Disisi tempat lain, Bernardo berjalan dengan langkah gontai memasuki sebuah gedung yang berdiri megah. Satu tangannya membawa sebuah tas dengan suara gemerincing yang sesekali terdengar ketika ia berjalan.
Ia melemparkan tas itu ke atas meja tepat di depan seorang pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya sembari menghisap cerutu dan tersenyum puas melihat kedatangan Bernardo.
"Ahh,,, kau sudah kembali,"
"Dan membawa hasil yang memuaskan kurasa," sambutnya.
"Aku sudah mendapatkan lebih dari yang seharusnya,"
"Semua mobil sudah di modifikasi sesuai dengan permintaanmu, dan siap untuk di jual,"
"Jadi, bisa kau berikan apa yang seharusnya ku dapat?" ucap Bernardo datar.
"Seharusnya kau menjaga sikapmu, Bernardo!" hardik seorang pria di belakangnya.
"Apa?" sambut Bernardo sinis.
"Kau pikir, aku tidak tahu dengan apa yang kau lakukan?"
"Dan kau ingin mengajariku tentang apa yang harus dan tidak harus aku lakukan?"
"Lucu sekali" sindirnya.
"Haa,,, Ayolah,,, kenapa kalian harus bermusuhan di saat kalian bisa melakukan pekerjaan dengan sangat baik ketika bersama," sela pria bercerutu.
"Aku perlu mengingatkan satu hal padamu, tuan Alastor," tegas Bernardo.
"Aku tidak akan melakukan pekerjaan apa pun jika itu bersamanya," imbuhnya menunjuk pria di belakang Alastor menggunakan dagunya.
"Kau berubah sangat jauh berbeda dan bersikap begitu sejak mengenal wanita itu bukan?" sindirnya.
"Pernahkah kau mendengar istilah 'Jangan mencampuri urusan orang lain'?"
"Tidakkah kau mengerti apa maksudnya?" balas Bernardo dengan tatapan sinis.
"Wanita bodoh itu hanya membuatmu lemah, dan kau justru memilih menikahi wanita lemah itu yang sampai sekarang mayatnya saja tidak bisa di temukan," ujarnya skeptis.
"Sungguh menyedihkan," imbuhnya mencibir.
"Dan kau lebih bodoh karena tidak mengerti dengan kalimat sederhana yang baru saja aku ucapkan," balas Bernardo tetap tenang.
"Permainan katamu sungguh menyebalkan," sambutnya mendengus kesal.
"Terima kasih sudah menyadarinya. Kau juga menjadi lebih menyebalkan karena banyak bicara dari pada bekerja," balas Bernardo.
"Das,,,! Cukup,,,!" sela Alastor.
"Kau bisa pergi Bernardo. Dan sesuai janjiku, kau bebas dari pekerjaan selama sebulan kedepan," imbuhnya.
Bernardo hanya mengangguk, lalu berbalik dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun lagi.
"Dia benar-benar berubah,"
"Aku bahkan lupa kapan terakhir kali melihat senyum percaya dirinya yang selalu terlewat tinggi," gumam Alastor.
"Tapi, aku tidak peduli dengan hal itu selama dia melakukan pekerjaanya," imbuhnya.
Alastor meraih tas yang di lempar Bernardo, lalu membuka dan tersenyum lebar setelah melihat isinya.
Puluhan kunci mobil beserta surat-suratnya serta catatan lengkap tentang modifikasi dan jenis mobilnya.
"Aku tidak sabar untuk melihat seperti apa tampilan mobilnya," ujarnya menyeringai lebar.
"Das,"
"Saya tuan," sambut pria di belakangnya.
"Apakah kau sudah mendapatkan informasi tentang wanita itu?" tanya Alastor.
"Masih belum, tapi kami memang tidak pernah lagi melihatnya sejak tujuh tahun lalu,"
"Bahkan Bernardo sendiri juga tidak pernah melihatnya lagi," ungkap Das.
"Itu lebih baik. Bernardo hanya perlu menjadi boneka hidup dan itu sudah cukup,"
"Jadi, tidak perlu lagi mengawasinya,"
"Jika suatu saat kau melihat wanita itu lagi, kau hanya perlu membunuhnya tanpa sepengetahuan Bernardo," ucap Alastor.
"Baik," jawab Das.
...%%%%%%%%%...
Cyrene yang baru saja kembali ke Camp di sambut dengan tatapan intimidasi dari beberapa pria yang sering melihat dirinya pergi bersama Carlo. Mereka bahkan membicarakan tentang dirinya di belakang.
Meski begitu, sebanyak apa pun perkataan merendahkan yang ia dengar dari teman satu Camp nya, Cyrene hanya mengabaikannya.
Salah satu di antaranya adalah Paul. Dimana Cyrene dapat melampaui dirinya di saat dia menjalani misi sederhana dan kembali dengan kenyataan bahwa posisi Cyrene sudah berada jauh di atasnya saat dia kembali ke Camp.
"Cyrene bisa datang dan pergi seenaknya dari Camp ini, bahkan pelatih Carlo juga terlihat mengistimewakan dirinya," ujar Paul.
"Aku meninggalkan Camp hanya tiga bulan, dan sekarang dia sudah berada di posisi dimana dia bisa bebas, bahkan bisa menerima misi di luar Camp,"
"Dia juga menerima Jeep untuk dirinya sendiri, bayangkan saja!" dengus Paul kesal.
"Aku yang sudah berada di sini lebih lama saja belum bisa mendapatkan itu," imbuhnya.
"Bukankah itu karena dia bisa menyelesaikan misi lebih awal dari ketentuan waktu yang di berikan?" sambut teman yang berada di sampingnya.
"Bagiku itu terdengar tidak masuk akal," sanggah Paul.
"Dia hanya wanita, dia bisa apa memangnya?" sambungnya mencibir.
"Apakah kamu pernah melihat dia latihan?" tanya sang teman.
"Tidak,"
"Jangan menilai terlalu cepat," tegur sang teman.
"Aku pernah dengar dari mereka yang sering latihan bersamanya dan menjalani misi bersamanya,"
"Mereka memberikan penilaian sama bahwa Cyrene memang layak, bahkan lebih dari kata layak untuk berada di posisinya sekarang,"
"Mungkin dia memang memiliki kualifikasi, itulah sebabnya dia bisa berada di posisinya saat ini,"
"Kualifikasi? Lihat saja dia, dia sangat sering masuk ke ruang medis, dan pelatih Carlo juga selalu ke sana setelah wanita itu berada di dalam,"
"Menurutmu, apa yang mereka lakukan?" ujar Paul sembari menunjuk satu arah dengan dagunya.
Teman yang berada di sampingnya mengarahkan pandangannya ke satu arah yang di tunjuk Paul, lalu melebarkan kedua matanya saat melihat Cyrene masuk ke ruang medis di ikuti Carlo di belakangnya.
"Kenapa kalian tidak bertanya langsung saja alih-alih berasumsi tanpa dasar di belakang mereka?"
Interupsi di belakang mereka membuat mereka berdua terlonjak kaget dan segera menoleh ke belakang.
"Senior Barny, senior Kenzo," sambut Paul dan temannya sembari membungkuk hormat.
"Haish,,,, padahal kau baru melakukan pelatihan dasar dan hampir kehabisan waktu, tapi kau masih bisa menilai orang lain," sindir Barny.
"Jelas saja kau tidak melihat Cyrene latihan dan tidak latihan bersama kalian, karena dia berlatih bersama kami," timpal Kenzo
"Dan kalian berdua tentu tahu apa artinya bukan?" imbuhnya.
"A-Apa? Bagaimana mungkin?" sambut Paul terkejut.
"Ikuti aku!" ucap Barny.
Barny dan Kenzo melangkah melewati mereka, mengabaikan keterkejutan yang terlihat di wajah keduanya dan memberi isyarat agar mereka berdua mengikuti langkahnya.
Barny dan Kenzo membawa Paul dan temannya masuk ke ruang medis setelah terlebih dulu mengetuk pintu dan mendapat izin dari Carlo untuk masuk.
Betapa terkejutnya mereka saat mereka berada di dalam dan melihat Cyrene tidak seperti yang Paul kira. Sebaliknya, mereka berdua justru melihat Cyrene tengah di obati akibat luka di punggungnya kembali mengeluarkan darah.
Luka jahit yang masih terlihat baru dan dua luka bekas peluru yang belum sembuh total. Bahkan Cyrene tidak terlihat kesakitan saat Glen mengobati lukanya sekaligus mengganti perban baru
"Kenapa kau tidak membiarkan Glen mengobatimu sebelum kembali kemari? Setidaknya untuk menghentikan pendarahannya," ucap Carlo sedikit kesal.
"Itu hanya akan membuat polisi melihat kami berada di sana," sanggah Cyrene.
"Lagi pula, bukankah kakak sendiri yang meminta agar aku segera kembali?" imbuhnya membela diri.
"Aku memang memintamu untuk segera kembali, tapi jika lukamu memang perlu perawatan, kamu bisa berhenti sebentar dan mengobati lukamu," jawab Carlo.
"Bukankah Glen membawa peralatan medisnya?" imbuhnya bertanya.
"Selesai," sela Glen.
Glen menjauh sebentar untuk meletakkan peralatan yang baru saja ia gunakan dan melepaskan sarung tangannya.
"Apakah kau memang benar-benar ingin libur atau apa?" sambung Carlo kembali bertanya.
"Bukan itu yang aku ma_,,,"
Cyrene memutar badannya agar berhadapan dengan Carlo bersiap untuk protes, namun kalimatnya terhenti saat melihat Barny dan Kenzo sudah berada di sana bersama dua orang lagi yang ia lupa namanya.
"Mereka siapa?" tanya Cyrene.
Pertanyaan Cyrene justru menghadirkan suara tawa di sertai menepuk dahi mereka masing-masing termasuk Glen yang berada di belakangnya.
. . . . .
. . . . .
To be continued,,,,
NOTE:
-Kualifikasi.
Adalah keahlian yang di perlukan untuk melakukan sesuatu atau menduduki jabatan tertentu. Kualifikasi bisa mendorong seseorang untuk memiliki suatu keahlian atau kecakapan khusus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Birru
paul kalo omong seenak jidat kena tabok sm ren tau rasa lo
2024-06-15
1
Jumli
hello. kau pikir cuma pria yg bisa segala nya
2024-05-08
1
Jumli
jadi mereka udah nikah😳
2024-05-08
1