku bisa menghubungi polisi jika mereka datang lagi," jawab Cyrene.
"Apa kau pikir polisi akan berguna jika menghadapi mereka? Itu hanya akan membuat mereka mengantarkan nyawa mereka sendiri," balas Bernardo.
"Aku tetap tidak mau pindah," tolak Cyrene kekeh pada pendiriannya.
Bernando meraih bahu Cyrene sembari menahan tubuhnya membuat mereka saling berhadapan
"Dengar!" ucap Bernardo memasang wajah serius.
"Kamu hanya pergi sementara. Hanya empat atau lima bulan. Dan selama itu aku akan mengalihkan perhatian mereka agar mereka tidak lagi mengincarmu," terangnya.
"Mereka akan terus datang kemari untuk mencarimu, bahkan mungkin akan membawamu bersama mereka dengan atau tanpa persetujuan darimu," imbuhnya.
"Lalu bagaimana dengan Cafe-ku? Itu adalah bagian dari hidupku," kekeh Cyrene.
"Pikirkanlah tentang keselamatanmu, Ren!" geram Bernardo.
"Aku tau kamu khawatir padaku, tapi aku tetap tidak bisa pergi begitu saja," jawab Cyrene seraya menurunkan tangan Bernando dari bahunya.
"Dan sampai kapan aku harus bersembunyi? Sampai kapan aku harus menghindari mereka? Kalaupun aku pergi beberapa bulan, bahkan tahun, dan suatu saat aku kembali lagi, itu tidak menutup kemungkinan mereka tidak akan kembali untuk menggangguku bukan?" lanjutnya.
"Apakah kamu juga bisa menjamin mereka akan berhenti mengusikku hanya karena aku pergi beberapa bulan?" imbuhnya.
Bernardo terdiam, tidak bisa menyangkal dari kemungkinan yang disebutkan Cyrene padanya.
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan, bahwa kamu akan melepaskan diri dari mereka?" tanya Cyrene.
"Aku memang berencana begitu, tapi ini tidak sesederhana itu, Ren," tutur Bernardo melembut.
"Lalu apa masalahnya?" tukas Cyrene.
"Aku masih dalam satu misi lagi," ungkap Bernardo.
"Maksudmu,,, mencuri?" tanya Cyrene melebarkan matanya.
"Yah,,, setelah misi terakhir ini selesai, aku akan bicara padanya untuk berhenti," terang Bernardo.
'Bahkan jika setelah ini aku harus menyerahkan diri ke polisi untuk menerima hukumanku, dengan jaminan kamu tetap aman, aku akan melakukannya bagaimanapun caranya,' lanjutnya dalam hati.
"Apakah mereka akan akan menyetujuinya?" tanya Cyrene penuh harap.
"Bagaimana jika mereka justru menyakitimu?" lanjutnya.
"Memang tidak akan mudah membuat mereka setuju. Tapi, kurasa dia bisa mengabulkannya mengingat aku selalu menolak ketika dia menawarkan sesuatu, dan dia akan mengabulkan permintaanku kapan pun aku membutuhkannya," papar Bernardo.
"Kuharap itu akan berhasil," harap Cyrene.
"Aku pun mengharapkan hal yang sama," balas Bernardo.
'Lebih dari apapun, aku sangat mengharapkannya,' batin Bernando.
"Bukan berarti aku setuju untuk pindah," tukas Cyrene.
"Haahhh,,, kau sangat keras kepala," desah Bernardo.
"Kuharap mereka akan mengerti jika aku menjelaskan tentangmu pada mereka, bahwa kau bukanlah ancaman bagi mereka" tutur Bernardo menengadah menatap langit-langit.
"Untuk malam ini, bisakah kamu tidak pulang, Ren?" harap Bernardo.
"Aku mungkin tidak bisa menemuimu dalam beberapa hari kedepan,"
"Tapi aku juga ingin memastikan kamu tetap aman,"
"Jadi, bisakah kamu membantuku dengan tidak kembali ke apartemen ini sampai aku kembali menemuimu dan memastikan keadaan aman?" sambungnya penuh harap.
Cyrene menatap mata Bernardo yang juga tengah menatapnya. Kecemasan terlihat jelas di matanya membuat Cyrene melunak dan mengikuti permintaan Bernardo.
"Baiklah, aku akan tinggal dicafe mulai malam ini," jawab Cyrene.
"Cafe?" ulang Bernardo.
"Apakah kamu bisa tinggal di sana?" imbuhnya bertanya.
"Aku memiliki ruangan pribadi berserta kamar di cafe, itu membantuku saat aku tidak pulang karena pekerjaan," terang Cyrene.
"Jadi, kamu tidak keberatan jika tinggal di sana sampai aku kembali? Setidaknya di cafe lebih aman," ucap Bernardo.
"Jika dengan hal itu kamu berhenti khawatir, aku akan melakukannya," jawab Cyrene.
"Terima kasih sudah mau mengerti," balas Bernardo.
"Lebih baik kita pergi sekarang," saran Bernardo.
Cyrene mengangguk setuju. Tanpa membuang waktu lagi, Bernardo membereskan semua makanan yang ia buat pagi ini dan membersihkan dapur, sementara Cyrene mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pergi ke cafe.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
####Masa kini
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Ren?"
Suara seseorang yang tiba-tiba muncul sedikit mengejutkan Cyrene, menyadarkan ia dari lamunan masa lalunya. Dengan cepat ia bangun dari berbaringnya dan memasukan kalung yang ada ditangannya kedalam saku kemejanya.
"Glen?" desis Cyrene setelah menoleh ke sumber suara dan melihat siapa yang datang.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Cyrene.
"Itulah tepatnya hal yang baru saja kutanyakan padamu," sambut Glen.
Glen mendekati Cyrene dan duduk disebelahnya. Duduk dengan meluruskan kaki sembari menengadah menatap langit.
Keheningan menyelimuti mereka berdua. Angin malam yang berhembus sedikitpun tidak menganggu mereka, sampai Glen memecah keheningan.
"Apakah kau marah pada Carlo?" tanya Glen tanpa menoleh.
"Tidak," jawab Cyrene singkat.
"Kenapa aku harus marah padanya?" imbuhnya bertanya.
Glen menaikan bahunya tanpa melepaskan pandangannya dari langit sebelum membuka suara untuk menjawab.
"Karena kamu di larang latihan mungkin," jawabnya.
Cyrene menoleh sekilas, tersenyum tipis dan kembali menatap langit tanpa memberikan jawaban. Keheningan kembali berlangsung selama beberapa saat sampai Glen kembali membuka suara.
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Glen.
Glen menoleh dan menatap Cyrene yang secara tidak sengaja melakukan hal yang sama hingga membuat pandangan mereka bertemu satu sama lain.
Cyrene hanya mengangguk kemudian menaikan alisnya sebagai jawaban.
"Sejujurnya, aku penasaran dengan orang yang telah menciptakan mendung diwajahmu. Seperti apa dia dan apa yang telah dia lakukan padamu?" tanya Glen.
Cyrene menatap Glen dengan raut wajah datar. Tidak memperlihatkan emosi sedikitpun, dan terkesan dingin.
"Itu bukan hal yang perlu untuk kau ketahui," jawab Cyrene, kemudian memalingkan wajahnya dan kembali menatap langit.
"Aku sangat mengerti hal itu," sambut Glen.
"Akan tetapi, berbagi adalah obat terbaik untuk membuatmu merasa lebih baik," sambung Glen.
"Apakah kau juga merangkap sebagai seorang psikiater, Glen?" sambut Cyrene mulai tersenyum.
"Jika kau menganggapnya begitu, maka anggaplah begitu," balas Glen.
Cyrene hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Glen, namun tetap tidak memberikan jawaban apapun dari pertanyaan yang Glen ajukan padanya.
Glen mendesah pelan setelah menunggu lama dan tetap tidak mendapatkan jawabannya.
"Lebih baik kau segera istirahat, atau Carlo tidak akan membiarkanmu ikut latihan besok," ucap Glen.
"Bahkan, kalaupun aku istirahat sekalipun, dia tetap tidak akan membiarkanku ikut latihan besok," sambut Cyrene tersenyum kecut.
"Kenapa?" tanya Glen.
Cyrene kembali menatap Glen dan menyipitkan matanya.
"Apakah kau sungguh bertanya karena tidak tau jawabannya?" sindir Cyrene.
Glen terdiam dan berpikir sejenak.
"Ah,,, karena lukamu kembali terbuka?" tebak Glen.
"Benar. Dan itu menyebalkan," gerutu Cyrene.
"Hei,,, kau memang sudah seharusnya beristirahat disaat kamu masih terluka," sambut Glen terkekeh pelan.
"Aku sudah cukup beristirahat," balas Cyrene.
"Kau terjun kedalam latihan setelah tiga hari sebelumnya menjalani operasi, kau tau?" ucap Glen menepuk dahinya.
"Dimana seharusnya kau harus istirahat minimal satu minggu atau bahkan lebih," sambungnya.
"Baiklah,, baiklah,, aku tidak menyangkal hal itu. Tapi, aku juga sudah menurut untuk mengurangi jam latihanku," jawab Cyrene.
"Dia melakukan ini untuk kebaikanmu sendiri, kau tahu itu bukan?" tanya Glen.
"Aku tahu," jawab Cyrene, lalu kembali mendesah.
Cyrene kembali berbaring diatas rumput, menatap ribuan bintang dilangit. Melihat hal itu, Glen menggelengkan kepalanya dan ikut berbaring disamping Cyrene.
Seoalah teringat akan sesuatu, Cyrene bangun dangan cepat dan menoleh kearah Glen yang masih berbaring.
"Apakah besok kamu sibuk, Glen?" tanya Cyrene.
"Tidak, satu-satunya orang yang sedang dalam perawatanku hanya kamu, Ren. Kenapa kamu bertanya?" jawab Glen kembali bertanya.
"Bisakah kamu besok menemaniku untuk melakukan uji coba pada Jeep yang sudah selesai dimodifikasi?" harap Cyrene.
"Jangan melakukan hal konyol lagi, Ren!" tegur Glen bangun dari berbaringnya.
"Jangan membahayakan dirimu lagi," pintanya.
"Jika aku pergi bersamamu, kak Carlo akan memberikan ijin," jawab Cyrene beralasan.
"Jadi kau menjadikanku sebagai tameng?" sambut Glen menyipitkan matanya.
"Tidak persis begitu, tapi setidaknya kau bisa mengawasiku," jawab Cyrene enteng.
"Kita bicarakan itu besok bersama Carlo, dan biarkan dia yang memutuskannya. Sekarang kembalilah ke kamarmu dan beristirahat," harap Glen.
"Baiklah, aku akan menemuimu besok pagi," ucap Cyrene beranjak dari tempatnya.
Cyrene meninggalkan Glen dalam keheningan malam. Glen menyisir rambut menggunakan jarinya dengan frustasi, menatap punggung Cyrene yang semakin menjauh.
"Rasanya seperti dia menolakku sebelum aku mengatakan apa pun padanya," desahnya pelan.
...%%%%%%%%...
. . . . .
. . . . .
To be continued,,,,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Vincar
Cyrene yang dulunya wanita lembut menjelma menjadi wanita kuat, tangguh, dan tak takut mengahadapi bahaya....
2024-06-18
0
Vincar
Melarikan diri dari sebuah masalah bukan solusi yang tepat 👍
2024-06-18
0
Birru
ren sangat keras kepala susah dibilangin mengeyel🤣
2024-06-02
1